• Blog Stats

    • 57,242 hits
  • Kategori

  • Arsip

  • Pos-pos Terbaru

Tawassul Kepada Nabi yang Disyariatkan dan yang Tidak Disyariatkan

Tawassul Kepada Nabi yang Disyariatkan dan yang Tidak DisyariatkanUlama : Syaikh Ibnu BazKategori : Niat – IkhlasPertanyaan:Apa hukum tawassul kepada penghulu para Nabi (Muhammad -sholallahu ‘alaihiwassallam); adakah dalil-dalil yang mengharamkannya ?Jawaban:Mengenai hukum tawassul kepada Nabi -sholallahu ‘alaihi wasallam- (menjadikanbeliau sebagai perantara-penj.) harus dirinci dulu.Bila hal itu dilakukan dengan cara mengikuti beliau, mencintai, taat terhadap perintahdan meninggalkan larangan-larangan beliau serta ikhlas semata karena Allah di dalamberibadah, maka inilah yang disyariatkan oleh Islam dan merupakan dien Allah yangdengannya para Nabi diutus, yang merupakan kewajiban bagi setiap mukallaf (orangyang dibebani dengan syariat-penj.) serta merupakan sarana dalam mencapaikebahagiaan di dunia dan akhirat.Sedangkan bertawassul dengan cara meminta kepada beliau, beristighatsah kepadanya,memohon pertolongan kepadanya untuk mengatasi musuh-musuh dan memohonkesembuhan kepadanya, maka ini adalah syirik yang paling besar. Ini adalah dien AbuJahal dan konco-konconya semisal kaum paganis (penyembah berhala). Demikian pula,bila dilakukan kepada selain beliau seperti kepada para Nabi, wali, jin, malaikat,pepohonan, bebatuan ataupun berhala-berhala.Disamping itu, ada jenis lain dari tawassul yang dilakukan banyak orang, yaitu tawassulmelalui jah (kedudukan) beliau, hak atau sosok beliau, seperti ucapan seseorang, “Akumemohon kepadaMu, Ya Allah, melalui NabiMu, atau melalui jah NabiMu, hakNabiMu, atau jah para Nabi, atau hak para Nabi, atau jah para wali dan orang-orangshalih”, dan semisalnya, maka ini semua adalah perbuatan bid’ah dan merupakan salahsatu dari sarana kesyirikan. Tidak boleh melakukan hal ini terhadap beliau ataupunterhadap selain beliau karena Allah -subhanahu wa ta’ala- tidak pernah mensyariatkanhal itu sementara masalah ibadah bersifat tawqifiyyah (bersumber kepada dalil-penj.)sehingga tidak boleh melakukan salah satu darinya kecuali bila terdapat dalil yangmelegitimasinya dan syariat yang suci ini.Sedangkan tawassul yang telah dilakukan oleh seorang sahabat yang buta kepada beliausemasa hidupnya, maka yang sebenarnya dilakukannya adalah bertawassul kepadabeliau agar berdoa untuknya dan memohon syafaat kepada Allah sehinggapenglihatannya normal kembali. Jadi, bukan tawassul dengan (melalui) sosok, jah(kedudukan) atau hak beliau. Hal ini secara gamblang dapat diketahui melalui jalurcerita dari hadits yang diriwayatkan oleh ‘Utsman bin Hunaif: bahwa seorang laki-lakibuta datang ke hadapan Nabi seraya berkata: “Berdoalah kepada Allah agarmenganugerahiku afiat (kesehatan)”. Lalu beliau bersabda: “Engkau boleh pilih; akudoakan sekarang untukmu atau aku urungkan dan ini adalah baik bagimu”. Orangtersebut berkata: “Berdoalah kepadaNya sekarang”. Kemudian beliau menyuruhnya.

Sumber: http://www.fatwa-ulama.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: