• Blog Stats

    • 57,161 hits
  • Kategori

  • Arsip

  • Pos-pos Terbaru

Meraih Husnul Khatimah

Husnul Khatimah
Segala puji bagi Allah, yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu dan yang
membuat perhitungan dengan segala sesuatu (yakni Dia megetahui
bilangan segala sesuatu dengan pasti). Dia merahmati siapa yang Dia
kehendaki, yang melalui rahmat itu Dia menyuruh (kepada mereka untuk
melaksanakan) di dunia ini yang (jika mereka lakasanakan) konsekuensinya
akan menaikkan derajat mereka di Hari Kiamat, maka mereka (Muslimin) selalu
dalam ketaatan kepada-Nya dan beribadah kepada-Nya, jika mereka ditimpa
musibah dan bersabar maka akan baik bagi mereka (di Hari Kiamat), dan jika
nikmat diberikan kepada mereka (oleh Allah) dan mereka berterima kasih dan
bersyukur (kepada Allah) maka akan baik bagi mereka di Hari Kiamat, dan
mengenai mereka Allah berfirman:
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala
mereka tanpa batas..” (QS Az zumar [39] : 10)
Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang diibadahi dengan benar kecuali
Allah, Maha Esa Dia dan tiada sekutu bagi-Nya, dan saya bersaksi bahwa
Muhammad  adalah hamba dan rasul-Nya yang diutus kepada kita sebagai
rahmat bagi semesta alam, semoga shalawat dan salam dilimpahkan
kepadanya, keluarganya, dan para sahabatnya.
Bagian dari kebaikan seseorang di dunia ini adalah kehidupannya; jika dia
menggunakannya dalam hal-hal yang bermanfaat baginya di persinggahan
terakhir yang abadi (Surga), maka perdagannya memberikan keuntungan yang
besar. Namun jika dia menyalahgunakannya dengan melakukan dosa-dosa dan
kemaksiatan hingga dia bertemu Allah dalam keadaan yang demikian, maka dia
pastilah termasuk orang-orang yang merugi; berapa banyak diantara mereka
yang berada di kubur? Seseorang yang berpikiran sehat menyeru dirinya untuk
melakukan perhitungan sebelum Allah memanggilnya untuk melakukan
perhitungan (pada Hari Perhitungan), dan takut kepada dosa-dosanya (dan
konsekuensinya menjauh dari dosa-dosa tersebut) sebelum dosa-dosa itu
membawanya kepada kehancuran (yakni api Neraka). Ibnu Mas’ud  berkata:
Meraih Husnul Khatimah
2.“Orang Mu’min sejati melihat dosa-dosanya seolah-olah dia duduk di sisi
sebuah gunung yang dia takut gunung itu akan segera menimpanya.” [HR
Bukhari (11/88-89) dan Muslim].
Berapa banyak orang yang terus-menerus melakukan dosa-dosa kecil dan
terbiasa dengannya dan menganggapnya sepele, dan tidak pernah berpikir
mengenai kebesaran Dia yang dikhianati dan bahwa dosa-dosa kecil itu
merupakan su’ul khatimah (akhir yang buruk dari kehidupannya hingga
dijebloskan ke dalam neraka). Anas bin Malik  berkata:
“Engkau melakukan dosa-dosa yang engkau anggap lebih ringan daripada
sehelai rambut (sesuatu) yang kami anggap sebagai dosa besar di masa
Nabi .” [HR Bukhari (11/283)
Allah Ta’ala menarik perhatian orang-orang beriman di dalam Al-Qur’anul
Karim terhadap pentingnya husnul khatimah (akhir yang baik dari kehidpuan
dan amalan seseorang); Dia berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar
takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam.” (QA Al-Imran [3] : 102)
Dan Dia berfirman:
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).”(QS
[15] : 99)
Perintah (pada ayat sebelumnya) untuk bertakwa kepada Allah dan beribadah
hanya kepada-Nya saja terus berlangsung sampai seseorang mati, sehingga
husnul khatimah dapat diraih. Nabi  mengabarkan kepada kita bahwa ada
sebagian orang yang tetap dalam ketaatan selama masa hidupnya namun sesaat
sebelum meninggal mereka mati dalam keadaan berbuat dosa dan kemaksiatan
dan mengakhiri kehidupannya dalam keadaan yang demikian (dan sebagai
akibatnya mereka dilemparkan ke dalam Neraka). Nabi  bersabda:
Meraih Husnul Khatimah
3.“Demi Allah, sesungguhnya seorang dari kalian atau seorang laki-laki beramal
dengan amalan ahli Neraka, sehingga jarak antara dirinya dengan Neraka hanya
sedepa atau sehasta lagi, tetapi telah berlaku ketetapan sebelumnya atasnya,
lalu dia beramal dengan ahli Surga, sehingga dia pun masuk ke dalam Surga.
Dan seseorang benar-benar beramal dengan amalan ahli Surga, sehingga jarak
antara dirinya dengan Surga hanya sehasta atau dua hasta lagi, tetapi telah
berlaku ketetapan atasnya, lalu dia beramal dengan amalan ahli Neraka,
sehingga dia pun masuk Neraka.” (Bukhari, 11/417; dan Muslim, 2643).
Sahl Ibnu Sa’ad As-Saidi , meriwayatkan bahwa dalam salah satu peperangan,
Nabi  berhadapan dengan kaum musyrikin, dan kedua pasukan bertempur,
kemudian kedua pasukan kembali ke tendanya masing-masing. Diantara
pasukan Muslimin ada seorang pemuda yang selalu mengikuti seorang Musyrikin
yang sendirian dan menebasnya dengan pedangnya. Dikatakan, “Ya Rasulullah!
Tidak seorang pun berperang dengan gagah berani kecuali si fulan.” Nabi 
bersabda: “Dia dari penduduk neraka.” Kemudian salah seorang diantara
mereka berkata, “Aku akan mengikutinya dan bersamanya dalam setiap
peperangan.” Pemuda (yang gagah berani tadi) terluka, dan ingin mengakhiri
hidupnya, dia menempatkan pegangan pedangnya di atas tanah dan ujungnya
ke dadanya, dan menjatuhkan dirinya di atasnya, melakukan bunuh diri. Lalu
orang yang mengikutinya itu datang kepada Nabi  dan berkata: “Aku bersaksi
bahwa engkau adalah Rasulullah.” Nabi  bertanya. “Apa yang terjadi?” Lakilaki
itu menceritakan seluruh kejadiannya. Lalu Nabi  bersabda:
“Seorang hamba benar-benar beramal dengan amalan ahli Neraka padahal
sesungguhnya dia termasuk ahli Surga, dan seseorang benar-benar beramal
dengan amalan ahli Surga padahal sesungguhnya dia termasuk ahli Neraka,
sesungguhnya perbuatan itu tergantung pada akhir penutupnya.” (Fath al-Bari,
penjelasan Shahih Bukhari 7/538-4202 hal. 538, Edisi Pertama, Dar Ar-Rayan,
1988).
Meraih Husnul Khatimah
4.Allah Ta’ala menggambarkan hamba-Nya yang beriman sebagai orang yang
menggabungkan antara rasa takut akan siksa Allah dan keikhlasan dalam
beribadah di dalam hatinya. Allah Ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (azab) Tuhan
mereka, Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Tuhan mereka, Dan
orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Tuhan mereka (sesuatu
apapun), Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan,
dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka
akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat
kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”
(QS Al-Mu’minun [23] : 57-61)
Inilah keadaan para sahabat yang mulia. Ahmad meriwayatkan dari Abu Bakar
As-Siddiq  bahwa ia berkata:
“Sekiranya aku adalah sehelai rambut dari tubuh orang Mu’min”
Dan dia  biasa memegang lidahnya dan berkata:
“Inilah sesuatu yang membawaku kepada kehancuran.”
Ali bin Abi Thalib  takut kepada dua hal: panjang angan-angan dan mengikuti
hawa nafsu. Dia  berkata:
“Panjang angan-angan membuat lupa akan akhirat, dan mengikuti hawa
nafsu menghalangi dari jalan kebenaran.”
Ali  juga berkata:
“Sesungguhnya dunia ini akan segera pergi dan akhirat akan datang
dengan cepat. Dan masing-masing dari keduanya mempunyai anak-anak,
maka jadilah anak-anak akhirat (yakni orang-orang yang mencintai
akhirat dan mengerjakan amalan yang baik yang Allah perintantahkan
sehingga Dia memasukkanmu ke dalam Surga), dan janganlah menjadi
anak-anak dunia (yakni orang-orang mencintai dunia dan menjalani
hidupnya dengan berbuat dosa dan kemaksiatan, dan lain-lain) karena
dunia ini adalah tempat beramal bukan perhitungan sedangkan esok
adalah hari perhitungan dan bukan amalan.”
Meraih Husnul Khatimah
5.Kematian mendadak merupakan sesuatu yang tidak disukai di dalam Islam
karena ia datang kepada seseorang secara tiba-tiba dan tidak memberi
kesempatan (untuk bertaubat), dia mungkin melakukan suatu kejahatan
sehingga hidupnya berakhir dalam keadaan yang demikian.
Para salaf takut terhadap su’ul khatimah dengan ketakutan yang besar. Sahl At-
Tusturi berkata: “Para Siddiqin takut akan su’ul khatimah dalam kehidupan
seseorang dalam setiap gerakan atau setiap saat dan mereka digambarkan oleh
Allah di dalam Al-Qur’anul Karim: “…dengan hati yang takut” (QS Al-Mu’minun
[23] : 60).
Ketakutan akan akhir yang buruk (su’ul khatimah) dari kehidupan seseorang
harus dinampakkan pada mata seseorang setiap saat karena ketakutan akan
mempengaruhinya dalam beramal (yakni melakukan amal kebajikan). Nabi 
bersabda:
“Barangsiapa yang takut hendaklah berjalan di malam hari dan barangsiapa
yang berjalan di malam hari akan sampai ke rumahnya (Surga). Barang
dagangan Allah sangat mahal, dan barang dagangan Allah adalah Surga.” (At-
Tirmdizi no. 2450)1) dishahihkan oleh Syaikh Albani).
Namun ketika kematian seseorang sangat dekat dan dia dalam keadaan sekarat,
dia hendaknya mempunyai lebih banyak harapan kepada Allah dan menantikan
pertemuan dengan-Nya karena barangsiapa yang mencintai pertemuan dengan
Allah, Allah mencintai pertemuan dengannya. Nabi  bersabda:
“Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian mati kecuali dengan bersangka
baik kepada Allah Azza wa Jalla.”2)
Namun sebagian masyarakat Muslim yang awam bergantung kepada rahmat
Allah yang luas, maaf dan ampunan-Nya dan tetap melakukan kemaksiatan dan
tidak menjauhkan diri dari perbuatan dosa, sebaliknya, pengetahuan mereka
akan sifat-sifat Allah (Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan lain-lain),
membuat mereka melakukan lebih banyak perbuatan dosa dan ini adalah
kesalahan yang membinasakan, sebuah kesimpulan rusak (atas sifat-sifat Allah)
karena Allah adalah Maha Penyayang, Maha Pengampun dan Allah Maha keras
siksa-Nya, sebagaimana Allah Ta’ala firmankan didalam banyak ayat-ayat-Nya
yang suci; Allah berfirman:
1. Dishahihkan oleh Syaikh Albani
2. HR Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lain-lain.
Meraih Husnul Khatimah
9 .“Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku
adalah azab yang sangat pedih..” (QS Al-Hijr [15] : 49-50)
Dan Dia juga berfirman:
“Haa Miim. Diturunkan Kitab ini (Al Qur’an) dari Allah Yang Maha Perkasa lagi
Maha Mengetahui, Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras
hukuman-Nya….” (QS Al-Mu’min [40] : 1-3)
Ma’ruf Al-Karkhi berkata: “Harapanmu atas rahmat Dia yang tidak engkau taati
adalah kebodohan dan kekecewaan (bagimu).” Sebagaian ulama berkata: “Dia
yang memerintahkan untuk memotong anggota tubuhmu (yakni tangan) karena
mencuri 3 dirham (1/4 dinar), janganlah merasa aman dari hukuman-Nya di
hari kiamat bahwa (hukuman) itu akan seperti demikian.”
Seorang Muslim hendaknya bersemangat untuk membayar utangnya terhadap
orang lain dan memberikan mereka haknya, hak apapun yang ditahan seseorang
atas saudara Muslimnya, yang terakhir tentu saja akan mengambilnya kembali
pada Hari Kebangkitan. Jika dia (orang yang berutang atau menahan hak
saudaranya pent.) tidak mempunyai pahala dalam timbangannya, dan dosa
orang (yang memberikan piutang atau haknya ditahan –pent.) akan ditempatkan
pada timbangan orang yang pertama (sehingga akhirnya dia dimasukkan ke
dalam neraka). Nabi  mengabarkan kepada kita bahwa jiwa orang Mu’min
tertahan (dari masuk ke dalam Surga) oleh utang-utangnya sampai dilunasi
kepada pemiliknya.
Meraih Husnul Khatimah
7.Su’ul KhatimaSu’ul Khatimah
erikut saya akan menjelaskan penyebab akhir yang buruk (su’ul
khatimah) bagi kehiduapn seseorang.
Pertama – Menunda Taubat
Kembali dalam bertaubat kepada Allah dari semua dosa-dosa adalah kewajiban
yang diperintahkan bagi setiap Muslim dewasa setiap saat sebagaimana yang
difirmankan Allah:
“Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman
supaya kamu beruntung.” (QS An-Nuur [24] : 31)
Nabi  beristigfar (memohon ampun) kepada Allah seratus kali sehari meskipun
Allah telah mengampuni baginya dosa-dosanya. Al-‘Aghar Al-Muzni berkata
bahwa Nabi  bersabda:
“Hai manusia! Bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat
kepada-Nya seratus kali sehari.” (Muslim, 2702)
Nabi  bersabda bahwa orang yang bertaubat kepada Allah (dengan ikhlas) dari
dosa adalah seperti orang yang tidak mempunyai dosa. (Ibnu Majah, 4250,
dengan sanad hasan). Salah satu cara syaithan dalam memperdayakan manusia
adalah menunda taubat. Dia membisikkan kepada orang yang berbuat dosa
untuk menunda taubatnya karena ia masih memiliki banyak waktu untuk
melakukannya dan jika dia ingin bertaubat saat itu dan melakukan dosa yang
sama setelahnya maka taubatnya tidak akan pernah diterima lagi, dan dia
termasuk orang-orang yang dimasukkan ke dalam neraka. Atau syaithan
mempengaruhinya bahwa ketika dia mencapai usia 50 atau 60 tahun dia dapat
melakukan taubat –taubatan nasuha- dan dapat tinggal di Masjid (untuk shalatshalat
sunnah) dan dapat mengerjakan berbagai amal kebajikan, namun
sekarang dia berada dalam masa mudanya dan umur kemasannya. Maka dia
harus menyenangkan dirinya dan tidak perlu melelahkan diri dalam ketaatan.
Ada beberapa tipu daya syaithan yang dengannya dia memperdayai manusia
untuk menunda taubat. Sebagian para salaf berkata:
B
Meraih Husnul Khatimah
8.“Saya memperingatimu dari kata ‘saya akan’ (yakni jangan katakan saya
akan bertaubat nanti) karena kata-kata ini adalah salah satu kekuatan
syaithan yang paling jahat. Mirip dengan orang beriman yang bertaubat
kepada Allah setiap dosa dan pada saat lain tidak takut terhadap su’ul
khatimah dan jauh dari cinta kepada Allah, dan seseorang yang lalai yang
menunda taubat seumpama sekelompok orang yang sedang melakukan
perjalanan dan memasuki sebuah desa; orang yang kuat imannya membeli
apa saja yang dapat membantunya menuntaskan perjalanannya dan siap
menunggu hari untuk berangkat (meninggalkan desa itu) dan orang yang
lalai selalu berkata; “Saya akan bersiap-siap besok.” Kemudian pemimpin
perjalanan mengumumkan keberangkatan dan orang yang lalai ini tidak
memiliki sesuatu (untuk membantunya meneruskan perjalanan). Kesamaan
dengan orang di dunia ini; orang-orang yang beriman tidak pernah
menyesali apapun ketika kematian menjemputnya namun seorang yang
lalai dan penuh dosa akan berkata ketika dia dibangkitkan: “Ya Tuhanku
kembalikanlah aku (ke dunia) sehingga aku dapat melakukan amal
kebaikan di dunia (yang telah aku tinggalkan).
Kedua: Berharap pada Umur yang Panjang
Inilah alasan dibalik kesengsaraan banyak orang, ketika syaithan memperdaya
mereka dan membuat mereka berpikir bahwa mereka mempunyai waktu yang
lama untuk hidup dan tahun-tahun mendatang yang di dalamnya seseorang
dapat memimpikan sesuatu dan memperolehnya. Maka syaithan mempengaruhi
mereka untuk menghabiskan tahun-tahun ini meraih harapannya dan membuat
mimpi-mimpi mereka menjadi kenyataan dan melupakan segalanya tentang
Hari Kiamat dan tidak pernah menyebutkan tentang kematian dan jika
seseorang menyebutkan tentang kematian mereka akan merasa jengkel karena
akan membuat hidup mereka tertekan dan merusak keinginan-keinginan
mereka. Nabi  memperingatkan kita dari kedua hal ini dengan peringatan
yang keras dengan sabdanya:
“Aku menakuti dirimu dari dua hal: Mengikuti hawa nafsu dan panjang
harapan; mengikuti hawa nafsu menghalangimu dari (menerima)
kebenaran, dan panjang harapan (akan mengantarkanmu pada) mencintai
dunia ini sampai engkau akan berhenti berpikir tentang akhirat dan
kewajiban Islam yang diperintahkan kepadamu.” (Diriwayatkan oleh Ibnu
Abu Ad-Dunya dengan sanad yang lemah. Demikian keterangan Al-Iraqi
dalam koreksi beliau terhadap hadits-hadits dalam kitab Ihya Ulumuddin)
Jika seseorang mencintai dunia ini lebih daripada akhirat, dia akan lebih
memilihnya (dunia) dan berusaha keras untuk memperoleh kesenangan,
kebahagiaan dan kenikmatan dunia dan melupakan segalanya tentang akhirat
dan semuanya mengenai membangun rumahnya di Surga dekat dengan
Tuhannya, dengan orang-orang yang telah Allah anugerahi nikmat dari para
Meraih Husnul Khatimah
9.Nabi, shiddiqqin, syuhada dan orang-orang shaleh, dan merekalah sebaik-baik
teman.
Angan-angan yang pendek dalam hidup akan tampak (pada amalan seseorang),
sebagai langkah menuju perbuatan amal kebajikan dan memanfaatkan waktu
hidupnya untuk hari dimana kehidupan seseorang telah ditentukan dan nafas
seseorang telah dihitung dan apa yang telah lewat tidak akan pernah kembali
atau diperbaiki dan sepanjang jalan (dalam kehidupan seseorang) ada banyak
rintangan yang disebutkan oleh Nabi  dalam sebuah hadits:
“Bersegeralah beramal sebelum datangnya tujuh perkara; kemiskinan hina
yang membuatmu lupa, kekayaan yang melimpah, penyakit yang
mematikan, pikun yang dibenci, kematian, atau kejahatan dajal yang
telah menunggu, atau hari kiamat yang membinasakan.” (At-Tirmidzi,
2408, dan dia berkata, “hadits ini hasan.”)3)
Abdullah Ibnu Umar  berkata: Nabi  suatu kali memegang pundakku dan
berkata:
“Tinggallah di dunia ini seperti seorang musyafir atau orang asing (yang
cepat atau lambat akan meninggalkan kota yang ditinggalinya).” Ibnu
Umar  berkata: “Jika engkau hidup hingga malam, janganlah menunggu
hingga besok (yakni janganlah berharap engkau akan hidup hingga besok
hari), dan jika engkau bangun di pagi hari janganlah berharap engkau akan
hidup hingga malam hari. Dan manfaatkanlah sehatmu sebelum sakitmu,
hidupmu sebelum matimu (yakni lakukan ketaatan apapun yang dalam
hidupmu sebelum kematian datang menjemputmu karena setelahnya tidak
ada lagi amalan yang dapat dilakukan).” (HR Bukhari, 11/190-200) dan At-
Tirmidzi, no. 2334).
Nabi  menunjuki orang-orang beriman ke jalan yang harus diikuti untuk
mengenyahkan panjang angan-angan dalam kehidupan, dan berpikir secara
menyeluruh terhadap dunia; Beliau  memerintahkan mereka untuk mengingat
kematian, dan berziarah ke kuburan, memandikan mayat sebelum dikuburkan,
mengikuti proses pemakaman, mengunjungi orang sakit, dan mengunjungi
orang-orang shaleh, karena semua hal ini membangunkan hati dan
membawanya dari ketidaksadaran dan memberinya cahaya (dengan cahaya
kebenaran) dengan perkara-perkara yang akan dihadapinya kelak agar dia
dapat bersiap-siap. Berikut ini beberapa penjelasan rinci:
3. Hadts ini lemah dari semua jalurnya sehingga tidak bisa dijadikan sebagai sandaran, lihat “Adh
Dha’ifah” (no. 1666). Ada hadits lain yang shahih& semakna dengan hadits ini, yaitu sabda Nabi
:”Bersegeralah kamu dengan mengerjakan amalan-amalan (sholeh) sebelum munculnya berbagai
macam fitnah (kerusakan/ penyimpangan dalam agama) yang (gambarannya) seperti satu bagian
malam yang gelap gulita, (sehingga) ada seorang yang di waktu pagi dia masih memiliki iman tapi di
waktu sore dia telah menjadi orang yang kafir, dan (ada juga) yang di waktu sore dia masih memiliki
iman tapi besok paginya dia telah menjadi orang yang kafir, dia menjual agamanya dengan perhiasan
dunia”. ( HR Muslim, no 118 ).
Meraih Husnul Khatimah
10.(A) Dalam hal mengingat mati, hal itu mempengaruhi seseorang untuk
menjalani kehidupan yang zuhud, dan merindukan dunia yang abadi (di
Surga) sehingga mendorong seseorang untuk bersungguh-sungguh
melaksanakan amal-amal shaleh dan tidak mengikuti keinginan nafsu
terlarang di dunia yang fana ini. Abu Hurairah  bahwa Nabi  bersabda:
“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan (yakni kematian).” (At-
Tirmidzi no. 2049 dan dia berkata. “Hadits ini sanadnya hasan.” Juga
diriwayatkan oleh Ibnu Majah no. 4258).4)
Ibnu Umar  berkata bahwa seorang laki-laki dari kalangan Anshar
bertanya:
“Ya Rasulullah siapakah Mu’min yang paling baik?” Rasulullah menjawab:
“Yang paling baik akhlaknya.” Kemudian dia bertanya lagi,” “dan siapkah
Mu’min yang paling dermawan?” Nabi  menjawab: “Mu’min yang paling
dermawan adalah orang yang selalu mengingat akan kematian untuk
mempersiapkan diri terhadapnya; Sesungguhnya mereka orang-orang yang
paling baik. Mereka mendapatkan kehormatan di dunia dan kemuliaan di
akhirat.” (Ibnu Majah no. 4259 dengan sanad yang lemah. Ibnu Abu Ad-
Dunya juga meriwayatkannya dengan sanad yang baik. Sanadnya
dinyatakan baik oleh Al-Iraqi dalam bukunya “Takhij Ahadits Al-Ihya,
4/451)5)
Orang tersebut kemudian berpikir mengenai orang-orang yang telah mati
di dalam kuburnya. Bukankah dulu mereka adalah orang-orang yang sehat
dan kaya, memberikan perintah dan larangan (akan sesuatu), dan sekarang
(di dalam kubur) tubuh mereka dimakan cacing dan tulang-tulang mereka
hancur. Kemudian orang in berpikir, dapatkan dia lari dari kematian atau
bahwa kematian tidak akan luput darinya dan sebagai akibatnya dia
mempersiapkan dirinya dengan sungguh-sungguh untuk akhirat dengan
mengerjakan amal shaleh karena amal-amal itulah yang bermanfaat di
Hari Kiamat.
(B) Berziarah ke pemakaman dan melihat kuburan. Hal ini dipandang sebagai
peringatan yang paling baik bagi hati, ketika seseorang melihat galian
lubang yang gelap dan ketika dia mengingat saat ketika orang-orang yang
tercinta dari si mayat menaburkan pasir diatas tubuhnya setelah
meletakkannya di liang lahat dan menutupinya dengan tanah dan bata,
kemudian mereka membubarkan diri darinya dan mewarisi uangnya dan
memiliki hartanya (menurut hukum waris dalam Islam), dan isterinya akan
4 Dishahihkan oleh Syaikh Albani
5. Dihasankan oleh Syaikh Albani)
Meraih Husnul Khatimah
11.menikah dengan laki-laki lain setelah kematiannya dan setelah waktu
berlalu dia akan terlupakan meskipun dia dulunya adalah seseorang yang
dipatuhi jika dia memerintahkan sesuatu untuk dilakukan, dan seseorang
yang tidak diingkari ketika melarang sesuatu. Ketika seseorang
memikirkan semua itu ketika berziarah ke kuburan, dia akan menyadari
manfaat dari hadits Nabi : “Berziarahlah karena itu akan mengingatkan
kepada kematian.” (HR Muslim, no. 976).
(C) Memandikan mayat dan mengikuti prosesi penguburan;
Membalikkan mayat dari satu sisi ke sisi lainnya ketika memandikannya
adalah sebuah peringatan yang besar (bagi kita dan bagi orang yang
memandikan jenazah) karena ketika dia masih hidup tidak ada yang dapat
membolak-balikkannya atau bahkan mendekat kepadanya kecuali dengan
izinnya, dan dia mungkin salah satu di antara mereka yang mempunyai
kekuatan besar dan pesona yang luar biasa, namun sekarang dia hanyalah
tubuh mati yang tidak bergerak yang dapat dibalikkan ke sisi manapun
yang diinginkan orang yang memandikannya.
Mukhul Ad-Dimashqi berkata – ketika dia melihat pemakaman –
“Teruskanlah (yakni mengikuti pemakaman) karena kita semua akan mati
(ini adalah) sebuah peringatan yang besar (bagi kita), ketidaksadaran yang
bergerak cepat (dalam keadaan kita di dunia ini), yang pertama dan yang
terakhir (dari kita) akan pergi (mati) tidak membawa pemikiran (tidak
memiliki ketakutan). Utsman  menangis setiap kali mengikuti prosesi
pemakaman dan berdiri di kuburan. Dikatakan kepadanya, “Ketika
disebutkan kepadamu tentang Surga dan Neraka engkau tidak menangis,
namun ketika berdiri dekat kuburan engkau menangis!” Dia berkata: “Aku
mendengar Nabi  bersabda:
“(Berada dalam) Kubur adalah tahap pertama dari tahapan-tahapan
(menuju) akhirat, jika dia (yakni mayat) dikeluarkan (oleh Allah) dengan
selamat darinya, maka apa yang mengikuti lebih mudah, tetapi jika dia
tidak dikeluarkan darinya, maka apa yang datang setelahnya jauh lebih
sulit.” (Diriwayatkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi. Ibnu Majah [Al-Musnad,
163; At-Tirmidzi no. 2309).6)
(D) Mengunjungi orang shaleh
Mengunjungi orang-orang shaleh membangkitkan hati dan mendorong jiwa
(untuk melakukan amal shaleh) karena ketika pengunjung melihat
bagaimana orang-orang shaleh bersungguh-sungguh melakukan amal
kebaikan dan bagaimana mereka berlomba-lomba dalam ketaatan hanya
untuk meraih keridhaan Allah, dan untuk memperoleh Surga-Nya, tidak
perduli terhadap dunia ini dan segala daya tariknya karena hal itu akan
menghambat mereka untuk berjalan di atas shirath al-mustaqim.
6. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Hakim, disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan dihasankan oleh Syaikh
Albani.
Meraih Husnul Khatimah
12.Allah  memerintahkan Nabi-Nya  untuk mendampingi orang-orang yang
demikian dan menunjukkan kesungguhan dalam melakukannya:
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru
Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan
janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan
perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya
telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya
dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS Al-Kahfi [18] : 28)
Al-Hasan ditanya: “Hai Abu Hasan! Apa yang harus kami lakukan?
Haruskah kami duduk denga orang yang membuat hati kami berada di
mulut kami (karena takut)?” Ia menjawab; “Demi Allah, Duduk dengan
orang yang membuatmu takut sekarang sehingga engkau akan merasa
aman kemudian (di Hari Kebangkitan) lebih baik darpada duduk dengan
orang yang membuatmu merasa aman (di dunia ini) sampai ketakutan
datang kepadamu (di Hari Kebangkitan).”
Ketiga: Mencintai dosa dan terbiasa degannya:
Jika seseorang terbiasa dengan dosa apa saja dan tidak pernah bertaubat
darinya, syaithan akan menangkap hatinya (menguasainya), dan dosa-dosa itu
akan menjadi satu-satunya yang dipikirkannya bahkan sampai pada saat-saat
akhir hidupnya, dan jika teman-temannya membimbingnya untuk mengucapkan
dua kalimat syahadat menjelang kematiannya – sehingga yang terakhir
diucapkannya adalah “laa ilaaha illa Allah” – dosa-dosa akan menguasai
pikirannya dan dia hanya akan mengucapkan apa yang biasa dilakukannya dari
dosa-dosa. Berikut ini adalah beberapa kisah nyata:
Ada seorang laki-laki yang bekerja sebagai juru lelang di pasar. Ketika
maut mendatanginya anaknya mengajarkannya untuk mengucapkan dua
kalimat syahadat (yakni ucapan: “Asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa
asyhadu anna Muhammadan Rasulullah”, ayahnya hanya mengucapkan:
“Empat setengah, empat setengah.”
Dikatakan kepada yang lainnya: “Ucapkanlah Laa ilaaha illa Allah” dia
(wanita) berkata: “Sekian kali dia harus mengatakan bahwa dia telah
lelah.”
Dikatakan kepada seorang lainnya: Ucapkanlah: “Laa ilaaha illa Allah”,
namun dia terus bernyanyi.
Meraih Husnul Khatimah
13.Dan kematian dapat menemui seseorang (yang terus-menerus berbuat dosa)
ketika dia tengah melakukan perbuatan dosa dan dia akan menemui Allah
dalam keadaan yang demikian dan Allah akan murka kepadanya. Nabi 
bersabda:
“Seseorang yang mati di atas sesuatu (yakni melakukannya), Allah akan
membangkitkannya dalam keaadan serupa sebelum kematiannya.” (Al-
Hakim meriwayatkannya dan berkata: “Hadits ini shahih sesuai dengan
syarat Muslim,” dan Adz-Dzahabi menyetujuinya. Al-Mustadrak 1/340)
Keempat: Bunuh Diri:
Jika seorang Muslim ditimpa suatu musibah dan menunjukkan kesabaran dan
mencari ridha Allah didalamnya, musibah ini akan menambah pahalanya.
Namun jika seorang Muslim berputus asa (dari rahmat Allah) dan merasa tidak
puas dengan kehidupannya dan berpikir bahwa cara terbaik untuk
mengenyahkan persoalan dan penderitaannya adalah bunuh diri, dalam hal ini
dia memilih ketidaktaatan dan mengundang murka Allah terhadapnya dan
membunuh dirinya tanpa sebab yang dibenarkan. Al-Bukhari meriwayatkan
bahwa Abu Hurairah  berkata bahwa Nabi  bersabda:
“Seseorang yang bunuh diri dengan mencekek akan terus mencekek di
dalam Neraka (selamanya) dan seseorang yang bunuh diri dengan menikam
dirinya akan terus menikam dirinya di dalam Neraka (selamanya).”
(Bukhari, 3/180)
Bukhari dan Muslim rahimahumullah, meriwayatkan bahwa Abu Hurairah 
berkata:
“Seorang laki-laki menyaksikan perang Khaibar bersama Nabi , dan
beliau  berkata tentang seseorang yang mengaku dirinya Muslim, “Lakilaki
ini dari penghuni Neraka.” Ketika perang dimulai, laki-laki yang
(disebutkan oleh Nabi ) berjuang dengan gigih dan dia terluka parah.
Kemudian dikatakan kepada Nabi : “Laki-laki yang Engkau sebutkan
sebelumnya berjuang dengan keras dan mati (bukankah dia seorang
syuhada?).” Nabi  bersabda: “(Dia) pergi ke neraka.” Keraguan
memenuhi hati kaum Muslimin. Ketika hal itu berlangsung, dikatakan
bahwa laki-laki itu tidak mati melainkan terluka parah. Ketika malam tiba,
laki-laki itu tidak dapat menahan sakit dan membunuh dirinya. Nabi 
diberitahukan akan hal ini kemudian beliau  bersabda: “Aku bersaksi
bahwa aku adalah hamba dan utusan Allah.” Kemudian beliau 
memerintahkan kepada Bilal  untuk mengumumkan kepada orang-orang
bahwa: “Tidak ada yang masuk Surga kecuali orang-orang yang beriman.
Dan sungguh, Allah akan menolong agama ini dengan seorang laki-laki yang
lemah (berdosa).” (Bukhari, 6/125; Muslim, 111).
Meraih Husnul Khatimah
14.TandTanda-tanda Husnul Khatimah
abi  mengabarkan kepada kita sebagian tanda-tanda husnul
khatimah dimana jika seseorang mati dengan salah satu tanda-tanda
tersebut maka itu adalah pertanda baik dan kabar gembira.
(1) Mengucapkan kalimat persaksian atas keimanan (yakni laa ilaaha illa Allah)
pada saat kematian. Al-Hakim meriwayatkan bahwa Mu’adz bin Jabal 
berkata: Nabi  bersabda:
“Barangsiapa yang kalimat terakhirnya ‘Laa ilaaha illa Allah’ akan masuk
surga.” (Riwayat Abu Dawud, 3116; Al-Hakim, 1/351 dan menyatakannya
sebagai hadits shahih, disetujui oleh Adz-Dzahabi).
(2) Mati syahid ketika berjuang menegakkan kalimat Allah. Allah berfirman:
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu
mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.
Mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-
Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang
masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka , bahwa tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang yang besar dari
Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang
beriman.” (QS Al-Imran [3] : 169-171)
(3) Mati ketika mempersiapkan perang di jalan Allah, atau ketika melaksanakan
ibadah Haji. Nabi  bersabda:
Meraih Husnul Khatimah
15.“Barangsiapa yang terbunuh di jalan Allah ia adalah syahid dan
barangsiapa yang mati di jalan Allah maka dia adalah seorang syuhada.”
(Muslim dan Ahmad meriwayatkan hadits ini).
Nabi  bersabda – mengenai seorang laki-laki yang melaksanakan ibadah Haji
dan jatuh dari unta betinanya dan mati:
“Mandikanlah dia dengan air dan daun bidara, dan kafanilah dia dengan
dua lembar kain dan janganlah menutup kepalanya karena dia akan
dibangkitkan pada Hari Kebangkitan mengucapkan ‘kalimat talbiyah’.”7)
(4) Mati tepat pada saat telah melaksanakan ketaatan kepada Allah (yakni
ketaatan ini adalah hal terakhir yang dia lakukan sebelum meninggal). Abu
Huthifa  bahwa Nabi  bersabda:
“Barangsiapa yang mengucapkan ‘laa ilaaha illa Allah’ mencari keridhaan
Allah dan merupakan hal terakhir yang dia lakukan akan masuk surga. Dan
barangsiapa yang berpuasa sehari dengan mengharapkan keridhaan Allah
dan menjadi hari terakhir dalam hidupnya masuk Surga. Dan barangsiapa
yang memberikan sedekah dengan mengharapkan keridhaan Allah dan
merupakan hal terakhir yang dilakukannya masuk surga.” (Ahmad, 5/391)8)
(5) Mati ketika berusaha keras mempertahankan lima hal yang dilindungi dalam
hukum Islam, yaitu: agama, jiwa, harta, kehormatan dan pikiran. Said Ibnu
Zaid  meriwayatkan bahwa Nabi  bersabda:
“Barangsiapa yang mati mempertahankan kekayaannya adalah syahid,
barangsiapa yang mati melindungi keluarganya maka dia mati syahid,
barangsiapa yang mati mempertahankan agamanya maka dia mati syahid,
dan barangsiapa yang mempertahankan jiwanya maka dia mati syahid.”
(At-Tirmidzi dan Abu Dawud).9)
7. Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim
8. Hadits shahih riwayat Imam Ahmad dengan banyak jalur yang saling menguatkan.
9. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Albani.
Meraih Husnul Khatimah
16
(6) Mati karena penyakit epidemi. Nabi  mengabarkan kepada kita, bahwa
penyakit-penyakit itu adalah:
A. Wabah (Tha’un): Anas Bin Malik  meriwayatkan bahwa Nabi  bersabda:
“Penyakit Tha’un adalah penyebab mati syahid bagi setiap Muslim.” ((HR
Bukhari, Muslim dan Ahmad) [1] Abu Dawud, 4772; At-Tirmidzi no. 1418
dan 1421)
B. TBC: Rashid bin Hubaisy berkata bahwa Nabi  bersabda:
“Mati ketika berperang di jalan Allah adalah syahid. Tha’un adalah syahid.
Mati ketika melahirkan adalah syahid, dan mati karena tuberculosis adalah
syahid.” (Ahmad, 3/298) 10)
C. Sakit Perut: Diriwayatkan oleh Abu Hurairah  bahwa Nabi  bersabda:
“Dan barangsiapa yang mati karena sakit perut adalah syahid.” (Muslim
no. 1915)11)
D. Radang selaput dada: Jabir Ibnu Atik meriwayatkan bahwa Nabi  bersabda:
“Orang yang mati karena pleuritis adalah syahid.” (Hadits ini akan
diriwayatkan lagi dengan lebih lengkap kemudian).12)
(7) Kematian seorang wanita saat melahirkan atau setelah melahirkan: Ubadah
bin Shamit  meriwayatkan bahwa Nabi  bersabda:
“Dan wanita yang mati karena anaknya setelah melahirkan, anaknya akan
menariknya dengan tali pusarnya ke Surga.” (Ahmad, 4/201 dan 5/323).
(8) Mati tenggelam, tertimbun reruntuhan dan terbakar: Abu Hurairah 
meriwayatkan bahwa Nabi  bersabda:
10. Mengartikan kalimat dalam hadits dengan makna TBC mungkin perlu ditinjau kembali, coba dicermati
keterangan berikut, lafazhnya: As Sillu, dalam kitab “Al Qamush” (hal. 1312): luka bernanah yang
timbul pada paru-paru, yang bisa disebabkan karena radang paru-paru, atau radang pada lambung,
atau flu, atau batuk yang berkepanjangan, penyakit ini selalu disertai demam ringan. (HR Ahmad
yang shahih dengan banyak jalur yang saling menguatkan).
11. Makna penyakit perut berdasarkan kitab-kitab yang menjelaskan makna hadits tersebut: mencret
(diare), atau muntah2, atau nifas, atau menahan diri dari yang haram dalam keadaaan kelaparan
sampai meninggal, lihat: Tuhfatul Ahwadzi (3/127), Faidhul Qadir (6/252) dan Mirqatul Mafaatih
(5/293).
12. Hadits shahih riwayat Ahmad, dll.
Meraih Husnul Khatimah
17.“Syahid ada lima, orang yang mati karena penyakit menular, sakit perut,
tenggelam, orang yang mati tertimbun reruntuhan, dan syahid berperang
di jalan Allah.” (At-Tirmidzi, 1063; Muslim no 1915 serupa dengan itu)
Jabir Ibnu Atik berkata bahwa Nabi  bersabda:
“Syahid selain terbunuh di karena Allah ada tujuh; barangsiapa yang
terbunuh di jalan Allah dan mati karena penyakit menular adalah syahid,
Muslim yang tenggelam adalah syahid, orang yang mati karena pleuritis
adalah syahid, orang yang mati karena sakit perut adalah syahid, orang
yang mati terbakar adalah syahid, orang yang mati tertimbun reruntuhan
adalah syahid, dan wanita Muslim yang mati karena melahirkan adalah
syahid.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i, dan
Al-Hakim yang menshahihkannya, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi. (Ahmad,
5/446; Abu Dawud, 3111; An-Nasa’i, 4/13-14; dan Al-Hakim, 1/352)
(9) Mati pada malam Jum’at atau pada hari Jum’at. Abdullah Ibnu Amru 
berkata bahwa Nabi  bersabda:
“Tidak seorang Muslim yang mati pada hari Jum’at atau pada malam
Jum’at melainkan Allah akan membebaskannya dari fitnah kubur.”
(Ahmad, 2/176; dan At-Tirmidzi, 1080 dan dia berkata: “Hadits gharib
yang tidak memiliki sanad yang bersambung”).13)
(10) Berkeringat pada dahi. Buraidah meriwayatkan dari Al-Husaib  bahwa dia
berkata: Nabi  bersabda:
“Matinya orang Mu’min adalah dengan dahi yang Berkeringat.” (Ar-
Tirmidzi, 982; An-Nasa’i, 4/6; dan hadits ini baik sanadnya).
13. Hadits gharib artinya hadits yang Cuma diriwayatkan dari satu jalur periwayatan,. Hadits ini
dihasankan oleh Syaikh al Albani.
Meraih Husnul Khatimah
18
KesimpulaKesimpulan
i bagian akhir buku ini, sebaiknya kita simpulkan sarana-sarana yang
Allah jadikan jalan bagi Muslim untuk meraih husnul khatimah, dan
sarana-sarana itu adalah:
a) Takut kepada Allah pada saat sendirian dan di keramaian dan berpegang
teguh kepada apa yang diberikan Nabi  kepada kita, karena ini adalah jalan
keselamatan. Allah Ta’ala berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar
takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam
keadaan beragama Islam.” (QS Al-Imran [3] : 102)
Dan seorang hamba harus menjauhkan diri secara menyeluruh dari dosa-dosa
karena dosa-dosa besar akan membawa ke Neraka dan dosa-dosa kecil yang
terus-menerus akan menjadikannya dosa besar. Dan melakukan dosa-dosa kecil
dan tidak bertaubat kepada Allah serta tidak memohon ampun akan membuat
‘tutupan’ pada hati. Nabi  bersabda:
“Hati-hatilah terhadap dosa-dosa kecil yang seringkali diremehkan, karena
hal itu seperti sekelompok orang yang singgah di dasar lembah. Salah
seorang diantara mereka membawa sebuah ranting, dan yang lainnya
membawa sebuah ranting sampai mereka semua mengumpulkan rantingranting
yang cukup untuk memasak makanan mereka. Dosa-dosa kecil ini
akan membinasakan mereka.” (HR Ahmad, 5331)14)
b) Berdzikir kepada Allah sepanjang waktu.
Seseorang yang selalu berdzikir kepada Allah sepanjang waktu dan kalimat
terakhir yang diucapkan dalam hidupnya adalah: laa ilaaha illa Allah, dia akan
memperoleh kesenangan yang dikabarkan Nabi  karena beliau bersabda:
,
“Seseorang yang kalimat terakhirnya adalah laa ilaaha illa Allah masuk
surga.” (Abu Dawud, 3116; dan Al-Hakim, 1/351 dan menyatakannya
shahih, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi).
_____________________________
14. Hadits ini hasan karena banyak jalurnya dan saling menguatkan.
D
Meraih Husnul Khatimah

19
Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dan Said Ibnu Mansur meriwayatkannya dari
Al-Hasan, bahwa dia berkata: Nabi  ditanya: “Amal apa yang paling baik
dalam pandangan Allah?” Beliau bersabda:
“Mati manakala berdzikir kepada Allah dengan lisanmu.” (Al-Mughni oleh
Ibnu Qudamah 2/450).15)
Ya Allah, jadikanlah amal-amal kami yang terbaik, dan hari-hari yang paling
baik bagi kami adalah hari ketika bertemu dengan-Mu, dan jadikanlah kami
diantara orang-orang yang engkau anugerahi nikmat dalam Surga-Mu dan
kehadiran-Mu, dan semoga shalawat dan salam tercurah kepada Nabi
Muhammad , keluarga dan para sahabatnya.

15. Hadits tersebut sanadnya lemah karena Hasan Al Bashri bukan sahabat dan tidak pernah bertemu
dengan Nabi , jadi hadits tersebut mursal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: