• Blog Stats

    • 57,247 hits
  • Kategori

  • Arsip

  • Pos-pos Terbaru

Nikmatnya Pertolongan Allah

Kisah seorang da’i yang kerap
merasakan pertolongan ‘tangan-tangan’
Allah.
Baharudin tiba-tiba gemetar. Baru saja ia
dipanggil ustadz Amin Bachrun (alm), pimpinannya.
“Har,” kata Ustadz Amin, “paksakan dirimu, kamu
harus berkhutbah di sini.”
“Tapi, Ustadz…”
“Pokoknya paksakan dirimu!” Ustadz Amin tidak
memberi kesempatan Baharudin memberi alasan.
Bahar tidak berkutik, tak mungkin lagi ia menolak
perintah itu. Rasanya ingin lari saja. Tapi mustahil itu
ia lakukan, bila tak ingin misi dakwah mereka gagal.
“Dunia ini seperti kiamat,” katanya. Seumur-umur
belum pernah ia berceramah, apalagi khutbah Jum’at.
Kala di pesantren, saat tiba gilirannya memberi
kultum, ia selalu bersembunyi. Beginilah jadinya
sekarang.
Namun tidak ada gunanya menyesal. Ia sambar
buku kecil, yang akan dibacanya sebagai materi
khutbah. Jantungnya berdenyut keras, saat naik ke
mimbar. Saking groginya, tongkat khutbahnya, nyaris
menghantam jidat salah seorang jamaah, karena
terlepas dari genggamannya. “Wah, malunya bukan
main,” ujarnya.
Peristiwa itu berlangsung sebelas tahun lalu,
ketika Baharuddin Mustofa, begitu nama lengkapnya,
ditugaskan mendampingi Ustad Amin Bachrun
merintis Cabang Pesantren Hidayatullah di Ambon.
Pengalaman pahit memang. Tetapi pengalaman
itulah yang telah mengantarkan Bahar, begitu ia
dipanggil, menjadi da’i tangguh. Ia mesti siap segala
sesuatunya.
Perjalanan waktu menunjukkan, dialah salah satu
da’i dari Pesantren Hidayatullah yang kenyang
pengalaman di daerah-daerah sulit. Di antaranya
pernah merintis Cabang di Sorong, Fak Fak dan Biak,
semuanya di Irian Jaya. Pernah pula ia bertugas di
Grogot dan Samarinda Kalimantan. Sekarang, lakilaki
tinggi besar itu menebar dakwah di Mamuju,
Sulawesi Selatan. Persisnya di daerah Tobadak,
sebuah lokasi transmigrasi yang berada di tengah
hutan.
Barangkali, itulah pesantren terluas di Sulawesi.
Betapa tidak, luas Pesantren Hidayatullah Tohbadak
itu 1000 hektar lebih. Kebanyakan masih berupa
semak belakar dan hutan. Santrinya khas, yakni para
transmigran. Di situlah Bahar menyemaikan Islam,
sejak beberapa tahun lalu.
Menariknya, dalam perjalanan dakwahnya, nyata
sekali keterlibatan tangan-tangan Allah. Bukan hanya
sekali, beberapa kali ia merasa mendapat
pertolongan Allah. Pengalaman itu sekaligus
membuktikan bahwa di mana pun tempatnya, Allah
selalu ada dan siap memberi pertolongan kepada
hambanya. “Yang penting ikhlas karena Allah, insya
Allah, Allah bakal menolong kita,” Bahar meyakinkan.
Bahar masuk ke Pesantren Hidayatullah
Balikpapan, Kalimantan Timur tahun l984. Pesantren
adalah dunia asing bagi Bahar, sebab ia adalah anak
jalanan di Yogyakarta. Lahir di Toli-Toli Sulawesi
Tengah, ia merantau ke Yogyakarta untuk menuntut
ilmu di SMA. Tetapi karena terperosok pada
lingkungan pergaulan yang keliru, ia kemudian
menjadi anak berandalan. Kerjaanya mabuk dan
main perempuan, hampir setiap malam.
Pada awal tahun 1980 pemerintah melakukan
pembersihan ‘gali’ (gelandangan liar) dan preman.
Aksi ini dikenal dengan sebutan ‘petrus’ (penembakan
mesterius), yang dipelopori oleh Jenderal Moerdani.
Nah, takut diciduk, Bahar lalu lari ke Toli-toli,
kampung halamannya. Di sanalah ia menyelesaikan
SMA-nya. Begitu lulus, tantenya di Balikpapan
mengajaknya masuk Pesantren Hidayatullah. “Saya
tidak kenal namanya Pesantren Hidayatullah. Saya
biasa hidup bebas,” katanya. Orang tuanya sendiri
mendorong melanjutkan kuliah di Jawa atau
Ujungpandang. Beberapa kawannya juga mengajak
serupa. Entah dorongan apa yang membuat Bahar
kemudian memilih ke Pesantren.
Satu bulan ia menjajal kehidupan pesantren.
Setelah itu Bahar pulang lagi ke Toli-Toli. Katanya
untuk memantabkan niat, terus di Hidayatullah atau
kuliah. “Setelah menimbang-nimbang, termasuk ingin
mencuci masa lalu yang kelam, niat saya akhirnya
bulat: ingin berpesantren,” tekadnya.
Lima tahun digembleng di Balikpapan, tahun l989
mendapat tugas ke daerah. Bersama Ustadz Amin
Bachrun ia diminta merintis Cabang di Ambon. Yang
membuatnya kaget, ia hanya dibekali uang Rp 3000
dan dua lembar tiket. Itu pun cuma sampai di Bitung
Menado, masih jauh dari Ambon. “Apalah arti
uang Rp 3000, untuk sekali makan saja habis,”
katanya mengenang.
Tapi Ustadz Abdullah Said (alm), Pimpinan
Hidayatullah selalu membesarkan hatinya. “Tidak
usah takut dan cemas,” katanya, “Tuhan ada di
mana-mana. Tuhan yang ada di Balikpapan, itu pula
Tuhan yang ada di Ambon. Kalau kita membantu
agama Allah, pasti Allah juga bakal membantu kita.”
Dipompa begitu, semangat jihad Bahar berkobarkobar.
Tiada lagi kecemasan, meski alamat yang
dituju di Ambon tidak jelas.
Selama perjalanan, mereka berdua lebih banyak
berada di mushola kapal. Mengharap pertolongan
Allah, mereka memperbanyak shalat, dzikir dan
tadarus al-Qur’an. Rupanya kelakuan mereka
menarik perhatian salah seorang awal kapal. Mau
kemana Pak? tanyanya. “Kami mau ke Ambon
berdakwah, tapi karena keterbatasan dana dari
Pesantren kita hanya dibelikan tiket sampai di Bitung
saja,” Ustadz Amin menjawab terus terang.
Tahu dari pesantren, sejak saat itu Ustadz Amin
diminta mengisi kultum, setiap usai magrib dan
subuh. Rezeki Allah datangnya dari arah tak terduga,
ternyata itu benar. Turun dari kapal, mereka diberi
amplop oleh awak kapal. “Subhanallah, isinya banyak
sekali, Rp 200 ribu,” Bahar benar-benar bersyukur.
Mereka ke Ambon sebenarnya benar-benar terjun
bebas. Bukan saja tanpa bekal, tapi juga tanpa
alamat tujuan yang jelas. Setelah beberapa hari
menginap di sebuah masjid, akhirnya mereka
ditampung oleh keluarga Bugis, yang kebetulan
masih terhitung saudara dengan Bahar. Segala
tujuan dan misi mereka jelaskan kepada tuan rumah.
“Wah, bagus sekali itu di Ambon belum ada
pesantren,” si tuan rumah menyambut antusias.
Gong pun bersambut. “Bagaimana kalau saya
kumpulkan kawan-kawan,” si tuan rumah membuat
rencana. Tentu saja Ustadz Amin menyetujui rencana
itu. Tidak itu saja, mereka berdua juga rajin
bersilaturahmi kepada tokoh-tokoh ummat dan
pemerintah. Perjalanan dakwah pun berjalan mulus.
Dalam tempo satu bulan, mereka disambut hangat.
“Ada yang menyerahkan masjid untuk dikelola,
bahkan ada pula yang menghibahkan tanah 2 hektar
sebagai lokasi pesantren,” tutur Bahar.
Dari Ambon mereka bergerak ke Ternate, untuk
merintis berdirinya Cabang. Tapi baru satu bulan di
sini, Bahar mendadak mendapat surat penggilan dari
Balikpapan. Lagi-lagi isinya ‘penugasan’ da’wah.
Tetapi da’wah yang ini lain dari pada yang lain. “Saya
dipanggil untuk menikah he..he..,” ujarnya.
Tidak dijelaskan dalam surat itu gadis mana yang
mesti ia nikahi. Begitu datang ke Balikpapan, Bahar
disodori surat pernikahan. Anehnya, tanpa pikir
panjang ia pun membubuhkan tanda tangan.
“Perkawinan ini yang dominan bukan nafsu,
melainkan perjuangan,” kata Bahar. Sepenuhnya ia
percaya saja kepada Ustadz Abdullah Said yang
memproses pernikahan itu. Dua hari kemudian ia
sudah bersanding dengan calon istrinya di pelaminan.
Disebut perkawinan perjuangan, kata Bahar,
karena setelah nikah itu ia bakal segera berangkat
tugas ke daerah memperjuangkan agama Allah.
Meski prosesnya amat singkat, namun lantaran
dilambari dengan tujuan pernikahan yang jelas dan
aqidah yang kokoh, perkawinan Bahar masih
langgeng hingga kini.
Pengalaman mengesankan pasangan suami istri
ini, terjadi saat Bahar bertugas merintis Cabang di
Biak Nomfor Irian Jaya. Ketika kapal sudah berlabuh
di pelabuhan Biak, ia menyuruh istrinya tetap tinggal
di kapal, menunggu barang-barangnya. Sementara
dirinya turun ke darat, melihat-lihat keadaan sambil
mencari tahu masjid. Sebagaimana tugas di daerahdaerah
lain, kali inipun Bahar buta sama sekali
tentang Biak. Karena itu ia perlu merasa berhati-hati.
Secara kebetulan ia bertemu dengan seseorang yang
kelihatannya sedang mencari sesuatu.
“Cari siapa, Pak?,” Bahar mencoba menyapa.
“Kami sedang menunggu kedatangan seorang
mujahid,” jawab orang itu. Disebutkanlah ciri-cirinya,
antara lain wanitanya berjilbab besar. “Mujahid itu
dari Pesantren Hidayatullah bernama Pak
Baharuddin,” katanya.
“Lho Bapak tahu nama saya dari mana?” Bahar
terkejut bukan main. “Jadi, Bapak namanya Pak
Bahar,” sahut orang itu tak kalah terkejut. Mereka
kemudian saling berangkulan seperti dua saudara
yang lama tak jumpa. Seperti tamu istimewa, Bahar
dijemput rombongan tiga mobil.
Usut punya usut, cerita Kustono, nama penjemput
itu, ia mendapat perintah dari kepala Merpati Sorong,
yang kenal baik dengan Bahar saat bertugas di
Sorong. Bahar kemudian dipinjami sebuah rumah
milik Kepala keuangan Merpati Biak. “Begitulah
pemurahnya Allah. Di mana pun kita, Dia akan
memberikan pertolongan, asal kita juga menolong
agama-Nya,” begitulah pengalaman Burhan. Sebuah
rumus yang pasti benarnya. (Bas)
http://www.hidayatullah.com
“Pasal itu Tidak Berfungsi”
Topo Santoso, Dosen Fakultas Hukum UI
Sejauh mana efektivitas hukum positif ini
dalam menekan angka perzinaan?
Mestinya harus ada penelitian ya, untuk
mengukur sejauh mana efektivitas pasal 284 KUHP
itu mampu menekan angka perzinaan. Setahu saya,
sangat sedikit orang yang dijatuhi hukuman berdasar
pasal 284 itu dibanding kenyataan terjadinya
perzinaan di tengah masyarakat. Jarang yang ke
pengadilan. Kalaupun sampai pengadilan,
hukumannya sangat tidak sesuai dengan pelanggaran
hukumnya. Hukumannya cuma 9 bulan. Akibatnya,
hukum tidak membuat orang takut untuk melakukan
perzinaan. Dengan demikian pasal itu tidak berfungsi
sebagaimana mestinya.
Tentang pasal 284 ini, di negara Barat sudah
dihapus seperti di Belanda dan Amerika. Persoalan
tempat tidur dianggap sebagai persoalan pribadi,
bukan persoalan hukum.
Apa yang harus dilakukan dalam menghadapi
aturan semacam itu?
Ada beberapa agenda yang harus dijalankan agar
syari’ah Islam bisa berlaku. Pertama,
mensosialisasikan nilai-nilai keadilan dalam syari’ah
Islam. Ini bisa dilakukan di mana saja, di kampus,
sekolah, masjid, dan di mana saja. Sebab, secara riil
di tengah masyarakat Islam sendiri banyak yang
belum faham terhadap syari’ah Islam. Banyak pula
orang pintar di kalangan Muslim yang tidak setuju
pemberlakuan syari’ah Islam. Kedua, gencarkan
perbincangan dan diskusi agar wacana syari’ah Islam
sehingga akan terus berkembang.
Ketiga, harus ada perjuangan yuridis di parlemen
agar syari’ah Islam bisa dilegalisasi. Ummat Islam
harus memperjuangkan agar hukum pidana Islam
bisa masuk ke dalam hukum publik. Dengan
demikian secara yuridis hukum Islam bisa berlaku.
Keempat, secara politis harus ada upaya untuk
melahirkan suatu kebijakan yang mendukung wacana
penegakan syari’ah Islam. Ini bukan tugas yang
ringan, terutama dari segi hukum pidana Islam yang
selama ini terkesan seram. Pasti nanti akan muncul
tantangan dari sana-sini. (pam) http://www.hidayatullah.com
KH Ishom Hadzik
“Kini Semua Sudah Terlambat”
Sebuah tudingan dialamatkan ke Pesantren
Tebuireng, Jombang Jawa Timur. “Sebagai bagian
keluarga (KH Hasyim Asyari pendiri Nahdlatul
Ulama), mengapa Tebuireng tidak membela Gus Dur,” begitu tudingan itu. Permintaan yang
wajar, karena memang posisi Abdurrahman Wahid sebagai presiden belakangan ini baik secara
politis maupun opini publik berada di ujung tanduk. Segala upaya dilakukan berbagai kalangan
agar Wahid tetap bertahan di singgasana kepresidenan. Lha sebagai keluarga kok malah diam,
begitu kira-kira keheranan orang.
Di kawasan Jombang, yang merupakan kawasan ‘darah biru’ NU, ada tiga pesantren besar yang
menjadi semacam pusat gravitasi bagi organisasi ulama terbesar di dunia ini. Yaitu Tebuireng
yang kini dipimpin oleh KH Yusuf Hasyim paman dari Presiden Abdurrahman Wahid, lalu
Denanyar tempat cucu pendiri NU itu dibesarkan, dan Tambak Beras.
“Diamnya kami itu sebenarnya sudah satu pembelaan tersendiri,” demikian kata KH Ishom
Hadzik (35). Ia termasuk keluarga Tebuireng juga. Di dalam trah KH Hasyim Asy’ari,
kedudukannya sederajat dengan Abdurrahman Wahid, sebab ia juga cucu pendiri NU itu. Gus
Ishom, begitu ia akrab dipanggil, lahir dari rahim Ny Khatijah Hasyim, putri KH Hasyim Asyari
dari ibu ketiga. Jadi dia adalah sepupu presiden.
Sejak kesehatan KH Yusuf Hasyim (yang bahkan oleh para santrinya dipanggil Pak Ud saja)
menurun, Ishomlah yang banyak mengambil alih tugas-tugas ke dalam dan keluar pesantren. Dia
kerap diutus menemui kiai-kiai sepuh. Dia pula yang mengatur pertemuan para kiai Jawa Timur
dengan Menteri Pertahanan M Mahfud MD, beberapa waktu lalu. Ishom juga aktif menulis
artikel di berbagai suratkabar.
Dalam kaitannya dengan posisi Presiden Wahid yang kian terpojok, Ishom mengaku melakukan
pembelaan, tetapi dengan caranya sendiri. Ia memilih bersikap kritis, bukan saja kepada
sepupunya itu, melainkan juga kepada Pengurus Besar NU. Hanya saja, sikap kritisnya kadang
disalahpahami pihak lain.
Suatu kali ia diundang berdiskusi di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI)
Surabaya. Di situ sarjana hukum ini memang mengkritik Gus Dur. Tiba-tiba salah seorang
wanita protes. “Saya kira sangat tidak pantas, Gus Ishom membuka aurat keluarga di depan
umum. Ini kan diskusi umum, bukan diskusi keluarga,” kata wanita aktivis Ikatan Persatuan
Pelajar Putri NU (IPPNU).
“Saya kira, saya sangat tahu mana batas-batas keluarga dan bukan. Dan apa yang saya bicarakan
tadi bukanlah hanya milik keluarga. Sebab Gus Dur sekarang telah menjadi tokoh publik. Dan
masyarakat layak tahu,” jawabnya ringan.
Setelah berkali-kali gagal, menjelang deadline, ayah seorang anak yang pernikahannya awal
tahun 2000 lalu dihadiri oleh Presiden ini, berkunjung ke kantor majalah kita. Maka wawancara
dilakukan dengan santai, ditingkahi asap rokok filternya yang nyaris tak berhenti, dan nasi
bungkus warung Padang yang sederhana. Pengasuh Pondok Pesantren Masruriyyah Jombang itu
tidak berlagak serba tahu. Dengan rendah hati pria yang mengelompokkan dirinya dalam faksi
kultural generasi baru intelektual NU ini mengaku kadang-kadang kesulitan menjawab
pertanyaan yang diajukan.
Menurutnya, kiai-kiai di cabang-cabang NU sebenarnya bisa menerima mundurnya pucuk
pimpinannya dari kursi presiden, asalkan bukan karena alasan cacat moral akibat berbagai
tuduhan skandal keuangan, perempuan, dan sebagainya. Lalu apa alasan mundurnya? Bagaimana
masa depan organisasi yang jumlah pendukungnya 30 juta orang ini? Berikut ini petikannya.
Mengapa Anda beranggapan NU kini sudah kebablasan?
Sengaja atau tidak, NU sekarang sudah terseret ke dalam politik praktis. Sebenarnya itu wajar
saja untuk membela kadernya yang sekarang jadi Presiden. Tetapi kalau kemudian seluruh energi
dicurahkan ke sana dan institusinya sudah dipertaruhkan, menurut saya berbahaya untuk
kelangsungannya sendiri. Apalagi kita sudah berkomitmen kembali ke Khittah 1926. Artinya,
kita mestinya menjaga jarak dengan kekuatan-kekuatan politik yang ada. Karena itu yang
diperlukan sekarang adalah melakukan reposisi. Kembali kepada peran semula, sebagai penjaga
moral.
Mengapa seluruh energi dicurahkan untuk mempertahankan Abdurahman Wahid sebagai
Presiden?
Saya kira benar apa yang dibilang Riswanda Himawan (pengamat politik dari Universitas Gadjah
Mada), bahwa Gus Dur telah melakukan politisasi kultural dan agama. Kalau para kiai matianmatian
mempertahankan Gus Dur, paling pokok karena menyangkut martabat dan harga diri NU.
Setiap kali saya diundang beberapa Cabang NU untuk memberi materi orientasi, sekaligus saya
manfaatkan untuk mengorek pandangan arus bawah terhadap kepemimpinan Gus Dur sekarang
ini. Ternyata pandangan mereka sebenarnya cukup arif, menurut saya. Hanya saja sayangnya
terlambat, mengapa baru disampaikan sekarang.
Yang saya tangkap, menurut mereka, andaikan Gus Dur harus turun lantaran sebab-sebab yang
menurut mereka masuk akal, seperti kekurangan fisik atau karena kondisi kesehatan yang tidak
prima, itu tidak masalah. Mereka tidak kecewa dan mereka juga tidak marah. Tetapi kalau Gus
Dur dijatuhkan karena dianggap cacat moral, karena skandal korupsi, skandal perempuan dan
sebagainya, mereka tidak terima dan akan melawan habis-habisan.
Dalam pikiran mereka, seorang Abdurahman Wahid itu mustahil melakukan itu semua. Dan bila
Gus Dur sampai jatuh dengan alasan seperti di atas, itu akan menjadi stigma bagi NU. Itulah
yang membuat mereka melakukan perlawanan habis-habisan.
Pandangan ini mestinya disampaikan sebelum jatuhnya Memomarundum I, sehingga ada
kesempatan untuk memperhitungkan secara matang. Sekarang sudah sangat terlambat. Kalau
Gus Dur jatuh pasti orang menganggap karena alasan moral.
Andaikan dilontarkan sebelum Memorandum I, bagaimana respon orang-orang di sekitar
Gus Dur?
Saya kira mereka akan berfikir secara lebih arif. Gus Dur sendiri sebenarnya sudah sering diberi
‘memorandum’ (teguran) oleh para kiai.
Bentuknya apa?
Tausyiah, misalnya, agar Gus Dur memilih pembantu-pembantu yang baik. Itu berdasarkan
pesan Rasulullah Saw, “Kalau Allah menghendaki seorang pemimpin itu baik, maka dia juga
akan diberikan pembantu-pembantu (wazir) yang baik.”
Apa kriteria wazir yang baik?
Kembali kepada pesan Rasul tadi, yakni ketika sang Pemimpin lupa terhadap amanat yang
diemban, ia berani mengingatkan tanpa takut kehilangan jabatan, dan tidak ABS (asal bapak
senang). Bila sang pemimpin sudah berjalan pada rel yang ditentukan, ia akan membantu. Sudah
sering para kiai memberi tausyiah seperti itu. Tapi pada kenyataannya, rezim sekarang ini
beberapa kali tidak pas dalam memilih pembantu.
Menurut para kiai yang tidak berada dalam struktur resmi, bagaimana seharusnya NU
menjalankan kepemimpinan negara?
Isi al-Qur’an kan sebagian besar ibrah yang diambilkan dari sejarah ummat-ummat terdahulu.
Salah satu yang dipaparkan beberapa kali oleh al-Qur’an adalah soal Fir’aun dan Musa. Fir’aun
adalah simbol dari kekuasaan otoriter dan menindas rakyat. Kekuasaan otoriter hanya akan
muncul bila ada konspirasi dari tiga kekuatan utama, yakni elit politik (Fir’aun), elit ekonomi
(Qarun, konglomeratnya Fir’aun) dan elit teknokrat (Hamaan, wazirnya Fir’aun).
Orde Baru saya kira mirip dengan gambaran di atas. Elit politiknya ABRI dan Golkar, elit
ekonominya para konglomerat hitam dan elit teknokratnya di antaranya sebagian orang-orang
ICMI. Saat tiga kekuatan ini mengadakan konspirasi, lahirlah Orde Baru yang otoriter.
Pada zaman Fir’aun, peran penjaga moral dilakukan oleh Musa. Ia tampil membela Bani Israil
yang ditindas. Pada era Orde Baru, NU dan para ulamanya tampil sebagai Musa, membela
ummat yang tertindas. Nah persoalannya, NU yang mestinya berperan sebagai penjaga moral,
sekarang masuk menjadi bagian dari kekuasaan itu, bahkan menjadi puncak kekuasaan. Lalu
siapa yang menjadi Musa sekarang?
Okelah Gus Dur yang dianggap kader terbaik NU sekarang menjadi Presiden, tapi lepaskan itu
dari keterkaitannya dengan NU, sehingga NU dan para kiai tetap bisa berperan sebagai pengawal
moral.
Setelah Abdurrahman Wahid berada di puncak kekuasaan, itu memberi keuntungan atau
justru merugikan NU?
Para kiai melihatnya berbeda-beda. Ada seorang kiai sepuh mengatakan, “kita ini makin repot
setelah Gus Dur jadi Presiden. Karena sebentar-sebentar mesti memberi jawaban atas berbagai
pertanyaan dari ummat. Sementara kita tidak dapat apa-apa, hanya dapat repotnya saja.” Tapi
bagi pihak-pihak yang diuntungkan, tentu jawabannya bakal lain.
Pertanyaan serupa pernah dilontarkan Ronald A Luken Bulls, seorang antropolog dari Florida
Amerika Serikat. Ia datang ke rumah saya, awal tahun 2000 lalu, setelah beberapa bulan Gus Dur
jadi Presiden. Ia tertarik mengamati apakah orang-orang NU yang dulu dimarginalkan, setelah
Gus Dur jadi Presiden, mengalami perbaikan nasib. Apakah mereka mengalami perubahan
signifikan dalam kehidupannya? Saya bilang, lihat saja (Pesantren) Tebuireng tetap saja dari
dulu sampai sekarang dan nasib orang-orang NU di desa-desa juga tetap seperti itu. Untuk ikut
istighosah saja, mereka mesti menjual kambing he..he..
Akhirnya dia berkesimpulan, setelah Gus Dur jadi Presiden tidak ada perubahan yang cukup
signifikan. Yang ada paling-paling merasa bangga, sebab tokoh panutannya jadi Presiden. Lebih
dari itu tidak ada.
Saya pernah ketemu dengan isteri salah satu pejabat. Beberapa waktu Gus Dur jadi Presiden,
wah.. dia cerita luar biasa “Saya orang NU, orang tua saya latar belakangnya begini, begini…”
dan seterusnya. Pokoknya bangga sekali. Tetapi sekarang, tatkala Gus Dur berada di ujung
tanduk, dia bilang kepada saya “saya malu jadi orang NU.” Lha bagaimana ini? Yang muncul
bukan lagi pikiran dewasa, tetapi kekanak-kanakan dan naif. Seperti pernyataan beberapa kiai
Jawa Timur yang menyatakan akan merdeka, bila Gus Dur turun. Padahal Negara Kesatuan
Republik Indonesia, berdasarkan Pancasila dan UUD’45, menurut ketetapan Muktamar (NU)
Situbondo, itu bentuk final dari cita-cita yang diperjuangkan ulama NU.
Anda sendiri sebagai sepupu Presiden menempatkan diri di mana?
Saya agak sulit menempatkan diri. Saya ini mantan pengurus Syuriah NU Wilayah Jawa Timur.
Repotnya di NU ini, dan ini menjadi keluhan banyak orang, meskipun Gus Dur dulu pionir
demokratisasi, namun sebenarnya demokrasi itu tidak berjalan di NU. Misalnya, bila ada
meanstrem yang kuat, lalu ada pendapat-pendapat yang berbeda, mereka akan disingkirkan.
Bukan saya saja yang mengalami, tapi banyak orang.
Yang membela habis-habisan Gus Dur sekarang itu kan beberapa elit NU yang diuntungkan
dengan naiknya Gus Dur. Mereka menggunakan NU sebagai alat.
Menurut saya, kalau Gus Dur terpaksa harus lengser, NU tidak boleh lengser. NU harus tetap
berjalan dengan baik dan memproduksi orang-orang yang nanti punya peluang melanjutkan
estafet perjuangan. Okelah Gus Dur mundur, bukan tidak mungkin nanti muncul Gus Dur-Gus
Dur yang lain dan ini harus dipersiapkan.
NU lengser maksudnya bagaimana?
NU lengser, maksudnya begini. Pada jaman Orde Lama NU dipinggirkan, meski sempat juga
bermesraan dengan kekuasaan. Pada era Orde Baru, NU juga dimarginalkan. Ada kekhawatiran
di kalangan para kiai, ketika presidennya saja dari orang NU nasib kita begini, lha kalau nanti
presidennya lengser apa nasib kita tidak lebih parah lagi. Maksudnya, ajaran ahli sunnah wal
jamaah sebagai pegangan NU, akan hilang, dan yang berkuasa kelak adalah Islam dari golongan
Wahabi. Kekhawatiran ini memang agak berlebihan. Hanya saja bahwa citra NU tidak seperti
dulu, itu pasti! Karena itu mestinya perlu ada reposisi peran ulama dan NU.
Kenapa Anda menganggap kekhawatiran itu berlebihan?
NU sebagai jama’ah harus dibedakan dengan NU sebagai jam’iyyah. NU sebagai jama’ah tanpa
jam’iyyah bisa jalan kok. Seperti budaya tahlilan, yasinan dan baca maulid, tanpa diorganisir
jalan sendiri. Bahkan NU tidak pernah ngurusi pesantren. Pesantren-pesantren berkembang itu
atas usaha kiainya sendiri.
Nah, orang lalu bisa bertanya, peran NU apa? Jawaban nakalnya, NU jam’iyyah itu hanya
menjadi batu loncatan beberapa gelintir orang untuk mendapatkan akses ekonomi, politik dan
sebagainya.
Berarti tidak sesuai dengan apa yang dicita-citakan para pendiri NU?
Nah, disitulah sebenarnya Kiai Hasyim (Asy’ari) pernah menerima sepucuk surat dari salah
seorang kiai, ketika beliau merestui berdirinya NU. Merujuk kitab kecil yang sering dihafalkan
di pesantren, Alfiyah, mengapa mesti diberi nama Nahdhatul Ulama, padahal ada indikasi yang
dipaparkan Ibnu Malik penulis Alfiyah itu, bahwa kebangkitan suatu kelompok seringkali
menimbulkan sikap inkonsisten dan seterusnya, ketika mereka tergiur meraih fasilitas,
kedudukan dan kekuasaan. Karena kekhawatiran itu, pernah diusulkan ganti nama saja.
Kekhawatiran itu, awalnya memang tidak terbukti, karena masih dikawal oleh kiai-kiai sepuh.
Sekarang ini sulit untuk tidak mengatakan bahwa kekhawatiran itu terbukti.
Pada awal-awal berdirinya NU, para kiai itu sangat terbuka. Bahkan lebih demokrat dari
sekarang. Polemik terbuka itu biasa muncul, dan polemik itu dipublikasikan dalam bentuk bukubuku
dan risalah.
Ajaran yang dikembangkan pesantren itu kan lebih dekat ke tasawuf, kenapa sekarang
kita melihat sebagian orang NU terpancing berbuat kekerasan?
Persolannya seringkali lebih karena elit-elit NU tertentu baik nasional maupun regional, dan
lokal yang berkepentingan, itu menggunakan massa. Gejalanya begini. Pada masa Orde Baru alat
represi itu militer. Lha sekarang militer kembali ke barak. Padahal kekuasaan dan elit-elit itu
tetap butuh. Karena tentara sudah tidak bisa digunakan, maka alat yang digunakan adalah massa
yang mereka punya. Jadi, sebenarnya sama saja dengan zaman Orde Baru.
Jadi, menurut Anda kejadian penebangan pohon dan pembakaran kantor-kantor partai
politik lain itu, jamaah NU diperalat saja?
Saya kira ya. Ini terbukti saat demo serentak yang dilakukan pendukung Gus Dur di berbagai
tempat, mereka hanya menonton saja. Ketika mereka diangkut truk, mereka tak paham mau
dibawa ke mana dan apa tujuannya. Yang sangat aktif itu orang lain. Ada dari PRD, PMII, dan
ada preman-preman yang tidak jelas statusnya.
Islam yang merupakan pegangan NU kan membawa missi rahmatan lil alamin, bukan saja
untuk Indonesia tapi juga dunia. Mengapa NU menganggap Negara Kesatuan Republik
Indonesia ini sebagai bentuk final perjuangan?
Saya juga agak bingung. Ketika saya mempelajari sejarah, Kiai Hasyim Asyari itu sebelum
kembali ke tanah air, sewaktu masih di Mekkah, pernah ikut mengadakan bai’at dengan semua
pelajar Islam, terutama dari Asia Tenggara. Isi bai’at itu adalah keinginan menggalang kekuatan
dan potensi ummat Islam untuk memerdekakan semua bangsa Muslim yang masih terjajah.
Membentuk semacam jaringan, begitu?
Ya begitu. Sebab, semasa hidupnya, Kiai Hasyim itu selalu berkorespondensi dengan Ali Jinnah
(Pakistan). Ketika gerakan Islam bangkit melawan penjajah Inggris dan Prancis di Syiria, Kiai
Hasyim banyak melakukan apel akbar di berbagai kota. Beliau tahu gerakan itu, karena selalu
berkorespondensi dengan tokoh-tokoh di berbagai negara. Nah, karena itu, ketika NU
mengirimkan Komite Hijaz dan menghadap Raja Saudi, itu kan diakomodir dan diterima
gagasan-gagasannya. Jadi NU dahulu berdialog dengan sangat baik dengan kelompok-kelompok
yang oleh sebagian orang NU dituding sebagai Wahabi.
Maksud Anda semangat pemikiran Kiai Hasyim As’ary waktu itu adalah semangat
pemikiran yang paralel dengan perkembangan pemikiran dunia Islam?
Iya.
Lalu sejak kapan NU kemudian lebih enjoy menjadi organisasi lokal saja?
Saya tidak tahu. Di zaman Pak Wahid (KH A Wahid Hasyim) masih agak lumayan. Karena yang
dikembangkan Pak Wahid, terutama di Tebuireng waktu itu, diadopsi dari Timur Tengah, seperti
Al Azhar, dan dari Saudi. Pikiran Pak Wahid itu maju waktu itu. Artinya begini, walaupun
awalnya tidak direstui Kiai Hasyim, Pak Wahid itu ngotot membikin sekolah “Nizhamiyah” Di
sekolah ini dimasukkan kurikulum sekolah umum. Seperti Bahasa Inggris, Bahasa Belanda,
Matematika, Ilmu Bumi dan seterusnya. Kiai Hasyim tidak merestui. Tapi Pak Wahid bilang,
“Bila ini tidak kita berikan, saat kita merdeka nanti kaum santri dapat peran apa? Peran-peran itu
harus kita rebut,” jelas Pak Wahid. Dan belakangan terbukti, alumnus sekolah “Nizhamiyah”-nya
Pak Wahid jadi orang semua. Beberapa nama yang bisa disebut adalah KH Ahmad Siddiq,
Abdullah Siddiq, Mahfud Siddiq, pokoknya Siddiq bersaudaralah.
Kalau Kiai Hasyim pernah berbai’at dengan dunia Islam, mengapa cucunya yang kini jadi
presiden, di koran Al Ahram pernah mengatakan, “Saya ini sejujurnya dibanding dengan
Arab, hati saya lebih dekat dengan Israel.” Itu bagaimana menjelaskannya?
Saya susah untuk menjelaskan itu. Bagaimana ya.. tapi yang jelas, ada obsesi dari Gus Dur.
Pernah saya katakan pada Gus Dur bila saya mau menggali karya-karya Kiai Hasyim, karena
beberapa di antaranya saya anggap sangat relevan. Oleh Gus Dur ditanggapi, memang betul
karya Kiai Hasyim harus kita terbitkan lagi. Tetapi, masih kata Gus Dur, masih banyak pikiranpikiran
dari Mbah Hasyim yang masih harus kita kembangkan dan kita sempurnakan. Nah,
apakah pikiran-pikiran Gus Dur yang jauh ke Israel dan ke mancanegara adalah bagian dari
upaya untuk menuntaskan pikiran-pikiran Kiai Hasyim yang dianggap belum sempurna dan
belum selesai. Saya nggak tahu.
Selain di Tebuireng, Ishom juga menimba ilmu di Pesantren Lirboyo Kediri Jawa Timur. Bahkan
menyelesaikan kuliahnya juga di kota tahu itu, di sebuah universitas swasta, jurusan hukum.
Sejak mahasiswa ia sudah mengajar di Lirboyo. “Sehingga saya tidak punya waktu untuk
kegiatan di luar,” katanya. Profesi guru ini masih ditekuni hingga sekarang. Ia tercatat sebagai
guru Aliyah Wahid Hasyim dan dosen di Universitas IKAHA (Ikatan Keluarga Hasyim Asy’ari)
Jombang.
Hubungannya dengan Gus Dur, meski ia kerap bersikap kritis, diakui baik-baik saja. Sejak Gus
Dur naik jadi Presiden, dua kali ia menemui. Di Istana dan di Tebuireng. Ketika di Istana, ia
sempat bercerita mimpi kepada Gus Dur. “Gus Dur itu suka menafsirkan mimpi,” katanya.
Dalam mimpinya, Ishom membonceng Gus Dur dengan vespa buntut. Di tengah jalan dicegat
tentara. Tentara itu tidak percaya kalau yang dibonceng itu Presiden. Maka ditabrak saja oleh
Ishom. “Apa artinya itu, Mas?” tanya Ishom kepada Gus Dur. “Ya artinya tentara harus dilibas.”
Generasi muda NU
Sekarang ini muncul lapisan muda di NU yang dalam banyak hal pemikirannya berbeda
dengan mainstream para kiai. Misalnya, mereka lebih dekat ke pemikiran Kiri dan Liberal
daripada pemikiran-pemikiran dari khazanah Islam sendiri. Kesannya mereka lepas dari
akar NU-nya. Betul tidak kesan seperti itu?
Saya kira tidak. Sejak awal tahun 90-an, wacana ahlussunnah wal jamaah itu dikaji dan
dikembangkan sedemikian rupa, sebagai salah satu konsep alternatif dalam melakukan
perubahan. Karena ada kesan yang muncul dari para kiai waktu itu, bahwa sunni itu jumud
(statis). Dari penelitian-penelitian yang banyak dilakukan, kalau ingin mengadakan perubahanperubahan
yang radikal, tidak mungkin kita menggunakan wacana sunni. Teologi sunni
cenderung mempertahankan status quo. Dan itu diakui sendiri oleh al-Mawardi yang kitabnya, al
Arkanul Sulthaniyahnya, dijadikan rujukan. Di dalam kitab ini al-Mawardi menulis, bahwa kitab
ini ditulis atas pesan sponsor khalifah-khalifah dari Dinasti Abbasiyyah untuk kepentingan pro
status quo.
Padahal kalau kembali kepada para sahabat, itu dinamis sekali. Banyak sekali pola dalam
kaitannya bagaimana menyikapi kekuasaan. Inilah yang dikembangkan kaum muda NU. Tapi
akhirnya lapisan inipun terbelah. Ada faksi politik seperti Muhaimin Iskandar, Efendie Choirie,
Syaifullah Yusuf dan lain-lain. Ada faksi kultural yang tetap konsisten mengembangkan
pemikiran, seperti anak-anak LKiS dan Elsad. Sekarang faksi kultural kecewa setelah melihat
kondisi seperti ini dan akibatnya mereka jadi apolitik.
Bukankah gerakan Gus Dur dulu disebut gerakan kultural?
Ya, tapi ketika Gus Dur mendirikan PKB, itu sebenarnya menjadi titik awal kemenangan faksi
politik.
Di kalangan generasi muda NU banyak pemikiran yang sangat liberal. Misalnya di
Kongres PMII di Surabaya pernah ada desakan kuat untuk menghilangkan kata ‘Islam’
dari namanya. Lalu di Surabaya juga ada ide membuat posko nikah mut’ah di lokalisasi
pelacuran. Mengapa sampai begitu?
Sebenarnya bukan hanya pemirikan-pemikiran liberal, tapi juga pemikiran-pemikiran Kiri.
Mereka banyak mengadopsi Islam-kiri Hassan Hanafi. Mereka sebenarnya hanya ingin
membongkar syariah yang sudah mapan.
Di Islam sendiri ada pemikiran-pemikiran yang reformis dan dinamis seperti M Rasyid
Ridla, Jamaluddin al-Afghani, dan Muhammad Abduh. Kenapa kok tidak ke sana, tapi
cenderung Kiri dan Liberal?
Karena kalau mereka mengembangkan wacana Jamaluddin Al Afghani dan Abduh, itu
bertabrakan dengan kultur NU. Ciri-ciri tradisional NU itu sudah jelas-jelas tidak bisa ada
kecocokan dengan pikiran-pikirannya Abduh.
Menurut anda apa poin-poin prinsipil yang tidak cocok itu?
Saya kira begini, pada waktu NU didirikan, itu ada satu poin yang penting. Yaitu ingin
mengembangkan dan melestarikan ahlus sunnah wal jamaah yang waktu itu terus-menerus
mendapat gempuran. Padahal, kata Gus Dur, Islam di Indonesia ini cenderung tradisional. Sebab,
Islam yang masuk di Indonesia tidak langsung dari Arab Saudi tetapi masuk melalui jalur Persia-
India lalu ke Indonesia. Jadi itulah kemudian, Islam sudah mengalami proses akulturasi dengan
budaya-budaya Persia dan India. Itulah kenapa sebabnya Islam di Indonesia kemudian bisa
mudah sekali bersinggungan dengan nilai-nilai Hindu dan Budha.
Kalau pilihannya kemudian pikiran-pikiran Kiri dan Liberal, apakah bukan destruktif,
terutama dari segi fikrah NU?
Saat teman-teman muda NU mengintrodusir itu, memang respon dari para kiai sangat beragam.
Banyak yang bereaksi keras, tapi ada juga yang secara bertahap dan mulai bisa menerima.
Kembali seperti yang saya bilang tadi, teologi politik Sunni itu jumud (mandek). Dan ini harus
dibongkar, karena perubahan-perubahan yang terjadi harus direspon.
Mengapa pilihannya bukan dari khasanah Islam sendiri?
Kalau boleh saya bilang, itu akibat dari keterpinggiran NU. Tidak hanya pemikiran Kiri, bahkan
sempat juga dikembangkan ‘Teologi Pembebasan’. Jadi berangkatnya dari masyarakat tertinggal
yang kemudian melakukan upaya-upaya perlawanan dengan cara mengajak dan membawa NU
lebih ke tengah. Diharapkan seperti itu. Walaupun sebenarnya tidak terlalu sukses.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: