• Blog Stats

    • 57,161 hits
  • Kategori

  • Arsip

  • Pos-pos Terbaru

Takkan Pernah Berhasil Upaya Meruntuhkan Orisinalitas Al Quran

Buku Christoph Luxenberg (nama samaran) yang berjudul “Die syro-aramaeische Lesart des Koran” telah menarik banyak perhatian mayarakat Muslim, menyusul publikasinya oleh beberapa media massa. Mulanya, Newsweek edisi 28 Juli 2003, melansir tulisan berjudul “Challenging the Qur’an”. Artikel yang ditulis Stefan Theil itu kemudian memicu kontroversi dan akhirnya majalah itu dilarang beredar di Pakistan. Di Indonesia, masalah ini menjadi ramai, setelah Majalah GATRA menampilkan masalah ini sebagai cover story-nya pada No 37 edisi 4 Agustus 2003.

eramuslim – Bagi kaum Muslim, tentu, upaya untuk meruntuhkan orisinalitas al-Quran sebagai wahyu Allah, bukan barang baru. Sepeninggal Rasulullah saw, Musailamah al-Kazhab sudah melakukan upaya itu. Di setiap zaman, upaya itu selalu dijawab secara elegan dan saintifik oleh ulama dan cendekiawan Muslim. Bagi sebagian kalangan, terutama kalangan orientalis Barat, karya Luxenberg (nama samaran) ini dipandang sebagai ancaman terhadap kajian al-Quran. Dalam analisisnya terhadap buku Luxenburg di Jurnal HUGOYE, Journal of Syriac Studies, Robert R. Phenix Jr. dan Cornelia B. Horn, dari University of St. Thomas, Summit Avenue St. Paul, mencatat implikasi metode kajian filologi yang dilakukan Luxenberg terhadap al-Quran. Menurut mereka, “Any future scientific study of the Qur’an will necessarily have to take this method into consideration. Even if scholars disagree with the conclusions, the philological method is robust.”

Apa pun metodenya, kesimpulan kajian Luxenberg sebenarnya tidak terlalu beda dengan para orientalis dan misionaris Kristen yang melakukan kajian serupa terhadap al-Qur�an. Intinya, mereka menggugat al-Qur�an sebagai “wahyu” yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. Bahwa al-Qur�an adalah “tanzil”, “suci”, bebas dari kesalahan, sebagaimana ditegaskan dalam al-Qur�an (QS 15:9). Menurut Luxenberg � dengan melakukan kajian semantic terhadap sejumlah kata dalam al-Qur�an Arab yang diambil dari perbendaharaan bahasa Syriac — Al Qur’an yang ada saat ini (Mushaf Utsmani) adalah salah salin (mistranscribed) dan berbeda dengan teks aslinya. Teks asli Al Qur’an, simpulnya, lebih mirip bahasa Aramaic, ketimbang Arab. Dan naskah asli itu telah dimusnahkan Khalifah Usman bin Affan.

Dengan kata lain, al-Quran yang dipegang oleh kaum Muslim saat ini, bukanlah wahyu Allah SWT, melainkan akal-akalan Utsman bin Affan r.a. Lunxenberg – seperti banyak orientalis lainnya – mempertanyakan motivasi Utsman bin Affan melakukan kodifikasi al-Qur�an. Ia menduga, teks al-Qur�an yang dimusnahkan Utsman bin Affan berbeda dengan teks Mushaf Utsmani yang sekarang ini. Lebih jauh, Robert R. Phenix Jr. dan Cornelia B. Horn menyatakan, jika analisis Luxenberg benar, maka isi al-Quran Mushaf Utsmani secara substansi berbeda dengan al-Qur�an di masa Nabi Muhammad saw. Tuduhan semacam ini salah sama sekali, sebab proses kodifikasi al-Qur�an di zaman Utsman bin Affan sangat terbuka kerjanya, dan al-Qur�an selalu diingat oleh ratusan, ribuan – bahkan kini jutaan kaum Muslimin. Setiap kekeliruan akan selalu dikoreksi oleh kaum Muslim. Memang, dalam pendahuluan bukunya, Luxenberg memaparkan signifikansi dari bahasa dan budaya Syriac bagi bangsa Arab dan al-Quran. Di masa Nabi Muhammad saw, bahasa Arab bukanlah bahasa tulis. Bahasa Syro-Aramaic atau Syriac adalah bahasa komunikasi tulis di Timur Dekat mulai abad ke-2 sampai 7 Masehi.

Bahasa Syriac dialek Aramaic merupakan bahasa di kawasan Edessa, satu negara kota di Mesopotamia atas. Bahasa ini menjadi wahana bagi penyebaran agama Kristen dan budaya Syriac ke wilayah Asia, Malabar dan bagian Timur Cina. Sampai munculnya al-Quran, bahasa Syriac adalah media komunikasi yang luas dan penyebaran budaya Arameans, Arab, dan sebagian Persia. Budaya ini telah memproduksi literatur yang sansat kaya di Timur Dekat sejak abad ke-4, sampai digantikan oleh bahasa Arab pada abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Satu hal yang penting, menurut Luxenberg, literatur the Syriac-Aramaic dan matrik budaya ketika itu, praktis merupakan literature dan budaya Kristen. Sebagian studi Luxenberg menyatakan, literature Syriac yang kemudian menciptakan tradisi “Arab tulis” adalah ditransmisikan melalui media Kristen.

Pada akhirnya, Luxenberg menyimpulkan, transmisi teks al-Quran dari Nabi Muhammad saw bukanlah secara oral, sebagaimana keyakinan kaum Muslim. Al-Quran tak lebih dari turunan Bible dan liturgi Kristen Syria. Bahasa asli al-Quran bukanlah “Arab”. Sebagai contoh, nama surat al-fatiha, berasal dari bahasa Syriac ptaxa, yang artinya pembukaan. Dalam tradisi Kristen Syria, ptaxa harus dibaca sebagai panggilan untuk berpartisipasi dalam sembahyang. Belakangan, dalam Islam, surat ini wajib dibaca dalam salat. Kata-kata lain dalam al-Quran, seperti quran, jaw, hur, dan sebagainya, juga berasal dari bahasa Syriac dan disalahartikan dalam al-Quran sekarang ini.

Beda Konsep

Sebenarnya, soal banyaknya unsur bahasa Syriac dalam al-Quran bukanlah hal yang aneh. Karena setiap bahasa – apalagi bahasa serumpun, seperti Arab, Hebrew, Syriac — akan saling menyerap, sehingga banyak mengandung kosakata yang identik. Apalagi, sebagai Nabi penutup, yang – diibaratkan oleh Rasulullah saw sendiri – beliau adalah laksana “satu batu-bata yang menyempurnakan bangunan batu bata dari satu bangunan risalah kenabian”. Karena itu, wajar, banyak istilah dan nama dalam al-Qur�an yang memang terdapat pada Bible atau Taurat. Bahkan, al-Quran mewajibkan kaum Muslim untuk mengimani Kitab-kitab yang pernah diturunkan Allah SWT kepada para Nabi.

Soal tudingan bahwa al-Quran bukanlah wahyu Allah dan hanyalah jiplakan dari orang non-Muslim, sudah disebutkan dalam al-Qur�an: “Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya al-Qur�an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal, bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya, adalah bahasa ‘Ajam. Sedangkan al-Quran adalah dalam bahasa Arab yang terang. (‘Arabiyyun mubin).” (QS 16:103).

Jika dicermati, Al-Quran memang banyak menyerap istilah yang sama dengan istilah-istilah yang digunakan agama-agama sebelumnya, bahkan istilah dalam tradisi Quraish. Shaum (puasa), misalnya, jelas-jelas ditegaskan dalam al-Quran (QS 2:183) merupakan kewajiban yang dibebankan kepada kaum Muslim dan umat sebelumnya. Tapi, konsep puasa dalam Islam, lain dengan konsep pada umat nabi sebelumnya. Begitu juga salat, haji, nikah, dan sebagainya. Bahkan, sebutan “Allah” telah dikenal oleh kaum Quraish, tetapi, konsep “Allah” dalam al-Quran sangat berbeda dengan konsep kaum jahiliyah Quraish. Istilah “haji” sudah dikenal sebelum Islam.

Namun, istilah haji dalam Islam berbeda maknanya dengan “haji” sebelum Islam. Begitu juga nama-nama para Nabi. Ibrahim, Dawud, Isa, dan para Nabi lainnya, a.s., dalam konsep al-Qur�an berbeda dengan konsep nabi-nabi dalam Bible dan Taurat (yang sekarang). Misal, Al-Quran menggambarkan Nabi Daud a.s. sebagai sosok yang saleh dan kuat. Berbeda, dengan Bible (2 Samuel 11:2-27) yang menggambarkan Daud sebagai sosok yang buruk moralnya. Selain merebut dan menzinahi istri pembantunya sendiri (Batsyeba binti Eliam), Daud juga menjebak suami si perempuan (Uria) agar terbunuh di medan perang. Sedangkan al-Quran menyatakan: “Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan, dan ingatlah hamba Kami, Daud, yang mempunyai kekuatan. Sesungguhnya dia amat taat kepada Allah.” (QS 38:17)

Konsep Islam tentang “Isa” juga berbeda dengan konsep “Jesus” dalam Kristen, meskipun keduanya merujuk kepada figur yang sama. Bahkan, jika ada yang menyebut agama Islam, Kristen, dan Yahudi adalah rumpun “Abrahamic faith”, maka konsep Ibrahim dalam Islam jelas berbeda dengan konsep Ibrahim dalam Yahudi dan Kristen. Al-Quran dengan tegas menyebut: “Ibrahim bukanlah Yahudi atau Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang hanif dan Muslim, dan dia bukanlah orang musyrik.” (QS 3:67).

Bukan Baru

Jadi, jika ditemukan banyak istilah atau terminologi dalam al-Quran yang sama dan identik dengan istilah dalam Bible atau tradisi sebelum Islam, bukanlah berarti al-Quran menjiplak dari Kitab agama lain. Sebab, salah satu fungsi al-Quran adalah sebagai “parameter” dan korektor” terhadap penyimpangan terhadap Kitab sebelumnya. Al-Quran banyak mengingatkan terjadinya penyimpangan dan perubahan pada Kitab para Nabi itu (QS 4:46, 2:75, 2:79).

Maka, kesimpulan Luxenberg, bahwa “Al-Quran memuat artikel tertentu dari Bibel (Perjanjian Lama dan Baru) yang dibacakan dalam kebaktian Kristen”, masih sangat dangkal dan sama sekali tidak meruntuhkan kewibawaan Mushaf Utsmani yang memiliki kekuatan hujjah yang kuat sebagai wahyu Allah SWT. Apalagi, kesimpulan seperti ini — meskipun menggunakan metode yang berbeda dengan para orientalis sebelumnya — bukanlah barang baru dalam tradisi orientalis dan misionaris Kristen.

Itu bisa disimak misalnya, pada buku karya Samuel M. Zwemmer, misionaris Kristen terkenal di Timur Tengah, yang berjudul “Islam: A Challenge to Faith” (terbit pertama tahun 1907). Di sini, Zwemmer memberikan resep untuk “menaklukkan” dunia Islam. Zwemmer menyebut bukunya sebagai “studies on the Mohammedan religion and the needs and opportunities of the Mohammedan World From the standpoint of Christian Missions”. Dalam bukunya ini, Zwemmer menulis, unsur-unsur yang dipimjam oleh Islam dari berbagai agama dan tradisi sebelumnya, seperti Sabeanism, Arabian Idolatry, Zoroastrianism, Buddhism, Judaism, dan Christianity. Termasuk yang dipinjam dari Christianity, menurut Zwemmer, adalah konsep puasa Ramadhan, cerita tentang Ashabul kahfi, Lukman, Iskandar Zulkarnaen, dan sebagainya. Tentang al-Quran ini, Zwemmer menyatakan:
(1) penuh dengan kesalahan sejarah
(2) banyak mengandung cerita fiktif yang tidak normal,
(3) mengajarkan hal yang salah tentang kosmogoni
(4) mengabadikan perbudakan, poligami, perceraian, intoleransi keberagamaan, pengasingan dan degradasi wanita. Di akhir penjelasannya tentang al-Quran, Zwemmer mencatat: “In this respect the Koran is inferior to the sacred books of ancient Egypt, India, and China, though, unlike them, it is monotheistic. It can not be compared with the Old or the New Testament.” (1985:91).

Semangat seperti Samuel Zwemmer dalam melecehkan al-Quran inilah yang tampaknya ada pada kajian Luxenberg, meskipun dengan cara yang lebih halus dan sedikit canggih. Kaum Muslim, tentu saja, perlu menelaah karya semacam ini dengan cermat, dan memberikan argumentasi yang tepat dan ilmiah terhadap setiap upaya penghancuran al-Quran. Wallahu a’lam (Hidayatullah.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: