• Blog Stats

    • 57,161 hits
  • Kategori

  • Arsip

  • Pos-pos Terbaru

AQIDAH SHAHIHAH VERSUS AQIDAH BATHILAH Syaikh �Abdul Azis bin Abdullah bin Baz t

AQIDAH SHAHIHAH
VERSUS
AQIDAH BATHILAH
Syaikh �Abdul Azis bin Abdullah bin Baz t

1428 H / 2004 M
2
Dakwah Kami :
– Kembali kepada al Qur�an dan Sunnah yang shahih dengan
pemahan Salafush Shalih
– Tasfiyah, yaitu memurnikan ajaran Islam dari segala noda
syirik, bid�ah, khurafat, serta gerakan-gerakan dan pemikiranpemikiran
yang merusak ajaran Islam.
– Tarbiyah (mendidik) kaum muslimin berdasarkan ajaran Islam
yang murni.
– Menghidupkan pola pikir ilmiah berdasarkan ajaran al Qur�an
dan as Sunnah dengan pemahaman Salafush Shalih
– Mengajak kaum muslimin untuk hidup Islami, sesuai dengan
manhaj AhluSunnah wal Jama�ah.
3
MUQADIMAH
Sanjungan dan pujian hanyalah milik Allah k . Shalawat dan salam semoga
senantiasa dilimpahkan kepada Rasulullah y , tidak ada lagi nabi setelahnya. Shalawat
dan salam juga semoga dilimpahkan atas keluarga dan sahabatnya.
Buku kecil ini mengetengahkan masalah aqidah, masalah yang sangat penting dan
menjadi fondasi bagi Dinul Islam. Sebagaimana dimaklumi oleh ummat Islam,
berdasarkan dalil-dalil syar�iyah dari al Qur�an dan as Sunnah, bahwa setiap amal serta
ucapan dipandang benar dan dapat diterima, hanya bila dengan aqidah yang benar.
Maka jika aqidah itu tidak benar, dengan sendirinya setiap tindakan maupun ucapan
yang bersumber dari aqidah tadi adalah tidak sah atau batal. Allah l berfirman:
…Barangsiapa yang mengingkari keimanan, maka batallah amalnya, dan ia termasuk
orang-orang yang merugi di akhirat nanti. (Al Maidah: 5 ).
Dan telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan (Nabi-nabi) yang sebelum kamu,
jika kamu mempersekutukan Allah, pasti hapuslah amal perbuatanmu, dan kamu pasti
tergolong orang-orang yang merugi. (Az Zumar: 65).
Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Al Amin y telah memberikan petunjuk,
bahwa aqidah yang benar itu meliputi : Iman kepada Allah, iman kepada malaikat,
iman kepada Kitab-kitab, iman kepada para rasul, dan iman kepada qadar baik dan
buruk. Keenam prinsip keimanan itulah sumber aqidah yang benar. Dengan keenam
prinsip keimanan itu pula Allah menurunkan kitab-kitab-Nya yang mulia dan mengutus
rasul-Nya. Cabang dari prinsip-prinsip ini diantaranya adalah keimanan pada hal-hal
yang ghaib.
Dalil yang mendasari prinsip-prinsip itu tertera dalam banyak ayat-ayat al Qur�an.
Diantaranya adalah :
Bukanlah kebaikan jika kamu sekalian menghadapkan wajah-wajahmu ke timur dan
barat, namun kebaikan itu adalah barangsiapa yang beriman kepada Allah, hari akhir,
malaikat, kitab-Nya dan para nabi… (Al Baqarah:
Rasul telah beriman terhadap apa yang telah diturunkan oleh Rabbnya, demikian pula
orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab,
dan rasul-rasul �Nya. Kami tidak membeda-bedakan satu di antara mereka �.. (Al
Baqarah: 285)
Wahai orang-orang yang beriman, percayalah kamu sekalian kepada Allah, rasul-Nya,
kitab yang diturunkan kepada rasul-Nya (Muhammad) dan kitab yang diturunkan
sebelumnya. Barangsiapa yang ingkar kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, utusanutusan-
Nya, dan hari akhir, maka sesungguhnya ia telah sesat sejauh-jauhnya. (An
Nisaa�: 136).
Apakah kamu tidak mengetahui, bahwa Allah itu Maha Mengetahui apa-apa yang ada
di langit dan di bumi. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat dalam kitab (Lauh
Mahfuzh), dan hal itu mudah bagi Allah. (Al Hajj: 70).
Disamping ayat-ayat diatas, hadits-hadits shahih juga banyak yang menegaskan
hal yang sama. Diantara sejumlah hadits itu, terdapat sebuah hadits shahih yang
masyhur, diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari hadits Amirul Mu�minin Umar bin
Khaththab z yang menyatakan bahwa malaikat Jibril pernah bertanya kepada Nabi
Saw tentang iman, maka jawab Nabi n kepadanya:
Iman itu adalah kamu beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, dan rasul-rasul-
Nya, dan hari akhir serta beriman kepada qadar baik dan buruk. (HR. Bukhari,
Muslim dari Abu Hurairah).
Keenam prinsip keimanan tersebut kemudian dibagi lagi menjadi cabang-cabang,
diantaranya adalah kewajiban seorang muslim untuk percaya sepenuh hati terhadap hak
Allah k , terhadap tempat kembali di hari akhir, dan perkara-perkara ghaib lainnya.
5
PRINSIP-PRINSIP
AQIDAH SHAHIHAH
1. Iman Kepada Allah l
Di antara pengertian iman kepada Allah, adalah iman atau yakin bahwa Allah
adalah Illah (sembahan) yang benar. Allah k berhak disembah tanpa menyembah
kepada yang lain, karena Dia-lah pencipta hamba-hamba-Nya, Dialah yang memberi
rezeki kepada manusia, yang mengetahui segala perkara yang dilakukan manusia,
baik yang dilakukan secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi. Dialah Yang
Maha Kuasa, yang memberikan pahala bagi yang taat kepada-Nya, dan mengadzab
manusia yang berbuat maksiat. Untuk tujuan ibadah inilah Allah k menciptakanan
jin dan manusia, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya, yang artinya:
Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Aku
tak mengharapkan rezeki dari mereka, juga tidak mengharap makanan dari mereka.
Sesungguhnya Allah Maha Pemberi Rezeki,yang memiliki kekuatan lagi sangat
kokoh. (Adz Dzariat: 56-58).
Hai manusia,beribadalah kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orangorang
sebelum kamu, agar kamu bertaqwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai
hamparan bagimu, dan langit sebagai atap; dan Dia menghasilkan hujan itu segala
buah-buahan sebagai rezeki untukmu, karena itu janganlah kamu mengadakan
sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Al Baqarah: 21-22).
Dalam ayat-Nya yang lain, Allah k juga menegaskan bahwa Ia mengutus
para rasul kepada manusia untuk mengingatkan mereka agar beribadah kepada Allah
semata. Ia berfirman:
Dan sesungguhnya telah Kami utus pada tiap-tiap ummat seorang rasul agar
mereka beribadah kepada Allah dan menjauhi taghut (sesembahan selain Allah)
…… (An Nahl: 36).
Dan tidaklah Kami utus seorang rasul sebelum kamu (Muhammad) kecuali kami
wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada Illah yang patut disembah selain Aku, oleh
karen itu sembahlah Aku. (Al Anbiya�: 25).
Inilah suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi dan dijelaskan secara
terinci, yang diturunkan dari sisi Allah Yang Mahabijaksana dan Mahatahu. Agar
kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku (Muhammad) adalah
pemberi peringatan dan pembawa kabar gembira kepadamu dari-Nya. (Hud: 1-2).
Hakikat ibadah adalah mengesakan Allah dengan segala macam bentuk
perhambaan seperti, doa, shalat, shaum, qurban, nadzar, serta berbagai macam
ibadah lainnya yang dilakukan dengan penuh ketundukan dan kepatuhan kepada
Allah, disertai rasa cinta kepada-Nya dan rasa hina dalam naungan keagungan-Nya.
Nash-nash dibawah ini melengkapi dalil-dalil di atas
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah hanya
kepunyaan Allah-lah din yang bersih (dari syirik)…� (Az Zumar: 2-3).
Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia … (Al
Isra: 23).
Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, walaupun orangorang
kafir tidak menyukainya. (Al Mu�min: 14).
Sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Mu�az
menyatakan bahwa Rasulullah n telah bersabda :
Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka beribadah kepada-Nya dan
tidak menyekutukan-Nya. (HR. Bukhari, Muslim).
Iman kepada Allah juga mencakup keyakinan terhadap semua yang telah
diwajibkan Allah kepada manusia, diantaranya yang tercakup dalam Rukun Islam,
yaitu: syahadat (persaksian) bahwa tidak ada Illah rasul Allah; menegakkan shalat;
mengeluarkan zakat; shaum bulan Ramadlan; dan haji ke Baitullah Al Haram bagi
yang mampu melakukannya. Diantara lima rukun tersebut, yang paling penting
adalah syahadat Laa Ilaha Illallah Muhammadur Rasululah.
Syahadat Laa Ilaha Illallah bermakna ketulusan ibadah tertuju hanya kepada
Allah semata dan penolakan terhadap sesembahan lain. Tidak ada yang patut
disembah selain Allah. Oleh karena itu, setiap yang disembah selain Allah, baik
berbentuk manusia, malaikat, jin atau yang lainnya, semuanya itu bathil atau
tertolak. Allah berfirman :
Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Rabb Yang Haq, dan
sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang bathil. (Al Hajj:
62).
Allah menciptakan jin dan manusia, mengutus para rasul-Nya, serta
menurunkan kitab-kitab-Nya, adalah demi kepentingan yang pokok ini. Selanjutnya,
marilah kita waspadai agar kita tidak menyertakan seseorang atau sesuatu apa pun
selain Allah dalam pelaksanaan seluruh kegiatan ibadah kita, sehingga tidak kita
serahkan keikhlasan kita selain kepada Allah, karena Dialah penolong dan sandaran
harapan kita.
Di antara pengertian lainnya dari prinsip iman kepada Allah, adalah
keyakinan bahwa Allah Ta�ala pencipta alam semesta. Dialah pengatur alam
semesta dengan ilmu dan kekuasaan yang dimiliki-Nya. Dialah Raja di dunia dan di
akhirat, Rabb semesta alam.
Allah berfirman:
Allah adalah pencipta segala sesuatu, dan Dia sebagai pemeliharanya. (Az
Zumar: 62).
Sesungguhnya Rabb kamu ialaha Allah yang telah menciptakan langit dan bumi
dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas �Arsy. Dia menutupkan malam
kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan diciptakan-Nya pula matahari,
bulan, dan bintang-bintang; masing-masing tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah,
menciptakan dan memerinthkan hanyalah hak Allah Mahasuci Allah, Rabb semesta
alam. (Al A�raf: 54).
Iman kepada Allah berarti pula iman kepada nama-nama-Nya yang mulia dan
sifat-sifat-Nya yang agung, seperti yang tertera dalam Al Qur�an dan telah
ditetapkan pula oleh Rasulullah y , tanpa mengubah, mengingkari, membatasi, dan
menyerupakan dengan yang lain. Setiap muslim wajib meyakininya tanpa
mempersoalkannya. Nama-nama itu memiliki arti yang agung dan mulia, sesuai
dengan sifat-sifat Allah sendiri. Allah k berfirman:
Tidak ada sesuatupun yang serupa denganNya, dan Dialah Yang Maha Mendengar
dan Maha Mengetahui. (Asy Syura: 11).
Maka janganlah kamu mengadakan perumpamaan-perumpaman bagi Allah.
Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (An Nahl: 74).
Inilah aqidah Ahlusunnah wal Jama�ah, aqidah para sahabat Rasulullah dan
para pengikutnya yang setia. Dan aqidah ini pulalah yang diambil sebagai rujukan
oleh Imam Abul Hasan Al Asy�ari dalam kitabnya �Al Maqolat an Ahhabil Hadits
wa Ahlissunnah�, dan juga diambil oleh para ahli ilmu dan iman.
Al Imam Al Awza�i berkata bahwa Az Zuhri dan Makhul pernah ditanya
tentang ayat-ayat yang berkaitan dengan sifat Allah Ta�ala; mereka berdua
menjawab, �Perlakukan itu seperti apa yang sudah datang.�
Al Walid bin Muslim pernah berkata bahwa Imam Malik, Al Awza�i, Al laits
bin Saad, dan Shofyan Ats Tsauri pernah ditanya tentang berita yang datang
mengenai sifat-sifat Allah; mereka semua menjawab, �Perlakukan seperti apa yang
sudah datang, dan janganlah kamu persoalkan.�
Al Imam Al Awza�i juga mengatakan, �Kami beserta para tabi�in sepakat
bahwa sesungguhnya Allah diatas �Arsy, dan kami mempercayai sebagaimana yang
tersebut dalam Sunnah Rasul tentang sifat-sifat-Nya.�
Dan tatkala Rabi�ah bin Abi Abdurrahman gurunya Imam Malik ditanya
tentang ( ???????? ? ??? ), ia meriwayatkan, �Al istiwaa (persemayaman) itu tidak samar,
sedang mempersoalkannya adalah diluar kemampuan akal. Dari Allah datanglah
risalah ini, tanggung jawab Rasulullah untuk menyampaikannya, dan kewajiban kita
membenarkannya.�
Demikian pula halnya ketika Imam Malik t ditanya tentang hal itu, beliau
menjawab, �Persemayaman itu sudah jelas artinya tapi bagaimana hakikatnya tidak
diketahui, sedangkan beriman kepada perkara itu adalah kewajiban dan menanyakan
adalah bid�ah.� Kemudian ia berkata kepada si penanya, �Saya tidak melihat kamu
kecuali sebagai orang bodoh.� Imam Malik lalu memerintahkannya keluar.
Telah diriwayatkan hal seperti ini dari Ummul Mu�minin Ummu Salamah x .
Al Imam Abu Abdurrahman Abdillah bin Al Mubarak t berkata, �Kami
mengerti bahwa Rabb kami di atas langit, bersemayam di atas �Arsy, tidak bersatu
dengan makhluknya.�
Banyak pertanyaan para imam yang senada dengan kutipan-kutipan di atas,
namun tentu saja tidak dapat dimuat dalam buku kecil ini. Para pembaca disarankan
untuk merujuk langsung kepada kitab-kitab yang dikarang oleh para ulama
Ahlussunnah yang berkaitan dengan masalah ini, misalnya kitab �As Sunnah�
karangan Abdullah bin Al Imam Ahmad, kitab �At Tauhid� oleh Al Imam Al Jalil
Muhammad bin Huzaimah, kitab �As Sunnah� karya Abul Qasim Al Laalakaiy
Aththobariy, kitab �As Sunnah� karya Abu bakar bin Abi Ashim, dan risalah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang merupakan jawaban untuk penduduk Hamaa,
Syria. Di dalam risalah Ibnu Taimiyah tersebut, beliau menjelaskan aqidah
Ahlussunnah dengan sangat terinci, dengan mengutip ucapan imam-imam lain serta
berbagai dalil syar�iyah maupun aqliyah, dan tercakup di dalamnya bantahanbantahannya
terhadap penentang aqidah Ahlussunnah.
Setiap orang yang pendapatnya bertentangan dengan Ahlussunnah dalam
masalah keyakinan terhadap asma dan sifat Allah tentu menyimpang dari dalil naqli
dan �aqli, serta terperosok dalam kontradiksi nyata dalam setiap yang ditetapkan dan
dinafikan. Ahlussunnah telah menetapkan asma dan sifat Allah sebagaimana yang
9
telah ditetapkan-Nya sendiri dalam Al Qur�an serta sebagaimana yang dijelaskan
oleh Rasulullah Muhammad y tanpa tamtsil (menserupakan dengan makhluk) dan
mereka mensucikan Allah dari segala yang menyerupakan-Nya dengan makhluk
tanpa ta�thil (menolak asma dan sifat-Nya) sehingga mereka terhindar dari
kerusakan dan kebathilan serta mengamalkan semua dalil.
Inilah sunnah Allah bagi yang berpihak kepada kebenaran, dengan itulah Allah
mengutus para nabi dan rasul-Nya. Para nabi dan rasul itulah pengemban hakikat
kebenaran untuk dimenangkan di atas kebathilan.
Allah berfirman :
Bahkan kami melontarkan yang haq kepada yang bathil, lalu yang haq itu
menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap. (Al Anbiya:
18).
n??? #�??š�?s? z?|��mr&u? �d,ys�9$$�/ y7�o?�8�_ ??�) @?sVy?�/ y7t??�?�’t� �?u?
Tidaklah orang kafir itu datang kepadamu membawa sesuatu yang ganjil,
melainkan kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan paling baik
penjelasannya. (Al Furqan: 33).
Dengan memperhatikan ayat-ayat diatas, para ulama Ahlussunnah semakin
berhati-hati dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur�an, khususnya yang berkenaan
dengan Dzat Allah, misalnya ayat yang telah disebutkab terdahulu, yaitu :
Sesungguhnya Rabbmu Allah k yang telah menciptakan langit dan bumi dalam
enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy. (Al A�raf: 54).
Berkaitan dengan ayat diatas, Al Hafidz Ibnu Katsir t mengatakan,
�Orang-orang mempunyai banyak sekali pendapat tentang masalah ini, tetapi tidak
dapat dijadikan sandaran. Kita mengikuti madzab Salafuna Shalih (para pendahulu
kita) seperti Imam Malik, Al Awza�i. Ats Tsauri, Al Laits bin Saad, Imam Syafi�i,
Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawai, serta ulama-ulama lainnya, baik yang dahulu
maupun yang sekarang. Yaitu: Perlakukanlah ayat itu sebagai mana adanya,
tanpa dipersoalkan, diserupakan, atau diubah. Dan sangkan yang tergesa-gesa
oleh madzab yang menyerupakan Allah dengan makhluk lain, semuanya tertolak,
karena sesungguhnya Allah k tidak boleh disamakan dengan makhluknya dan
tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan �Nya; Dia Maha Mendengar dan
Maha Melihat.�
Pendapat Ibnu Katsir tersebut didukung dan dipertegas lagi oleh sejumlah
imam, diantaranya oleh Na�im biun Hamad Al Khuzaiy, guru Imam Al Bukhari. Ia
menyatakan, �Barangsiapa menyamakan Allah dengan makhluk lain, maka dia kafir.
Dan barangsiapa mengingkari sifat Allah maka dia pun telah kafir. Apa yang telah
10
Allah sifatkan tentang diri-Nya, dan apa yang telah ditetapkan oleh rasul-Nya,
bukanlah merupakan persamaan dengan makhluk. Barangsiapa yang menetapkan
sifat Allah, sebagaimana yang tertera dalam Al Qur�an dan berita-berita yang benar
sesuai dengan kebesaran Allah Ta�ala tanpa mengurangi sedikit pun keagungan-
Nya, dia telah melangkah pada jalan kebenaran.�
2. Iman Kepada Para Malaikat
Iman kepada para malaikat mengandnung makna keyakinan bahwa Allah
mempunyai malaikat-malaikat yang diciptakan untuk mentaati perintah-perintah-
Nya. Para malaikat itu disifati sebagai hamba-hamba yang dimulyakan yang
senantiasa melaksanakan perintah:
Allah berfirman:
Allah mengetahui apa yang ada dihadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang
mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai
Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya. (Al-Anbiya: 28).
Para malaikat itu terdiri dari banyak kelompok, diantaranya ada yang
diperintahkan untuk mengangkat �Arsy, menjaga surga, menjaga neraka, mencatat
amal perbuatan manusia, dan lain-lainnya.
Seorang muslim juga harus mengimani malaikat-malaikat yang namanamanya
diperkenalkan Allah dan rasul-Nya, yaitu diantaranya : Jibril , Mikail,
Malik, yang menjaga neraka, serta Israfil yang bertugas meniup sangkakala.
Berita-berita mengenai para malaikat tersebut juga terdapat dalam banyak
hadits shahih, di antaranya adalah hadits dari Aisyah r.a. yang menyatakan bahwa
Nabi telah bersabda:
Malaikat itu diciptakan dari cahaya, dan jin diciptakan dari percikan api,
sementara Adam diciptakan dari apa yang sudah kamu kenal. (HR. Muslim).
3. Iman Kepada Kitab-Kitab
Secara umum, seorang muslim harus meyakini bahwa Allah telah menurunkan
kitab-kitab kepada para nabi dan rasul-Nya dengan tujuan untuk menjelaskan
kebenaran. Allah berfirman:
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti
yang nyata. Dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca
(keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan itu… (Al Hadid: 25).
Firman Allah, yang artinya:
11
Dahulu manusia itu adalah ummat yang sama (setelah timbul perselisihan) maka
Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan
Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar untuk memberi keputusan di
antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan… (Al Baqarah: 213).
Selanjutnya, secara khusus seorang muslim harus meyakini kitab-kitab yang
nama-namanya telah diberitakan Allah kepada manusia, seperti Taurat, Injil, Zabur
dan Al Qur�an.
Kitab Al-Qur�an adalah kitab yang paling utama di antara kitab-kitab lainnya.
Al Qur�an merupakan penutup, pemelihara, dan pembenaran terhadap kitab-kitab
lainnya. Al Qur�an itulah yang harus diikuti oleh seluruh ummat manusia di dunia
ini. Allah menurunkan Al Qur�an kepada Muhammad Rasulullah n untuk dijadikan
sumber hukum bagi seluruh manusia, disamping sebagai penyejuk dan penyembuh
hati, sebagai penerang atas segala masalah, serta sebagai petunjuk dan rahmat untuk
semesta alam. Allah berfirman:
Dan ini (Al Qur�an) adalah kitab yang telah Kami turunkan, yang diberkahi; maka
ikutilah dia, dan bertaqwalah agar kamu sekalian mendapat rahmat dari Allah. (Al
An�am: 155).
Firman Allah l , yang artinya:
…Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur�an) untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri. (An Nahl: 89).
Katakanlah (Muhammad): �Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepadamu sekalian, yaitu Allah yang memiliki kerajaan langit dan bumi, tiada Illah
selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan. Oleh karena itu, berimanlah
kepada Allah dan utusan-Nya, seorang nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah
dan firman-firman-Nya, maka ikutilah dia agar engkau mendapat petunjuk. (Al
A�raf: 158).
4. Iman Kepada Rasul
Secara umum, setiap muslim harus beriman bahwa Allah SWT telah
mengutus kepada hamba-hambaNya beberapa rasul dari jenis mereka sendiri, untuk
menyampaikan kabar gembira dan pemberi peringatan. Mereka itulah para da�i
kebenaran yang hakiki. Maka barangsiapa yang menyambut ajakannya, dia akan
berhasil mencapai puncak kebahagiaan. Dan barangsiapa yang menentang seruan
mereka, ia akan terjerumus dalam kesengsaraan dan penyesalan.
Allah berfirman:
Dan kami telah utus kepada setiap ummat seorang utusan, (untuk menyerukan)
beribadahlah hanya kepada Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah)…
(An Nahl: 36).
Firman Allah, yang artinya :
(Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa kabar gembira dan pemberi
peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah sesudah
diutusnya rasul-rasul itu. Dan Allah adalah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (An
Nisa: 165).
Secara khusus, setiap muslim harus meyakini rasul-rasul yang namanya telah
diberitakan dalam Al Qur�an dan yang dijelaskan oleh Rasulullah y . Diantara nabinabi
itu adalah : Nuh, Hud, Shalih, Ibrahim, dan Nabi Muhammad, sebagai nabi
terakhir. Kepada para nabi itu, kita haturkan shalawat dan salam semurni-murninya
salam.
Nabi yang paling utama di antara para nabi adalah Nabi Muhammad n . Dia
adalah penutup para nabi.
Allah k berfirman:
Bukanlah Muhammad itu bapak dari seorang laki-laki diantara kamu, tetapi dia
adalah Rasulullah dan penutup para nabi. (Al Ahzab: 40).
5. Iman Kepada Hari Akhir
Iman kepada hari akhir mencakup keimanan terhadap segala apa yang
diberitakan Allah dan rasulNya yang berkaitan dengan hari akhir, misalnya berita
tentang apa yang akan terjadi setelah datangnya kematian, seperti mengenai fitnah
kubur, adzab atau nikmatnya. Iman kepada hari akhir juga meliputi keyakinan
kepada berita-berita mengenai apa yang terjadi setelah hari kiamat, misalnya
mengenai ash shirat al mustaqim, mizan, hisab, pembalasan, dan pemberian catatan
amal perbuatan manusia dengan tangan kanan, tangan kiri, atau dari balik punggung.
Keimanan pada hari akhir juga meliputi keyakinan terhadap adanya telaga
untuk Rasulullah y , keyakinan bahwa orang mukmin akan melihat Allah secara
langsung dan bercakap-cakap dengan-Nya, keyakinan tentang surga dan neraka,
serta hal-hal lain sepanjang telah dijelaskan dalam Al Qur�an dan Sunnah Rasulullah
y . Kita wajib meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati semua berita itu.
6. Iman Kepada Qadar (Takdir)
Iman kepada qadar meliputi empat perkara :
1. Keyakinan bahwa sesunguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang
telah dan akan terjadi. Allah mengetahui segala keadaan hamba-hamba-Nya.
Allah mengetahui rezeki, ajal, dan amal perbuatan mereka. Segala urusan dan
gerak mereka tidak pernah luput dari pengawasan-Nya. Allah berfirman:
…Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Al Ankabut: 62).
13
Firman Allah l , yang artinya:
Allah-lah yang menciptakan tujuh langit, dan sepeti itu pula bumi. Perintah
Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu. Dan sesungguhnya Allah, ilmu-Nya benar-benar meliputi segala
sesuatu. (Ath Thalaq: 12).
2. Keyakinan akan adanya catatan Allah tentang apa yang telah ditaqdirkan dan
telah diputuskan-Nya.
Allah berfirman:
Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dan
tubuh-tubuh mereka dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara
(mencatat). (Qaaf: 4).
Firman Allah, yang artinya:
…Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh
Mahfuzh). (Yaasin: 12).
Apakah kamu tidak tahu bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada
di langit dan di bumi. Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah
kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
(Al Hajj: 70).
3. Keyakinan bahwa kehendak-Nya tidak dapat diganggu gugat. Jika Allah
berkehendak, maka jadilah. Dan jika Allah tidak berkehendak, maka tak akan
terjadi. Allah berfirman, yang artinya:
…Sesungguhnya Allah berbuat atas segala yang Dia kehendaki.� (Al Hajj: 18).
Sesungguhnya perintah-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah
berkata kepadanya: �Jadilah.� Maka jadilah dia. (Yaasin: 82).
Firman Allah, yang artinya:
Dan tidaklah kamu berkehendak kecuali jika dikehendaki Allah. Sesungguhnya
Allah adalah Maha Mengetahui dan Mahabijaksana. (Al Insan: 30).
4. Keyakinan bahwa Allah adalah pencipta seluruh yang pernah ada; tidak ada
pencipta selain Dia, dan tidak ada Rabb selain Dia. Allah berfirman:
Allah adalah pencipta segala sesuatu dan Dia atas segala sesuatu sebagai
Pemelihara. (Az Zumar: 62).
Wahai manusia, ingatlah terhadap nikmat Allah yang telah diberikan kepada
kamu sekalian; lalu adakah pencipta selain Allah yang memberikan rezeki
kepadamu dari langit dan bumi? Tidak ada Illah selain Dia, lalu mengapakah
kamu berpaling (dari ketauhidan)? (Faathir: 3).
Itulah prinsip-prinsip keimanan sebagaimana yang diyakini Ahlussunnah wal
Jama�ah, yang meliputi enam prinsip keimanan, yang lazim disebut dengan Rukun
Iman. Suatu pemahaman yang berbeda sekali dengan pandangan-pandangan ahlul
bid�ah.
Menurut aqidah Ahlussunnah, iman kepada Allah juga mencakup keyakinan
bahwa iman itu adalah pernyataan yang disertai dengan amalan. Iman dapat bertambah
manakala seseorang meingktkan ketaatannya kepada Allah, dan dapat berkurang bila
seseorang bermaksiat kepada Allah. Seorang muslim tidak boleh melakukan �takfir�
(mengkafirkan) seorang muslim lainnya yang berbuat dosa, selain dosa syirik. Dosadosa
seperti zina, mencuri, makan riba, meminum-minuman yang memabukkan,
mendurhakai orang tua, serta dosa-dosa besar lainnya tidak menyebabkan seseorang
jatuh kepada kekafiran selama tidak menghalalkannya. Allah berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan Dia dengan sesuatu,
dan mengampuni dosa selain itu bagi orang yang Dia kehendaki… (An Nisa: 116).
Dalam kaitan ini, Rasulullah n bersabda bahwa:
�Sesungguhnya Allah mengeluarkan dari neraka siapa saja yang dihatinya masih
terdapat keimanan, walaupun itu hanya seberat biji sawi.�
�Mencintai, membenci, memihak, dan memusuhi karena Allah, adalah termasuk
bagian dari iman kepada Allah. Seorang mukmin hendaknya mencintai seorang mukmin
lainnya, memihak dan setia kepadanya, dan pada saat yang bersamaan, membenci dan
memusuhi orang-orang kafir.�
Kaum mukminin yang terutama dari ummat ini, adalah para sahabat Rasulullah
yang setia. Maka Ahlussunnah wal Jama�ah pun menyintai dan menyatakan loyalitasnya
kepada mereka, serta meyakini bahwa para sahabat adalah sebaik-baik manusia setelah
para nabi. Keyakinan ini antara lain dilandasi oleh hadits Nabi :
Sebaik-baik masa adalah masaku ini, kemudian orang-orang selanjutnya (tabi�in), lalu
menyusul orang-orang yang selanjutnya (tabiut tabi�in). (Hadits Muttafaq alaih).
Ahlussunnah juga menegaskan bahwa Abu Bakar Ash Siddiq, Umar Al Faruq,
Utsman Dzun Nurain (pemilik dua cahaya), dan Ali bin Abi Thalib adalah sahabatsahabat
utama Rasulullah yang diridhai Allah. Kemudian setelah empat sahabat itu,
sahabat utama Rasulullah adalah sisa sepuluh orang yang telah diberi kabar gembira
dengan jaminan surga. Setelah itu adalah para sahabat lainnya yang semuanya telah
memperoleh ridla Allah. Kita wajib menahan diri dari apa yang mereka perselisihkan
diantara para sahabat itu, dengan keyakinan bahwa mereka adalah para ahli ijtihad
15
(mujtahid). Bagi yang benar akan mendapat dua pahala, sedang bagi yang salah
ijtihadnya akan mendapatkan satu pahala. Para sahabat mencintai Rasulullah dan ahlul
baitnya. Mereka menghormati para istri Rasulullah dan ridla atas mereka semua.
Ahlussunnah wal Jama�ah berlepas diri dari �Thariqatur Rawafidh�, yaitu orangorang
yang membenci dan mencela sejumlah sahabat, namun menjunjung terlalu tinggi
ahlul bait, sehingga mereka menganggap kedudukan ahlul bait melebihi para nabi dan
bahkan sepadan dengan kedudukan Allah. Sebagaimana Ahlussunnah juga berlepas diri
dari �Thariqatn Nawasib�, yakni orang-orang yang membenci ahlul bait, baik yang
menyatakan kebencian itu dengan pernyataan-pernyataannya ataupun dengan
perbuatannya.
Aqidah shahihah yang diamanatkan kepada Rasulullah, sebagaimana yang
dijelaskan dalam risalah ini, adalah aqidah Alfirqatun Najiyah (golongan yang selamat)
Ahlussunnah wal Jama�ah. Dalam kaitan ini Rasululah n bersabda:
Akan tetap ada segolongan dari umatku yang tegak di atas dasar kebenaran, dan
mendapat pertolongan Allah tak menghiraukan orang yang mengecewakan mereka
sampai akhirnya datang perintah dari Allah k .
Masih dalam masalah yang sama, Rasulullah bersabda:
Telah terpecah belah golongan Yahudi menjadi 71 golongan, dan Nashrani terpecah
menjadi 72 golongan. Sementara ummat ini (ummat Islam) akan terpecah menjadi 73
golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu saja. Para sahabat bertanya, �Siapa
golongan itu, wahai Rasulullah?� Beliau menjawab, �Siapa saja yang ber-i�tiqad
seperti aku dan para sahabatku.�
Golongan yang dimaksud oleh Rasulullah n adalah golongan yang berpegang
teguh dan ber-istiqamah terhadap aqidah Rasulullah dan para sahabatnya. Adapun orang
yang berpaling dari aqidah ini, adalah orang-orang yang menyembah berhala,
menyembah malaikat, aulia, jin, pohon-pohon, batu-batu, dan lain sebagainya. Mereka
inilah yang tak mengindahkan seruan Rasulullah, bahkan menentang dan melawannya,
seperti yang diperbuat oleh kaum kafir Quraisy serta berbagai kelompok lainnya kepada
Nabi Muhammad y . Mereka telah meminta sesembahan-sesembahan itu untuk
memenuhi kebutuhan mereka, menyembuhkan, dan memenangkan atas musuh-musuh
mereka, menyerahkan qurban, serta bernadzar untuk sesembahan-sesembahan itu. Maka
tatkala Rasulullah y mengingkari bentuk penyembahan seperti itu, dan mengajak
mereka untuk ikhlas beribadah kepada Allah semata, mereka terkejut dan terheranheran,
dan serta merta mengingkari dan menolak dengan sengit da�wah yang suci dan
agung itu. Mereka berkata dengan sinis:
Mengapa ia menjadikan Tuhan-tuhan itu menjadi Tuhan yang satu saja? Sesungguhnya
ini benar-benar suatu hal yang mengherankan. (Shaad: 5).
16
Itulah sambutan kaum kafir Quraisy terhadap seruan Nabi. Namun, Rasulullah n
tak mengendurkan seruannya, beliau terus mengajak dan mengajak mereka untuk
mengikuti petunjuk Allah, memperingati mereka tentang bahaya syirik, serta
menjelaskan dengan penuh kesabaran, amanat yang sedang diembannya. Akhirnya
Allah memberi petunjuk pada orang yang dikehendaki-Nya, sehingga mereka masuk ke
dalam ikatan Dinullah secara berbondong-bondong. Atas kehendak Allah pula, melalui
usaha da�wah Rasululah yang tak pernah henti, serta gelora jihad para sahabat yang tak
pernah surut, Dinul Islam berhasil ditegakkan dan dimenangkan atas din lainnya.
Namun, keadaan ummat Islam semakin lama semakin berubah. Kebodohan
meliputi kebanyakan manusia, sehingga banyak ummat Islam yang kembali kepada cara
hidup jahiliyah. Mereka mengagungkan para nabi, aulia, dan ulama, secara berlebihlebihan
(al ghuluw), dan menjadikan mereka sebagai tempat meminta pertolongan dan
perlindungan. Kemusyrikan itu berlanjut hingga sekarang. Ummat Islam menjadi tak
mengerti lagi makna kalimah �Laa Ilaha Illallah�, bahkan secara tak langsung
mengingkarinya, seperti halnya yang dilakukan oleh kaum kafir Quraisy dahulu.
Mereka kembali mengatakan, seperti kaum kafir Quraisy dahulu mengatakan:
�…Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami
kepada Allah sedekat-dekatnya…� (Az Zumar: 3).
Namun, tentu saja semua pernyataan itu adalah sangkaan belaka, dan Allah
membatalkan itu semua serta menegaskan bahwa barangsiapa yang menyembah selain
Dia, maka dia telah syirik kepada-Nya, dan ia telah jatuh kepada kekafiran. Allah l
berfirman :
Dan mereka menyembah selain Allah yang tidak dapat memberikan manfaat dan
mendatangkan mudharat bagi mereka. Lalu mereka berkata, �Mereka itu adalah
pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah.� Katakanlah, �Apakah kamu mengabarkan
kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit maupun di bumi? Mahasuci
Allah dan Mahatinggi dari apa mereka mempersekutukan (itu).� (Yunus: 18).
Allah k menegaskan bahwa bentuk penyembahan terhadap apa pun selain
kepada-Nya adalah syirik besar, sekalipun mereka menyebutnya sebagai ibadah serta
sebagai usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Allah l berfirman, yang artinya:
…Sesungguhnya Allah telah memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka
perselisihkan. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang
pendusta lagi sangat ingkar. (Az Zumar: 3).
Segala bentuk peribadatan yang mereka tujukan selain kepada Allah, seperti doa,
rasa cinta, takut adalah bentuk kekufuran kepada Allah. Dan pernyataan bahwa
sesembahan mereka akan mendekatkan diri mereka kepada Allah, adalah dusta besar.
Pada zaman sekarang ini, di antara aqidah shahihah sebagaimana yang diturunkan
kepada para rasul, adalah pola pikir dan pola hidup Marxisme, Leninisme, Sosialisme,
Ba�atsiyah dan yang semacamnya. Doktrin-doktrin yang mereka anut berada di dalam
17
kerangka pikiran tidak adanya Illah dan konsep hidup materialisme. Secara langsung
atau tidak langsung, mereka mengingkari adanya hari kiamat, surga, neraka, dan ajaranajaran
Islam lainnya. Maka tak pelak lagi, ajaran hidup semacam ini bertentangan total
dengan semua syariat samawi. Inilah jalan hidup yang berujung pada jurang penderitaan
dan seburuk-buruknya balasan, di dunia maupun di akhirat.
Di antara aqidah yang bertentangan dengan aqidah yang lurus dan bersih itu
adalah aqidah yang diyakini kaum kebatinan dan sebagian ajaran kaum sufi, bahwa
sebagian dari yang mereka sebut wali-wali ikut bersama Allah dalam mengatur,
merancang urusan alam semesta dan mereka disebut sebagai Aqthaab, Autaad,
Aghwaats, dan yang semacamnya sebagai tuhan-tuhan. Ini adalah syirik yang paling
besar dalam tauhid Rububiyyah. Dan bentuk kemusyrikan ini adalah lebih buruk dari
tindak kemuyrikan yang dilakukan kaum kafir Arab dahulu, sebab kaum kafir Arab saat
itu tidak menyekutukan dalam tauhid Rububiyyah, namun mereka menyekutukan-Nya
dalam hal ibadah. Dalam hal tauhid Rububiyyah, orang-orang Arab jahili itu masih
mengakui keesaan Allah, sebagaimana tertera dalam firman Allah:
?�?tF�9r’y�!$# �?�9?�)u�s9 �?�?s)n=yz �?�? �
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: �Siapakah yang menciptakan
mereka? Niscaya mereka menjawab: �Allah.� (Az Zukhruf: 87).
Dalam ayat-Nya yang lain, Allah k berfirman:
Katakanlah, �Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau
siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang
mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang
hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?� Maka mereka akan menjawab,
�Allah.� Maka katakanlah, �Mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?� (Yunus: 31).
Dan banyak lagi ayat-ayat yang menyatakan seperti ini.
Kemusyrikan yang dilakukan banyk orang pada zaman sekarang ini lebih buruk
dibandingkan kaum musyrikin pendahulunya. Di antara mereka ada yang
menyekutukan Allah dalam hal tauhid Rububiyyah, dan kemusyrikan ini mereka
lakukan baik dalam keadaan susah maupun dalam keadaan lapang. Sebagai contoh
adalah mereka yang melakukan berbagai tindak kemusyrikan di sisi kuburan Al Husain,
Al Badawi, dan kuburan-kubura lainnya di Mesir. Mereka juga dapat kita temui di sisi
kuburan Al Idrus di Aden, Al Hadi di Yaman, Ibnu Arabi di Syam, dan Syaikh Abdul
Qodir Jailani di Iraq, serta kuburan-kuburan lainnya. Bentuk-bentuk penyelewengan
aqidah semacam ini telah mendorong banyak orang untuk mengambil hak-hak Allah.
Namun sayangnya, enggan untuk menjelaskan kepada mereka prinsip-prinsip
ketauhidan sebagaimana yang telah diserukan oleh Nabi Muhammad, serta para nabi
dan rasul sebelumnya. Shalawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan kepada
mereka semua.
Maka sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali.
Sementara itu, ada juga sekelompok ummat yang bertentangan dengan aqidah
shahihah dalam hal asma dan sifat Allah. Aqidah yang mereka ikuti adalah aqidah
bid�ah dari golongan Jahmiyah dan Mu�tazilah. Mereka meniadakan sifat-sifat Allah
Azza wa Jalla dan memutarbalikkan sifat-sifat kesempurnaan Allah dengan sifat-sifat
yang gaib dan sifat-sifat yang mustahil bagi-Nya. Mahatinggi Allah dari segala yang
mereka ucapkan.
Termasuk golongan di atas, adalah kelompok orang yang menafikan sebagian sifat
Allah dan menetapkan sifat-sifat lainnya bagi Allah. Kelompok ini adalah kelompok
Asy�ariyah. Mereka menetapkan beberapa sifat bagi Allah dan membandingkan dengan
sifat-sifat yang dinafikan. Mereka lalu membuat ta�wil atas sifat-sifat itu dengan dalildalil
yang menyalahi dalil pendengaran dan dalil akal serta bertentangan dengan aqidah
shahihah.
Dalam masalah asma dan sifat Allah ini, Ahlussunnah wal Jama�ah telah
menetapkan bagi Allah nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna, baik yang telah
ditetapkan sendiri oleh Allah dalam Al Qur�an atau yang ditetapkan oleh rasul-Nya,
Muhammad y .
Ahlussunnah menjauhkan diri dari penyetaraan Allah dengan makhluk-Nya.
Ahlussunnah menerima sepenuhnya ketetapan Allah dan rasul-Nya mengenai sifat dan
asma-Nya, tanpa menambah atau menguranginya, sehingga mereka terhindar dari
berbagai bentuk kontradisi akibat penafsiran manusia. Inilah jalan menuju keselamatan
dan kebahagiaan dunia dan akhirat. Ash-shirot al mustaqim, jalan yang dilalui oleh
pendahulu ummat ini.
19
HAL-HAL YANG
MEMBATALKAN
KEISLAMAN
Sesungguhnya Allah l mewajibkan kepada seluruh hamba-Nya untuk masuk
ke dalam Dinul Islam dan berpegang teguh dengannya, serta mewaspadai segala bentuk
yang akan menyimpangkan mereka dari din yang suci ini. Dia mengutus nabi-Nya,
Muhammad n , dengan amanat da�wah yang suci dan mulia. Allah juga telah
mengingatkan hamba-Nya, bahwa barangsiapa yang mengikuti seruan para rasul itu,
maka dia telah mendapatkan hidayah; dan siapa yang berpaling dari seruannya, maka ia
telah tersesat. Di dalam Kitabullah, Dia mengingatkan manusia tentang perkara-perkara
yang menjadi sebab �riddah� (murtad dari Dinul Islam) dan perkara-perkara yang
termasuk kemusyrikan dan kekafiran. Beberapa ulama t selanjutnya menyebutkan
peringatan-peringatan Allah l itu dalam kitab-kitab mereka. Mereka mengingatkan
bahwa sesungguhnya seorang muslim dapat dianggap murtad dari Dinul Islam
disebabkan beberapa hal yang bertentangan, sehingga menjadi halal darah dan hartanya.
Diantara sekian banyak hal yang dapat membatalkan keislaman seseorang, Syaikh Al
Imam Muhammad bin Abdul Wahab t , serta beberapa ulama lainnya menyebutkan
sepuluh hal yang bertentangan yang paling berbahaya dan paling banyak dilakukan oleh
ummat Islam. Dengan mengharap keselamatan dan kesejahteraan dari-Nya, kami
paparkan dengan ringkas sebagai berikut:
1. Mengadakan persekutuan dalam beribadah kepada Allah. Dalam kaitan ini, Allah
berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa orang yang menyekutukan-Nya dan
mengampuni selain dosa syirik bagi siapa yang dikehendaki� (An Nisa: 116).
Sesungguhnya siapa saja yang mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka pasti
Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatya adalah neraka. Tidaklah ada
bagi orang-orang dzalim itu seorang penolong pun. (Al Maidah: 72).
Termasuk dalam hal ini, permohonan pertolongan dan permohonan doa kepada
orang mati serta bernadzar dan menyembelih qurban untuk mereka.
2. Menjadikan sesuatu atau seseorang sebagai perantara do�a, permohonan syafa�at,
serta sikap tawwakal mereka kepada Allah.
3. Menolak untuk mengkafirkan orang-orang musyrik, atau menyangsikan kekafiran
mereka, bahkan membenarkan madzab mereka.
20
4. Berkeyakinan bahwa petunjuk selain yang datang dari Nabi Muhammad lebih
sempurna dan lebih baik. Menganggap suatu hukum atau undang-undang lainnya
lebih baik dibandingkan syariat Rasulullah n , serta lebih mengutamakan hukum
thaghut dibandingkan ketetapan Rasulullah n .
5. Membenci sesuatu yang datangnya dari Rasulullah n , meskipun diamalkannya.
Dalam hal ini Allah l berfirman:
Demikian itu karena sesungguhnya mereka benci terhadap apa yang diturunkan
Allah, maka Allah menghapuskan (pahala) amal-amal mereka. (Muhammad: 9).
6. Mengolok-olok sebagian dari Din yang dibawa Rasulullah n , misalnya tentang
pahala atau batasan yang akan diterima. Allah k berfirman:
�Katakanlah, apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan rasul-Nya kamu selalu
mengolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah
beriman� (At Taubah: 65-66).
7. Masalah sihir. Di antara bentuk sihir adalah �ash sharf� (pengalihan), yaitu
mengubah perasaan orang dari senang menjadi tidak senang dengan sihir. Contohnya,
mengubah perasaan seorang laki-laki menjadi benci kepada istrinya. Sedangkan
�al �athaf� adalah sebaliknya, menjadikan orang senang terhadap apa yang
sebelumnya dia benci dengan bantuan syaitan.
Orang yang melakukan kegiatan sihir hukumnya kafir. Sebagai dalilnya
adalah firman Allah k yang artinya :
�Dan keduanya tidak mengajarkan sihir kepada seseorang pun sebelum
mengatakan �Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu, karena itu janganlah kamu
kafir��� (Al Baqarah: 102).
8. Mengutamakan orang kafir serta memberikan pertolongan dan bantuan kepada
orang musyrik lebih dari pada pertolongan dan bantuan yang diberikan kepada kaum
muslimin. Allah berfirman yang artinya:
�Barangsiapa di antara kamu, mengambil mereka orang-orang musyrik sebagai
pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim. (Al Maidah: 51).
9. Beranggapan bahwa manusia bisa leluasa keluar dari syariat Muhammad n . Dalam
kaitan ini Allah k berfirman:
Barangsiapa yang mencari agama selain Dinul Islam, maka dia tidak diterima amal
perbuatannya, sedang dia di akhirat nanti termasuk orang-orang yang merugi. (Ali
Imran: 85).
10. Berpaling dari Dinullah, baik karena dia tidak mau mempelajarinya atau karena
tidak mau mengamalkannya. Hal ini berdasarkan firman Allah l :
Dan siapakah yang lebih dzalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan
ayat-ayat Rabbnya, kemudian ia berpaling dari padanya? Sesungguhnya Kami akan
memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa. (As Sajadah: 22).
Itulah sepuluh naqidhah yang perlu diwaspadai oleh setiap muslim, agar ia tidak
terjerumus untuk melakukan salah satu di antara kesepuluh sebab yang dapat
mengeluarkannya dari Dinul Islam. Begitu seseorang meyakini bahwa undang-undang
yang dibuat manusia lebih utama dan lebih baik dibandingkan syariat Islam, maka ia
telah kafir. Demikian juga jika ia menganggap bahwa ketentuan-ketentuan Islam sudah
tidak relevan lagi untuk diterapkan pada zaman mutakhir ini, atau bahkan beranggapan
bahwa aturan Islam adalah penyebab kemunduran dan keterbelakangan ummat Islam.
Seseorang juga tergolong kafir bila beranggapan bahwa Dinul Islam hanya menyangkut
hubungan ritual antara hamba dan Rabbnya, tetapi tidak ada kaitannya dengan masalahmasalah
duniawi. Demikian juga jika seseorang memandang bahwa pelaksanaan syariat
Islam, misalnya hukum potong tangan bagi pencuri, hukum rajam bagi pezina muhshan
(pezina yang sudah kawin) tidak sesuai dengan peradapan modern. Begitu pula halnya
dengan seseorang yang beranggapan bahwa seseorang boleh tidak berhukum dengan
syariat Allah dalam hal muamalat (kemasyarakatan), hudud, serta dalam hukum-hukum
lainnya. Ia telah jatuh kepada kekafiran, meskipun ia belum sampai pada keyakinan
bahwa hukum yang dianutnya lebih utama dari hukum Islam, karena boleh jadi ia telah
menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dengan dalil keterpaksaan, seperti berzina
(karena alasan mencari nafkah), minum khamr, riba, dan berhukum dengan hukum
rekaan manusia.
Marilah kita berlindung kepada Allah dari hal-hal yang menyebabkab kemurkaan-
Nya dan dari adzab-Nya yang pedih. Shalawat dan salam mudah-mudahan dilimpahkan
kepada sebaik-baiknya makhluk-Nya, Muhammad Rasulullah n , juga kepada keluarga
dan para sahabatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: