• Blog Stats

    • 57,161 hits
  • Kategori

  • Arsip

  • Pos-pos Terbaru

Mahkota Cinta (Sebuah Novelet Pembangun Jiwa)

Satu
Mata pemuda itu memandang ke luar jendela. Lautan
terhampar di depan mata. Ombak seolah menari-nari
riang. Sinar matahari memantul-mantul keperakan. Dari
karcis yang ia pegang, ia tahu bahwa feri yang ia
tumpangi bernama Lintas Samudera. Tujuan feri yang
bertolak dari pelabuhan Batam itu adalah pelabuhan Johor
Bahru.
Ia memejamkan mata seraya meneguhkan hatinya.
Ia meyakinkan dirinya harus kuat. Ya, sebagai lelaki ia
harus kuat. Meskipun ia merasa kini tidak memiliki siapa- siapa
lagi. Bagi seorang lelaki cukuplah keteguhan hati
menjadi teman dan penenteram jiwa.
la kembali menegaskan niat, bahwa ia sedang
melakukan pengembaraan untuk mengubah takdir.
Mengubah nasib. Seperti saran Pak Hasan, ia harus berani
berhijrah dari satu takdir Allah ke takdir Allah lain yang
lebih baik. Feri Lintas Samudera terus melaju ke depan.
Singapura semakin dekat di depan, dan Batam semakin
jauh di belakang. Namun, Lintas Samudera tidak hendak
menuju Singapura, tapi menuju pelabuhan Johor Bahru,
Malaysia.
“Baru pertama ke Malaysia ya Dik?” tanya perempuan
muda yang duduk di sampingnya. Perempuan itu
memakai celana jin putih dan jaket ketat biru muda.
Rambutnya diikat kucir kuda. Ia menaksir usia
perempuan itu sekitar tiga puluhan lebih.
“Iya Mbak. Mbak juga yang pertama?” jawabnya
balik bertanya.
“Tidak. Saya sudah empat tahun di Malaysia.”
“Berarti sejak tahun 2000 ya Mbak.”
“Tidak. Sejak awal 2001.”
“Kerja ya Mbak?”
“Iya Dik. Kalau adik, mau kerja? Atau mau sekolah?”

Ia berpikir sejenak. Ia tidak tahu pasti. Ke Malaysia
mau bekerja atau mau sekolah. Sesungguhnya selama
ini ia merantau dari satu daerah ke daerah lain, selain
untuk bertahan hidup juga demi mencari takdir yang
lebih baik.
“Kok malah bengong Dik.”
“E… tidak, saya ke Malaysia mungkin untuk dua
duanya. Ya untuk cari kerja dan untuk sekolah lagi.”
“Baguslah. Sudah ada pandangan mau kerja di
mana? Atau sudah ada agen yang mengurus semuanya.”
“Belum sih Mbak. Nanti saya cari di sana saja. Mbak
kerja di mana?”
“Saya kerja di sebuah kilang di kawasan Subang
Jaya. Kalau adik mau, saya bisa bantu. Saya punya
banyak teman yang bisa membantu. O ya kenalkan,
nama saya Siti Martini. Biasa dipanggil Mar atau Mari.”
Perempuan muda itu mengulurkan tangan kanannya.
Pemuda itu juga mengulurkan tangannya dan
menjabat tangan perempuan muda itu.
“Terima kasih. Nama saya Ahmad Zul. Oleh temanteman
saya selama ini saya biasa dipanggil Zul Einstein.”
“Wah keren sekali. Memang namanya Zul Einstein?”
“Ya tidak Mbak. Saya diberi nama tambahan
Einstein oleh teman-teman saya karena mereka melihat
saya banyak melamun. Ya saya terima saja. Kalau tidak
terima ya tetap akan dipanggil begitu. Jadi, panggil saja
saya Zul Mbak.”
“Ya baik. Saya panggil Dik Zul. Gitu ya,” kata
perempuan muda itu sambil melepaskan jabatan

tangannya.
“Jadi Mbak kerja di kilang minyak ya Mbak?”
Perempuan muda itu malah tertawa kecil.
“Kamu memang masih asli Indonesia. Kilang itu
artinya pabrik. Di Indonesia disebut pabrik. Sedangkan
di Malaysia disebut kilang. Jadi bukan bermakna kilang minyak.
Saya kerja di kilang kertas di kawasan Subang
Jaya. Itu maknanya saya kerja di pabrik kertas.”
“Obegituya.”
“Rencananya nanti mau ke mana? Di Malaysia sudah
ada tempat yang dituju?”
“Tempat yang dituju secara pasti tidak ada. Saya
hanya membawa sebuah nama dan sebuah nomor telpon.
Saya ingin sampai ke Kuala Lumpur dulu, baru setelah
itu saya akan telpon orang itu.”
“Ya syukurlah. Saya pun nanti lewat Kuala Lumpur.
Kalau mau kita bisa jalan bersama.”
la diam saja. Tidak menjawab apa-apa.
Lintas Samudera terus melaju. Tidak terlalu cepat.
Dan juga tidak terlalu lambat.
Setelah menempuh perjalanan selama dua jam,
Lintas Samudera merapat di pelabuhan Johor Bahru.
Begitu pintu feri dibuka, para penumpang berebutan
keluar. Zul keluar dengan membawa tas cangklong hi tarn
dan tas jinjing besar biru tua. la mengiringi Mari yang
berjalan di depannya. Perempuan itu menenteng tas
cangklong putih dan koper kecil beroda warna hijau.
Mereka berjalan menuju gedung pelabuhan.
Petugas security pelabuhan sibuk memeriksa barang
bawaan para penumpang. Tas dan koper Mari
diperiksa. Setelah beberapa saat lamanya, Mari
dipersilakan langsung menuju imigrasi. Tas jinjing Zul
juga diperiksa. Isinya hanyalah pakaian, beberapa
makanan ringan, dan sebuah mushaf Al-Quran kecil
pemberian Pak Hasan kala ia berpamitan, sebelum

berangkat. Petugas security itu memerintahkannya
untuk terus jalan. Zul bergegas menuju imigrasi. Mari
sedang serius mengisi formulir kedatangan untuk
imigrasi.
“Harus diisi semua ya Mbak?” tanya Zul.
“Ya. Kecuali kolom yang khusus diisi petugas
imigrasi,” jawab Mari sambil tetap menulis. Sesekali ia
mencocokkan apa yang ia tulis dengan paspornya.
“Ini kolom alamat selama di Malaysia juga harus diisi
Mbak.”
“Sebaiknya iya.”
“Wah saya belum punya alamat Mbak.”
“Pakai alamat saya juga tidak apa-apa.”
“Di mana Mbak?”
“No. 8A, Jalan USJ 1/18, Taman Subang Permai,
Subang Jaya. Nanti kalau pihak imigrasi tanya untuk
apa datang ke Malaysia, bilang saja untuk melancong
dan mengunjungi saudara.”
“Iya Mbak.”
Keduanya lalu masuk konter imigrasi. Tak ada
masalah berarti. Petugas imigrasi sama sekali tidak
bertanya apapun kepada Mari. Sebab ia masih punya
visa multientry. Sedangkan Zul hanya ditanya untuk apa
datang ke Malaysia. Zul menjawab seperti yang
disarankan oleh Mari. Begitu keluar dari gedung, puluhan
sopir taksi menawarkan jasanya. Mari menjawab tegas
bahwa ia sudah ada yang menjemput. Zul agak bingung
menentukan langkah. Beberapa sopir taksi menghampirinya.
Ia masih ragu harus ke mana. Ia menatap ke
arah Mari yang melangkah dengan mantap. Mari
menoleh ke arahnya dan melambaikan tangan agar ikut
dengannya. Zul merasa tidak ada salahnya pergi ke
Kuala Lumpur bersama Mari. Apalagi ia benar-benar
asing di negeri Jiran ini.

“Kita tunggu bus di sini. Kita akan menuju ke Stesyen
Larkin. Dari Larkin kita naik bus ke Purduraya KL.” Jelas
Mari.
Sepuluh menit kemudian bus datang. Mari, Zul dan
puluhan penumpang berebutan naik. Bus itu mengantar
mereka ke Stesyen Larkin. Dari Larkin Mari mengajak
Zul ke loketbus Trans Nasional.
“Biar saya yang bayar Dik.”
“Jangan begitu Mbak, saya jadi tidak enak.”
“Anggap saja kita bersaudara. Jadi santai saja.”
“Satu orangnya berapa Mbak?”
“Dua puluh empat ringgit. Kita pakai bus yang ada
toiletnya. Biar nyaman di perjalanan. Yuk kita segera
naik. Sepuluh menit lagi bus akan berangkat.”
Mereka berdua naik bus Trans Nasional. Zul dan Mari
duduk di kursi yang berdekatan. Selain wajah Indonesia,
tampaklah wajah-wajah China, India dan Melayu
menjadi penumpang bus cepat itu. Sopirnya berwajah
Indonesia, dan tampaknya ia seorang Muslim, sebabsebelum menjalankan bus ia membaca basmalah.
Bus berjalan keluar stesyen. Lalu melaju membelah
kota Johor Bahru dengan kecepatan sedang. Setengah
jam kemudian bus itu sudah meninggalkan Johor
Bahru, dan mulai melaju dengan kecepatan tinggi. Bus itu
membelah perkebunan kelapa sawit. Zul memandang
ke kanan dan ke kiri yang tampak hanyalah
rimbunan pohon kelapa sawit yang bagai berlarian ke
belakang.
“Dari logat adik bicara, sepertinya adik orang Jawa.”
Mari membuka pembicaraan sambil menaikkan resleting
jaketnya sehingga benar-benar rapat sampai ke leher. Ia
tampaknya agak kedinginan.

“Iya Mbak benar. Saya asli Demak Mbak. Kalau
Mbak?”
“Saya juga Jawa Dik. Saya asli Sragen.”
“Maaf, e… Mbak sudah berumah tangga?”
“Sudah.”
“Sudah punya anak dong Mbak?”
“Belum. Bagaimana mau punya anak lha wong
rumah tangga saya hanya berumur dua minggu.”
“Cuma dua minggu?”
“Iya bisa dikatakan demikian.”
“Suami Mbak meninggal?”
“Tidak. Saya minta cerai. Sejak itu saya trauma dan
rasanya susah sekali untuk membina rumah tangga lagi.”
“Maafkan saya Mbak, jadi mengingatkan pada halhal
yang tidak Mbak sukai.”
“Ah tidak apa-apa. Walau bagaimanapun kejadian
itu telah menjadi bagian dalam sejarah hidup saya.
Memang menyakitkan jika diingat.” Kata Mari sambil
mengambil nafas dalam-dalam. Seperti ada yang
menyesak dalam dadanya.
Zul diam saja. la merasa tidak saatnya ia bicara. la
kuatir jika salah bicara justru akan memperburuk suasana.
“Mungkin ada baiknya juga ya saya cerita. Ya untuk
sekadar melepas beban yang menyesak di dada. Dan
daripada selama perjalan diam saja/’ Mari kembali
membuka percakapan. “Tidak apa-apa kan? Kau mau
mendengarkan kan Dik?” lanjutnya sambil memandangi
Zul. Zul jadi menoleh. Pandangan mereka bertemu.
Zul mengangguk pelan, lalu kembali memandang lurus
ke depan. Mari mulai bercerita,
“Saat itu saya masih kuliah di UNS Solo. Saya
berkenalan dengan orang yang kemudian jadi suami saya
itu, ya saat kuliah itu. Sebut saja namanya W. Saya tidak
mau mengingat nama lengkapnya. Saya sudah mengharamkan
diri saya untuk menyebut namanya. Saya
sangat membencinya hingga tujuh turunan.
“Baik saya lanjutkan ceritanya. Saat itu saya adalah
gadis yang masih lugu. Sekaligus gadis desa yang mudah

terpikat dengan gemerlap duniawi. Agaknya W mengerti
benar karakter diri saya. Sehingga dia bisa begitu mudah
masuk dalam kehidupan saya. Ia begitu lihai memikat
dan menawan hati saya. Jika ke kampus dia selalu
memakai mobil mengkilat. Orangtua W adalah saudagar
kaya di Klewer dan Tanah Abang Jakarta. Dia sering
datang ke kost saya. Dan sering menyenangkan hati saya
dengan limpahan hadiahnya.
“Sampai akhirnya W mengatakan bahwa dia sangat
mencintai saya. Dia ingin sekali menikahi saya. Saya
seperti terbang di angkasa saat itu, karena sangat
gembira. Saya benar-benar sudah tergila-gila padanya.
Ibu saya sebenarnya tidak setuju saya kawin dengan W,
karena ibu saya ingin saya menikah dengan putra Pak
Modin yang sedang kuliah di IAIN Walisongo Semarang.
Saya sama sekali tidak mempedulikan keberatan ibu saya
itu. Itulah mungkin dosa besar saya pada ibu yang
membuat saya menderita dan menanggung nestapa.
“Ringkas cerita, kami pun menikah. Kami menikah
tahun 1998. Ia langsung memboyong saya ke Solo Baru.
Ternyata ia sudah punya rumah cukup mewah di sana.
Itu adalah hari yang sangat indah bagi saya. Seminggu
setelah menikah, W pamit untuk pergi ke Jakarta. Dia
bilang untuk urusan bisnis dengan temannya. Beberapa
hari setelah itu kiamat seolah datang. Langit seperti
runtuh menimpaku. W tertangkap polisi dalam keadaan
over dosis dengan seorang pelacur Jakarta. Ia masuk bui.
Keluarganya tidak peduli.
“Kakak perempuannya bahkan terang-terangan
mengatakan sangat membenci W. Dari kakak perempuannya
itulah saya tahu bahwa W sesungguhnya
lelaki yang sangat bejat. Bahkan lebih bejat daripada
makhluk paling bejat sedunia sekalipun. Saya nyaris
muntah ketika kakak perempuannya itu bercerita bahwa
dirinya pernah diperkosa oleh W saat W sedang sakau.
Ia tidak berdaya karena W mengancam akan membunuhnya.
W itu tega memperkosa kakak kandungnya
sendiri, apa tidak menjijikkan? Apa tidak melampaui
batas? Seketika itu, tanpa bisa ditawar lagi saya langsung

mengajukan gugatan cerai. Dan sejak itu saya benarbenar
jijik dengan kaum lelaki dan saya bersumpah tidak
akan menikah lagi!”
Ada nada amarah dalam kata-kata Mari. Ada
kebencian yang luar biasa di sana. Zul merasa ngeri
mendengarnya. Ia merasa bingung harus bersikap
bagaimana. Bus terus melaju dengan kecepatan di atas
seratus kilometer per jam. Mari diam tidak melanjutkan
ceritanya. Pandangannya lurus ke depart. Jika diamati
lebih seksama kedua mata itu sesungguhnya berkacakaca.
Sesaat lamanya keduanya dijaga oleh diam.
Akhirnya Zul memberanikan untuk membuka suara,
‘Apa Mbak sampai sekarang masih jijik dengan
kaum lelaki. Termasuk saya?”
Mari mengambil nafas dalam-dalam,
“Saat ini tidak lagi. Saya berusaha bersikap adil. Saya
tidak boleh menimpakan dosa seorang W pada semua
kaum lelaki. Tapi jujur saya perlu proses yang sangat
panjang untuk bisa bersikap adil dan tidak jijik pada
kaum lelaki. Dan disebabkan rasa jijik dan trauma pada
lelaki saya pernah punya keinginan untuk hidup
berumah tangga dengan kaum perempuan saja.”
“Sampai seperti itu Mbak.”
“Iya. Gila bukan? Tapi jangan takut. Saya katakan,
saya pernah punya keinginan. Hanya pada taraf
keinginan. Dan itu pun dulu. Sekarang sudah tidak
lagi.”
“Sejak kapan Mbak bisa kembali normal memandang
dunia. Maaf, untuk mudahnya saya katakan
kembali normal memandang dunia, termasuk kaum
lelakinya. Sebab menurut saya sikap jijik dan trauma
pada lelaki itu sikap tidak normal.”
“Prosesnya sangat panjang. Sampai saya bertemu
dengan seorang Ustadzah. Dia lulusan pesantren. Dia ikut
suaminya yang sedang mengambil program doktor.
Ustadzah itu begitu sabar menyempatkan waktu untuk

memberikan pencerahan kepada kami, para tenaga kerja
wanita. Dan ia begitu sabar mendengarkan semua
keluhan saya. Saya pernah diajak oleh Ustadzah itu tidur
di rumahnya. Untuk melihat bagaimana keadaan rumah
tangganya. Dan saya melihat sendiri betapa besar kasih
sayang suami Ustadzah itu kepada keempat anaknya
yang semuanya perempuan. Sejak itulah saya tahu
bahwa ada juga lelaki baik di dunia ini.”
“Bukankah Mbak memiliki seorang ayah?”
“Ya tentu saja punya. Namun ayah saya sudah tidak
ada sejak saya berusia dua tahun. Jadi saya tidak ingat
apa-apa tentang ayah. Dan ibu tidak menikah lagi. Kakak
tertua saya lelaki. Tapi ia tidak begitu peduli pada saya.”
Bus terus melaju. Sejauh mata memandang adalah
rerimbunan kebun kelapa sawit yang tampak hijau tua.
“Bagaimana ceritanya Mbak bisa sampai ke
Malaysia. Dan apa sebenarnya yang Mbak cari?”
“Kalau diceritakan semuanya panjang. Singkat saja
ya. Setelah suami dipenjara dan saya tahu siapa dia
sebenarnya, saya mengajukan gugatan cerai. Rumah di
Solo Baru disita polisi karena ternyata suami punya
piutang di beberapa bank yang cukup besar jumlahnya.
Saya tidak punya apa-apa. Ibu sudah renta. Saya anak
ragil. Saudara-saudara saya sudah berkeluarga. Mereka
juga hidup susah. Saya tidak berani meminta bantuan
mereka.
“Saya nekat merantau ke Jakarta untuk mencari
kerja. Kebetulan ada teman yang mengajak. Alhamdulillah
sebelum menikah saya sudah selasai D.3
Akuntansi. Dan dengan berbekal ijazah D.3, saya
diterima bekerja di sebuah supermarket di Jakarta Selatan.
Saya sudah cukup nyaman saat itu. Saya hidup damai
kurang lebih dua tahun. Saya bahkan sempat nyambung
kuliah, dan menyelesaikan S.l di sebuah Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi di Jakarta.
Tapi tiba-tiba entah bagaimana, mantan suami saya
itu bisa tahu nomor telpon saya dan menelpon saya. Dia

sudah keluar dari penjara dan meminta saya agar
kembali kepadanya. Saya takut. Saya langsung pergi
meninggalkan Jakarta hari itu juga. Saya bersembunyi
ke Bandung. Di Bandung ada agen pengiriman tenaga
kerja ke Malaysia. Saya ikut agen. Akhirnya saya
mengadu nasib dan terbang ke Malaysia. Sampai
sekarang saudara-saudara saya tidak saya beritahu kalau
saya di Malaysia. Terakhir saya nelpon mereka saat saya
masih di Bandung. Saya kuatir mantan suami saya itu
akan mengejar saya.”
“Kenapa mesti takut Mbak. Bukankah Mbak adalah
perempuan yang merdeka. Dan Mbak akan dilindungi
oleh hukum?”
‘Ah kamu ini Dik. Apa selama ini kamu hanya hidup
di dalam kamar dan tidur, sehingga membuka jendela
pun tidak!? Dunia mantan suami saya adalah dunia
mafia. Dan dunia mafia tidak mengenal hukum. Lebih
baik saya di Malaysia dulu, baru kalau saya sudah
mendengar si W itu telah mampus, saya akan balik ke
Indonesia. Walau bagaimanapun saya punya saudara
dan saya sangat rindu pada mereka. Saya pun ingin hidup
berkeluarga dan tenang di hari tua. Saya tidak akan
menyerah. Saya akan terus berusaha dan bertahan
sampai Tuhan memutuskan takdir finalnya untuk saya.
Semenderita dan sesengsaranya saya, saya masih percaya
bahwa Tuhan itu ada. Tuhan itu adil dan Dia juga Maha
Penyayang. Saya masih percaya itu Dik.”
Zul hanya diam mendengarnya. Ternyata tidak hanya
dia yang menghadapi perjalanan hidup yang rumit
dan sulit. Perempuan muda yang duduk di sampingnya
bisa jadi sebenarnya menjalani hidup yang lebih rumit
yang tidak sampai untuk dikisahkan kepada siapa pun.
“Kalau adik, bagaimana? Bagaimana bisa sampai
harus ke negeri Jiran ini? Adakah cerita yang bisa dibagi
dan didengar?” Mari balik bertanya. la merasa selama
ini dia yang banyak bercerita. la ingin gantian mendengarkan
cerita dari Zul.
“Perjalanan saya bisa sampai di dalam bus ini tak

kalah berlikunya dari apa yang Mbak ceritakan. Hanya
saja saya merasa tidak harus sekarang saya menceritakannya.
Saya janji saya akan gantian membagi
cerita saya pada Mbak. Saya yakin kita masih bisa
bertemu di negeri Jiran ini. Itu pun kalau Mbak benarbenar
masih sudi menemui saya.”
“Masak tidak sudi. Memang saya ini siapa?”
“Kuatir, Mbak masih menyisakan rasa jijik itu.”
“Ah, kamu ini. Ya saya akan merasa jijik sama kamu
jika kelakuan kamu ternyata tidak berbeda dengan si
W, mantan suami saya itu.”
“Mbak kok seolah yakin benar kalau kelakuan saya
berbeda dengan mantan suami Mbak. Kenapa Mbak
tidak waspada? Kenapa Mbak justru malah mengajak
saya jalan bersama?”
Mari tersenyum, lalu menjawab,
“Dengar ya Dik. Orang yang sudah pernah terluka
seperti saya ini bisa membaca bahasa tubuh orang
brengsek seperti mantan suami saya dan yang sejenisnya.
Dari cara lelaki memandang dan menatap saja saya sudah
tahu dia itu sebenarnya serigala atau tidak. Saya tahu
mana mata yang jelalatan dan yang tidak jelalatan. Saya
bisa meraba watak seseorang dari gerak dan binar
matanya. Tidak hanya mata kaum lelaki. Bahkan mata
kaum perempuan pun saya bisa membedakan mana
mata pelacur dan bukan pelacur. Mana mata perempuan
baik-baik dan perempuan tidak baik!”
“Jadi Mbak yakin saya ini orang baik?” sahutnya
sambil melihat ke luar jendela.
“Sejauh ini saya yakin. Tidak tahu satu dua jam ke
depan. Bisa jadi kepercayaan saya padamu berubah.”
Jawab Mari tegas. Zul merasakan ketegasan itu. Kalimat
dan intonasi perempuan itu seolah juga memberitahukan
kepadanya agar ia jangan mencoba bersikap meremehkannya.
Dari ketegasan itu, Zul mengerti bahwa
perempuan muda di sampingnya adalah perempuan
yang memiliki karakter kuat. Dan tidak mau diremehkan.
Entah kenapa ia ingin memandang perempuan di

sampingnya itu dengan lebih dalam. Keinginan itu tidak
dapat dilawannya. Ia pun memalingkan wajahnya perlahan dan
memandang ke arah wajah Mari. Mari
ternyata sedang memandang ke arahnya. Mata keduanya
bertemu sesaat. Ada getaran halus masuk ke dalam
hati Zul. Wajah Mari tampak kurus, tapi ada aura
ketulusan yang memancar darinya. Dan ada pesona yang
mampu membuat hati Zul merasakan getaran halus
yang masuk begitu saja.
“Apakah ada kilatan binar serigala dalam mataku
Mbak?”
Mari tersenyum, dan menjawab,
“Jujur saja Dik ya hampir di semua mata lelaki ada
binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah
menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhan
untuk menjaga pandangan.”
Mendengar jawaban Mari, Zul diam dan tidak
berkata apa-apa. Ia mengalihkan pandangannya ke luar
jendela. Ia memandang rerimbunan pohon kelapa sawit
yang seperti berlomba-lomba lari ke belakang. Dalam
hati Zul membenarkan perkataan Mari. Sebab saat ia
memandang wajah dan mata Mari dengan seksama, ia
menemukan sihir yang mampu mengubah dirinya
menjadi serigala. Tiba-tiba ia merasa menemukan
kalimat untuk menjawab perkataan Mari,
“Dan hampir semua wajah dan mata perempuan itu
memiliki sihir yang mampu mengubah lelaki jadi serigala.
Maka sebaiknya memang keduanya saling menjaga.
Agar tetap menjadi manusia yang mulia dan tidak
berubah menjadi manusia serigala.”
Mari tersenyum mendengarnya.
* * *

Dua
Menjelang Maghrib bus Trans Nasional memasuki
kota Kuala Lumpur. Zul menikmati pemandangan senja
di Kuala Lumpur dengan seksama. Jalan tol yang lebar
dan melingkar. Gedung-gedung tinggi. Hutan kota yang
masih terjaga. la harus mengakui, Kuala Lumpur jauh
lebih rapi dari Jakarta. la mencari-cari gedung yang
menjadi simbol Kuala Lumpur. la melongok-longok,
mencari-cari Menara Kembar. la tidak melihatnya.
“Menara Kembarnya mana ya Mbak, kok tidak
kelihatan?” tanyanya pada Mari.
“Kamu jangan memandang ke arah situ. Pandanglah
ke arah sana. Di sela gedung menjulang itu. Itulah
Menara Kembar,” jawab Mari sambil menunjuk ke arah
Menara Kembar.
“Wah iya. Saya penasaran ingin lihat dari dekat.”
“Jangan tergesa-gesa. Nanti kau akan punya waktu
yang cukup untuk melihatnya. Kau bahkan bisa makan
di sana. Kau juga bisa refreshing di sana. Di bawah
menara itu ada tamannya yang rapi dan indah. Namanya
taman KLCC. Taman itu terbuka untuk umum dan
gratis.”
Zul langsung membayangkan nyamannya berjalanjalan
di bawah Menara Kembar dan nyantai di taman
KLCC. Tiba-tiba ia teringat Najibah. Gadis satu desa
dengannya yang pernah menjadi tambatan hatinya.
Najibah pernah minta padanya untuk rekreasi ke Taman
Kiai Langgeng. Dan ia berjanji pada gadis itu akan
mengajaknya ke Taman Kiai Langgeng suatu kali.
Namun sampai saat ini ia tidak bisa memenuhi janji itu.
Dan tidak mungkin rasanya memenuhi janjinya itu.
Sebab, gadis yang punya lesung pipi indah itu, kini telah
menikah dengan orang lain. Ah, seandainya ia kaya,
tentulah ia bisa menikahi gadis itu dan mengajaknya
jalan-jalan ke Taman Kiai Langgeng. Bahkan mengajaknya
ke Kuala Lumpur dan berjalan-jalan di taman

KLCC itu.
Karena kemiskinannyalah, akhirnya Najibah
memutuskan menikah dengan orang lain setelah tiga kali.
Itu pun setelah Najibah memintanya untuk segera
menikahinya dan ia merasa tidak mampu. Ia minta
ditangguhkan beberapa tahun lagi. Ia tidak bisa memberi
jawaban pasti. Dan Najibah merasa tidak bisa bergantung
pada ketidakpastian.
“Maaf, Mas Zul, bukan saya tidak cinta sama Mas.
Orang tua saya minta saya segera menikah. Tahun ini.
Jika Mas mau ya tahun ini. Jika tidak ya anggap saja
kita tidak berjodoh. Ini demi kebaikan saya dan Mas.”
Itulah kata-kata Najibah yang masih ia ingat terus. Katakata
yang tidak mungkin ia lupakan, karena saat itu ia
tidak berdaya apa-apa sebagai seorang lelaki. Ia sama
sekali tidak bisa memenuhi harapan orang yang
dicintainya. Jangankan biaya untuk menikah, biaya
untuk makan sehari-hari saja ia sering tidak punya. Ia
benar-benar merasakan betapa susah jadi orang tidak
punya. Sampai untuk menikahi orang yang dicintai saja
tidak bisa. Ia benar-benar sedih dan menderita jika
mengingatnya.
Sesungguhnya Najibah itu bukanlah gadis yang
materialistis, ia tidak minta apa-apa, selain akad nikah.
Namun akad nikah itu ada biayanya. Dan itu yang ia
tidak punya saat itu. Ia benar-benar tidak punya. Ia
merasa dirinya adalah orang paling miskin papa sedunia.
Ah, ia berusaha melupakan peristiwa itu. Namun
belum juga bisa. Bahkan sampai ia sudah di Kuala
Lumpur pun peristiwa itu masih saja teringat olehnya. Ia
yang mengalami peristiwa yang tak setragis Mari saja
masih dibayangi oleh peristiwa itu, apalagi Mari. Wajar
jika perempuan muda itu sampai mengalami trauma.
“Heh, melamun apa! Kita sudah sampai di Purduraya!
Ayo siap-siap turun!”
Zul kaget dan tersadar dari lamunannya.

“Kita sudah sampai Mbak?”
“Iya. Ayo turun. Itu orang-orang sudah pada turun.”
Mereka berdua lalu turun dari bus. Lalu naik ke lantai
dua. Tempat dimana para penumpang berkumpul
menunggu bus. Tempat dimana penumpang datang dan
pergi. Di lantai dualah puluhan waning penjual oleh-oleh
dan makanan dibuka. Juga di lantai dualah puluhan agen
bus membuka konter.
“Mbak ini sudah Maghrib ya?” tanya Zul.
“Iya sudah. Gini saja. Kita shalat dulu gantian. Tempat
shalat dan tandas ada di lantai tiga. Kita naik ke sana.”
“Tandas itu apa Mbak.”
“Toilet. Kalau bahasa orang Demak kakus.”
“Wah kok nadanya agak menghina orang Demak
thoMbak.”
“Kamu ini lelaki kok sentimentil begitu. Ayo kita naik!”
Mereka berdua lalu naik ke lantai tiga. Mereka ke
tandas dahulu, baru ke surau. Mereka shalat bergantian.
Selesai shalat Zul bingung. la baru sadar kalau ia tidak
memiliki tujuan yang jelas. Mari hanyalah teman
bertemu di perjalanan.
“Inilah Kuala Lumpur Dik Zul. Ya selamat datang
di Kuala Lumpur. Semoga nasibmu berubah di sini.
Berubah jadi baik. Tidak sebaliknya. O ya, jadi kau mau
menginap di mana?”
“Wah jujur saja Mbak. Saya tidak tahu harus
menginap di mana.”
“Katanya kau mengantongi sebuah nama dan nomor
telpon itu bagaimana?”
“Ya, saya coba telpon dulu Mbak.”
“Pakai hp saya saja Dik, tak usah pakai telpon umum.

Tuh telpon umum antrenya kayak gitu,” Mari mengulurkan
hand phone-nya..
Zul menerima hand phone itu dengan tangan
kanannya. Sementara tangan kirinya merogoh saku celananya.
Ia mengeluarkan sobekan kertas. Lalu memanggil
nomor yang tertulis di kertas itu. Beberapa saat ia
menunggu tidak ada jawaban. Lalu ia ulangi lagi. Empat
kali ia memanggil dan tidak ada yang mengangkat.
“Bagaimana Dik?”
“Tidak ada yang mengangkat Mbak.”
“Mungkin sedang shalat. Kalau gitu ayo kita cari
makan dulu. Saya lapar. Setelah makan ditelpon lagi.”
“Boleh.”
Mari berjalan di depan. Ia sangat hafal seluk beluk
Terminal Purduraya. Dan bisa dipastikan bahwa
pekerja Indonesia yang bekerja di sekitar Kuala
Lumpur sangat akrab dengan terminal bus paling
padat di Kuala Lumpur ini. Mari memilih makan di
Kak Long Cafe. Sebuah cafe milik seorang Muslimah
keturunan China.
“Bisa jadi kita nanti akan sulit bertemu. Bahkan
mungkin akan tidak bertemu. Namun siapa tahu adik
perlu bertemu dengan saya suatu hari nanti. Atau perlu
bantuan saya. Saya akan kasih nomor telpon saya. Bisa
ditulis?” kata Mari selesai makan.
“Bisa Mbak. Terima kasih ya atas segalanya. Berapa
Mbak nomornya?” jawab Zul.
“0176767676. Bacanya mudah 01 terus tujuh enam
empatkali.”
“Wah mudah diingat Mbak.”
“Coba orang yang kautuju itu dikontak lagi.”

Zul langsung menelpon nomor yang ia telpon
sebelumnya. Beberapa kali ia telpon tapi tidak juga
berhasil.
“Tetap tidak ada yang mengangkat Mbak.”
“Mmm….” gumam Mari sambil mengerutkan
keningnya.
“Saya coba lagi Mbak.”
Zul kembali melakukan panggilan. Tidak juga
berhasil.
“Bagaimana, tidak berhasil juga?” tanyaMari.
“Iya.”
“Kau di sini asing. Kalau tidak ada teman kasihan.
Kalau kau mau kau bisa ikut saya menginap di tempat
saya.”
“Menginap di tempat Mbak?”
“Iya. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Di tempat
saya ada tiga kamar. Kau bisa menginap di salah satu
kamarnya. Paling tidak untuk sekadar melepas lelah.
Besok kau bisa mencari orang yang kautuju itu. Itu kalau
kau mau.”
Zul terdiam sesaat. Ia memang tidak kenal siapasiapa
di Kuala Lumpur ini. Nama yang ada dalam
sobekan kertasnya pun sebenarnya tidak kenal. Nama
itu adalah nama kenalan Pak Hasan. Katanya ia adik
kelas Pak Hasan sewaktu kuliah di Jogja yang sekarang
bekerja di Kuala Lumpur. Dan jujur ia memang perlu
istirahat. Perjalanan dari Batam sampai Kuala Lumpur
cukup membuatnya lelah. Apalagi dua hari sebelum
berangkat ia kerja lembur di sebuah bengkel.
“Bagaimana Dik? Kalau kau mau ayo kita berangkat.

Mumpung belum terlalu malam. Atau kau mau tidur di
bangku itu, ya tidak apa-apa. Tapi jangan kaget kalau
nanti ada operasi polisi dan kau dianggap gelandangan.
O ya bisa juga kau menginap di hotel Purduraya ini.
Tinggal kau jalan ke atas. Tapi ongkosnya ya lumayan.”
Mari menjelaskan beberapa pilihan untuk Zul.
Zul masih belum mantap menentukan salah satu
pilihan. Hati kecilnya ingin menginap di hotel. Tapi uang
yang ia miliki benar-benar pas-pasan. Ia sebisa mungkin
harus menghemat.
“Sudahlah Dik ayo ikut saya saja. Besok kau bisa
pergi ke mana kau suka. Ayo!” Kata Mari dengan tegas
seraya bergegas ke luar terminal. Ketegasan kata-kata
Mari membuat Zul seolah menemukan pilihan terbaik.
Ia pun mengikuti langkah Mari. Mereka keluar
menyeberangi jalan raya. Mari berjalan dengan cepat
meskipun ia harus menyeret tas kopornya. Zul berusaha
mengimbangi di sampingnya.
“Kita mampir di supermarket sebentar. Lalu kita ke
Terminal Pasar Seni cari bus Rapid KL yang ke Subang.”
“Iya Mbak. O iya Mbak ini hand phone-nya nanti
lupa.”
“Ayo cepat.dikit.”
Mereka berjalan menyusuri trotoar. Mari masuk
sebuah supermarket dan belanja makanan, sikat gigi,
odol, dan sabun mandi cair. Zul menunggu di depan
supermarket. Tak lama kemudian mereka kembali
berjalan. Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai
di Pasar Seni. Mari langsung naik Rapid KL jurusan
Subang. Zul ikut di belakangnya. Setelah membayar
karcis mereka duduk. Bus berjalan perlahan.
“Jangan kaget, nanti kau akan tinggal di tengahtengah
tenaga kerja wanita. Artinya penghuni rumah itu
semuanya wanita. Saya salah satu di antaranya. Rumah
saya dihuni enam orang. Ada tiga kamar. Satu kamar
berdua. Kebetulan ada dua orang yang sedang pulang
ke Indonesia. Jadi saat ini dihuni empat orang. Kau nanti
bisa tidur di kamar saya saja. Kebetulan di kamar saya
ada kamar mandinya. Jadi kau tidak akan mengganggu

teman-teman saya yang lain.”
Mari menjelaskan kondisi rumahnya. Zul mendengarkan
dengan seksama. la merasa sudah terlalu
banyak berhutang budi pada perempuan muda yang
baru dikenalnya itu.
“Mbak baik sekali. Entah bagaimana saya harus
membalas budi Mbak. Saya malu pada Mbak.”
“Jangan berpikir begitu. Kita ini sebagai manusia
sudah semestinya saling tolong menolong. Iya tho.
Manusia tidak bisa hidup sendirian. Iya tho Dik. Apalagi
kita sama-sama orang Jawa, dan sama-sama orang Indonesia
dan sama-sama orang Islam. Sudah jadi kewajibanku
membantu adik. Ya anggap saja aku ini kakakmu.”
“Iya Mbak. Terima kasih Mbak.”
Rapid KL membelah kota Kuala Lumpur. Karena
kelelahan Zul tertidur. Cukup pulas. Mari mengamati
dengan seksama, anak muda yang duduk di sampingnya
itu. Wajah polos khas Jawa. Wajah yang tampak begitu
muda. Ada guratan derita di sana. Namun ada juga gurat
keberanian dan kenekatan. Mari memperkirakan umur
pemuda ini lima tahun lebih muda darinya. la telah
masuk dua puluh tujuh. la perkirakan Zul tak lebih dari
dua puluh dua.
Setelah satu jam berjalan akhirnya mereka sampai
di Subang. Mari membangunkan Zul. Zul bangun
dengan tergagap,
“Sudah sampai tho Mbak?”
“Sudah Dik.”
Mari turun diikuti Zul.
“Kita perlu jalan kira-kira dua ratus meter baru tiba
di rumah. Tak apa ya?”
“Tidak apa Mbak.”
Mereka berjalan memasuki kawasan Taman Subang
Permai. Selama dalam perjalanan Mari bercerita tentang
teman-temannya.

“Rumah saya rumah teras. Rumah teras artinya ya
rumah biasa seperti rumah-rumah di Indonesia yang ada
terasnya. Bukan rumah apartemen. Saya menyewa
bersama teman-teman dari orang China. Rumah itu ada
tiga kamar. Kamar paling depan ditempati oleh Linda
dan Sumiyati. Linda asli Sukabumi, ia lahir di Amsterdam.
Linda ini belum bersuami dan cantik. Kau hati-hati jangan
sampai ada apa-apa dengan dia ya. Jangan
membuat masalah di negeri orang. Awas ya, kau harus
jaga iman kalau berhadapan dengannya! Terus teman
sekamarnya adalah Sumiyati, asli Blitar. Sumiyati juga
sudah bersuami. Kamar tengah saya yang menempati.
Saya sekamar dengan Iin. Kami memanggilnya Iin.
Nama aslinya Mutmainah. la asli Pati. Iin sudah bersuami
dan punya dua anak di Pati. Kamar yang paling belakang
saat ini kosong. Yang tinggal di situ adalah Reni dan
Watik. Keduanya sedang pulang kampung. Mereka
berasal dari satu kampung di Kendal Jawa Tengah.
Sebetulnya kau bisa tidur di kamar Reni dan Watik yang
kosong. Tapi di kamar itu tidak ada kamar mandinya.
Lebih baik nanti kau tidur di kamar saya saja. Biar saya
dan Iin yang tidur di kamar Reni.”
“Iya Mbak.”
“O ya jangan kaget ya. Jika nanti mereka itu banyak
bicara. Mereka itu perempuan-perempuan yang paling
suka ngobrol dan banyak cerita. Jika kau tidak ingin
ngobrol kau nanti langsung saja tidur.”
“Iya Mbak.”
Lima belas menit berjalan akhirnya mereka sampai
di sebuah rumah, yang tak jauh berbeda dengan
perumahan di Indonesia. Hanya pintunya dirangkapi
dengan pintu besi. Mari langsung membuka pintu. Dan
begitu ia masuk ia langsung disambut histeris temantemannya.
“Oi, Mbak Mar pulang!” teriak seorang perempuan
muda yang hanya mengenakan celana pendek dan kaos
oblong.

“Hei kau bawa teman ya Mar?” tanya perempuan
berdaster panjang.
“Iya. Ini, anggap saja adik saya. Namanya Zul. Dia
mungkin numpang cuma semalam saja/’ jelas Mari.
“Adik apa adik?” ledek perempuan bercelana pendek.
Mari hanya tersenyum kecut.
“Kenalkan saya Zul, dari Demak.”
“Saya Sumiyati, dari Blitar.” Sahut perempuan bercelana
pendek.
“Aku Iin. Soko Pati Mas.”1 Perempuan berdaster
memperkenalkan diri denganbahasa Jawa. “Yo anggep
wae, iki ning ngomahe dewe. Anggep wae ning ngomahe
keluargane dewe.”2
“Inggih matur nuwun Mbak.”3 Jawab Zul.
“Si Linda mana?” tanya Mari.
“Seperti biasa Mbak ke KL. Seperempat jam yang lalu ia
dijemput sama si Chong Tong,” jelas Sumiyati.
“Tak ada kapoknya anak itu!” sahut Mari dengan
nada tidak suka.
“Yo mugo-mugo4 Gusti Allah membukakan jalan
baginya untuk taubat,” lirih Iin.
“Amin!”tukas Mari.
“E… Mas Zul kok berdiri di situ saja. Silakan duduk
Mas. Monggo5 Mas.” Sumiyati mempersilakan Zul untuk
duduk di kursi.
“Ya Mbak terima kasih.” Jawab Zul seraya duduk.
Sumiyati lalu bergegas ke dapur membuat minuman.
Sementara Mari dan Iin masuk ke kamar mereka. Mari
meminta Iin membantu merapikan kamar dan tempat
tidur. Dan menjelaskan sebaiknya Zul tidur di kamar
yang ada kamar mandi di dalamnya. Iin sepakat. Dengan
cepat mereka merapikan dan menyimpan pakaian dan
perkakas milik kaum perempuan yang tidak sepatutnya
dilihat kaum lelaki. Setelah mereka lihat rapi dan mereka
teliti tidak ada yang tidak patut, mereka kembali ke
ruang tamu dan mempersilakan Zul membawa tasnya
ke kamar.

Zul menurut. Ia membawa tasnya ke kamar. Ia masuk
dan menutup pintu. Zul mencium bau wangi di kamar
itu. Kamar yang bersih dan rapi. Jauh sekali bedanya
dengan kamarnya dan teman-temannya saat bekerja di
Batam. Zul mencopot jaketnya. Beberapa menit
kemudian kamarnya diketuk.
Ternyata Mari. Membawa nampan berisi teh hangat
dan satu piring roti donat yang tadi dibeli di supermarket.
“Istirahat saja. Ini minumnya. Di kamar mandi ada
sikat gigi yang masih baru, juga sabun cair, bisa kamu
pakai jika mau mandi. Handuknya sudah saya siapkan
di kamar mandi.” Jelas Mari sambil meletakkan nampan
itu di atas meja rias.
“Terima kasih Mbak.”
“Jika perlu apa-apa bisa mengetuk kamar belakang.
Saya ada di sana.”
“Iya Mbak.”
“Baik. Selamat istirahat.” Kata Mari dengan tersenyum.
Ia keluar dari kamar dan menutup pintu kamar
dengan pelan.
Zul merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk itu.
Terasa nyaman. Tapi ia merasa kulitnya seperti lengket
dengan pakaiannya. Sangat tidak nyaman. Ia lalu
beranjak ke kamar mandi dan mandi. Air yang
mengguyur sekujur tubuhnya itu serasa meremajakan
seluruh syaramya. Barulah setelah mandi iabisa istirahat
dengan nyaman. Sesaat sebelum tidur kilatan senyum
Mari yang tulus terbayang di mata. Ia tersenyum. Tibatiba
ia teringat perkataan Mari tadi siang,
“Jujur saja Dik ya, hampir di semua mata lelaki ada
binar liar serigala ketika melihat perempuan. Untuk itulah
menurut saya kenapa kaum lelaki diminta oleh Tuhan
untuk menjaga pandangan.”
Ia kembali tersenyum. Lalu terlelap tidur.

Tiga
Pukul tujuh pagi, Zul baru bangun tidur. la kaget karena
bangun terlalu siang. Sinar matahari telah menerobos
jendela dan masuk ke dalam kamarnya. la langsung
bangkit dan mengambil air wudhu dengan tergesa-gesa. la
belum shalat Subuh. Ketika hendak shalat ia bingung arah
kiblat. Terpaksa ia keluar kamar untuk menanyakan arah
kiblat. Di ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang santai,
Sumiyati dan Iin sedang asyik nonton televisi.
“Waduh arah kiblat mana ya? Waduh kok saya tidak
dibangunkan. Jadi terlambat shalat Subuh!” Kata Zul setengah
menggerutu. Tidak jelas kepada siapa kata-kata
itu ia tujukan. Pada Sumiyati atau pada Iin, atau pada
kedua-duanya.
“Maaf Dik, kami segan mau membangunkan. Kiblat
ke arah jendela Dik.” Jawab Iin kalem sambil memandang
ke arah Zul yang masih jelas bekasnya dari tidur.
Zul kembali ke kamar dan shalat. Setelah itu ia
kembali ke ruangan tamu. Ia tidak melihat Mari.
“Lha Mbak Mar ke mana? Apa masih tidur juga?”
“Ya tidak. Mbak Mar itu orang paling disiplin di
rumah ini. Ia sudah bangun sejak jam empat tadi.
Biasanya shalat Tahajjud. Terus nyuci pakaian. Tadi
setelah shalat Subuh ia langsung berangkat kerja.” Jelas
Sumiyati santai sambil mengambil kacang tanah yang
ada di depannya. Lalu mengeluarkan isinya dan
memasukkan ke dalam mulutnya.
“O ya sebelum berangkat tadi Mar nitip pesan. Kalau
kamu sudah bisa menghubungi orang yang kamu tuju
dan mau pergi pagi ini atau siang ini tidak apa-apa. Kalau
masih betah dan mau menginap barang satu dua hari
lagi ya tidak apa-apa. Hanya saja Mar minta kalau siang

ini orang itu tidak juga bisa kauhubungi kau sebaiknya
menginap semalam lagi. Siang ini dia akan mencoba
mencarikan informasi tentang tempat yang lebih pas,
sekaligus informasi tentang pekerjaan jika ada/’ Iin
menyahut.
“Sebaiknya, siang ini Mas istirahat saja dulu di sini.
Kan baru datang. Sambil menunggu informasi dari Mbak
Mar jika nanti ia kembali,” sambung Sumiyati memberi
saran.
“Saya mau keluar sebentar Mbak. Sekalian lihat-lihat
lingkungan. Saya mau coba telpon orang yang harus saya
hubungi itu sekali lagi,” kata Zul.
“Ya, hati-hati Dik. Jangan lupa bawa paspor ya,”
tukas Iin
Zul keluar mencari telpon. Lima puluh meter dari
rumah itu ia menemukan warung kelontong, namun di
situ tertulis kedai runcit. Di warung itu ada wartelnya.
Dari wartel itu ia mencoba menelpon nomor yang ia catat
dari Pak Hasan. Berulang-ulang ia menelpon, tapi tidak
juga berhasil. Ia mencoba menelpon Pak Hasan yang ada
di Batam juga tidak berhasil. Nomor Pak Hasan sedang
tidak aktif. Ia kembali ke rumah dan mendapati dua
perempuan itu telah rapi dan siap pergi.
“Dik kami harus berangkat kerja. Ini kunci rumah,
siapa tahu kamu mau keluar. Jika nanti kamu mau pergi
meninggalkan rumah, tolong rumah dikunci. Dan
kuncinya letakkan saja di bawah pot bunga itu. Oh ya
sarapannya sudah kami siapkan di dapur. Makan saja
yang banyak. Maaf seadanya.” Dengan lembut Iin
menjelaskan.
“O ya Mas, kalau mau lihat film-film Malaysia.
Nyalakan saja DVD player itu. DVD-nya ada di rak biru
itu,” sahut Sumiyati. “Kami pergi dulu ya. Yah demi
mencari sesuap nasi Mas.” Imbuhnya sambil membuka
pintu. Mereka berdua lalu bergegas meninggalkan
rumah. Ketika mereka sampai di halaman hendak
membuka pintu gerbang, sebuah mobil sedan Proton

Wira berhenti tepat di hadapan mereka. Seorang
perempuan berpakaian sangat ketat keluar dari mobil itu. la
melambaikan tangan pada pengendara mobil yang
bermata sipit.
“Baru pulang Lin?” sapa Iin.
“Iya Mbak. Tadi ketiduran di hotel,” jawab perempuan
itu santai.
Zul melihat dari pintu yang masih terbuka.
“Kamu itu mbok ya ingat akhirat meskipun sedikitsedikitlah
Lin? Ingatlah hari akhir kelak Lin!” Iin
menasihati dengan suara lembut.
“Aduh Mbak, kalau mau ceramah di masjid saja.
Saya sedang capek nih. Sory ya Mbak. Saya harus
istirahat. Lha itu kok ada cowok di rumah kita. Siapa
dial?” ketus Linda.
“Itu adik saya dari Demak,” jawab Iin.
“Orangnya baik kok Lin. Namanya Zul. Jangan takut
santai saja,” timpal Sumiyati.
“Siapa yang takut. Saya tak pernah takut sama lelaki.
Apalagi lelaki Indonesia kurus kaya gitu. Lelaki dari
Amerika, Rusia bahkan Nigeria sekalipun saya tidak
pernah takut! Kenapa kalian masih mematung saja di
sini. Nanti kalian terlambat didamprat sama majikan baru
tahu rasa!” sengit Linda.
“Ya udah kami berangkat dulu. Jaga rumah baikbaik
ya Lin.”
“Ya,” jawab Linda singkat sambil beranjak masuk
rumah.
Ketika masuk rumah dan melewati Zul yang berdiri
di samping pintu Linda menyapa datar,
“Halo Mas, baru datang dari Indonesia ya?”
“Iya,” jawab Zul singkat.
Linda langsung masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Zul masih berdiri di samping pintu memandang
lurus ke depan, ke halaman dan jalan. la mendengar
dengan jelas percakapan tiga perempuan itu. Dan ia bisa
meraba, kira-kira apa pekerjaan perempuan muda
bernama Linda yang baru saja menyapanya itu. Dan
siang itu ia bisa jadi hanya akan berdua bersama Linda

di rumah yang sepi itu. Ia berpikir apa yang akan ia
kerjakan seharian di rumah itu. Apakah ia akan hanya
tidur di kamar? Bagaimana kalau Linda mengajak
berbincang-bincang? Apakah ia akan bersikap cuek saja
terhadap Linda? Ataukah ia akan berpura-pura bersikap
baik kepadanya. Sebab ia paling tidak suka dengan
perempuan yang memiliki tanda-tanda sebagai perempuan
tidak benar. Dari cara Linda berpakaian dan dari
pembicaraan yang baru saja ia dengar, ia memiliki firasat
kuat bahwa Linda adalah jenis perempuan tidak benar.
Zul mengambil nafas panjang. Ia belum bisa memutuskan
akan bersikap bagaimana.
“Mas pintunya ditutup saja. Di sini tidak lazim
membuka pintu lama-lama.” Seru Linda dari kamarnya
yang hanya berjarak beberapa meter dari
tempat Zul berdiri. Secara reflek Zul menengok ke arah
suara. Pintu kamar Linda terbuka lebar dan Linda
merebahkan tubuhnya begitu saja di tempat tidurnya,
dengan sepatu hak tingginya masih terpasang di kedua
kakinya. Zul merasakan getaran dalam dadanya. Ia
langsung menutup pintu dan bergegas masuk ke
dalam kamarnya.
Sementara Iin dan Sumi masih berjalan ke arah
hentian bus. Dalam hati Iin memanjatkan doa agar Linda
kembali ke jalan yang benar. Ada yang meleleh dari
kedua matanya yang berkaca-kaca. la sangat sayang
pada gadis cantik—yang sudah tidak gadis lagi—itu. la
ingat bagaimana awal perjumpaannya dengan Linda di
pagi yang cerah di KBRI Kuala Lumpur. Linda yang
berwajah Indo itu memperkenalkan diri sebagai
karyawati sebuah kantor maskapai penerbangan di
Kuala Lumpur. Pagi itu Linda ada sedikit urusan di
bagian konsuler. la tidak menanyakan detil urusan Linda
sebenarnya. la sendiri punya urusan yang membuatnya
pusing, gajinya selama lima bulan tidak dibayar oleh
majikan. la hendak melaporkan hal itu ke pihak KBRI.
Dari yang tak lebih dari dua puluh menit itu ia tahu Linda
memiliki cita-cita yang tinggi. Linda bercerita tentang
keinginannya melanjutkan kuliah sampai S.3 di negeri
tempat ia dilahirkan, yaitu Belanda.

“Saya harus cari uang dulu. Ibu saya tidak mungkin
membiayai saya kuliah. Ayah saya, saya tidak mengenalnya
sejak kecil. Ibu hanya cerita ia orang Belanda dan
sudah menikah lagi di sana. Sudah jadi orang penting di
Belanda. Ibu saya tidak meridhai jika saya minta uang
sepeser pun pada ayah saya. Kata ibu saya, saya boleh
ke Belanda, tapi tidak boleh mengemis pada ayah saya,
atau keluarga ayah saya. Ibu saya sangat dendam pada
ayah saya, dan dendamnya itu telah diwariskan pada
saya. Saya tidak akan menceritakan perihal dendam itu.
Pokoknya dendam yang sangat menyakitkan. Intinya
ayah saya pernah memperlakukan ibu saya dengan
sangat tidak manusiawi di Belanda. Dan itu saat mengandung
saya.
“Ya alhamdulillah, berkat peluh dan keringat ibu
saya, akhirnya saya bisa selesai kuliah di Jakarta dan
langsung mendapat pekerjaan. Sekarang saya bisa kerja
di Kuala Lumpur ini dengan gaji yang lumayan. Saya
akan menabung. Kalau bisa saya akan lanjut kuliah S.2
di sini baru nanti S.3 di Belanda. Jika saya sudah sukses,
kaya dan bermartabat, saya akan ajak ibu saya menemui
ayah saya dengan kepala tegak. Bahkan saya bercitacita
harus kaya hingga saya nanti bisa punya perusahaan
besar di Belanda. Harus lebih kaya dari Mr. Van
Braskamp.
“Van Braskamp itulah nama ayah saya. Dia seorang
Belanda. Tapi saya sama sekali tidak kenal budaya
Belanda. Saya sejak umur dua tahun sudah di Sunda.
Hidup bersama kakek dan nenek saya. Ayah saya tidak
meninggalkan apa-apa kepada saya kecuali warna
kulitnya yang membuat saya lebih putih dari ibu saya.
Itu saja. Tapi saya akan membuktikan pada ayah saya
itu, suatu saat saya bisa lebih terhormat dari ayah saya
di negeri ayah saya. Itulah cita-cita saya Mbak Iin. Kalau
Mbak Iin punya cita-cita apa? Untuk apa kerja di
Malaysia ini?”
Iin masih ingat saat itu ia hanya menggelengkan
kepala lalu menjawab,

“Saya tidak punya cita-cita yang tinggi seperti Dik
Linda. Saya hanya ingin dapat uang. Bisa membiayai
suami saya yang sedang sakit dan bisa membiayai dua
anak saya yang masih kecil-kecil yang sekarang diasuh oleh
adik saya. Itu saja. Juga punya tabungan untuk buka
warung di kampung. Itu saja Dik Linda.”
Saat itu Linda tersenyum dan mengangkat kedua
tangannya seraya berdoa,
“Semoga cita-cita Mbak Iin dikabulkan oleh Allah.
Amin.”
Dalam hati ia ikut mengamini.
Di pertemuan yang singkat itu, ia sempat bertukar
nomor hand phone dengan Linda. Linda yang memberi
nomornya dulu.
“Mbak ini nomor hope saya. Siapa tahu Mbak atau
teman Mbak ada yang ingin pulang liburan. Bisa pesan
tiketkesaya.”
Sejak itulah ia sering berkomunikasi dengan Linda.
Beberapa kali ia bertemu dengan Linda tanpa sengaja di
Menara Kembar Petronas KLCC. Seringkali Linda
mentraktirnya makan. Selesai makan biasanya mengajak
shalat di surau yang ada di sana. Ia melihat Linda begitu
agamis. Dan dalam balutan jilbab muka Indo itu bagai
bidadari surga yang turun ke bumi. Ia sangat takjub pada
keelokan dan kebaikan Linda. Dari rasa takjub itulah rasa
sayangnya pada Linda terbit.
Sejak kenal dengan Linda, ia sering membayangkan
alangkah enaknya bisa kerja seperti Linda. Duduk tenang
di kantor yang ber-AC dengan bayaran yang tinggi.
Kerjanya cuma mengangkat telpon. Lihat layar
komputer. Dan nulis nota. Tidak seperti dirinya yang
harus kerja di Warung Runcit6 dengan majikan yang kasar dan
pelit. Itulah yang ia pikirkan pada waktu itu.

Dan ia merasa alangkah beruntungnya Linda. Cantik,
pintar, masih sangat muda, dan berpenghasilan tinggi.
Tapi ia segera menyadari siapakah dirinya dan siapakah
Linda. Dirinya tak lebih hanya lulusan MTs dengan
penampilan sangat biasa, sementara Linda sudah sarjana
dan cantik pula. Pekerjaan kantor sepertinya tidak boleh
dikerjakan oleh orang desa—dengan wajah pas-pasan—
yang hanya lulusan MTs seperti dirinya.
Tapi jika melihat kehidupan Linda saat ini, ia yang
hanya orang desa dan cuma lulusan MTs seperti dirinya
merasa lebih bahagia daripada Linda. Buat apa pandai,
sarjana dan cantik jika hanya menjadi budak nafsu dan
setan. Dan hidup dalam lembah kehinaan.
Baginya, sebagai wanita, kehormatan diri dan
kesucian diri adalah harta paling berharga setelah iman
kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Entah sudah berapa
kali ia berusaha mengingatkan Linda, baik dengan cara
yang paling halus maupun cara yang sangat terangterangan.
Baik dengan sindiran maupun ancaman siksa
neraka jahanam. Tapi ia melihat Linda sama sekali tidak
ada perubahan. Bahkan shalat pun sudah ia tinggalkan.
Ia sudah jarang melihat wajah blesteran Sunda Belanda
itu berbalut mukena putih. Ia merasa bidadari surga yang
turun ke bumi itu telah hilang.
Jika menghayati apa yang terjadi pada Linda,
hatinya sering miris dan merinding. Betapa berbedanya
Linda yang dulu dengan sekarang. Alangkah mudahnya
ketakwaan itu sirna dan iman itu hilang lenyap di akhfr
zaman seperti sekarang. Tidak sedikit orang yang dulu dikenal
karena ketakwaannya tiba-tiba dalam waktu tak
lama dikenal karena kedurhakaannya.
“Na’udzubillahi min dzalik. Ya Rabbi, jauhkanlah
hamba dari itu semua. Jangan Kaubiarkan iman ini lepas
dari hati hamba sedetik pun.” Doanya dalam hati sambil
mengusap airmatanya.
“Kenapa menangis Mbak Iin?” tanya Sumiyati.
“Tidak apa-apa. Aku hanya kasihan sama Linda.

Jauh-jauh merantau ke sini, siang malam hanya untuk
menjual kehormatan dan bermaksiat. Kalau tidak mau
bertaubat sungguh kasihan. Rugi di dunia, rugi di
akhirat.”
“Iya Mbak. Aku masih ingat awal-awal Linda hidup
bersama kita, ia masih shalat dan masih mau membaca
Yasin. Tapi sekarang sepertinya dia tidak memiliki Tuhan.”
“Hus. Jangan bilang begitu Sum!” bentak Iin,
“Semoga saja semaksiat-maksiatnya Linda, dia masih
mengakui Allah sebagai Tuhannya,” lanjutnya.
“Semoga saja Mbak. Hidup di perantauan seperti kita
ini memang tidak mudah. Keimanan kita benar-benar
dipertaruhkan. Mbak tolong doakan saya ya. Itu, si Karan
kawan kerja saya di restoran sering menggoda saya. Saya
takut tergoda Mbak.”
“Kau harus kuat Sum. Imanmu harus terus kaupupuk.
Kita harus sating menguatkan dan mengingatkan.
Kita harus sating mengingatkan bahwa
perzinahan itu termasuk dosa besar. Dan sekali orang
berzina, orang itu akan sulit lepas dari belenggu dosa
itu. Sangat memungkinkan ia akan melakukan yang kedua,
ketiga dan seterusnya. Dan itulah yang dikehendaki
setan. Jangan kita biarkan diri kita terperangkap
oleh kesempatan melakukan dosa besar itu.
Sebisa mungkin kesempatan itu jangan dibiarkan ada.
Aku sendiri Sum, aku mengakui diriku tidak cantik.
Tetapi aku juga mengalami apa yang kaualami. Banyak
yang menggoda. Tapi aku berusaha untuk kuat dan
berusaha menjaga agar jangan sampai setan menciptakan
kesempatan melakukan perbuatan dosa besar itu. Sebab,
jika kesempatan itu tercipta, aku kuatir imanku tidak kuat
untuk mencegahnya. Di antara caraku menjaga diri
adalah dengan tidak pernah meladeni segala bentuk
keisengan mereka yang menggodaku. Termasuk SMS
yang hanya iseng. Aku selalu berangkat tepat waktu dan
begitu saatnya pulang aku langsung pulang. Tidak
berlama-lama ngobrol di tempat kerja.”
“Gitu Mbak ya?”

“Iya.”
“Wah, untung Mbak kasih tahu. Si Karan itu
inginnya ngajak ngobrol terus selesai kerja. Ia bahkan
sering ngajak nonton film.”
“Kalau ingin selamat, jangan kautanggapi sedikit pun.”
“Iya Mbak.”
“Linda pernah cerita, ia menjadi seperti sekarang ini
bermula dari menanggapi SMS iseng teman kerjanya,
seorang pria muda asal Singapura.”
“Cerita detilnya bagaimana Mbak?”
“Aku juga tidak tahu Sum. Linda hanya pernah
menyinggung bahwa semuanya bermula dari SMS iseng
seorang teman kerja asal Singapura. Seorang pria muda
yang menawan. Itu saja.”
“Eh Mbak itu busnya datang. Ayo cepat!” teriak
Sumiyati.
“Wah iya Sum, itu bus kita! Sahut Iin dengan mata
berbinar.
Mereka berdua langsung mempercepat langkah. Bus
Rapid KL semakin mendekat, merapat di halte, lalu
menurunkan dan menaikkan penumpang. Kedua
perempuan itu mengejar dengan setengah berlari, takut
ketinggalan.
* * *
Zul tidur di kamarnya, yang tak lain adalah kamar
Mari. Kedua matanya memandang langit-langit kamar
yang berwarna putih bersih. Sementara pikirannya
melayang ke mana-mana. Melayang ke perjalanan dari
Batam hingga ketemu Mari. Dan sampai di rumah yang
sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia
masih juga berpikir apa yang harus ia lakukan siang itu.
Apakah tetap diam di rumah itu menunggu Mari pulang.
Sehingga ia bisa mendapat informasi dari Mari. Ataukah
ia nekat saja pergi dari rumah itu. Kenapa ia mesti
menunggu informasi dari Mari. Bukankah ia bisa nekat,
sebagaimana selama ini ia selalu nekat. Dan bukankah
sebenarnya ia pergi ke Malaysia juga berbekal nekat.

Kalau ia nekat pergi dari rumah itu, siang itu juga,
lalu ia mau pergi ke mana? Ia tidak hafal Kuala Lumpur
dan sekitarnya. Apa asal pergi saja. Yang penting jalan.
Seperti waktu ia dulu nekat ke Jakarta. Tapi ia nyaris mati di
Jakarta karena dikeroyok berandalan jalanan. Apa ia
akan mengulangi nasib yang sama. Dan jika ia nekat,
berapa lama ia akan bisa bertahan? Uang yang ia bawa
sangat pas-pasan. Tak lebih dari seratus lima puluh
ringgit. Berapa lama ia bisa bertahan dengan seratus lima
puluh ringgit?
Ia lalu berpikir realistis, apa salahnya menunggu
Mari pulang. Ia bisa dapat informasi yang lebih jelas.
Mungkin informasi ada pekerjaan yang membuatnya
bisa bertahan bahkan bisa memperbaiki nasib. Apa
salahnya menunggu sampai sore hari. Ia bisa tidur
seharian di kamar itu dengan pintu terkunci. Toh di kamar
itu ada kamar mandi dan WC-nya. Ia tidak perlu keluar.
Juga, tidak baik rasanya meninggalkan rumah itu tanpa
terlebih dulu pamitan pada Mari, yang begitu baik
padanya. Ia akhirnya mantap untuk tetap di rumah itu
siang itu, sampai Mari pulang. Jika Mari pulang dan ia
telah mendapatkan informasi dan petunjuk yang
mungkin sangat penting baginya, maka ia bisa pergi.
Zul mencoba berkonsentrasi memejamkan kedua
matanya, ia ingin tidur lagi. Namun konsentrasinya
buyar begitu telinga mendengar suara orang mandi. Ia
langsung yakin yang mandi itu adalah Linda. Sejurus
kemudian ia mendengar televisi dinyalakan. Ia lalu
mendengar lagu-lagu India dibunyikan dengan sedikit
keras. Ia benar-benar tidak bisa memejamkan kedua
matanya.
Ia lalu bangkit dari kasur. Ia yakin tidak bisa tidur.
Ia lalu melihat-melihat isi kamar itu, ia mencari sesuatu
yang bisa dibacanya. Di samping meja rias ia melihat setumpuk
majalah dan koran. Juga ada beberapa buku.
Ia lihat buku-buku itu. Buku-buku ekonomi berbahasa
Inggris. Ia ambil satu. Judulnya International Monetary
and Financial Economics. Ia buka buku itu. Di halaman
paling depan ia menemukan nama pemilik buku itu

tertulis dengan tinta biru. Liew Su Ying. Nama China.
Di bawah buku itu ada buku bersampul biru tua. Ia
ambil. Terbitan Oxford University Press. Judulnya Game
Theory with Applications to Economics. Ia
menggelenggelengkan
kepala. Orang yang bisa memahami buku
seperti itu pastilah bahasa Inggrisnya mantap. Ia buka
halaman depan. Nama pemilik buku dan tanda
tangannya tertulis di situ. Laila Binti Abdul Majid, TTDI,
Kuala Lumpur. Ia yakin itu nama perempuan Melayu.
Ia jadi bertanya-tanya, kenapa buku ekonomi seperti
itu bisa ada di dalam kamar Mari dan Iin? Siapakah yang
selama ini membaca buku itu? Mari kah? Atau Iin kah?
Apakah mungkin mereka berdua bisa memahami buku
berbahasa Inggris? Tiba-tiba ia tersenyum, mengapa ia
bisa sebodoh itu. Bisa jadi orang China yang namanya
tertulis sebagai pemilik buku itu adalah orang yang
memiliki rumah ini. Bukankah ini rumah sewa? Dan
bukankah Mari mengatakan pemiliknya adalah orang
China? Ia menduga pemiliknya adalah orang China yang
menikah dengan perempuan Melayu.
Sangat mungkin, pemilik rumah itu tidak mengemasi
bukunya dan membiarkan buku-bukunya tergeletak
begitu saja di kamar itu. Lalu Mari dan Iin menatanya
jadi satu dengan majalah dan koran di samping meja ,
rias. Atau entahlah, yang jelas ia menafikan jika yang
punya dan yang membaca buku-buku ekonomi
berbahasa Inggris itu adalah Mari atau Iin. Melihat
tampang dan penampilan mereka sangat meragukan,
dan sangat tidak meyakinkan.
la lalu melihat-lihat beberapa majalah. Ada yang
terbitan Indonesia, Malaysia, Singapura dan bahkan
Hongkong. la mengambil yang terbitan Indonesia. la
bawa ke kasur. la baca sambil tiduran. Tak berapa lama
kemudian ia merasa mengantuk. Entah kenapa setiap
kali ia membaca rasa kantuk itu menyerang dengan
cepat. Saat ia berada di antara sadar dan tidak sadar
karena mulai masuk ridur, sayup-sayup ia mendengar

pintu kamarnya diketuk beberapa kali. Ia tidak jadi
memejamkan mata.
“Mas! Mas! Halloo! Buka dong!”
Itu jelas suara Linda.
“Iya. Sebentar!” sahutnya sambil bangkit menuju
pintu.
Begitu pintu ia buka, tampaklah wajah Linda yang
sangat berbeda dengan wajah yang tadi ia lihat saat
Linda baru datang. Wajah Linda yang ada di hadapannya
tampak segar, dan menawan. Linda menyungging
senyum yang membuat dadanya berdesir. Ia sepertinya
belum pernah melihat pesona sesegar wajah Indo yang
ada di hadapannya.
“Hallo Mas, maaf mengganggu. Tadi kita belum
kenalan. Kenalkan namaku Linda. Lengkapnya Linda
Van Braskamp. Aku kerja di sebuah hotel berbintang di
Kuala Lumpur.” Sapa Linda sambil mengacungkan
tangan kanannya mengajak berjabat tangan. Zul langsung
menjabat tangan itu sambil memperkenalkan
dirinya,
“E… nama saya Ahmad Zul. Saya berasal dari
Demak. Mbak Linda orang Belanda ya?”
“Ya. Ada darah Belanda. Tepatnya blesteran Sunda-
Belanda. Tapi aku tetap merasa sebagai orang Indonesia.
O ya kapan Mas Zul sampai?”
“Tadi malam.”
“Berarti bareng Mbak Mar?”
“Ya.”
“Tadi Mbak Iin cerita, Mas adiknya Mbak Iin,
benar?”
Zul tersenyum mendengarnya, ia lalu menjawab,
“Dikatakan adiknya Mbak Iinjuga boleh.”
“Lho kok gitu. Kok ada juga bolehnya. Jadi

sebenarnya bukan adiknya Mbak Iin?”
“Ah itu tidak penting. Tadi baru pulang kerja ya?”
“Iya saat ini aku kena sif malam. Jadi manusia
kelelawar. Malam jadwalnya kerja, siang jadwalnya
istirahat.”
“Jadi siang ini mau di rumah saja?”
“Lha iya lah. Kan harus istirahat. Tapi aku lapar sekali.
Mau keluar cari makanan rasanya malas sekali. Aku
tengok di dapur ada nasi goreng. Itu pasti disedikan
untuk Mas Zul. Boleh saya minta sedikit Mas. Atau kita
makan bareng. Bagaimana? Mas Zul belum sarapan
kan?”
“Belum.”
“Ayo kalau begitu kita makan bersama. Kita makan
di ruang tamu saja. Sambil ngobrol. Oh ya Mas Zul mau
minum apa? Aku bikinkan.”
“Teh panas boleh.”
“Baik. Mas Zul tunggu di ruang tamu saja ya, sambil
nonton televisi.”
“Baik.”
Linda ke dapur membuat minuman dan mengambil
makanan. Zul melangkah ke ruang tamu lalu duduk di
sofa sambil membaca majalah yang tadi ia baca. Tak
lama kemudian Linda muncul dengan membawa
nampan berisi dua piring nasi goreng dan dua gelas teh
manis. Zul mendongakkan muka dan melihat ke arah
Linda yang datang. Barulah ia memperhatikan pakaian
yang dipakai Linda, yang tadi tidak ia perhatikan. Linda
memakai gaun yang hanya pantas dipakai di kamar
tidurnya saja. Zul seperti terpaku dan terbelenggu di
tempat duduknya. Tubuhnya terasa kaku.
Linda meletakkan nampan di meja dan langsung
duduk di samping Zul. Bau wangi parfum Linda tercium
jelas oleh hidung Zul. Zul tidak bisa konsentrasi makan,
ia masih menata pikirannya yang ia rasakan mulai kacau.

“Kok bengong saja Mas. Ayo dimakan. Tadi nasinya
sudah saya hangatkan. Kalau dingin tidak enak.”
“E… iya Mbak.”
Zul mengambil piring berisi nasi goreng dan mulai
menyantapnya pelan-pelan. Ia masih terus berjuang
menata kembali pikirannya yang mulai berpikir yang
“Rencana siang ini Mas Zul mau ke mana? Kalau tidak
ada rencana, di rumah saja menemani aku. Aku bawa film
Hollywood terbaru. Kita nonton berdua saja di rumah.
Kalau nonton film sendirian rasanya tidak seru.”
“Saya belum ada rencana. Tidak tahulah. Saya
sebenarnya ingin jalan-jalan.”
“Sebenarnya aku ingin sekali nemani jalan-jalan. Tapi
kurasa, aku harus istirahat dan nyantai di rumah. Kalau
Mas mau jalan-jalan sendiri tidak apa-apa. Kebetulan aku
ada kunci dobel. Sebentar ya.”
Linda menghentikan makannya dan beranjak ke
kamarnya. Lalu keluar dengan membawa kunci.
“Ini bawa saja. Yang ini kunci gembok pintu besi dan
yang ini kunci pintu. Kalau Mas keluar dan saat pulang
aku sedang tidur tidak perlu membangunkan aku. Bawa
saja kunci ini selama Mas di sini.”
“Terima kasih.”
“O ya ngomong-ngomong Mas mau kerja di mana?
Sudah ada agen yang mengatur?”
“Belum tahu. Masih mencari.”
“O jadi belum dapat kerja. Begini Mas, ini kalau Mas
mau. Bagaimana kalau kerja di hotel tempat aku kerja. Tapi
kerjanya malam sih. Kalau mau, bisa aku coba hubungkan
ke pihak personalia. Aku kenal baik dengan penanggung
jawabnya. Gajinya lumayan kok. Bagaimana?”

“Nanti saya pikirkan.”
“Sejak jumpa pertama kali tadi, kulihat Mas memang
banyak berpikir dan merenung. Jangan terlalu dibuat
serius hidup ini Mas, cepat tua nanti. Itu Mbak Mar, coba
nanti kalau ketemu kauamati dia baik-baik, karena ia
juga terlalu serius memikirkan hidup jadi kelihatan jauh
lebih tua dari umurnya. Padahal ia hanya selisih satu
tahun saja dariku.”
“Benarkah?”
“Serius. Mbak Mar itu terlalu banyak mikir.
Semuanya dia pikir. Mau makan saja dia mikir, ini halal
tidak, haram tidak. Kalau aku sih selama enak kenapa
tidak? Sekarang aku menemukan agama baru. ”
“Agama baru?”
“Ya. Aku kasih nama agama enak. Pokoknya segala
yang enak-enak itu jadi ajarannya. Itulah agamaku
sekarang. Tuhannya adalah Tuhan yang maha membebaskan
manusia untuk berenak-enak.”
“Astaghfirullah. Meskipun yang kelihatannya enak
itu dilarang agama.”
“Agama yang mana? Kalau agamaku tadi ya jelas
tidak melarang. Kalau agama Islam seperti agamamu,
aku yakin kau Islam, ya aku tidak tahu.”
“Wah itu namanya agama hawa nafsu.”
“Terserah, aku tidak peduli. Yang jelas aku merasa
enak, merasa bebas, merasa merdeka.”
“Kalau di KTP apa agamamu?”
“Ya Islam.”
“Lho kok Islam?”
“Ya untuk formalitas saja. Biar tidak membuat sedih
banyak orang. Termasuk kakek dan nenek saya yang
sangat fanatik dengan agama Islamnya.”
“Itu berarti kamu munafik.”

“Kalau munafik itu enak kenapa tidak?”
Zul jadi pusing memikirkan makhluk di hadapannya.
la tidak mengira akan pernah menjumpai manusia seperti
itu dengan cara berpikir seperti itu.
“Baiklah Mas, saya akan cerita sedikit tentang
pekerjaan saya. Daripada nanti Mas mendengar cerita
yang sinis dari orang lain. Lebih baik Mas langsung
mendengar dari saya. Lebih baik saya jujur daripada saya
disebut munafik lagi. Sudah saya katakan agama saya
adalah agama enak. Pokoknya yang enak-enak itulah inti
ajarannya. Maka saya cari profesi adalah juga profesi yang
menurut saya paling enak. Dalam ajaran agama saya,
profesi saya tidaklah sebuah kejahatan. Tapi di agama lain
bisa jadi profesi saya disebut sebuah kejahatan bahkan
dosa besar. Aku tak peduli, aku punya agama sendiri.
“Profesi saya adalah menyenangkan orang-orang
penting. Orang-orang yang memerlukan hiburan.
Pekerjaan saya adalah menghiburnya. Tapi orang-orang
awam menyebut orang seperti saya ini sebagai pelacur. Ada
juga yang menyebut sebagai perempuan sundal.
Macammacamlah
sebutannya. Tapi saya, berpegang pada
keyakinan saya, maka saya menyebut diri saya adalah
seniwati. Saya menjual jasa. Dan jasa saya adalah seni dan
keindahan. Itulah saya Mas. Bagaimana menurut Mas?”
“Aku hanya merasa kasihan padamu?”
“Kasihan, kenapa kasihan?”
“Entahlah, hanya merasa kasihan saja. Aku ini orang
awam juga. Tidak tahu apa-apa. Agama juga tidak tahu.
Hanya mendengar apa yang kaukatakan nuraniku
mengatakan orang seperti kamu ini sebenarnya bukan
hidup enak dan hidup senang. Tapi hidup dalam keadaan
sangat memprihatinkan. Dan perlu dikasihani.”

“O ya?”
“Terserah. Cuma aku yakin, yang tadi bicara bukan
nuranimu tapi nafsumu. Nanti suatu ketika saat engkau
menderita sakit, coba aku ingin dengar apa yang akan
kaukatakan dan kauucapkan?”
“Kau ini jahat. Masak berharap aku sakit dan
menderita.”
“Kau salah sangka. Sama sekali aku tidak berharap.
Tapi manusia yang normal terkadang ada saatnya sakit
juga. Saat sakit itulah manusia lebih banyak berbicara
dengan nuraninya daripada dengan nafsunya. Lha saya
ingin tahu apa yang akan kaukatakan saat kau dalam
keadaan seperti itu. Apakah berarti saat kau sakit kau
sudah tidak beragama lagi. Karena rasa enak itu sudah
tidak ada lagi. Atau bagaimana?”
“Saya akan bertahan dengan agama saya. Saya
yakin dengan temuan saya.”
“Yah kalau begitu, bagimu agamamu dan bagiku
agamaku.”
* * *

Empat
Selesai makan Zul memutuskan untuk jalan-jalan ke
pusat kota. la merasa imannya tidak kuat jika di rumah
itu terus, dan berduaan dengan Linda. la menyadari
dirinya hanyalah pemuda biasa yang masih lemah
imannya. Yang masih sering kalah melawan hawa
nafsunya sendiri. Tingkat ketakwaannya belumlah
sampai pada tingkatan Nabi Yusuf yang mampu
menepis godaan Zulaikha. la merasa setan yang ada
dalam dirinya lebih kuat dari dirinya. Maka ia harus
mengambil tindakan penyelamatan dan waspada. Ia
tidak ingin membuat dirinya celaka. Ia baru sampai di negeri
orang. Mau tinggal di mana saja belum jelas.
Pekerjaan juga belum jelas. Melangkahkan kaki mau ke
mana saja belum jelas. Maka ia tidak mau terjebak dalam
situasi yang mengakibatkan penyesalan. Ia teringat pesan
Mar saat menyebut nama Linda pertama kalinya,
“Linda ini belum bersuami dan cantik. Kau hati-hati
jangan sampai ada apa-apa dengan dia ya. Jangan
membuat masalah di negeri orang. Awas ya, kau harus
jaga iman kalau berhadapan dengannya!”
Tak ada jalan lain baginya kecuali pergi dan menjauh
dari sumber petaka. Api jika tidak bisa dilawan dan
dipadamkan maka jalan selamat adalah lari menjauh dari
api itu. Jika tidak maka api itu akan membakar dan
menghancurkan.
“Maaf Mbak Linda, rasanya saya harus keluar jalanjalan.
Saya ingin melihat-lihat suasana. Bosan di rumah
terus. Nanti malam habis Maghrib mungkin saya datang
lagi. Tas danbarang-barang saya masih di kamar,” kata
Zul pada Linda.
“O ya. Hati-hati di jalan. Sudah bawa paspornya?”
sahut Linda
“Sudah. Kalau mau ke pusat kota Kuala Lumpur
naik apa ya?”
“Tadi malam datang pakai apa?”
“Bus ”

“Rapid KL ya?”
“Iya.”
“Kalau begitu naik saja dari tempat kau tadi malam
turun dan naik bus yang sama.”
“Baik. Terima kasih. Salam buat Mbak Mar, Mbak
Iin, dan Mbak Sumiyati.”
“Baik. Kalau ada apa-apa bisa telpon kami ya. Sudah
tahu nomor hp saya?”
“Belum.”
“Kalau nomor Mbak Mar sudah tahu?”
“Sudah.”
“Ya sudah. Itu cukup.”
“Sekali lagi terima kasih. Saya pergi dulu.”
“Ya, sekali lagi hati-hati di jalan. Jangan sampai tidur
di bus ya,” canda Linda.
Zul menjawab dengan senyum lalu beranjak
meninggalkan Linda sendirian. Ia pergi hanya membawa
tas cangklong hitam berisi map dokumen-dokumennya,
sepotong sarung, dan kaos panjang. Itu saja. Ia merasa
mantap. Jika ia bisa menaklukkan Jakarta dan Batam,
maka ia sangat yakin ia pun bisa menaklukkan Kuala
Lumpur. Sepintas ketika ia tiba di Purduraya, ia melihat
suasana terminal bus paling padat di Kuala Lumpur itu
tidak seganas Pulogadung dan Kampung Rambutan
Jakarta. Ia pernah berkelahi dengan preman Pulogadung
dan tetap bisa hidup. Ia juga pernah ditodong preman
Kampung Rambutan dan bisa lolos. Jika ia terpaksa harus
bertemu dengan preman Kuala Lumpur ia merasa tak
perlu gentar. Orang Demak tidak boleh gentar berhadapan
dengan situasi apapun juga.
Dari Subang Jaya ia naik bus Rapid KL ke terminal
KL Sentral. Di KL Sentral ia sempat bingung mau ke
mana. Ia berinisiatif untuk mencoba menghubungi lagi nama
yang diberi oleh Pak Hasan sekali lagi. Setelah
bertanya kepada seorang lelaki India ia menemukan
telpon umum. Dari telpon umum ia menghubungi dan
masuk. Ia sangat berbahagia seperti mendapatkan rejeki
nomplok yang tiada terkira jumlahnya.
“Ini Pak Rusli ya?” tanyanya.

“Iya benar. Ini siape?”
“Saya Zul Pak. Saya mendapat nama dan nomor
Bapak dari Pak Hasan Batam.”
“O ya ya. Pak Hasan sehat ya?”
“Alhamdulillah Pak. Bagaimana caranya saya bisa
bertemu Bapak? Saya baru datang tadi malam dan tidak
banyak tahu tentang Kuala Lumpur. Terus terang saya
perlu sedikit bantuan Bapak.”
“Sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu
Saudara. Adik sekarang di mana?”
“Di KL Sentral Pak.”
“Begini saja Dik. Dari KL Sentra adik naik KTM ke
Stesyen Mad Valley. Saya jemput di sana. Baru nanti kira
bicarakan segalanya dengan lebih leluasa.”
“Apa tadi Pak, KTM ya?”
“Ya KTM, atau kereta listrik. Ingat ke Mad Valley! Turun
di Mad Valley. Saya memakai baju koko hijau lumut.”
“Baik Pak. Terima kasih.”
Tidak sulit baginya untuk naik KTM dan tidak sulit
untuk mencapai Mad Valley. Siang itu, ia merasa
bahagia, sebab disambut dengan hangat oleh Pak Rusli,
yang tak lain adalah seorang murid Pak Hasan saat belajar
di Padang. Pak Hasan pernah mengajar di sebuah
202
pesantren di Padang sebelum berdakwah di Batam. Pak
Rusli mengajaknya makan siang di restoran Saji Selera
yang letaknya tak jauh dari Mad Valley Plaza.
“Jadi yang mendorong adik ke Kuala Lumpur ini Pak
Hasan?”
“Iya Pak.”

“Itu maknanya adik diminta untuk belajar. Menuntut
ilmu. Saya tahu persis siapa Pak Hasan. Tapi adik tidak
akan bisa melanjutkan studi di sini, kalau tidak dengan
bekerja. Dari mana uang untuk membayar kuliah kalau
tidak dicari dengan bekerja? Iya kan?”
“Iya Pak.”
“Jangan kuatir. Di sini banyak kok mahasiswa yang
kuliah sambil bekerja. Nanti kau akan aku temukan
dengan mereka. Insya Allah mereka akan banyak
membantu. Terutama berkenaan dengan urusan
pendaftaran di kampus. O ya kaubawa ijazah kan?”
“Bawa Pak.”
“Dulu kuliah di mana?”
“Di IKIP PGRI Semarang Pak.”
“Jurusan apa?”
“Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia Pak.”
“Ya ya ya. Gampang nanti bisa diatur untuk
dicarikan jurusan yang pas. Yang penting kau serius
lanjut kuliah kan?”
“Iya Pak.”
“Bagus. Pak Hasan itu sebenarnya mendorongmu
untuk memiliki modal paling mahal untuk sukses dan jaya.”
203

“Apa itu Pak?”
“Ilmu. Hanya orang-orang berilmulah yang akan
diangkat derajatnya oleh Allah. Banyak orang tidak
berilmu kaya, namun derajatnya tidak diangkat oleh
Allah. Tidak sedikit orang kaya yang jadi hina karena
kekayaannya. Sebab ia tidak memiliki ilmu bagaimana
menjadikan kekayaannya sebagai jalan beribadah dan
menggapai kemuliaan. Setelah ini kau akan aku bawa
ke rumah teman-teman mahasiswa. Agar kau kembali
hidup dalam barakah lingkungan para penuntut ilmu.”
“Iya Pak.”
Berulang kali Zul hanya menjawab: Iya Pak, iya Pak.
Agaknya Pak Rusli memperhatikan jawaban Zul.
“Kamu ini dari tadi kok cuma bilang; Iya Pak, Iya Pak.
Jawa betul kamu ini. Apa tidak ada kata-kata yang lain?”
“Mmm, aduh bagaimana Pak ya?”
“Sudah jangan dipikirkan. Ini hanya gurauan saja.
Ayo kita jalan.”
“Iya Pak.”
“Lha diulang lagi kan!” Seru Pak Rusli sambil
tersenyum lebar.
Zul langsung meringis. Ia jadi heran sendiri, kenapa
terus mengulang-ulang kata-kata itu pada Pak Rusli.
Namun suasana jadi sangat cair. Sikap Pak Rusli yang
low profile membuatnya seolah sudah lama mengenal
lelaki berumur empat puluhan itu. Padahal belum ada
tiga jam ia bertemu dengannya.
Keluar dari Saji Selera, Pak Rusli membawanya
masuk kampus Universiti Malaya. Zul terkagum-kagum

dengan keindahan dan kerapian kampus perguruan
tinggi tertua di Malaysia itu.
“Universiti ini masuk dalam jajaran 100 perguruan
tinggi terbaik dunia. Kau harus tahu itu. Semoga saja
kau nanti diterima lanjut S.2 di sini. Aku yakin orang
seperti kau akan meraih kecemerlangan di masa yang
akan datang.” Ujar Pak Rusli menyemangati.
“Doanya Pak.”
“Allah memberkati, insya Allah.”
Setelah mengelilingi kampus Universiti Malaya, Pak
Rusli mengajak Zul shalat Ashar di masjid Akademi
Pengajian Islam. Setelah itu langsung memacu mobilnya
ke kawasan Pantai Dalam. Setelah keluar dari kawasan
kampus UM, di sepanjang perjalanan, tepatnya di
samping kiri, Zul melihat rel KTM. Sesekali ia berpapasan
dengan KTM yang melaju ke arah KL Sentral. Sepuluh
menit kemudian Pak Rusli memperlambat laju mobilnya.
Mobil itu memasuki daerah yang terkesan agak kumuh.
Setelah melewati jalan di bawah jembatan layang, mobil
itu belok kanan. Di hadapan Zul tampak apartemen putih
yang tinggi dan kusam.
“Inilah Pantai Dalam, banyak mahasiswa Indonesia
di sini. Kita akan berkunjung ke rumah salah seorang di
an tar a mereka.”
Mereka berdua turun dari mobil dan bergegas ke arah
apartemen. Di tengah jalan mereka bertemu dengan anak
muda yang gayanya khas Indonesia.
“Assalamu’alaikum. Geng, mau ke mana?” sapa Pak
Rusli
“Anu Pak mau beli minyak goreng,” jawab anak
muda itu.
“Geng, kenalkan ini namanya Zul. Dari Demak. la
baru datang tadi malam,” kata Pak Rusli memperkenalkan.

Anak muda itu langsung menyalami Zul sambil
memperkenalkan diri,
“Saya Sugeng, dari Purworejo Jawa Tengah. Selamat
datang di Kuala Lumpur Mas.”
“Iya Mas. Terima kasih,” jawab Zul.
“Namanya Zul ya? Zul siapa lengkapnya?” tanya
Sugeng lagi.
“Aslinya Ahmad Zul. Tapi teman-teman di SMA
sering memanggil Zul Einstein.”
“Zul Einstein. Wah keren juga. Rencana mau masuk
UM?”
“Jika Allah mengijinkan.”
“Nanti saya bantu, insya Allah.”
“Terima kasih Mas Sugeng.”
“Pak Rusli saya jalan dulu ya. Saya cuma sebentar
kok. Langsung ke rumah saja Pak. Di rumah ada si Arif
sama si Yahya,” terang Sugeng.
“Baik Geng. Jangan lupa beli yang segar-segar ya,”
tukas Pak Rusli renyah.
“Beres Pak. O ya Pak jangan lupa lagi. Lantai sepuluh
Iho. Bukan lantai sembilan.”
“O ya terima kasih. Namanya juga sudah tua sering
lupa. Ayo Zul kita jalan.”
Pak Rusli dan Zul berjalan melewati samping
apartemen menuju apartemen berikutnya. Lalu masuk
lift yang mengantarkan mereka berdua sampai lantai
sepuluh. Keluar dari lift mereka berjalan ke arah kanan.
Di pintu flat tempat tinggal Sugeng dan teman-temannya
itu ada sriker bendera merah putih. Di bawahnya ada
tulisan: “Rawe-rawe rantas, malang-malang putung!”
Menandakan bahwa mayoritas penghuninya adalah
orang Indonesia dari Jawa.
Pak Rusli mengetuk pintu dan dibukakan oleh seorang
pemuda gempal berambut tipis. la hanya memakai sarung
dan kaos putih. Pemuda itu menyambut dengan senyum.

“O Pak Rusli. Silakan Pak.”
Pak Rusli dan Zul masuk. Pemuda itu memperkenalkan
diri pada Zul. Namanya Yahya. Ia berasal dari Malang.
“Tesisnya bagaimana, Ya. Sudah selesai?” tanya Pak
Rusli.
“Alhamdulillah sudah Pak. Minggu depan submit,
insya Allah,” jawab Yahya dengan wajah cerah.
“Langsung lanjut Ph.D., Ya?”
“Insya Allah Pak, tapi saya mesti laporan ke pihak
UIN Malang dulu. Semoga saja diijinkan untuk langsung
lanjut Ph.D. Doanya.”
“Allah memudahkan insya Allah.”
Akhirnya Zul tahu bahwa Yahya dulu kuliah di
Pakistan jurusan sejarah dan peradaban. Sepulang dari
Pakistan ia diterima jadi dosen di UIN Malang. Lalu
melanjutkan S.2 di UM, dan sebentar lagi selesai. Setelah
itu akan langsung melanjutkan S.3.
la juga tahu flat itu terdiri atas tiga kamar. Dua
kamar mandi. Dapur. Dan ruang tamu. Yang tinggal di
situ lima orang; Sugeng, Yahya, Arif, Rizal, dan Pak
Muslim. Yahya dan Pak Muslim sudah menikah.
Sedangkan yang lainnya masih bujang. Sewa flat itu
enam ratus ringgit per bulan, atau sekitar satu juta enam
ratus ribu per bulan. Baginya itu sangat mahal. Enam
ratus ringgit ditanggung oleh penghuni rumah itu yang
berjumlah lima. Sehingga masing-masing orang kena
beban 120 ringgit per bulan. Jika berjumlah enam, maka
masing-masing orang kena beban seratus ringgit.
Yahya juga bercerita, bahwa awal-awal di Kuala
Lumpur ia sempat bekerja mencuci piring di restoran
dengan gaji yang sangat mepet. Ia juga pernah kerja di
sebuah kedai foto copy. Bahkan ia pernah bekerja sebagai
tukang bersih-bersih WC di Gedung Putra World Trading
Centre atau biasa disingkat PWTC.
“Apa saja saya lakukan untuk bisa hidup dan

membayar uang kuliah. Meskipun diterima jadi dosen,
tapi saya belajar ini tanpa beasiswa. Saya dulu sempat
membawa isteri, tapi saya rasakan berat. Akhirnya
sementara ini isteri tinggal di Malang dulu. Semoga saja
nanti keadaan membaik. Dan saya bisa membawa isteri
lagi kemari untuk menemani membuat disertasi Ph.D.”
jelas Yahya pada Zul.
“Intinya tidak boleh malu. Tidak boleh menyerah.
Dan harus terus bergerak. Saya dulu awal-awal kuliah
di sini juga sama seperti Yahya. Hidup prihatin. Kerja
apa pun asal halal dan bisa membuat saya semakin kaya
saya lakukan. Alhamdulillah sekarang saya bisa membuka
usaha bekerjasama dengan orang Malaysia.
Cukup untuk menghidupi anak dan isteri. Begitu selesai
doktor saya langsung akan pulang ke Indonesia.” Pak
Rusli menambahi.
Tak lama kemudian Sugeng datang. Dan Arif yang
tadi tidur, terbangun. Pertemuan itu jadi semakin hangat.
Semua memberi semangat pada Zul. Zul merasa
menemukan orang-orang yang baik dan tulus. Yahya
bahkan menawarkan agar Zul tinggal saja di flat itu dan
bisa tinggal satu kamar dengannya.
“Tapi kamar saya agak sempit. Bagi saya tidak
masalah dihuni dua orang. Jika hati dan jiwa kita lapang
maka semua akan jadi lapang.” Ucap Yahya dengan
wajah cerah.
Tak ada keraguan bagi Zul untuk memutuskan
tinggal di flat itu bersama Yahya, Sugeng dan temantemannya.
Sore itu ia memutuskan untuk langsung
menginap di situ dan tidak kembali ke Subang Jaya.
Setelah mantap bahwa Zul tidak akan terlantar, Pak
Rusli mohon diri. Sebelum keluar pintu ia masih sempat
berkata pada Zul
“Saya akan coba mencari informasi. Jika ada
lowongan nanti saya beritahukan. Yang jelas optimislah,
bahwa Allah itu Mahakaya. Allah sudah mengatur jatah
rejeki hamba-Nya. Tergantung bagaimana hamba-Nya

itu memungutnya. Jika ada apa-apa. Perlu bantuan apaapa,
telpon saya saja. Tak usah sungkan ya Zul.”
“Iya Pak. Terima kasih atas segala kebaikannya.”
* * *
Malam itu Zul bertemu dengan seluruh penghuni flat
itu. la tidak merasa menjadi orang asing di rumah itu.
Malam itu juga ia mendapatkan saran-saran yang sangat
membantunya dalam menentukan langkah selanjutnya
di Malaysia. Semua yang ada di rumah itu ingin
memberikan bantuan semampunya.
Sugeng menawarkan diri untuk membantunya
mengurus pendaftaran di UM. Karena Zul masuk ke
Malaysia tanpa single entry maka urusan imigrasi pasti
akan sedikit ada masalah. Rizal yang sudah punya
pengalaman dalam masalah ini bersedia mendampingi
Zul jika nanti harus berurusan dengan masalah visa.
Yahya dan Arif akan membantu mencarikan informasi
kerja. Dan Pak Muslim, yang paling tua di rumah itu,
menawarkan sepeda motornya jika akan digunakan Zul.
Pak Muslim akan mengadakan penelitian di Sabah
selama tiga minggu. Berarti sepeda motornya bisa dipakai
selama itu.
“Ini masih bulan April. Awal semester bulan Juli.
Masih ada waktu sekitar tiga bulan. Sebaiknya Zul daf tar
dulu saja. Selama tiga bulan bekerja sungguh-sungguh
agar bisa membayar awal semester. Yang pasti jumlahnya
agak lumayan. Besok kita lengkapi syarat-syaratnya. Dan
lusa kita masukkan berkas ke IPS.7 Untuk uang
pendaftaran yang 30 dollar itu biar saya talangi dulu.
Jadi, dua hari kita targetkan berkas sudah masuk. Setelah
itu baru konsentrasi cari kerja. Bagaimana?” Jelas Sugeng.
“Saya ikut saja.” Lirih Zul.
“Coba lihat, mana ijazahmu? Kau bawa kan?”
7 IPS : Institute Postgraduate Studies.
Zul mengangguk dan mengambil tas hitamnya. la

keluarkan map berisi berkas-berkas pribadinya dari tas
itu. la berikan map itu pada Sugeng. Sugeng lalu
membuka dan meneliti dengan seksama. Ijazah SD sampai S.l
ada di situ. Sugeng lalu melihat ijazah S.l itu
dengan kening berkerut.
“Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia ya?”
“Iya Mas.” Jawab Zul pelan
“Pak Muslim, sini Pak!” Seru Sugeng pada Pak
Muslim yang sedang asyik menulis di depan layar
komputer di kamarnya. Pak Muslim langsung mendekat.
“Iya ada apa Geng?” tanya Pak Muslim sambil
membenarkan gagang kaca matanya.
“Zul ini, S.l-nya jurusan pendidikan bahasa Indonesia.
Sebaiknya kalau masuk S.2 UM di fakultas apa,
jurusan apa, Pak?”
Pak Muslim berpikir sejenak. Lalu berkata, “Lha Dik
Zul sendiri ingin masuk fakultas apa?”
“Fakultas pendidikan, Pak.” Jawab Zul seraya
mendongakkan kepalanya ke arah Pak Muslim yang
berdiri di samping Sugeng.
“Kalau gitu ya masuk fakultas pendidikan saja.
Jurusannya, kalau saya boleh menyarankan sosiologi
pendidikan saja.” Sahut Pak Muslim.
“Bagaimana dengan saran Pak Muslim, Zul?” tanya
Sugeng.
“Boleh. Saya sepakat.”
Malam itu Zul merasa menemukan sctitik cahaya
yang bisa dijadikan sedikit penerang bagi jalan masa
depannya. la kembali mendapatkan gairah hidup yang
baru. la merasakan kedamaian seperti rasa damainya saat
dulu bisa melanjutkan pendidikan setelah lulus SD. la
tetap bisa lanjut ke SMP meskipun harus dengan bekerja
membantu Pakdenya di Pasar Sayung sepulang sekolah.
la merasa bahagia saat itu, sebab banyak temantemannya

yang putus sekolah karena tidak ada biaya.
Mereka selesai SD langsung bekerja di sawah atau kerja
di pabrik-pabrik yang ada di Kawasan LIK Semarang.
Malam itu, untuk pertama kalinya ia tidur dalam
keadaan lebih nyaman dan tenteram. Dadanya terisi
cahaya optimisme dan semangat. Bertahun-tahun
sebelumnya ia selalu tidur dalam bayang kekuatiran, rasa
takut dan ketidakpastian hidup. Ia mengalami itu sejak
Pakdenya, orang yang merawatnya sejak kecil, meninggal
saat ia masih di bangku kelas 3 SMA. Sejak itu
ia seperti merasakan ketidakpastian hidup. Dengan
berusaha tetap tegar ia akhirnya berhasil juga menyelesaikan
SMA-nya bahkan bisa tetap kuliah. Dan selesai
juga kuliahnya. Namun selesai kuliah ia belum juga
mantap menapakkan kakinya. Hal itulah yang membuatnya
merantau. Dari Semarang ke Jakarta. Lalu ke
Batam. Dan akhirnya ke Malaysia.
Dan malam itu, setelah ia bertemu dengan orangorang
yang berpendidikan dan tulus, ia banyak
mendapatkan pencerahan. Kisah hidup Yahya yang
begitu rendah hati mau bekerja apa saja saat menuntut
ilmu membuatnya kembali terlecut. Ia dulu, saat kuliah
di Semarang, juga pernah mengalami apa yang Yahya
alami. Saat kuliah ia pernah bekerja menjadi tukang
becak, kuli panggul di Pasar Genuk, satpam di LIK, dan
terakhir penjaga parkir di Pasar Johar.
Yang ia rasakan, bedanya Yahya dengan dirinya
adalah Yahya begitu mantap dan bahagia dengan apa
yang dilakukannya. Yahya menganggap hal itu bukan
beban, tapi suatu kenikmatan. Yahya memasukkannya
sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian. Tapi dia
selama ini bekerja, selalu saja menganggap sebagai
beban. Dalam hatinya selalu saja masih ada rasa kuatir
dan merasa tertekan. Dan malam itu ia mendapatkan
pencerahan yang membuatnya merasa lebih tenang.
Malam itu ia tidur dengan bibir menyungging
senyum optimis. Ia optimis telah menemukan jalan untuk

memperbaiki masa depan. Ia tidur dengan sama sekali
tidak mengingat Mari, Iin, Sumiyati dan Linda di Subang
Jaya.
Sementara di Subang Jaya sana, Mari berangkat
tidur dengan perasaan kehilangan. Entah kenapa ia
merasa ada yang hilang dari hatinya. Ia telah mendapatkan
informasi pekerjaan untuk Zul. Dan ia pulang
dengan perasaan bahagia, sebab ia yakin Zul masih ada
di rumahnya. Dan ia akan memberikan informasi
pekerjaan itu pada pemuda itu. Ia akan melihat pemuda
itu bahagia lalu mengucapkan terima kasih padanya.
Namun ia kecewa saat ia dapati Zul tidak ada. Ia masih
berharap, malam itu Zul akan kembali ke rumah itu.
Namun ia kembali kecewa. Sampai pukul satu malam ia
menunggu Zul tidak juga muncul. Akhirnya ia tidur
dengan perasaan masygul.
***

Lima
Dua hari pertama di Pantai Dalam Kuala Lumpur,
Zul sibuk mengurus berkas-berkas pendaf tarannya ke
Universiti Malaya. Dengan sabar Sugeng menemani dan
mengantar ke sana kemari. Sugeng juga yang mengusahakan
rekomendasi dari dua orang guru besar di
Universiti Malaya (UM). Dan di hari ketiga berkas itu
berhasil dimasukkan ke Institute Postgraduate Program
(IPS). Zul mengambil program kerja kursus dan tesis di
Fakultas Pendidikan Jurusan Sosiologi Pendidikan.
“Kita tinggal menunggu surat panggilan dari UM.
Jika diterima nanti pihak IPS UM akan mengirim offer letter ke
alamat kita. Dengan offer letter itulah nanti kamu
mengurus registrasi dan lain sebagainya.” Jelas Sugeng
pada Zul setelah berhasil memasukkan berkas ke IPS.
“Berapa lama kita menunggu offer letter Mas?”
“Mungkin dua bulan lagi sudah kita terima. Sekarang
yang paling penting kamu mempersiapkan biaya untuk
registrasi jika diterima nanti. Jika ditotal paling tidak nanti
kamu harus keluar uang tiga ribu ringgit lebih.”
“Besar sekali ya Mas.”
“Ini untuk pertama kali saja. Setelah itu tiap semester
biaya SPP-nya terus turun. Kalau ditotal biaya kuliah di
sini dengan di Indonesia kurang lebih sama. Namun jika
kita bandingkan f asilitasnya, rasanya di sini lebih murah.
Hanya saja biaya hidupnya di sini cukup tinggi. Tetapi
dengan menyempatkan diri sambil bekerja, semua biaya
bisa ditutupi. Sekali lagi yang agak berat itu memang
biaya masuk awalnya.”
“Saya harus menyiapkan tiga ribu ringgit lebih ya
Mas.”
“Iya.”
Zul mengerutkan keningnya. Dalam waktu sekitar
tiga bulan ia harus mencari uang sebanyak itu. Ia agak
gamang, apakah ia bisa.

“Jangan kuatir, yang penting Zul berusaha dulu. Jika
nanti masih kurang, saya akan bantu mencarikan
pinjaman dulu. Yang penting, Zul bisa mulai kuliah untuk
sesi Juli yang akan datang.”
“Iya Mas, terima kasih atas segalanya. Saya akan
berusaha keras. Tadi pagi setelah shalat Subuh Mas Rizal
mengajak saya untuk kerja lembur di restoran sebuah
hotel nanti malam.”
“Kalau begitu ayo kita pulang sekarang Zul. Kau
perlu istirahat untuk persiapan nanti malam. Sementara
nanti pukul dua saya ada jadwal mengajar budak-budak8
Malaysia di Damansara.”
“Ayo Mas, berarti kita shalat Zuhur di surau di bawah
flat kita.”
“Iya.”
* * *
Sore itu menjelang Maghrib, Zul telah siap-siap untuk
mulai kerja pertama kalinya di negeri Jiran. Ia begitu
bersemangat. Sebab ia punya tujuan yang jelas untuk
apa bekerja. Rizal senang melihat Zul bersemangat. Ia
senang, sebab malam itu ada yang menemaninya.
Selama ini ia biasanya sendirian saja.
“Kita harus sampai di Hotel Grand Season sebelum
pukul setengah delapan. Pesta ulang tahun selebriti
Malaysia ini akan berlangsung dari pukul delapan sampai
pukul sebelas malam. Kita mungkin akan pulang sekitar
pukul satu malam. Sebab selain kita bertugas menjadi
pelayan yang menghidangkan makanan. Kita juga
bertugas membersihkan peralatan setelah acara itu.
Bagaimana kau siap Zul?”
“Siap Mas.”
“Ayo kita berangkat.”
8 Anak-anak. Orang Malaysia menyebut anak dengan kata
budak.

Mereka berdua lalu turun dari flat. Lalu dengan
sepeda Honda tua tahun tujuh puluhan mereka meluncur
menyisiri jalan raya Kuala Lumpur.
“Kenapa tadi tidak memakai motornya Pak Muslim
saja Mas? Lebih cepat.” Kata Zul saat melihat Rizal
berkali-kali melihat jam tangannya sambil mengendari
sepeda motor tuanya.
“Memakai milik sendiri meskipun tua seperti ini
rasanya lebih nyaman. Insya Allah tidak terlambat kok.”
Jawab Rizal.
“Semoga Mas.”
Mereka berdua akhirnya sampai di Hotel Grand
Season yang berada di kawasan Chow Kit tepat pukul
19.15. Mereka langsung shalat Maghrib. Selesai shalat
Maghrib mereka mendapat briefing dari penanggung
jawab restoran. Dan malam itu Zul bekerja dengan penuh
hati-hati dan dedikasi. Ia begitu semangat, seolah tidak
terasa lelah.
Dalam acara yang serba mewah dan glamour itu ia
bisa melihat dari dekat selebritis-selebritis papan
Malaysia. Termasuk diva pop Malaysia yang sangat
terkenal di Indonesia. Hanya saja ia tidak berani kenalan,
minta tanda tangan atau minta foto bersama. Dalam hati
kecil ada juga sebenarnya keinginan untuk sekadar
menyapa bahkan minta tanda tangan. Ia hanya
membayangkan jika bisa foto bersama artis paling
populer di Malaysia dan Indonesia itu, lalu bisa memasang
foto itu di kamarnya, atau mengirim foto itu pada
temantemannya
di Batam, pastilah ia akan merasa bahagia.
Namun ia tak memiliki keberanian untuk melakukan itu semua.
la juga merasa, sebagai pelayan, sangat tidak etis
jika sampai berani melakukan hal itu.
Di akhir acara, ia sempat diajak bicara oleh seorang
wartawati sebuah stasiun televisi Malaysia. Cantik. Ia
sangat tersanjung. Wartawati itu, entah iseng entah serius
menanyakan ia berasal dari mana? Lulusan apa? Dan

apa motivasinya kerja di restoran hotel itu? Ia menjawab
semuanya dengan jujur. Bahwa ia berasal dari Indonesia.
Lulus S.l dari sebuah universitas di Semarang. Dan kerja
di situ karena harus survive dan harus bisa membayar
biaya SPP-nya di UM. Wartawati itu agak terkejut.
“Jadi awak sekarang sedang buat master di UM?”
“Iya.”
“Dan awak ini bekerja untuk bayar studi awak?”
“Iya.”
“Wah boleh. Awak boleh dikata seorang wira9 sejati.
Saya takjub sama awak. Kalau boleh tahu ambil fakulti
apa?”
“Fakulti Pendidikan, spesialisasi Sosiologi Pendidikan.”
“Terima kasih. Saya sangat kagum dengan awak.
Semoga berjaya. Ini kad nama saya. Suatu masa nanti
kita lanjutkan pembualan kita ya? O ya lupa lagi, siapa
nama awak tadi?”
“ZulHadi.”
“Zul Hadi. Ada number yang bisa dikontak tidak?”
“Wah tak ada. Tapi saya ada alamat email mau?”
9 Kesatria, pahlawan.
“A…boleh,boleh.”
Zul lalu menyebutkan alamat emailnya. Wartawati
itu mencatatnya di note book-nya. Lalu wartawati itu
pergi sambil menganggukkan kepala dan melempar
senyum kepadanya. Zul balas mengangguk dan
tersenyum.
Pengalaman pertamanya kerja di Kuala Lumpur
malam itu sangat mengesankan. Malam itu, ia pulang
pukul setengah dua malam. Di tengah perjalanan hujan

deras turun. Rizal nekat menerobos hujan itu. Dan
malangnya, rantai sepeda motor tua itu putus. Jadilah
mereka berdua jalan kaki sepanjang empat kilometer
sambil menunrun motor. Mereka sampai di Pantai Dalam
pukul lima. Rizal minta maaf kepada Zul,
“Sorry Zul ya. Jika pakai sepeda Pak Muslim,
mungkin kita tidak perlu jalan kaki sejauh itu.”
“Tak apa-apa Mas. Malah jadi kenangan indah tak
terlupakan.”
“Ya. Nanti bisa kita ceritakan ini pada anak cucu kita
hahaha.”
“Hahaha.”
Begitulah. Sejak itu Zul larut dalam dunia kerjanya.
Ia benar-benar mati-matian bekerja. Siang dan malam.
Demi bertahan hidup dan demi bisa membayar uang
kuliahnya. Selain bekerja insidentil di hotel-hotel kalau
ada acara-acara besar, secara rutin siang hari Zul bekerja
di pom bensin selama enam jam. Rizal jugalah yang
mencarikan kerja di pom bensin itu. Dan malam hari ia
ikut Arif bekerja sebagai pelayan Jamaliah Cafe di daerah
Taman Seputeh. Biasanya ia berangkat pukul tujuh
malam dan pulang pukul tiga pagi. Nyaris ia hanya
istirahat beberapa jam saja setiap hari. Karena kesibukannya
itu, ia belum juga sempat mengambil barangbarangnya
yang ia tinggal di rumah Mari, di Subang
Jaya. Ia bahkan nyaris melupakannya.
Suatu hari ia hanya bisa mengirim SMS kepada Mari:
“Assalamu’alaikum Mbak Mari. Maaf ya, sy blm bs ke
tmpt Mbak. Juga maaf pada wkt itu tdk smpt pamitan.
Alhamdulillah sy sdh dpt kerja. Dan sdh dpt tmpt tnggl
yg nyaman. Trs trng sy sdng sngt sibuk. Nnti jk sdh agak
longgar sy k tmpt mbak untk ambil barang insya Allah.
Terima kasih atas sgl kebaikannya ya. Dari adikmu: Zul.”
Dalam SMS itu ia mengatakan sebagai adik Mari.
Karena ia merasa Mari memang tepat dijadikan
kakaknya. Dan saat bertemu untuk pertama kali ia
merasakan Mari begitu baik. Dan seolah Mari menganggap

dirinya sebagai adiknya.
Smsnya itu langsung dibalas oleh Mari,
“Wassalamu’alaikum wr wb. Alhdulillah kau ternyata
masih hidup🙂 Aku smpat khwtir krn kau pergi dan dua
bulan tdk ada kbrnya. Ya, smg sehat dan sukses.
Barangbarangmu
masih terjaga dgn baik di sini. Oh ya skdr
informasi, jk nnti ke sini mngkn tak akan bertm Mbak Iin
lagi. Dia sdh pulang ke Indonesia tiga hari yang lalu.
Dan kemngkinan besar tidak akan kembali lagi ke sini.
Terima kasih telah menganggapku sebagai kakak.
Selamat bekerja. O ya apakah ini nomor hpmu? Salam
sayang dari kakakmu: Mari.”
Ia bahagia sekali membaca SMS itu. Ia merasakan
bahwa Mari memang orang yang tulus. Menolong
dirinya tanpa pamrih apapun. Terkadang terbersit dalam
pikirannya andai saja Mari masih gadis dan umurnya lebih
muda darinya. la merasa bisa jatuh cinta padanya.
Cepat-cepat ia menepis pikiran yang tidak-tidak itu. la
lalu menjawab pertanyaan Mari,
“Mbak ini bukan nomor hp saya. Tapi nomor teman
saya. Tapi saya punya alamat email. Jika ingin
mengabarkan sesuatu kpd sy, ini alamatnya:
zoel_guanteng@okaymail.com. Terima kasih.”
Ia lalu menerima jawaban singkat dari Mari,
“Ya. Baik.”
* * *
Zul terus berjuang dan bekerja. Suatu hari datanglah
surat dari Universiti Malaya. Zul benar-benar diterima
di perguruan tinggi tertua di Malaysia itu. Dan setelah
mati-matian bekerja siang dan malam selama tiga bulan,
ia bisa membayar registrasi pascasarjananya. Namun
uangnya habis untuk registrasi dan mengurus student
pass. Padahal ia harus segera aktif kuliah. Ia tidak bisa
lagi kerja full time seperti dulu. Tapi pemasukannya harus

tetap seperti dulu. Ia agak bingung menyikapi hal itu.
Apalagi jika ia harus naik bus setiap hari dari Pantai Dalam
ke UM. Ongkos hidupnya jadi semakin bertambah.
Apa yang ia hadapi itu ia sampaikan kepada Yahya,
orang saat ini ia anggap paling dekat dengannya. Sebab
Yahya tinggal satu kamar dengannya. Yahya menyimak
apa yang disampaikan Zul dengan penuh perhatian. Ia
menjadi pendengar yang baik. Setelah Zul menyampaikan
masalahnya secara tuntas, Yahya menanggapi,
“Bisa disiasati. Sesungguhnya setiap kali Allah menghadapkan
manusia pada satu masalah, sebenarnya Allah
juga menyiapkan jalan keluarnya. Inna ma’al ‘usriyusra.
Sesungguhnya bersama kesukaran itu ada kemudahan.
Begitulah Al-Quran membahasakan. Apa yang kaualami
sekarang ini pernah saya alami. Kau masih lebih
beruntung Zul, sebab bisa bayar registrasi tanpa
berhutang. Saya dulu sampai berhutang. Mari kita
petakan apa yang kauhadapi satu per satu.
“Jika kau aktif kuliah artinya waktumu untuk bekerja
di siang hari sangat sedikit. Tapi kau bisa bekerja Sabtu
dan Minggu. Sebab masa aktif kuliah cuma lima hari.
Tapi saya sering lihat juga, bahwa untuk pascasarjana
fakulti pendidikan sering masuk sore hari. Sebab
mahasiswa dari pribumi Malaysia banyak yang dari
kalangan guru. Pagi mereka mengajar, baru mereka bisa
masuk kuliah sore hari. Yang paling penting, kau harus
pastikan jadwal kuliah secepatnya. Baru bisa menata
kapan dan di mana kau bisa kerja. Dan ada lagi yang
juga sangat penting Zul, yaitu mulai sekarang kau harus
memiliki sepeda motor sendiri. Selama ini kau bisa pinjam
Rizal, Pak Muslim, atau siapa saja yang sepeda motornya
nganggur. Tapi sekarang tidak bisa Zul. Kau sudah punya
jadwal kuliah. Dan kau akan punya jadwal kerja sendiri,
yang berbeda dengan Rizal sekalipun. Kalau kemarin
kau bisa berangkat kerja bersama Rizal, sekarang belum
tentu bisa.
“Menurut saya, sepeda motor sudah kebutuhan primer
bagi mahasiswa UM. Tidak sekunder lagi. Bahkan kalau

disuruh memilih penting mana sepeda motor sama
komputer? Saya akan langsung jawab; penting sepeda
motor. Kita tidak akan leluasa bergerak tanpa sepeda
motor. Tapi kita masih bisa mengerjakan tugas dengan baik
meskipun tidak memiliki komputer. Sebab di kampus
fasilitas komputer sangat berlebih. Di mana-mana ada
komputer dan internet. Itu yang bisa saya sarankan Zul.”
Zul memikirkan dan merenungi saran Yahya benarbenar.
Apa yang disarankan Yahya ia rasakan banyak
benarnya. Ia harus punya sepeda motor meskipun tua
dan butut. Akhirnya dengan memberanikan diri, ia
meminjam uang pada Pak Muslim untuk membeli sepeda
motor. Ia membeli sepeda motor yang murah, Suzuki
tahun tujuh puluhan akhir.
“Yang penting bisa jalan dan mengantarkan sampai
tujuan.” Gumamnya dalam hati.
Setelah itu ia melihat jadwal kuliahnya. Dan menata
jadwal kerjanya. Dengan terpaksa kerja di pom bensin
ia tinggalkan. Sebab kerja di pom bensin itu banyak
bertabrakan dengan jadwal kuliahnya. Sebagai gantinya
ia kerja di warung runcit. Berangkat pukul delapan
sampai pukul dua siang. Setiap hari. Jadwal kuliahnya
banyak di sore hari. Mulai pukul tiga atau pukul empat.
Dan seringkali selesai pukul sembilan malam. Di atas
pukul sembilan masih ia gunakan untuk bekerja di kedai
Jamaliah Cafe. Hanya dua jam setengah saja. Dari pukul
setengah sepuluh sampai pukul dua belas malam. Ia
hanya punya waktu untuk belajar setelah shalat Subuh.
Dan itu ia gunakan sebaik-baiknya. Jika setelah Subuh
ia tidak belajar itu artinya ia tidak punya waktu lagi untuk
belajar. Maka baginya waktu setelah shalat Subuh sangat
mahal. Ia merasa beruntung tinggal satu kamar bersama
Yahya. Sebab Yahya punya kebiasaan belajar setelah
shalat Subuh.
“Saya belajar setelah shalat Subuh ini sejak di SD.
Saya ini aneh, untuk buku-buku yang serius saya hanya
bisa konsentrasi jika membacanya pada pagi hari. Ya
setelah shalat Subuh itu. Biasanya kalau yang saya baca
setelah shalat Subuh itu banyak melekatnya di otak.”

Kata Yahya pada Zul suatu ketika.
“Dan lagi setelah shalat Subuh itu waktu yang penuh
barakah. Baginda Nabi sudah menjelaskan bahwa
barakah untuk umatnya diturunkan pada waktu pagi.
Jika kita ingin dapat banyak barakah ya berarti kita harus
menghidupkan waktu pagi kita. Waktu Subuh dan
setelah Subuh kita.” Sambung Yahya.
“Wah cocok sekali apa yang Mas Yahya sampaikan
dengan fenomena yang saya amati. Itu orang-orang
China yang kaya-kaya. Baik di Indonesia atau di
Malaysia, mereka itu selalu membuka toko dan
dagangannya pagi-pagi sekali. Saya punya teman di
Batam, dia pernah menjadi pembantunya orang China
di Jakarta. Dia cerita, tuannya itu sudah bangun pagi
sejak pukul empat pagi. Begitu bangun pagi langsung
melihat siaran televisi dunia. Melihat indeks harga saham
dunia. O jadi nyambung sama barakahnya waktu pagi.”
“Iya Zul. Semestinya kita harus bangun lebih pagi
dari orang China.”
“Benar Mas.”
* * *

Enam
Tak terasa Zul telah melewati satu semester. Selama
itu ia seperti tidak mengenal siang dan malam. Hariharinya
ia lewati dengan bekerja dan belajar. Bekerja dan
belajar. Ia tampak lebih kurus dari hari pertama saat ia
tiba di Malaysia. Hidup setengah tahun lebih bersama
Yahya membuatnya lebih banyak tahu tentang ajar an
agamanya. Ia yang selama ini tidak mendapat pengajaran
agama secara mendalam, banyak mendapat
masukan-masukan tentang keindahan Islam. Sedikit demi
sedikit Yahya memberikan pencerahan, tanpa terasa.
Tidak ada waktu khusus mengaji pada Yahya. Cukuplah
interaksi harian menjadi tempatnya menimba ilmu.
Malam itu Kuala Lumpur hujan deras. Zul bangun
dan shalat Tahajjud. Di keheningan malam itu ia
memuhasabahi dirinya sendiri. Ia merenungi perjalanan
hidupnya selama ini. Banyak sekali tingkah lakunya yang
jauh dari perilaku yang dibenarkan oleh agama. Ia jadi
teringat masa SMA-nya dulu. Ia pernah pacaran dengan
anak SMA tetangga desa. Ia pacaran diam-diam.
Pakdenya, yang menjadi pengasuhnya, tidak pernah tahu.
Ia pernah pergi dengan pacamya itu malam mingguan di
Simpang Lima Semarang. Dan astaghfirullah ia bergandeng
tangan dan duduk berpelukan mesra dengan
pacarnya itu sambil nonton ramainya kawasan Simpang
Lima. Ia putus dengan pacarnya, setelah lulus SMA.
Pacarnya itu dikawinkan paksa oleh orangtuanya. Dan ia
tidak memberitahukan hal itu kepadanya. Tahu-tahu ia
mendapat kabar pacarnya sudah kawin dan hidup
bersama suaminya di luar Jawa. Ia sempat sakit hati. Lalu
saat kuliah di IKIP ia sempat pacaran lagi. Hanya bertahan
dua bulan. Ia putuskan pacarnya itu setelah ia tahu
pacarnya itu temyata punya pacar selain dia. Ia sakit hati.
Setelah itu ia tidak pernah pacaran lagi. Dua kali ia dikhianati
perempuan, dan baginya itu cukup. Ia tak mau lagi.
Ia bersyukur kepada Allah yang menjaganya, hanya
dua kali saja pacaran. Dan tidak sampai melakukan yang
lebih dari sekadar bergandeng tangan dan berpelukan.
Ia tidak bisa membayangkan jika Allah tidak menjaganya.

Mungkin ia telah berbuat maksiat yang lebih besar
lagi madharatnya.
Dari Yahya ia tahu bahwa tidak halal menyentuh
tubuh perempuan yang bukan mahramnya. Tidak halal
berasyik-masyuk dengan perempuan yang bukan
isterinya. Pacaran adalah cara setan menggiring umat
manusia agar jatuh pada perbuatan nista yang dikutuk
semua agama, yaitu zina. Banyak orang melakukan
pacaran yang—karena masih disayang Allah—diselamatkan
oleh Allah dari dosa besar itu. Namun tidak
terhitung jumlahnya manusia yang melakukan pacaran
dan akhirnya jatuh ke lembah nista itu, yaitu melakukan
perzinahan berulang-ulang kali.
Zul jadi merinding mengingat hal itu. Berulang-ulang
kali ia mengucapkan istighfar. Ia membayangkan seperti
apa besar dosanya. Berapa kali ia bermesraan dan
berpelukan dengan perempuan yang tidak halal baginya.
“Astaghfirullahal adhim. Ya Allah ampuni dosadosaku.
Ampuni kebodohanku. Ampuni perbuatanperbuatan
jahiliyahku.”
Ia menangis bila mengingat yang terjadi pada teman
satu kelasnya di SMA. Dua sejoli si Fulan dan si Fulanah.
Mereka berpacaran dan kebablasan. Si Fulanah hamil.
Keduanya mengakui perbuatan keji itu pada pihak
sekolah. Akhirnya keduanya dinikahkan oleh keluarga
mereka. Dan tepat satu minggu sebelum ujian akhir
keduanya dikeluarkan dari sekolah. Sebelum pergi ke
Jakarta ia mendengar kabar keduanya cerai. Lebih
menyedihkan lagi si Fulanah kabarnya bekerja di Sunan
Kuning10 dan si Fulan dipenjara karena terlibat curanmor.
10 Sunan Kuning adalah nama sebuah lokalisasi di Kota
Semarang, lebih dikenal
dengan singkatan SK.
Jika Allah tidak mengasihinya, bisa jadi nasibnya
lebih buruk dari si Fulan dan si Fulanah. Sebab saat ia
pacaran ia nyaris pernah melakukan perbuatan yang
dilarang itu dengan pacarnya. Zul kembali menangis

mengingat hal itu,
“Ya Allah kalau tidak Kauselamatkan diriku. Akan
jadi apakah diriku ini? Akan jadi budak setankah? Akan
jadi makhluk yang durhaka kepada-Mu kah? Ya Allah,
terima kasih ya Allah telah menyelamatkan diriku. Ya
Allah aku ingin hidup lurus di jalan-Mu. Ampunilah dosadosaku
yang telah lalu. Limpahkanlah hidayah-Mu dan
jagalah diriku dari perbuatan maksiat dengan penjagaan-
Mu yang tidak pernah luput sekejap pun juga.”
Di akhir muhasabahnya ia teringat kebersamaannya
dengan Man dan teman-temannya. Juga perjumpaannya
dengan Linda. Ia mohon ampun kepada Allah jika ada
perbuatannya yang dosa, juga memintakan ampun
kepada Allah untuk Mari, Iin, Sumi dan Linda. Walau
bagaimanapun Mari telah memberikan pertolongan
padanya.
Pagi harinya entah kenapa ia merasa ingin bersilaturrahmi
ke rumah Mari di Subang Jaya. Beberapa kali ia
menepis keinginan itu. Ia katakan pada dirinya bahwa
besok-besok masih ada waktu untuk mengambil
barangbarangnya.
Namun keinginannya untuk pergi ke rumah
Mari entah kenapa terus mendesaknya.
Pada akhirnya ia tetap merasa harus bersilaturrahmi
hari itu dan pagi itu juga. Ya, bersilaturrahmi sekadarnya
saja. Sambil mengambil barang-barangnya yang masih
tertinggal di sana. Ia belum mengucapkan terima kasih secara
langsung pada Mari. Selain itu ia masih memegang
kunci rumah itu. Ia benar-benar lupa kalau memegang
kunci milik Linda. Ia harus mengembalikan kunci itu
segera.
Pagi itu tepat jam delapan, setelah sarapan roti canai
ia langsung ke stasiun KTM. Ia tidak membawa apa-apa.
Kecuali tas cangklong hitamnya. Ia bahkan tidak
memakai sepatu, hanya memakai sandal jepit hitam. Dari
stasiun Pantai Dalam ia ke KL Sentral. Lalu dari KL Sentral
ia naik bus ke Subang Jaya. Di tengah perjalanan ketika
bus baru keluar dari KL Sentral hujan turun dengan deras.

Bus tetap melaju dengan tenang. Zul menikmati indahnya
kota Kuala Lumpur dalam siraman air hujan. Air
mengalir dengan teratur ke selokan-selokan yang diatur
rapi. Paru-paru kota yang ada di hampir setiap sudut
kota menyerap air hujan dengan segera. Tak ada banjir
tak ada air menggenang. Zul boleh salut pada tata kota
Kuala Lumpur. Bus melaju dengan kecepatan sedang dan
sampai di Subang Jaya pukul sepuluh siang.
Zul turun dari bus. Hujan masih turun rintik-rintik.
Ia menutup kepalanya dengan tas hitamnya. Iaberjalan
sambil mengingat-ingat jalan menuju rumah Mari.
Sambil berjalan ia meraba saku celananya untuk meyakinkan
bahwa kunci yang dulu dipinjamkan oleh Linda telah terbawa.
Ia meraba dan menemukannya. Ia melangkah dengan cepat. Ia
telah memasuki kawasan Taman Subang Permai. Ia ingat jalan
depan belok kanan.
Rumah keempat dari ujung jalan itulah rumah Mari.
Tiba-tiba hatinya berdegup kencang. Ia teringat
Linda. Yang ada di rumah itu pada waktu siang biasanya
adalah Linda. Yang lain pergi kerja. Dan hujan-hujan
begini ia akan mengetuk rumah itu dan bertemu Linda.
Yang bisa jadi ia akan mengenakan pakaian yang tidak
menjaga susila seperti dulu lagi. Ia jadi ragu. Antara
meneruskan langkah atau pulang. Sementara rinai hujan
masih terus turun. Akhirnya ia nekat tetap maju
meneruskan langkah. Niatnya adalah mengembalikan
kunci, mengambil barang-barangnya, dan menyampaikan
rasa terima kasih. Bukan yang lain. Ia meniatkan
diri untuk tidak lama di rumah itu. Mungkin cuma dua
atau tiga menit saja. Ia bisa beralasan sibuk pada Linda.
Sejurus kemudian Zul sudah sampai di depan rumah
Mari. Ada mobil Proton Saga berwarna merah hati di
depan gerbang. Pintu besi rumah itu terbuka. Namun
pintu kayunya tertutup rapat. Artinya ada orang di dalam.

Tiba-tiba ia mendengar suara barang dibanting.
Seperti piring. Hujan kembali turun semakin lebat. Ia
mempercepat langkah menuju teras. Bersama suara
guntur yang menggelegar ia mendengar suara perempuan
menjerit-jerit minta tolong dari dalam rumah. Ia
kaget. Spontan ia lari ke pintu. Ia menggedor-gedor
pintu. Pintu terkunci.
Ia ingat, bahwa ia membawa kunci rumah itu. Suara
perempuan dari dalam rumah kembali menjerit-jerit
minta tolong.
“Toloong, tolooong! Jangan! Jangan!”
Halilintar kembali menyambar. Ia menyangka suara
itu adalah suara Linda yang mungkin hendak dianiaya
oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Walaupun ia
tidak suka dengan perbuatan dan cara berpikir Linda,
tapi ia merasa perempuan itu tetap harus ditolong. la
membuka pintu. Dan…
Alangkah terkejutnya ia. Di ruang tamu itu ia melihat
Mari tengah bergelut melawan seorang lelaki gundul
bertubuh besar yang hendak merogolnya.11 Mari merontaronta
sekuat-kuatnya. Kedua kakinya menendangnendang.
Pakaiannya bagian atas tidak sempurna lagi
menutupi tubuhnya. Ia melihat Mari mati-matian
mempertahankan
celana jeansnya yang hendak dilepas paksa.
Melihat kemungkaran itu emosi Zul tidak tertahankan
lagi. Darahnya mendidih. Ia langsung membentak
dengan sekeras-kerasnya,
“Hai bajingan! Berhenti kau! Kurang ajar!”
Bersama dengan meluncurnya bentakan keras dari
mulutnya ia langsung melompat menendang lelaki itu,
tepat saat lelaki itu kaget dan menoleh ke arahnya.
Tendangan itu mengenai muka lelaki gundul itu. Tepat
di hidungnya. Tak ayal tubuh lelaki gundul itu
terpelanting dari atas tubuh Mari. Mari langsung bangkit
dan lari ke pojok ruangan sambil mendekap tubuhnya

yang gemetar ketakutan.
“Bangsat! Siapa kau berani mencampuri urusanku!”
Lelaki itu berdiri dengan amarah memuncak di ubunubunnya.
Ia memegangi hidungnya yang terasa sakit.
Zul tidak gentar. Ia pernah dikeroyok oleh preman Pulo
Gadung dan tidak mat! meskipun saat itu tidak bisa
dikatakan ia menang atau kalah. Yang jelas ia tidak mati.
Zul balik menggertak,
“Justru seharusnya aku yang harus bertanya. Siapa
kau bajingan berani kurang ajar sama kakakku!”
“Apa? Mari itu kakakmu! Dasar penjahat. Rupanya
kau ya yang membawa lari Mari kemari. Ketahuilah aku
adalah Warkum, suami Mari yang sah. Aku ingin
membawa dia kembali ke rumahku!”
“Dasar bajingan iblis! Kau bukan suamiku lagi! Aku
tidak sudi melihatmu apalagi kembali padamu!”
“Tutup mulutmu perempuan sundal! Mau tidak mau
kau tetap isteriku! Dan kau kucing alas, jangan ikut
campur urusan rumah tangga orang lain ya! Atau….”
“Atau apa? Aku sudah tahu semuanya. Kau dan Mari
tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kau boleh bawa Mari
ke mana saja asal bisa melangkahi mayatku!”
“Kurang ajar!”
Lelaki botak itu mengayunkan pukulan tangannya
dengan sekuat tenaga. Jika pukulan itu mengenai dada
Zul, bisa jadi dada yang tipis itu akan rontok. Tapi Zul
yang sudah pernah belajar karate saat kuliah dan pernah
berkelahi dengan preman dengan tenang mengelit sambil
menyarangkan tendangan ke perut Warkum. Warkum
terhuyung. Emosinya semakin menghebat.
“Setan alas!”
Ia langsung mengambil kursi plastik dan mengayunkan ke
kepala Zul. Zul menghindar. Warkum terus
memburu. Satu sabetan Warkum mengenai pelipis Zul.

Langsung berdarah. Di pojok ruangan Mari menjerit
histeris. Zul berusaha tetap tenang. Ia mencopot
sandalnya yang ia rasa mengganggu gerakannya. Ia mencari
peluang untuk menyarangkan serangan yang
telak. Warkum terus memburunya dengan ganas.
Melihat darah mengalir di pelipis Zul, semangat
Warkum untuk membunuh semakin membara. Pada saat
Warkum merasa bisa menghantam Zul dengan kursi
plastiknya ia langsung mengerahkan segenap tenaganya.
Sabetan itu sangat keras. Pada saat menyabet kaki
Warkum tidak kokoh menapak di bumi. Dengan gesit
Zul mengelak dengan menjatuhkan diri ke lantai. Lalu
ia melakukan tendangan memutar sekeras-kerasnya ke
arah kemaluan Warkum. Tendangan itu sangat cepat dan
keras. Tendangan itu yang tak lain adalah jurus buaya
mengibaskan ekor yang pernah ia pelajari dari Mbah
Tarmidi yang dikenal sebagai guru silat di desanya.
Kekuatan yang digunakan menyerang dalam tendangan
itu adalah kekuatan putaran kaki dan senjata untuk
melakukan serangan adalah kerasnya tumit kaki.
Tendangan Zul sangat akurat.
Akibatnya…
“Plakk!”
Tendangan Zul tepat mengenai sasaran. Tumitnya
menghantam kemaluan Warkum dengan sekeraskerasnya.
Warkum langsung terjengkang dan mengerang
kesakitan. Kursi plastik itu terlepas dari tangan
Warkum. Zul tidak mau membuang kesempatan. Ia
langsung menyarangkan tendangan keras ke rahang
Warkum. Warkum kembali mengaduh.’ Ia berusaha
bangkit. Namun Zul langsung memukulnya dengan
kursi kayu sekeras-kerasnya. Warkum mengerang sambil
mengucapkan kata-kata kotor. Zul melihat televisi yang telah
hancur. la angkat televisi itu dan ia tumpukkan ke
muka Warkum. Muka itu langsung luka dan berdarah.
Seketika itu Warkum mengaum minta ampun.
“Sudan aku mengaku kalah! Aku tidak akan

mengganggu kalian lagi. Tolong maafkan aku!” teriak
Warkum sambil memegangi kemaluannya.
Zul melihat ke arah Mari.
“Mbak mau memaafkan dia?” tanya Zul.
Mari menggelengkan kepala.
Zul melangkah ke kamar Mari yang terduduk
gemetar di pojok ruangan. Ia pernah melihat ada palu di
bawah meja rias. Jika tidak dipindah palu itu pasti masih
ada di sana. Dan benar palu itu masih ada di sana. Zul
langsung memungutnya. Sementara Mari masih
mematung di pojok ruang tamu. Warkum berusaha
bangkit. Pada saat ia mau bangkit Zul telah kembali ke
ruang itu dan langsung menendang kepala Warkum
yang gundul itu sekeras-kerasnya. Warkum langsung
mengaduh,
“Ampun tolong. Aku mengaku kalah! Biar aku pergi!
Ampuni aku!”
Kini tangan kanan Zul memegang palu erat-erat.
“Bagaimana Mbak Mari, mau mengampuni penjahat
ini?”
Mari menggelengkan kepala.
Begitu melihat Mari menggelengkan kepala, Zul
langsung memukulkan palu yang ada di tangan
kanannya itu ke jari kaki kanan Warkum sekeraskerasnya.
Zul memukulnya dengan cepat tiga kali
berturut-turut. Warkum merasakan tulang jari kakinya
remuk. Ia menjerit sekuat-kuatnya minta ampun.
“Bagaimana Mbak Mari mau memberi ampun?”
tanya Zul.
Mari diam saja. Warkum memandang Zul yang saat
itu berwajah sangat dingin. Ia berusaha menyeret
tubuhnya ke belakang.
“Berhenti di tempat! Atau aku pukul gundulmu
sampai pecah. Aku tahu kau bajingan dan punya anak

buah banyak. Tapi kau harus tahu aku ini tahu
bagaimana cara memecah dan meremuk tulang kepala
seorang penjahat seperti kamu. Tahu!” Zul membentak.
Warkum seketika diam tak berani bergerak. Ia sudah
benar-benar tidak berdaya.
“Bagaimana Mbak Mari, mau mengampuni penjahat
ini?” Zul kembali bertanya pada Mari.
Mari kembali menggelengkan kepala. Zul langsung
mendekati Warkum. Warkum mengaduh minta ampun.
“Letakkan tangan kananmu di lantai!” Perintah Zul.
Warkum malah menggenggam tangan kanannya
dan tangan kirinya seolah-olah hendak melindunginya.
“Dengar, sekali lagi letakkan tangan kananmu di lantai
atau aku akan menghancurkan kemaluanmu dan kau
akan mampus saat ini juga!” Gertak Zul dengan muka
merah padam. Warkum yang tak punya nyali itu dengan
tubuh gemetar meletakkan tangan kanannya di lantai.
“Hmm itu ya tangan yang selama ini digunakan
untuk menjahati dan menodai kaum perempuan. Baik
nihrasakan!”
Zul memukulkan palunya ke jari-jari Warkum
dengan keras beberapa kali. Warkum merasakan sakit
luar biasa. Sampai ia tidak bisa lagi menjerit.
“Ini pertanyaan saya terakhir, Mbak Mari mau
mengampuni penjahat ini? Jika tidak palu ini akan
mengeluarkan otak penjahat ini dari batok kepalanya.
Biar dia mampus di sini dan tidak akan mengganggu
Mbak Mari lagi!”
Mendengar kata-kata itu Warkum kembali memohon
ampun. Warkum melihat bahwa ancaman Zul bukan
gertak sambal saja. Ia melihat pemuda kurus yang
menghajarnya ini punya nyali yang luar biasa dan jika
nekat matanya seolah buta.
“Mari, to… tolong maafkan aku! Aku tak ingin mari.
A… aku khilaf. A… aku janji tidak akan mengganggumu

lagi dan tidak akan menampakkan wajah di hadapanmu
lagi!” Kata Warkum mengiba dengan suara terbata-bata.
“Bagaimana Mbak Mari? Ini pertanyaan saya
terakhir!” tanya Zul dengan wajah dingin.
Mari bangkit dan melangkah lalu meludahi Warkum.
“Saat ini aku belum bisa memaafkan dia Zul. Tapi
biarkan dia pergi. Biarkan dia hidup. Jika kau bunuh dia
nanti urusannya panjang!”
“Aku tahu dunia preman. Urusannya tidak akan
panjang Mbak. Kalau mau biar kubereskan dia. Sampah
seperti dia inilah yang merusak kesucian anak gadis di
mana-mana. Dia tak pantas hidup!”
“Biarkan dia pergi Zul!”
“Baik Mbak.”
Warkum langsung berkata,
“Te… terima kasih Mari!”
“Hei, cepat pergi. Sebelum aku berubah pikiran!
Ingat, hari ini kau berhutang nyawa pada Mbak Mari.
Sebab jika tidak karena dia menyuruh membiarkanmu
pergi, gundulmu itu pasti sudah hancur! Cepat pergi!”
Bentak Zul dengan mata dipelototkan.
Dengan susah payah Warkum bangkit. Zul mengambil
kain penutup meja dan melempar ke muka Warkum.
“Hei, usap lukamu dengan ini!”
Warkum berdiri. Ia mengusap darah yang mengalir
dimukanya. Juga darah yang keluar dari jari-jari tangan
kanannya yang hancur. Dengan langkah pincang tertatihtatih
ia berjalan keluar rumah. Di luar hujan tinggal
menyisakan gerimis. Zul mengikuti sampai di pintu. Ia
mengamati Warkum dengan pandangan dingin. Susah
payah Warkum masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu
menghidupkan mesin mobilnya dan meninggalkan
rumah itu. Begitu deru mobil itu tidak terdengar lagi Zul

masuk dan langsung duduk di sofa.
Mari langsung menghambur bersimpuh menangis
di kaki Zul. Mari menangis terisak-isak mengucapkan
rasa terima kasih dengan terbata-bata. Zul terpana sesaat
seakan hilang kesadaran. Ia mematung tak tahu harus
berbuat apa menerima luapan keharuan Mari yang
ditumpahkan sepenuhnya kepadanya. Beberapa saat
kemudian kesadarannya pulih kembali.
“Mbak Mari sudahlah. Tolong Mbak bangkit ke
kamar dan merapikan pakaian Mbak!” Ucap Zul pelan.
Mari menghentikan isakannya. la melihat tubuhnya
sendiri. Barulah ia menyadari ada bagian tubuhnya yang
seharusnya tertutupi tapi tidak tertutupi. Baju yang
seharusnya menutupi aurat itu sobek. Dan penutup aurat
di bawah baju telah putus dan tidak lagi menempel di
badannya. Ia tidak menyadari hal itu sebelumnya karena
ketegangan dan ketakutan luar biasa.
Begitu sadar muka dan perasaannya berubah
seketika, dari haru menjadi malu. Mari langsung
melindungi bagian itu dengan menutupkan bajunya
yang sobek, lalu menyilangkan kedua tangannya ke
dada. Kemudian ia bangkit dan bergegas ke kamarnya.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menunjukkan
bahwa ia malu luar biasa.
Zul menarik nafas dalam-dalam. Ia memejamkan
kedua matanya. Punggungnya ia sandarkan sepenuhnya
ke sofa. Ia tak membayangkan akan pernah berkelahi
dengan penjahat yang hendak memperkosa seorang
wanita seperti yang baru saja terjadi. Ia jadi teringat
keinginannya yang sangat kuat untuk pergi ke rumah
ini. Keinginan yang tidak bisa ditepisnya sama sekali.
Rupanya ia harus datang untuk membela orang yang
pernah berbuat baik padanya.
* * *

Tujuh
Zul menarik nafas dalam-dalam. Ia masih memejamkan
kedua matanya sambil menyandarkan punggungnya
ke sofa. Inilah untuk kedua kalinya ia bertarung
dengan penjahat. Dan kali ini ia menang. Ia merasa puas
karena bisa memberi ganjaran setimpal pada penjahat
berkepala gundul itu.
Mari masih berada di dalam kamarnya.
Zul kembali menarik nafas. Tiba-tiba ia merasa ada
yang mengalir di ujung mata kanan turun ke pipi. Ia
raba. Darah. Darah itu mengalir dari pelipisnya yang luka.
Namun ia yakin luka itu tidak parah. Paling hanya
sobek beberapa senti saja. Ia merasa itu hanya luka kecil
yang dalam beberapa hari akan sembuh.
Mari keluar dari kamarnya dengan wajah yang lebih
cerah. Pakaiannya rapi. Blues merah muda lengan
panjang dengan bawahan celana kulot merah marun.
Jika diperhatikan dengan sedikit serius penampilannya
tampak anggun. Ia menggelung rambutnya dengan
sederhana. Sehingga tidak lagi awut-awutan. Tampaknya
ia telah membasuh mukanya, dan telah berusaha
menghapus bekas-bekas tangis dari wajahnya. Meskipun
tidak benar-benar berhasil.
Zul masih memejamkan mata sehingga tidak
menyadari ketika Mari keluar dari kamarnya dan
memandangnya beberapa saat lamanya. Posisi Zul
membelakangi pintu kamar Mari. Sehingga Mari tidak
melihat Zul dari depan. Mari mendekat. Dan ketika
melihat wajah Zul ia kaget.
“Zul, kau luka Zul! Kau berdarah Zul, ya Allah ya
Rabbi!” Ucap Mari setengah berteriak.
Zul mengerjapkan matanya. Dan langsung menyahut,
“Ah tidak apa-apa kok Mbak. Cuma luka kecil saja.”
“Tapi darahnya sampai mengalir ke dagu begitu.
Harus segera diusap dan dibersihkan. Sebentar Zul.”
Mari kembali ke kamarnya. Ia mengambil kapas dan

obat merah.
“Sini Zul biar aku bersihkan dan aku obati!” Kata
Mari lagi sambil membawa kapas dan obat merah.
“Tidak usah Mbak. Sini kapas dan obat merahnya
biar aku obati sendiri. Sekalian aku mau ke kamar kecil.”
Sergah Zul.
Mau tidak mau Mari menyerahkan kapas dan obat
merah pada Zul. Saat itu Mari ingin sekali mengusapkan
dan membersihkan darah orang yang telah
membela kehormatannya. Ia rasanya ingin langsung
membalas segala kebaikan Zul. Mari memandangi Zul
yang melangkah ke kamar kecil dengan pandangan
yang susah untuk diartikan. Pandangan merasa
berhutang budi, sayang, kagum, kasihan, juga cinta.
Zul mengusap lukanya dengan kapas. Lalu membasuh
dengan air. Darah dari lukanya mulai berhenti.
Setelah mengeringkan lukanya itu dengan kapas, ia
mengobatinya dengan obat merah. Setelah itu ia
keluar. Mari menunggunya di sofa. Ia duduk tak jauh
dari Mari.
“Harus bagaimana aku berterima kasih padamu
Zul?” Mari mengawali pembicaraan.
“Tak perlu berterima kasih pada saya Mbak. Saya
hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan.
Itulah kewajiban manusia jika melihat kemungkaran.”
Tiba-tiba Mari terisak-isak,
“Kau telah menyelamatkan kehormatanku Zul.
Kalau tadi tidak ada kau, entah apa jadinya diriku saat
ini. Mungkin aku telah bunuh diri Zul!”
“Berterima kasihlah pada Allah Mbak. Allahlah yang
menggerakkan kedua kaki saya untuk bertandang ke
sini pagi ini.”
Mari sepertinya tidak mendengar kalimat yang

diucapkan Zul. la menundukkan mata dan larut dalam
tangisnya. Dadanya dipenuhi rasa haru dan rasa syukur
yang membuncah-buncah. Beberapa saat lamanya
hanya isak tangis Mari yang terdengar. Zul hanya bisa
diam di tempatnya.
“Terima kasih Zul, kau telah menyelamatkan
kehormatan dan kesucianku. Kehormatan yang selama
ini aku jaga mati-matian. Tanpa kehormatan itu aku
merasa akan hidup sia-sia. Aku sangat berhutang budi
padamu.”
Mari kembali mengucapkan rasa terima kasih
dengan sepenuh jiwanya pada Zul. Zul bisa merasakan
itu. la hanya bisa menjawab pelan,
“Ingatlah Allah Mbak. Berterima kasihlah pada
Allah.”
“Iya Zul, iya. Allah masih menyayangiku Zul. Allah
masih menyayangiku.”
“Iya Allah masih menyayangi Mbak. Dan semoga
terus menyayangi Mbak.”
“Allahlah yang mengatur kau datang tepat pada
wakrunya.”
“Iya Allahlah pengatur kehidupan ini Mbak.”
“Aku tak pernah menyangka penjahat itu bisa datang
ke rumah ini. Sungguh aku sama sekali tidak menyangka.”
Guman Mari sambil mengangkat muka dan
menghapus airmatanya.
“Bagaimana ceritanya, semua ini bisa terjadi Mbak.
Dan Mbak kok di rumah? Apa Mbak sedang libur?”
“Begini lho Zul ceritanya. Sebenarnya aku tidak
libur. Pagi ini aku mencuci sampai jam delapan. Aku mau
berangkat kerja jam sembilan. Teman-teman sudah
berangkat pukul setengah delapan. Kira-kira jam
sembilan kurang seperempat aku sudah siap untuk
berangkat. Tiba-tiba hujan turun deras sekali. Aku
mencari-cari payung tidak ada. Aku baru ingat kalau
payungku dipinjam sama temanku yang tinggal di
Kelana Jaya. Akhirnya aku telpon ke kantor tempat aku
kerja untuk dijemput. Ternyata tidak ada mobil yang
nganggur. Semuanya sedang dipakai. Tapi pihak kantor

juga bilang, jika ada mobil nganggur akan segera
menjemputku.
“Karena hujan sangat deras, aku diminta tetap di
rumah saja. Jika terpaksa tidak ada mobil, aku diberi ijin
untuk datang setelah Zuhur. Bahkan boleh libur.
Akhirnya aku santai di ruang tamu ini dengan tetap
memakai pakaian yang biasa aku gunakan kerja. Pukul
sepuluh kurang sepuluh menit aku mendengar mobil
menderu. Lalu orang mengetuk pintu. Aku tidak curiga
sedikit pun. Kukira itu adalah orang kantor yang datang
menjemputku.
“Tanpa curiga, aku langsung membuka pinta lebarlebar.
Alangkah terkejutnya diriku ternyata yang datang
adalah si Warkum. Aku hendak menutup pintu kembali,
tapi sudah terlambat. la berhasil menerobos masuk
bahkan langsung mengunci pintu itu. Lalu ia memintaku
untuk menuruti keinginan nafsunya. Jelas aku menolak.
Aku lebih baik mati daripada menyerahkan kehormatanku
padanya. Ia kalap. Amarahnya memuncak.
Pandanganya buas bagaikan serigala liar yang kelaparan.
la berusaha memangsaku. Aku terus melawan sekuat
tenaga. Aku berusaha mempertahankan kehormatanku
sekuat tenaga. Prinsipku lebih baik mati daripada
diperkosa.
“Aku terus melawan. Namun aku adalah seorang
perempuan, tenagaku tak sebanding dengan tenaganya.
Kekuatanku tak mampu menandingi kekuatannya. Aku
nyaris tidakberdaya karena kehabisan tenaga. Dan dia
nyaris mendapatkan apa yang diinginkannya. Tiba-tiba
kau datang.
“Kau datang dan membuat bajingan itu terpelanting.
Awalnya aku kira kau adalah malaikat utusan Tuhan
yang menyambar penjahat itu dengan cemeti mahasaktinya.
Malaikat yang diturunkan Tuhan karena
rintihan doaku di saat paling kritis. Malaikat dalam arti
sebenarnya. Ternyata bukan, yang datang bukan
malaikat tapi manusia. Mahakuasa Allah.”

Mari kembali terisak-isak.
Zul diam mematung di tempatnya.
“Dik bagaimana ceritanya kok kau bisa kemari pagi
ini dan bagaimana kau bisa membuka pintu itu? Dengan
apa kau membukanya?”
Zul menarik nafas, lalu dengan tenang menceritakan
kronologisnya bisa sampai di rumah itu. Tentang
keinginannya untuk datang ke rumah itu. Keinginan
yang muncul tiba-tiba pagi itu dan seolah tidak bisa
ditolaknya. la juga bercerita tentang kunci Linda yang
masih di tangannya. Mari mendengarkan cerita Zul
dengan seksama dan dengan mata berkaca-kaca. la
merasakan kasih sayang yang dicurahkan oleh Allah
kepadanya.
“Siapakah yang menghadirkan keinginan untuk
datang kemari itu kalau bukan Allah Mbak? Dan
siapakah yang menghadirkan keberanian dalam dada
ini untuk bertarung dengan penjahat itu kalau bukan
Allah? Dan siapa yang menolong saya memenangkan
pertarungan tadi kalau bukan Allah?”
Airmata Mari kembali meleleh.
Zul diam. Sesaat lamanya ruangan itu diselimuti
kesunyian.
“Tetapi Zul, walau bagaimana pun aku sangat
berhutang budi padamu Zul. Bagaimana aku harus
membalasnya?” Lirih Mari seraya mengangkat muka
memandang wajah Zul. Zul memandang ke arah Mari,
lalu menarik pandangannya ke lantai.
“Sudahlah Mbak. Aku merasa tidak berbuat apa-apa
selainmelakukan kewajibanku sebagai seorang manusia
yang melihat kezaliman di depan mata. Mbak jangan
mengatakan hal seperti itu lagi.”
“Kau harus tahu sesuatu Zul. Agar kau tahu betapa
aku sangat berhutang padamu.”
“Sesuatu itu apa Mbak?”

“Si W tadi itu, ia datang mengatakan ingin
meminta haknya sebagai seorang suami. Haknya
yang katanya belum pernah aku berikan padanya
setelah dia menikahi aku dan membayar mas kawin
padaku.”
“Aku tidak paham maksudnya Mbak.”
“Maaf, biar aku perjelas. Pada hari aku menikah
dengannya itu, aku sedang datang bulan. Jadi ia tidak
menjamah kesucianku. Biasanya aku datang bulan lebih
satu minggu. Lha seminggu kemudian, artinya seminggu
setelah akad nikah ia pergi ke Jakarta, dan saat itu aku
masih dalam kondisi datang bulan. Jadi ia sama sekali
belum menjamah kesucianku.
“Seperti yang dulu pernah kuceritakan kepadamu.
Kalau tidak salah aku pernah cerita padamu Zul. Dia pergi
ke Jakarta dengan alasan bisnis. Ternyata beberapa hari
kemudian ia tertangkap dalam kondisi over dosis di sebuah
hotel. Ia masuk penjara. Dan aku kemudian tahu semua
kejahatannya. Saat itu aku mengajukan gugatan cerai.
Tak bisa ditawar lagi, karena aku tidak mau punya suami
seorang penjahat yang kejahatannya benar-benar telah
melampaui batas. Jadi meskipun aku telah menikah
sejatinya kesucianku belum pernah dijamah oleh suamiku.
Dan sampai hari ini mahkota kesucianku belum tersentuh
oleh siapapun. Statusku memang janda, tapi kesucianku
masih utuh. Sumpah demi Allah, Zat Yang Mahatahu.
“Kau harus tahu Zul, selama ini betapa mati-matian
aku menjaga mahkota ini. Betapa mati-matian aku
menjaga iman ini. Godaan, bujuk rayu datang setiap saat.
Alhamdulillah aku kuat. Tiba-tiba si W itu datang mau
merenggut mahkota itu. Dan mahkota kesucian yang
lebih berharga dari nyawaku sendiri itu nyaris ternistakan,
kalau saja kau tidak datang. Inilah Zul sesungguhnya
yang aku alami. Inilah Zul yang kau harus
tahu, kau telah menyelamatkan kesucianku, kegadisanku.
Aku benar-benar berhutang padamu.”
Mendengar cerita Mari, hati Zul bergetar. Tanpa ia
sadari airmatanya meleleh. Ada rasa kebahagiaan yang

sangat halus yang menyusup begitu saja ke dalam
hatinya. Rasa bahagia sekaligus rasa bangga karena ia
bisa menyelamatkan kesucian seorang wanita. Ia
berharap apa yang dilakukannya itu dinilai ibadah oleh
Allah. Dan apa yang dilakukannya itu bisa menghapuskan
dosa-dosanya saat ia masih remaja dulu. Ia
kembali teringat saat SMA, saat ia pacaran dengan gadis
tetangga desa. Saat itu ia nyaris melakukan perbuatan
yang menistakan kesucian gadis itu. Untunglah saat itu
tidak terjadi, karena terhalang oleh keadaan yang tidak
memungkinkan. Ia meneteskan airmata, bersyukur
kepada Allah, bahwa kesucian dirinya pun masih belum
ternista.
“Mintalah apa saja padaku Zul, selama itu tidak dosa
dan aku mampu aku akan memenuhinya.” Ucap Mari
dengan suara jelas tanpa isak tangis.
‘Aku tidak minta apa-apa Mbak. Cukuplah Mbak
terus menjaga diri Mbak, kesucian Mbak, dan Mbak terus
mendekatkan diri kepada Allah serta berusaha menjadi
wanita salehah selamanya, itu akan membuat apa yang
aku lakukan hari ini bermakna dan tidak sia-sia.”
“Baik Zul, aku akan berusaha sebisanya. O ya sampai
lupa, aku buatkan minuman ya? Mau minum apa Zul?”
“M…tidak usah repot-repot Mbak.”
‘Ah tidak repot kok Zul.”
Zul melihat jam di dinding. Ia merasa sudah terlalu
lama di rumah itu. Ia teringat bahwa ia harus ke kampus.
Ada janji dengan seorang teman. la bangkit dan
memanggil Mari yang sudah melangkah ke dapur.
“Mbak Mari!”
“Ya.” Mari menghentikan langkah dan menoleh.
“Tak usah bikin minum Mbak. Saya harus pamitan.
Saya ada janji dengan seorang teman habis Zuhur.”
“Tidak bisa ditunda barang satu dua menit Zul.”
“Maaf Mbak. Saya benar-benar harus pamit. O ya

saya hampir lupa saya mau mengambil barang-barang
saya. Dan ini kuncinya Linda.”
“Ya sudah kalau begitu. Sebentar saya ambilkan
barang-barangmu.”
Mari masuk ke dalam dan mengeluarkan barangbarang
milik Zul dari kamarnya.
“Ini kan Zul? Ada yang lain?”
“Tidak Mbak, itu saja.”
Zul mengambil tas jinjing yang berisi kekayaan
pribadinya yang sebenarnya jika dilihat tidaklah terlalu
berharga. Hanya beberapa pakaian, handuk, dan mushaf
kecil Al-Quran pemberian Pak Hasan.
“Aku tidak akan pernah melupakan jasamu ini Zul.”
“Ah Mbak, kok bicara seperti itu lagi. Sudah lupakan
saja Mbak, anggap saja saya tidak pernah berjasa apaapa
pada Mbak. Baik, saya pamit dulu ya Mbak. Jaga
diri baik-baik.”
Zul melangkah keluar rumah. Mari mengikuti
sampai pintu. Ketika Zul sampai di gerbang, Mari
memanggil namanya.
“Zul!”
Zul menghentikan langkah dan menoleh ke bela
kang. Mari memandanginya lekat-lekat. Zul meman
dang Mari. Wajah Mari tampak pucat dan sayu.
“Ya ada apa Mbak?”
Mari ingin mengatakan sesuatu tapi ia urungkan. la
lalu pura-pura bertanya,
“M..m…kau ada nomor hp Zul?”
“Pakai nomor teman saya yang dulu saya gunakan
SMS Mbak saja. Masih tersimpan kan?”
“Ya baik. Masih tersimpan.”
“Ada yang lain Mbak?”

“Zul, aku takut.”
“Takut apa? Takut kalau dia datang lagi?”
“Iya.”
“Percayalah padaku Mbak, dia tidak akan berani
datang lagi. Dia sudah kapok! Dia menganggap aku ini
juga preman seperti dia. Jari-jari tangan kanan dan kaki
kanannya sudah hancur! Kalau pun berniat datang
mungkin satu bulan lagi, setelah ia sembuh dari
lukanya.”
“Tapi aku kuatir dia punya teman.”
“Dan dia juga anggapan aku punya teman banyak.
Mbak tidak usah kuatirlah. Kalau Mbak kuatir, kunci
rumah baik-baik. Dan siapkan nomor telpon polisi. Atau
Mbak pindah saja dulu ke rumah teman yang aman.
Maaf Mbak ya saya buru-buru.”
“Iya Zul, terima kasih ya.”
“Ya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Mari berdiri memandangi Zul sampai hilang dari
pandangan. Setelah itu ia memandang ke arah langit
yang mulai terang. Hujan telah reda. Gerimis pun sudah
tiada. Mendung mulai pudar. Dan matahari seolah ingin
menyibak awan. Mari berulang kali memuji kekuasaan
Tuhan. Ia lalu masuk rumah. Menutup pintu dengan
rapat. Sayup-sayup, dari surau lirih terdengar suara azan
* * *

Delapan
Zul mondar-mandir di ruang tamu. Penghuni flat itu
semua telah tidur. Namun Zul tidak bisa tidur. Malam
itu setelah kejadian di rumah Mari, Zul selalu terbayang
wajah Mari. Ia kembali merasakan apa yang dulu pernah
ia rasakan saat remaja. Sejak pertama bertemu dengan
Mari, ia sebetulnya telah terpikat oleh kehalusan tutur
katanya. Juga perhatian, kepekaan dan jiwa sosialnya.
Namun itu semua tidak berpengaruh apa-apa dalam
hatinya. Mari masih ia anggap sebagai perempuan biasa yang
ia kenal di jalan. Tapi setelah kejadian siang itu.
Setelah apa yang ia alami, ia lihat dan ia ketahui rasa
sayangnya pada Mari merasuk begitu saja ke dalam
hatinya. Rasa sayang yang lebih dari biasa.
Bahwa Mari begitu teguh menjaga kesuciannya
itulah yang paling membekas di dalam hatinya. Ia sudah
banyak mendengar cerita tentang tenaga kerja wanita
Indonesia di Malaysia yang tidak lagi menjaga kehormatannya.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa tidak
sedikit tenaga kerja wanita yang bekerja di kilangkilang12
juga berprofesi menjajakan tubuhnya selepas
bekerja. Tapi Mari tetap menjaga kehormatan dan
kesuciannya. Dengan label janda yang dilekatkan pada
dirinya, dan parasnya yang tidak bisa dikatakan jelek,
tentulah itu perjuangan yang luar biasa. Ia sangat yakin,
bahkan haqqul yakin, kalau Mari tidaklah berkata dusta.
Dalam kondisi shock seperti itu kejujuranlah yang lazim
keluar dari diri anak manusia. Ia merasa Mari adalah
perempuan yang berkarakter, dan sanggup menjadi
perempuan yang luar biasa. Itulah yang membuat
hatinya condong pada Mari.
Ia bingung harus berbuat apa? Ia sudah dewasa. Dan
Mari juga sudah dewasa. Tidak mungkin lagi ia hanya
mengutarakan bahwa hatinya condong pada Mari.
Mengutarakan itu artinya siap berumah tangga. Ia sudah
tahu hukum bermain hati pada perempuan yang tidak
halal dari Yahya. Itu dosa.
“Hati pun, kata Nabi, bisa berzina.” Kata-kata Yahya
itu seolah berdengung-dengung dalam pikirannya.

Tapi bayangan Mari, juga suaranya, seolah terus
menghampirinya. Sempat terbersit dalam pikirannya
untuk berterus terang pada Mari dan mengajaknya
menikah. Lalu hidup sederhana apa adanya di Kuala
Lumpur sambil kuliah. Toh, banyak mahasiswa yang
berkeluarga dan hidup apa adanya di Kuala Lumpur.
Tapi tiba-tiba ada semacam keraguan dalam hatinya.
Ia kuatir jika ia menikah akhirnya kuliahnya tidak selesai.
Ia jadi sibuk memikirkan hidup keluarga. Apalagi kalau
nanti punya anak. Ia bisa hidup nekat. Makan sehari pun
bisa, tapi anak yang masih bayi apa bisa? Sementara ia
masih hidup sangat pas-pasan untuk makan, membayar
sewa aparteman dan kuliah. Padahal jika berkeluarga
ialah yang harus menanggung sepenuhnya sewa
rumahnya. Sekarang ia yang menyewa bersama
temantemannya
saja, masih terasa berat membayarnya.
Hutangnya pada Pak Muslim untuk membeli sepeda
motor juga belum lunas.
Ia sempat berpikir bahwa Mari juga bekerja dan bisa
meringankan beban. Ia langsung menjawab sendiri
bahwa tugas memberi nafkah adalah tugas suami. Andai
pun Mari bekerja ia tidak tahu berapa gajinya. Ia juga
tidak tahu sanggupkah Mari tetap bekerja jika misalnya
hamil. Ia sampai sudah begitu jauhnya memikirkan jika
Mari hamil segala. Ia menegaskan pada dirinya jika ia
menikahi Mari ia tidak bisa menggantungkan nasibnya
pada Mari. Alangkah jahatnya dia jika menikahi Mari
karena merasa aman, sebab Mari juga bekerja. Apakah
itu namanya bukan eksploitasi? Mari nanti bekerja.
Mengerjakan pekerjaan rumah tangga lazimnya
perempuan di Indonesia. Mengurus anak. Jika itu yang
terjadi ia merasa tidak menjadi seorang suami yang
benar.
Ia juga sempatberpikir untuk mengajak Mari pulang
ke Indonesia dan hidup apa adanya di Indonesia. Buat
apa hidup lama-lama di negeri orang. Tapi akal logikanya
seolah mencercanya habis-habisan: “Buat apa susah
payah datang ke negeri orang? Katanya mau mengubah

takdir? Menyiapkan masa depan yang gemilang? Kalau
kau pulang hanya dengan berhasil menikahi perempuan
seperti Mari, tidak harus jauh-jauh ke Malaysia. Tidak
harus berdarah-darah melewati pergulatan hidup di
Semarang, Jakarta, Batam dan Kuala Lumpur. Perempuan
seperti Mari di desamu juga banyak! Kalau kau
pulang dengan belum meraih kegemilangan yang
dicitakan, maka kelak kau akan ditertawakan oleh anak
turunmu. Mereka akan mengingatmu dengan sinis;
‘Kakek kita gagal menyelesaikan studinya karena
tergoda oleh seorang tenaga kerja wanita di Malaysia.
Inilah yang membuat kita tetap sengsara! Coba kalau
kakek kita dulu orang yang teguh, tekun dan tidak
mudah digoda wanita, mungkin kita akan bernasib lebih
baik! ”
Zul termenung. Dialog batinnya tidak membuat
bayang-bayang Mari hilang. Wajah sayu yang memancarkan
aura ketulusan itu, cerita hidupnya, ucapan terima
kasih kepadanya yang diulang berkali-kali dari hati yang
dalam. Itu semua sangat membekas di dalam hatinya.
Jarum jam dinding di ruang tamu menunjukkan
pukul dua. Zul tidak tahan. Malam itu ia mem
bangunkan Rizal, ingin meminjam hand phonenya. Ia
ingin menelpon Mari. Ia tidak kuasa membendung bara
cinta yang membuncah di dalam dadanya.
Rizal bangun sambil mengucek-ucek kedua matanya.
“Ada apa Zul?”
“Hand phone-mu mana? Aku mau pinjam?”
“Aduh Zul, hand phone-ku hilang tadi siang.”
“Hilang?”
“Iya. Mungkin jatuh atau dicopet orang di Pur
duraya. Pinjam Mas Yahya saja.”

“Segan.”
“Ya udah kalau begitu menelpon di wartel saja besok
pagi.”
“Iya dah.”
Zul kecewa berat. Ia harus menunggu pagi untuk
bisa menghubungi Mari. Malam itu ia hanya mondarmandir
di ruang tamu. Sesekali membuka koran usang
yang sudah berkali-kali ia baca. Atau membaca-baca
Majalah I, majalah Islam terbitan Malaysia yang sudah
lusuh, yang ia hampir hafal isinya. Itulah yang
dilakukannya malam itu sampai Subuh tiba.
* * *
Setelah shalat Subuh Zul langsung mencari wartel
yang buka. Semua masih tutup. Di flatnya selain Rizal
dan Yahya, Pak Muslim juga punya hand phone. Tapi ia
segan meminjamnya. Selama ini jika ia ingin nelpon ke
mana saja ia selalu menggunakan wartel. Ia sudah
merencanakan untuk membeli hand phone tapi belum juga
kesampaian. Dengan langkah gontai Zul kembali
ke flat. Wajahnya pucat. Auranya sayu. la tampak seperti
orang yang sedang sakit. Yahya yang sangat peka bisa
menangkap perubahan yang terjadi pada teman satu
kamarnya. Dengan ketulusan seorang sahabat ia mengajak Zul
bicara.
“Sepertinya kau sedang ada masalah atau kau
sedang sakit Zul?”
“Tidak ada apa-apa kok Mas?”
“Kalau kau tidak menganggapku sebagai orang lain
bicaralah padaku. Tapi kalau kau masih menganggapku
orang lain, orang asing bagimu, ya berpura-puralah tidak
ada masalah padaku.” Yahya langsung terus terang.
Akhirnya Zul berterus terang bahwa ia sedang
merasakan rasa rindu dan cinta pada seorang perempuan.
“Siapa perempuan itu? Mahasiswi UM kah?”
“Namanya Mar. Siti Martini. Dia bukan mahasiswi
tapi seorang karyawati sebuah perusahaan.”

“TKW maksudmu?” Yahya berusaha memperjelas.
Pertanyaan itu agak menyinggung Zul. Ia seperti tidak
rela Mari dilabeli TKW. Tapi memang itu kenyataan yang
ia tahu. Jadi ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali
mengiyakan.
“Iya Mas.”
“O, Siti Martini yang pernah kauceritakan dulu itu.
Yang satu bus dari Larkin ke Purduraya itu?”
“IyaMas.”
“Di sini mahasiswi banyak lho Zul, kenapa kaupilih
TKW?”
Pertanyaan Yahya itu kembali menggores hatinya.
Ia ingin menjelaskan semuanya, tapi tidak sampai. Ia
tidak bisa menjelaskan detil apa yang ia alami dengan
Mari pada sahabatnya yang paling dekat itu. Ia tidak
sampai hati untuk membuka kejadian kemarin siang di
rumah Mari. Ia juga tidak bisa menjelaskan pesona dan
aura yang dimiliki Mari. Ia akhirnya menjawab dengan
jawaban yang klasik,
“Tidak tahu Mas. Namanya juga jatuh cinta. Aku
melihat diabaik. Dan menurutku mahasiswi tidak secara
otomatis lebih baik dari TKW. Banyak yang sekarang
TKW, mungkin kelak jadi orang yang memberi
penghidupan pada mahasiswa atau mahasiswi. Dan
banyak mahasiswi yang akhirnya jadi TKW. Itu kan
cuma label-label saja Mas.”
Yahya tersenyum,
“Kau memang sedang jatuh cinta. Dari jawabanmu
aku tahu kau sangat membela dia. Ya sah-sah saja kau
mencintai dia. Siapapun dia. Asal menurutmu cocok dan
baik ya sah-sah saja. Memang benar manusia tidak bisa
dinilai dari label atau julukan yang disandangnya. Yang
menentukan manusia itu ini lho. Ininya!” Kata Yahya

sambil menunjuk dadanya.
“Iman dan takwanya. Agamanya.” Lanjut Yahya.
“Itu tukang sapu di jalan yang setiap hari bergelut
dengan sampah bisa jadi ia lebih baik di mata Allah
daripada Guru Besar Tafsir jebolan universitas terkenal
di Timur Tengah. Di mata Allah belum tentu. Keikhlasan
seseorang hanya Allah yang tahu. Bisa jadi tukang sapu
itu sangat tahu diri kedhaifan dirinya sebagai makhluk Allah
maka tidak ada rasa sombong dalam hatinya. Dan
Guru Besar Tafsir bisa jadi karena merasa hebat, ada satu
zarrah rasa sombong dalam hatinya. Ketika ketemu
tukang sapu Guru Besar itu merasa lebih terhormat dari
tukang sapu. Itu kan sombong. Sebaliknya tukang sapu
justru menghormati Guru Besar itu karena tahu dirinya
tidak berilmu dan Guru Besar itu punya ilmu. Berarti
tukang sapu itu tahu kadar dirinya. Tidak sombong. Jika
seperti itu bisajadi tukang sapu lebih mulia di mata Allah
daripada Guru Besar Tafsir itu.” Terang Yahya panjang
lebar.
“Jadi tidak salah saya jatuh cinta pada TKW itu
Mas?”
“Jatuh cinta tidak salah. Kau mau memilih siapa pun
tidak salah. Asalkan tetap menjaga diri di jalan yang
diridhai Allah. Apa kau sudah benar-benar siap untuk
menikah Zul?
Zul diam mendengar pertanyaan itu. la tidak bisa
menjawab mantap. Akhirnya Zul menjelaskan kebimbangan
hatinya. Antara mantap dan tidak mantap. Halhal
yang berkelebat dalam hati dan pikirannya ia
sampaikan kepada Yahya.
“Jadi kemarin kau ke rumah Siti Martini itu?”
“Iya, mengambil barang-barang saya yang masih
tertinggal di sana?”
“Kau bertemu dia dan setelah itu kau merasa jatuh
cinta?”
Zul mengangguk malu. Ia seperti sedang dihakimi.

Yahya malah tersenyum.
“Kau sedang terkena sihir Zul.”
“Terkena sihir apa Mas?”
“Kau sedang terkena sihir nafsu syahwatmu. Aku
bisa memastikan kau agak berlama-lama berbicara
dengan dia. Aku yakin itu.”
“Benar.”
“Wajar.”
“Maksudnya wajar, wajar bagaimana?”
“Setan telah menghiasi perempuan itu sehingga
tampak olehmu pesonanya, keindahannya, auranya,
kebaikannya dan lain sebagainya yang membuatmu
cenderung kepadanya. Tahukah kau Zul, saya pun bisa
lebih parah darimu. Bahkan seseorang yang kuat
imannya jika berduaan dengan perempuan yang ia tahu
perempuan ia berpenyakit sekalipun bisa luntur
imannya. Bahkan bisa melakukan perbuatan nista
dengan perempuan itu. Karena apa? Karena perempuan
itu dirias dan dihiasi oleh setan. Ditambah nafsu yang
ada dalam diri lelaki itu. Maka terjadilah apa yang
seharusnya tidak terjadi.”
“Jadi apa yang aku rasakan ini nafsu syahwat?”
“Betul. Jujurlah pada dirimu. Kau pasti telah melihat
hal yang semestinya tidak kau lihat pada perempuan itu,
iya kan?”
Zul malu mengakuinya.
“Ingat Zul seluruh tubuh perempuan yang sudah akil
balig itu aurat kecuali muka dan tepak tangannya. Jika
ia perempuan yang cantik, yang kecantikannya itu
menarik lawan jenisnya maka mukanya juga jadi aurat yang
harus ditutupi. Artinya tidak boleh dilihat. Jikalau
engkau mencintai wanita karena melihat yang seharusny a
ditutupi maka berarti kau ada nafsu dengannya. Yang
bergerak dalam aliran darahmu dan syaraf-syarafmu itu
adalah nafsu dan syahwat. Jika seperti itu, kau tidak jauh

berbeda dengan ayam jago yang langsung mengejar
ayam betina setelah melihat keelokan ayam betina.”
“Tapi bukankah manusia hampir semuanya begitu
Mas?”
“Ya benar. Maka tidak berlebihan jika para filosof
menyebut manusia sebagai hayawanun nathiqun.
Binatang yang berbicara. Manusia itu binatang, hanya
saja ia bisa bicara. Bisa berkata-kata. Itulah definisi
manusia yang hanya mengutamakan nafsunya saja.
Nafsu jadi panglimanya. Nafsu jadi timbangannya. Dan
nafsu itu tidak hanya nafsu pada perempuan saja.
Termasuk juga nafsu pada kemewahan dunia. Al-Quran
menjuluki manusia yang seperti itu dengan kalimat:
‘Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lengah.’13 Orang-orang
yang dikendalikan oleh nafsunya adalah orang yang
lengah. Orang yang tidak memiliki rusyd, atau kesadaran
penuh. Orang seperti itu yang akan rugi di mana pun
dia berada. Ia akan mudah dicocok hidungnya oleh setan
untuk dijerumuskan ke dalam jurang kebinasaan dan
kenestapaan.”
“Terus bagaimana cara mencintai lawan jenis yang
benar menurut Sampeyan?”
“Mencintai dengan timbangan fithrah dan bashirah.
Mencintai dengan kesucian dan mata hati. Fithrah dan
bashirah yang jadi timbangannya. Yaitu, jika kau
mencintai wanita bukan karena tertipu oleh kecantikan
paras wajahnya dan keelokan benruk tubuhnya. Bukan
karena tersihir oleh matanya yang berkilat-kilat indah
seperti bintang kejora. Bukan pula terpikat karena
bibirnya yang ranum segar seperti mawar merekah. Juga
bukan karena keindahan suaranya yang susah dilupakan.
Bukan karena hartanya yang melimpah ruah.
Bukan karena kehormatannya, yang kau akan jadi ikut
terhormat karena menikahinya. Jika bukan karena itu
semua kau mencintainya. Tapi kau mencintai dengan
memakai timbangan fitrahmu, dan matabatinmu. Kau
mencintai dia karena merasakan kesucian jiwanya dan
agamanya, dan mata batinmu condong karena kecantikan

akhlak dan wataknya. Hatimu terpikat karena
harumnya kalimat-kalimat yang keluar dari lidahnya.
Saat itu kau telah mencintai lawan jenis dengan benar.”
“Tapi sulit rasanya Mas aku memakai timbangan
fithrah dan bashirah. Hati ini sepertinya telah tertawan
dan terbelenggu oleh sihir Mari.”
“Ya aku tahu. Memang sangat susah membebaskan
diri dari belenggu cinta syahwati. Aku bukannya tidak
pernah mengalaminya, aku pernah mengalaminya. Dan
aku nyaris binasa karenanya. Jika bukan karena rahmat
Allah aku mungkin saat ini sudah hancur berbaur tanah
di kubur.”
“Bagaimana ceritanya Mas. Mungkin bisa jadi
cambuk bagiku.”
“Malu aku mengingatnya.”
“Apa Sampeyan tidak kasihan padaku. Apa Sampeyan
ingin aku binasa Mas?”
“Singkat saja ya. Saat itu aku masih kelas tiga SMA
Al Islam Batu, Malang. Ayahku seorang lurah. Tahun itu
ada rombongan KKN dari Unibraw, berjumlah sepuluh
orang. Empat mahasiswa, enam mahasiswi. Tiga
mahasiswi menginap di rumahku. Tiga lain di tempat Pak
Carik. Dan empat mahasiswa menginap di Balai Desa. Di
antara tiga mahasiswi yang menginap di rumahku itu ada
yang membuatku tergila-gila. Sebut saja namanya F Aku
benar-benar jatuh cinta padanya. Aku coba tahan untuk
menyimpannya dalam hati diam-diam. Aku tidak tahan.
Akhirnya aku ungkapkan padanya. Ternyata dia
menanggapi. Aku kirim surat cinta padanya. Dia
membalasnya dengan surat cinta yang lebih romantis.
Sebab dia sudah mahasiswi. Sudah jauh lebih berpengalaman.
Aku seperti buta. Aku sudah merasa dia
adalah segalanya. Sampai tiba saat perpisahan, karena
masa KKN-nya habis. Sebelum pergi ia berterus terang
padaku, bahwa selama ini cuma main-main. Sebenarnya
dia sudah punya tunangan di Surabaya. Hatiku seperti
dibetot dan kepalaku seperti dihantam palu godam. Aku
langsung jatuh sakit. Dua bulan aku dirawat di rumah
sakit. Aku bahkan sempat mencoba bunuh diri. Orang-

orang menganggap aku sakit terkena santet. Aku seperti
orang gila Zul. Itulah ceritanya Zul.”
“Terus sembuhnya bagaimana Mas?”
“Akhirnya orangtuaku tahu juga masalahnya. Saat
orangtuaku tahu gadis itu sudah menikah dan bekerja di
Jakarta. Kakak perempuankulah yang dengan sabar
menemaniku dan menguatkan aku. Karena sakit itu aku
tidak bisa ikut ujian akhir. Aku benar-benar sembuh
setelah aku dibawa ke sebuah pesantren. Di pesantren
itulah karena disibukkan dengan ibadah, zikir, olah raga
dan lain sebagainya lambat laun, ingatanku akan F
hilang. Dan sekarang aku baru menyesal, kenapa dulu
aku bisa begitu bodoh dan tolol. Itulah Zul cinta yang
semu sangat menyiksa dan menyakitkan.”
Mendengar cerita Yahya, Zul merasa mendapat
sedikit pencerahan. Namun cerita itu tidak juga bisa
mengusir kuatnya pesona Mari yang menempel di
dinding-dinding hatinya. Tapi dari pembicaraannya
dengan Yahya ia memiliki seberkas cahaya yang
menerangi gulitanya akal pikirannya karena diselimuti
bayangan Mari.
***
Nun jauh di Subang Jaya sana. Mari merasakan hal
yang tidak jauh berbeda dengan Zul. Bahkan lebih parah.
Jika Zul didampingi Yahya, maka Mari tidak punya
pendamping dan tempat untuk mengungkapkan
gelisahnya. Teman-teman satu rumahnya sibuk bekerja
dan ia pandang tidak bisa dijadikan tempat berbagi
perasaan. Mari telah berulang kali menelpon nomor yang
pemah diberikan oleh Zul kepadanya. Nomor itu adalah
nomor Rizal. Karena hp Rizal hilang, maka usaha Mari
menelpon Zul jadi sia-sia.
Mari hanya bisa berharap Zul datang lagi ke sana
dan ia akan mengungkapkan perasaan cintanya kepada
Zul. Ia sudah siap menerima apapun keputusan Zul.
Menerimanya ataukah menolaknya. Jika Zul menerimanya,
ia berjanji akan menjadi abdi bagi Zul selama

hidupnya. Ia merasa hanya Zul-lah yang paling berhak
mendapatkan pengabdiannya.
Mari selalu mengingat perkataan Zul saat menanggapi
ucapannya, “Mintalah apa saja padaku Zul,
selama itu tidak dosa dan aku mampu memenuhinya.”
Zul saat itu berkata, “Aku tidak minta apa-apa Mbak.
Cukuplah Mbak terus menjaga diri Mbak, kesucian
Mbak, dan Mbak terus mendekatkan diri kepada Allah
serta berusaha menjadi wanita salehah selamanya, itu
akan membuat apa yang aku lakukan hari ini bermakna
dan tidak sia-sia.”
Kata-kata Zul itu seolah ia jadikan pedoman hidup.
Ia berjanji pada diri sendiri untuk terus mendekatkan diri
kepada Allah dan menjadi wanita salehah yang
sebenarnya. Ia mengawali dengan menutup rambutnya
dengan jilbab. Jilbabnya modis. Cara berpakaiannya pun
masih modis. Masih memakai celana jeans dan kaos ketat.
Tapi ia terus berusaha. Ia rajin datang ke majelis taklim
yang ia ketahui. Setiap ia mendapatkan tambahan ilmu
agama, ia berusaha mengamalkan sebaik-baiknya.
Berminggu-minggu setelah itu, ia masih terus
berusaha menelpon nomor yang ia terima dari Zul, tapi
tidak juga berhasil. Dan Zul tidak juga muncul, tidak
pula menelpon. Ia tetap bertahan dan sabar. Ia tetap
berusaha untuk sedekat mungkin dengan Allah. Sesuai
dengan pesan Zul yang telah terpahat kuat dalam relung
hatinya.
* * *
Sembilan
Dua bulan berlalu sejak Yahya mengajak Zul
berbicara dari hati ke hati. Yahya berharap Zul bisa
menemukan kesadaran prima dan semangat membaranya
kembali seperti ketika awal-awal tinggal di flat
itu. Namun harapan Yahya belum menjadi kenyataan.
Kenyataannya Zul tetap banyak murung dan melamun.
Tidak gesit dan semangat dalam bekerja, berusaha, dan

belajar.
Seringkali Yahya menemukan Zul hanya tidur di
kamar satu siang penuh, padahal ia yakin Zul ada jadwal
kuliah dan kerja. Yahya biasanya mengingatkannya
dengan bahasa sehalus mungkin, namun Zul seperti tidak
mendengar apa-apa. Yahya beberapa kali menyarankan
pada Zul jika memang harus mendapatkan Mari, kenapa
tidak secara jantan menemui dan mengajaknya menikah.
Obat paling mujarab untuk orang yang sakit karena cinta
adalah menikah. Tapi Zul gamang dengan dirinya sendiri.
Keraguan mengambil langkah telah membuatnya seperti
orang yang kehilangan cahaya kehidupan. Keadaan Zul
yang sedang sakit karena cinta itu menjadi perhatian dan
keprihatian semua penghuni flat itu.
Pak Muslim merasa kuatir keadaan Zul semakin
parah. Jika parah, maka bisa berpengaruh pada suasana
rumah. Sudah dua bulan Zul tidak membayar uang sewa
rumah. la minta dipinjami dulu. Namun ia bekerja tidak
seserius dulu. Seolah bekerja seingatnya saja. Jika ingat
bekerja, jika tidak ya tidak bekerja. Pak Muslim juga
kuatir Zul tidak bisa mengikuti ujian semester depan jika
sering bolos kuliah. Suasana rumah terasa mulai tidak
nyaman. Maka Pak Muslim sebagai yang paling tua
berinisiatif mempertegas sikap Zul. Jika ingin serius kuliah
maka ia harus segera bangkit dan merubah sikap. Jika
sudah tidak ingin kuliah, ia melihat Zul sebaiknya
mencari tempat yang lain. Sebab kemalasan Zul bisa
merusak situasi rumah yang selama ini nyaman dan
kondusif untuk belajar.
Pak Muslim tidak mau perkataan najis satu tetes
merusak kesucian air satu gentong terjadi di rumah itu.
Dan tidak ada najis yang paling merusak kesucian umat
yang ingin berprestasi kecuali kemalasan. Ia tidak mau
Zul jadi najis itu. Zul harus diselamatkan. Jika Zul tetap
memilih jadi najis itu maka ia harus disingkirkan agar
tidak merusak kesucian semangat orang satu rumah.
Pagi itu setelah shalat Subuh Pak Muslim membangunkan
Zul yang masih mendengkur di kamarnya.
Berbeda sekali Zul yang dulu dengan Zul saat itu. Zul

saat awal-awal datang dulu sudah bangun sebelum
Subuh tiba dan selalu di shaf pertama. Tapi Zul saat itu
adalah Zul yang harus berkali-kali diingatkan dan
dibangunkan baru shalat Subuh dengan wajah malas
tanpa cahaya.
Begitu Zul selesai shalat Pak Muslim langsung
memanggil Zul ke kamarnya. Dengan menunduk Zul
masuk ke kamar dosen Universitas Negeri Yogyakarta
yang mengagumi pemikiran-pemikiran Muhammad
Iqbal.
“Duduk sini Zul!” Pak Muslim mempersilakan Zul
duduk di kursi yang ada tepat di depannya. Setelah Zul
duduk, Pak Muslim langsung menutup pintu kamarnya.
“Zul, sudah tiga bulan ini aku lihat kamu sangat
berbeda dengan saat kau pertama datang. Apa sebenarnya
masalahmu Zul?”
“M…tidak ada masalah Pak. Saya biasa-biasa saja.”
“Zul kau masih ingin kuliah?”
“Ya tentu Pak.”
“Kau sadar dengan yang kauucapkan?”
“Tentu saja sadar Pak.”
“Bagus. Jika kau ingin tetap lanjut kuliah kau harus
bangkit dan mengembalikan semangatmu. Cukup tiga
bulan saja kamu sakit. Ingat Zul, setiap detik kau berada
di Kuala Lumpur ini ada harganya. Dan kau harus
membayarnya. Flat ini kita menyewa. Air yang
kaugunakan untuk membersihkan dirimu saat buang air
juga harus dibayar. Kau makan tidak gratis. Kuliah tidak
gratis. Semua ada tagihannya. Jika kau terus malas dan
murung seperti itu kau tidak akan bertahan hidup. Kalau
pun kau tetap hidup kau tak lebih bernilai dari sampah.
Sampah masih bisa didaur ulang. Tapi manusia yang
telah mati sebelum mati jauh merepotkan daripada
sampah.

“Aku ingin melihatmu berjaya. Meraih prestasi yang
gemilang Zul. Sungguh aku sangat menginginkan itu.
Aku akan membantumu semampuku. Itu jika kamu mau.
Jika kamu tidak mau aku tidak berhak memaksamu. Kau
lebih berhak menentukan jalan hidupmu.
‘Aku tahu kau masih sakit. Hatimu masih dijajah oleh
rasa cintamu pada wanita yang kaucintai itu. Ketahuilah
Zul, tak ada dokter yang bisa menyembuhkanmu kecuali
kamu sendiri. Sebagai orang tua, aku hanya bisa
memberikan beberapa saran untuk kebaikanmu dan
kebaikan kita bersama.
“Saranku yang pertama Zul, jika kamu ingin sukses
dan berhasil lupakan wanita itu. Jodoh itu tanpa dikejar,
tanpa dibuat bersakit-sakit seperti kau sekarang ini jika
tiba saatnya akan datang juga. Jodohmu sudah ditulis
oleh Allah. Kalau jodohmu memang wanita bernama Siti
Martini itu ya nanti Allah pasti akan mempertemukan
kamu dengan dia. Tapi jika jodohmu bukan dia, sampai
kau minta banruan seluruh jin di jagad raya ini untuk
membantumu mendapatkan dia ya kamu tidak akan
mendapatkannya.
“Sementara ilmu dan prestasi juga amal ibadah. Jika
tidak kauusahakan dengan serius tidak akan kauraih.
Ilmu tidak bisa kauraih dengan tiduran dan malasmalasan.
Prestasi dan kesuksesan tidak akan kauraih
kecuali dengan pengorbanan penuh pikiran, tenaga dan
perasaan. Kalau perlu bahkan nyawa. Tak ada dalam
catatan sejarah ada orang sukses hanya dengan
melamun, tidur, dan banyak angan-angan seperti yang
kaulakukan tiga bulan ini. Tak ada seorang juara di
bidang apapun kecuali ia pasti seorang pejuang yang
ulung. Kalau ingin mendapatkan ilmu yang cukup,
berprestasi dan hidup sukses kau harus bangkit,
bersemangat, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan
gigih berjuang. Itulah jalannya orang-orang yang sukses.
“Zul, godaan wanita adalah godaan utama orang
mencari ilmu. Dan fitnah perempuan adalah salah satu
fitnah yang sangat dikuatirkan oleh Nabi akan melumpuhkan

umatnya. Bahkan saat Nabi berdakwah di
Makkah, di antara hal yang ditawarkan orang-orang
kafir Quraisy untuk membujuk Nabi agar menghentikan
dakwahnya adalah dengan mengiming-imingi Nabi akan
dinikahkan dengan wanita paling cantik di Arab. Tapi
Nabi menolaknya.
“Zul, siapa pun yang kasmaran, siapa pun yang jatuh
cinta seperti kamu saat ini. Maka akal, pikiran dan
perasaannya akan terus terfokus untuk mendapatkan
yang dicintainya. Jika keadaan seperti itu terus berlarut,
maka kewajiban-kewajibannya, tugas-tugas utamanya
akan segera terlupakan. Dan saat itu hanya tinggal
menunggu datangnya kebinasaan.
“Sudah tidak terhitung lagi jumlahnya pelajar dan
mahasiswa yang gagal karena skandal cinta. Tidak
terhitung jumlahnya pemimpin besar dunia yang
terpuruk karena skandal cinta. Apakah kau mau
menambah panjang daftar itu dengan memasukkan
namamu.
“Penuntut ilmu jika jatuh cinta pada lawan jenisnya,
maka ilmu itu tidak akan bisa melekat pada akal, pikiran
dan hatinya. Sebab akal, pikiran dan hatinya telah
dikotori oleh bayangan semu kekasih hatinya. Ada
pujangga Arab yang menulis sajak begini Zul,
Jika aku sedang sibuk dengan gadisku
Yang parasnya laksana cahaya pagi
Maka aku enggan memikirkan yang lain
“Maka, aku ulangi lagi saranku yang pertama, jika
kamu ingin sukses dan berhasil lupakan wanita itu. Saat
ini berkonsentrasilah sepenuhnya untuk menuntut ilmu.
Jika ia jodohmu selesai S.2 aku doakan semoga bertemu.
Dan bertemu dalam keadaan yang paling baik dan
paling barakah. Jika dia tidak jodohmu, semoga kau
dianugerai jodoh yang lebih baik dalam segalanya dari
wanita itu.”
Zul diam saja di tempatnya. Ia tidak membantah,
juga tidak mengiyakan. Tapi ia mendengarkan dengan

seksama. Pak Muslim jarang sekali bicara serius seperti
ini. Jika Pak Muslim bicara seperti ini artinya masalah
yang terjadi memang sudah parah.
Pak Muslim mengambil nafas sebentar lalu melanjutkan,
“Saranku yang kedua Zul, jika kau tidak bisa mengikuti
saranku yang pertama, aku sarankan kau untuk mendatangi
wanita itu secara jantan. Dan nikahi dia. Luapkan
seluruh cintamu padanya. Dan hiduplah dalam keluarga
yang sakinah mawaddah wa rahmah. Menikah itu jauh
lebih baik daripada kau hanya memikirkan dia siang malam
sampai sayu seperti mayat hidup.
“Jika kau memilih saran yang kedua ini, aku akan
membantumu semampuku. Aku akan meminjami modal
untuk pernikahanmu semampuku. Aku bersedia
mengantarmu menemui wanita itu, juga bersedia
membantumu menemui keluarganya. Dan jika ini yang
kauambil, aku minta kau jangan berhenti kuliah. Tetaplah
lanjutkan kuliah. Hiduplah sehemat mungkin. Tetaplah
bertahan sampai lulus. Kau harus lebih giatbekerja dan
berusaha. Sebab kau tidak hanya menanggung beban
hidup dirimu sendiri, tapi juga menanggung orang lain.
“Jika saranku yang kedua juga tidak bisa kauikuti,
maka aku punya saran ketiga, yaitu ya terserah kamu.
Hiduplah sesukamu. Terus seperti sekarang juga boleh.
Tapi dengan memohon pengertiannya aku minta kau
meninggalkan rumah ini. Bukan kami tidak sayang dan
tidak menghargai kamu. Sama sekali tidak. Kami
menghargai kamu, dan cara hidupmu. Tapi perlu kamu
ketahui juga, cara hidupmu yang hanya malas-malasan,
banyak melamun dan berangan-agan itu dapat meracuni
kesehatan lingkungan rumah ini. Cara hidupmu yang
mulai tidak memikirkan membayar flat adalah cara
hidup orang yang tidak bertanggung jawab. Itu dapat
merusak rasa saling percaya yang telah tercipta dengan
indah di rumah ini. Jika kau pilih saran yang ketiga ini,
kami akan membantumu mengangkatkan barangbarangmu,
juga akan membantumu menemukan tempat
yang kauanggap cocok bagi cara hidupmu. Kau masih
boleh bermain ke sini, tapi tak bisa tinggal di rumah ini.

“Itulah Zul, tiga saran yang bisa aku sampaikan
kepadamu. Kau bisa memilih salah satunya. Dan kami
tidak keberatan sama sekali yang mana yang kamu pilih.
Tapi jika boleh berharap saya pribadi berharap kaupilih
yang pertama. Maafkan aku jika harus berlaku tegas
padamu. Untuk sebuah kebaikan ketegasan tidak ada
salahnya dilakukan. Dan ini pun terpaksa aku lakukan
setelah melihat perkembanganmu yang tidak juga
menunjukkan ada perbaikan.”
Setelah menyampaikan tiga saran itu, bisa juga
disebut tiga opsi untuk Zul, Pak Muslim diam menunggu
reaksi Zul. Keheningan menyelimuti kamar itu sesaat
lamanya. Zul tampak sedang mengolah saran Pak
Muslim yang diseganinya itu. Pak Muslim yang selama
ini sangat baik padanya. Bahkan, ia masih punya hutang
beberapa ratus ringgit kepadanya untuk membeli sepeda
motor butut, dan Pak Muslim tidak pernah menyinggungnyinggung
hal itu sama sekali.
“Begini Pak,” Suara Zul memecah keheningan. Pak
Muslim langsung mengangkat mukanya dan menatap
Zul penuh perhatian.
Zul merubah sedikit posisi duduknya lalu menyambung
perkataannya,
“Saya minta maaf dan saya menyesal sekali jika
kelakuan saya selama ini buruk. Dan itu membuat tidak
nyaman rumah ini. Saya akui Pak, saya sedang tidak
stabil. Saya berterima kasih sekali atas kesabaran Pak
Muslim dan teman-teman selama ini. Saya juga berterima
kasih atas saran-saran Pak Muslim. Saya telah menimbang
ketiga saran itu. Terus terang saran yang pertama
saya rasakan akan berat bagi saya. Saya kuatir saya akan
semakin jatuh, semakin tidak bisa menahan perasaan
yang mendera hati ini. Adapun saran yang ketiga, saya
juga berat menerimanya, sebab saya masih tetap ingin
menjadi orang baik dan sukses Pak. Saya bersyukur
bertemu dengan orang seperti Bapak dan teman-teman
yang masih mau mengingatkan dan menasihati. Jika saya
pilih yang ketiga, saya rasa saya akan binasa. Dan jika

saya terus begini, Bapak benar, saya akan binasa.
“Maka saya memilih saran yang kedua Pak. Lebih
baik saya menikah saja dengan gadis itu. Dia masih gadis
Pak. Dan baik hatinya.”
Pak Muslim mengangguk-anggukkan kepala.
“Jadi kau benar-benar akan menikahi dia?”
“Iya Pak.”
“Kau mantap?”
“Mantap Pak. Toh sudah saatnya saya menikah.
Sekarang atau besok sama saja, saya harus menikah.”
“Kau siap dengan segala risikonya?”
“Siap Pak. Mas Yahya sudah memberikan gambaran
yang jelas. Bapak tadi juga menambahkan penjelasan.
Saya harus bagaimana jika menikah?”
“Bagus! Itu baru lelaki! Kalau begitu kau harus
semangat, kau akan menikah Zul! Kau akan jadi suami!
Kau akan jadi kepala rumah tangga! Kau akan jadi ayah!
Ayo semangat!”
“Iya Pak! Saya akan bangkit! Saya akan semangat!”
“Bagus! Kenapa tidak begird sejak dulu-dulu itu Zul,
hah!?”
“Jadi Bapak benar-benar mendukung saya menikahi
dia?”
“Menikah kan baik, kenapa tidak saya dukung.
Sudahlah, kapan kau akan menemui dia, aku akan
menemani kalau perlu. Dan kapan kau akan melamarnya?”
“Bagaimana kalau aku temui dia besok Pak?”
“Bagus semakin cepat semakin bagus! Sekarang kau
harus melihat kembali jadwal-jadwalmu. Harus kautata.
Jadwal kuliahmu. Jadwal kerjamu dan lain sebagainya.”
“Iya Pak. Baik!”
“Besok ya berangkat menemui dia?”
“Iya Pak.”

“Jam berapa Zul.”
“Pagi-pagi saja Pak sebelum jam delapan. Dia biasa
berangkat kerja jam delapan.”
“Baik. O ya sebaiknya kau telpon dia dulu. Agar dia
tidak pergi.”
“Baik Pak.”
Pak Muslim gembira melihat Zul kembali ceria.
Orang jatuh cinta memang begitu. Jika harapan bertemu
dengan yang ia cintai datang ia akan hidup pcnuh
semangat dan harapan. Zul sendiri merasakan matahari
kehidupannya yang selama ini redup kini kembali
bersinar terang.
Zul langsung turun ke bawah mencari wartel. Satu
wartel telah buka, ia langsung menghubungi nomor Mari.
Berulang kali nomor itu ia hubungi namun tidak bisa
nyambung. Ia agak kecewa. Ia kuatir Mari ganti nomor.
Ia juga menyesal kenapa selama ini ia ragu-ragu dan
gamang setiap kali mau menghubungi nomor Mari. Tiga
bulan lebih, sejak kejadian percobaan pemerkosaan di
rumah Mari itu, ia tidak berhubungan dengan Mari. Ia
kuatir Mari telah pindah rumah. Tapi ia yakin Mari akan
mudah dicari. Jika pun pindah rumah, teman-teman Mari
pasti masih ada yang tinggal di situ.
Sorenya Zul kembali mencoba mengontak nomor
Mari, tapi tidak berhasil juga. Berkali-kali operator seluler
menjelaskan nomor itu sedang tidak aktif. Zul kembali
ke flat dengan hati kecewa. Namun Zul tetap bersemangat
besok pagi berangkat ke Subang Jaya untuk
menemui Mari dan mengungkapkan isi hatinya. Temanteman
satu rumahnya mendukung langkah yang akan
diambil Zul. Rizal bahkan siap membantu mencarikan
rumah yang harga sewanya murah untuk pasangan
keluarga. Yahya menyemangati Zul untuk bangkit dan
tidak kehilangan semangat.
Malam itu, untuk pertama kalinya Zul tidur dengan
dada terasa lapang. Dan malam terasa segar dan ringan.
Tidak seperti malam-malam sebelumnya yang ia rasakan
terasa sumpek dan berat. Terbitnya harapan yang terang
dalam hati membuat hidup terasa ringan dan menyenangkan.
* * *

Pagi itu ia telah bangun sebelum azan Subuh
berkumandang. Mengetahui hal itu Pak Muslim sangat
bahagia. Zul agaknya mulai mendapatkan kembali
nyawanya. Selesai shalat Subuh Zul dan Pak Muslim
langsung meluncur dengan KTM ke KL Sentral. Dari KL
Sentral mereka naik bus Rapid KL ke Subang Jaya.
Jam tangan Pak Muslim menunjukkan pukul 07.25
ketika mereka turun dari bus dan memasuki kawasan
perumahan
Taman Subang Permai. Hati Zul berdegup kencang
ketika ia merasa semakin dekat dengan rumah Mari.
Sepuluh menit kemudian mereka telah sampai di
depan rumah Mari. Zul agak terkejut. Rumah itu sepi.
Dan di pintu rumah serta di pagar gerbang rumah itu
ada kain kuning yang terbentang bertuliskan: For Sale/
For Rent. Dan ada nomor telpon di bawahnya.
“Ini rumahnya Zul?”
“Iya Pak.”
“Kauyakin.”
“Tak mungkin salah Pak. Itu nomornya 8A.”
“Berarti mereka telah pindah. Dan mungkin telah
lama. Kaubaca kan rumah itu ditawarkan untuk dijual
atau disewa.”
“Iya Pak, terus bagaimana ini Pak?” kata Zul
murung.
“Kau masih bersemangat untuk mencarinya?”
“Tentu Pak. Sampai ke ujung dunia pun kalau perlu.”
“Wah kau ini, jawabanmu itu kayak lakon di film
saja.”
“Tapi aku harus menemukan dia Pak?”
“Gampang. Coba kita tanya tetangga sebelah. Siapa
tahu mereka tahu ke mana pindahnya Siti Martini dan
teman-temannya.”
“Iya Pak.”

Mereka berdua lalu bertanya pada tetangga sebelah
kanan rumah itu. Yang mereka tanya seorang wanita
Melayu setengah baya yang sedang menggendong anak
kecil. Ketika Pak Muslim menanyakan perihal Siti Martini
dan teman-temannya yang pernah tinggal di rumah No.
8A, wanita itu menatap penuh curiga. Pak Muslim
menangkap kecurigaan wanita itu. la menegaskan
bahwa dirinya bermaksud baik, tidak ada maksud jahat.
Wanita itu malah masuk ke dalam rumah tanpa berkata
apapun. Pak Muslim merasa ada yang tidak beres. Dua
menit kemudian wanita itu keluar sambil membawa
koran. la berikan koran itu pada Pak Muslim.
“Sila Encik bace berita itu baik-baik!” kata wanita itu.
Pak Muslim membaca berita di koran yang ditunjukkan
oleh wanita itu. Pak Muslim membaca dengan
seksama dengan wajah dingin. Zul yang berdiri di
sampingnya turut membaca. Baru membaca tiga baris
Zul langsut berkata setengah teriak,
“Tidak mungkin! Tidak mungkin ini terjadi!”
Wanita itu memperhatikan Zul dengan wajah heran
bercampur curiga.
Pak Muslim menuntaskan bacaannya sampai akhir.
“Tenang Zul, ini baca dulu sampai akhir baru kita
pikir dengan jernih,” kata Pak Muslim tenang.
Dan dengan mata berkaca-kaca Zul membaca berita
yang membuat hatinya remuk redam. Dengan jelas ia
membaca nama inisial Siti M yang turut ditangkap pihak
polis. Selesai membaca berita di koran itu airmatanya
meleleh. Dengan suara lirih tertahan ia berkata pada
dirinya sendiri,
“Sia-sia aku menolongnya. Sia-sia aku mencintainya.”
Pak Muslim menukas pelan, “Tenang Zul. Sabar!”
“Seminggu yang lalu polis menangkap mereke.
Mereke semua penghuni rumah itu. Mereke semua
perempuan lacur. Mereke menjadikan rumah itu markas
pelacuran. Sekarang mungkin sedang dibui. Kalau boleh
tahu Encik berdua ini ada hubungan apa dengan mereke
berdua ya?”

Pertanyaan wanita muda itu membuat Pak Muslim
agak tergagap. Ia sempat bingung menjawabnya. Tapi
spontan ia menjawab,
“Dia ini adiknya, salah satu kakaknya ada yang
tinggal di rumah itu. Dia ingin mengetahui keadaan
kakaknya.”
“Aduh kasihan. Kakak awak sekarang di dalam bui.
Ya tapi begitulah semestinya balasan untuk pelacur,
perusak moral masyarakat.”
Hati Zul semakin perih. Ia mengajak Pak Muslim
segera pergi meninggalkan tempat itu. Matahari harapan
yang sempat bersinar di dalam hatinya kini sama sekali
padam. Pak Muslim mengerti dengan kesedihan Zul.
Beliau membesarkan hati Zul dengan berkata,
“Ini skenario Allah yang terbaik Zul. Kau jangan
malah lemah. Kau justru harus kuat. Sekarang fokuskan
untuk belajar. Percayalah Allah akan memberimu ganti
yang lebih baik. Percayalah!”
“Iya Pak, insya Allah ini jadi pelajaran sangat
berharga bagi saya. Doakan saya ya Pak. Dan jangan
bosan menasihati dan membimbing saya.” Jawab Zul
sambil menyeka airmatanya yang meleleh di pipinya.
* * *

Sepuluh
Sudah sepuluh jam Zul di Perpustakaan Akademi
Pengajian Islam Universiti Malaya. Sejak jam delapan
pagi sampai jam lima sore. Matanya terasa berat.
Kepalanya seperti berdenyut. Inilah hari kelima ia
memenjarakan diri di perpustakaan. Empat hari
sebelumnya di Perpustakaan Fakulti Pendidikan.
Hari ini ia berada di Perpustakaan Akademi Pengajian
Islam untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan kecil
penulisan ayat dan hadis. Ia menulis tentang pendidikan
pesantren dan dampaknya terhadap kedewasaan berpikir
masyarakat Indonesia. la menyempitkan wilayah
kajiannya pada pesantren-pesantren di Pati. la sudah
bertekad tesisnya harus selesai ia perbaiki dalam satu
minggu. Para guru besar yang menilai tesisnya memberi
catatan agar ia memperbaiki tesisnya dalam waktu satu
bulan.
Perpustakaan Akademi Pengajian Islam itu telah sepi.
Di lantai dua hanya tinggal dirinya saja. Petugas
perpustakaan telah mengumumkan dua puluh menit lagi
perpustakaan tutup. Zul berdiri sejenak. Ia menggerakkan
tubuhnya dengan memutar kedua tangan ke
kiri dan ke kanan. Kepalanya ia jatuhkan ke kiri dan ke
kanan. Setelah itu ia merapikan buku-buku yang baru
saja ia baca. Kertas-kertas berisi catatan-catatan penting
untuk memperbaiki tesisnya ia periksa sesaat. Lalu ia
masukkan ke dalam map plastiknya. Setelah merasa tidak
ada yang ganjil ia turun ke bawah.
Di bawah, keadaan sudah sepi. Yang ada adalah
petugas perpustakaan empat orang dan dua orang gadis
melayu yang juga sedang berkemas dan siap pergi. Che
Mazlan, petugas perpustakaan paling ramah menyapanya
dengan tersenyum,
“Sudah ketemu semua yang dicari Ustadz?”
Karena memakai kopiah putih Zul dipanggil Ustadz.
Ia hanya menjawab dengan senyum dan menganggukkan
kepala dengan ramah. Kepalanya mulai terasa pening. Ia
berjalan ke tempat meletakkan tas. Mengambil tasnya.

Memasukkan map plastiknya ke dalam tas. Dan
melangkah keluar. Ia lihat jam tangannya.
“Ashar baru mau masuk.”
la merasa harus segera mengisi perutnya yang sejak
pagi hanya terisi sepotong roti canai dan segelas air putih.
Ia bergegas turun ke tempat parkir. Sepeda motor tuanya
begitu setia menunggunya. la ambil helm. Dan beberapa
jurus kemudian dengan pelan namun pasti Honda butut
itu membawanya meluncur ke kanlin kolej 12.
Sore itu kantin kolej 12 padat pengunjung. Kantin yang
dikenal paling murah di seluruh kawasan Univesiti Malaya
itu begitu hidup. Padat bergairah, namun tetap rapi dan
bersih. Ada lima belas cafe dan kedai. Sore itu semua buka.
Bisa dipastikan sembilan puluh sembilan persen
pengunjungnya
adalah mahasiswa. Termasuk dirinya. la memilih
SR Cafe, atau Sila Rasa Cafe. la ambil nasi, sayur kangkung,
ayam goreng dan sambal. Seorang penjaga SR Cafe
berkerudung coklat muda bertanya, “Minum apa Dik?”
“Teh O14 panas Kak.” Jawabnya sambil meletakkan
piringnya yang penuh nasi dan lauk. la memang
mengambil nasi dengan porsi banyak. Sebab ia merasa
sangat lapar. Sepuluh jam duduk serius di perpustakaan
telah membuat tenaganya terasa terkuras habis.
“Berapa Kak? Tambah minum Teh O panas,”
tanyanya pada kasir.
“Empat ringgit dua puluh sen.”
Ia keluarkan lima ringgit. Lalu kasir berwajah bulat
berkerudung putih itu memberinya uang kembali. Tiga
keping uang logam. Lima puluh sen, dua puluh sen, dan
sepuluh sen. Total delapan puluh sen.
14 Teh O = Teh murni tanpa susu atau campuran lainnya. Jika
pesan dengan
menyebut teh saja tanpa bilang O akan diberi teh tarik. Teh
tarik adalah teh
campur susu yang dikocok.

Zul melangkah mencari tempat yang kosong. Ia
lemparkan pandangan matanya ke segenap arah.
Hampir semuanya terisi. Di pojok sebelah kanan tampak
sepasang mahasiswa China meninggalkan tempatnya.
Ia segera bergegas ke sana. Ia melangkah cepat. Jika tidak
ia kuatir akan didahului orang lain. Piring bekas makan
mahasiswa China ia singkirkan dengan tangan kiri.
Sementara tangan kanannya masih memegang piringnya.
Seorang petugas kantin agaknya tahu ketidaknyamanannya.
Petugas itu dengan sigap langsung membersihkan
meja itu. Ia letakkan tasnya di atas meja, lalu
piringnya. Meja berwarna putih itu dikelilingi empat kursi
alumunium. Ketika hendak menyantap ia teringatbelum
mengambil minumannya. Ia kembali ke SR Cafe dan
mengambil Teh O-nya. Mejanya masih utuh, belum ada
yang menempati.
Zul mulai makan dengan lahap. Ia merasakan
kenikmatan luar biasa.
“Hmm benar kata pepatah China, rasa lapar adalah
koki paling hebat di dunia.” Lirihnya pada diri sendiri.
Sesekali ia melongokkan kepala memandang ke kiri dan
ke kanan. Melemparkan pandangan kalau-kalau ada
mahasiswa Indonesia yang ia kenal. Namun ia rasa agak
aneh, sore itu dari sekian pengunjung tidak ada satu pun
mahasiswa Indonesia yang ia kenal. Bahkan si Edy, si
Gugun, si Rizal dan si Emil yang biasanya ada di kantin
Kolej 12 pada jam seperti itu pun tidak ada.
Ia terus makan. Seorang mahasiswi berwajah India
hendak minta ijin untuk duduk di depannya. Tampaknya
mahasiswi itu agak ragu. Mahasiswi itu tidak jadi duduk
satu meja dengannya. Mahasiswi itu memilih mencari
tempat yang lain.
Sambil makan ia tenggelam dalam lamunannya. Ia
melamun tentang masa depannya. Selesai master ia harus
bagaimana? Langsung pulang ke Indonesia dan mencari
peluang kerja atau usaha, ataukah langsung saja
melanjutkan studi mengambil program doktor? Kalau
pulang ke Indonesia, di mana ia akan pulang? Ke tempat
siapa? Ia merasa sudah tidak memiliki siapa-siapa. Sejak

kecil ia tidak melihat ayah dan ibunya.
Menurut cerita Pakdenya, ibunya yang bodoh
adalah korban penipuan. Ibunya kerja di sebuah pabrik
di Semarang. Di tempat kerjanya ia kenal dengan
seorang lelaki. Lelaki itu mengaku dari Lampung. Ibunya
terpikat oleh penampilan dan mulut manis lelaki itu.
Ibunya ikut saja ketika lelaki itu mengajaknya menikah
secara siri. Asal sah menurut syariat tapi belum dicatat
secara resmi di KUA. Pakdenya sebagai wali satu-satunya
tidak menyetujui. Pakdenya menginginkan kalau
menikah ya menikah serius. Diumumkan terangterangan
dan dicatat secara resmi di KUA. Namun lelaki
itu beralasan, keluarga besarnya harus datang ke Demak
jika nikah besar-besaran. Dan ia masih harus mengumpulkan
biaya unruk itu. Nikah siri adalah solusi agar
hubungan dua insan itu halal.
Ibunya yang sudah cinta mati pada lelaki itu
mendukung nikah siri. Ibunya bahkan mengancam akan
bunuh diri jika Pakdenya tidak merestui. Akhirnya
Pakdenya terpaksa menikahkan ibunya dengan lelaki itu
secara siri. Lelaki itu hidup satu rumah dengan ibunya
selama dua bulan. Setelah itu ia pamit pergi ke Lampung
untuk menjenguk keluarganya. Dan ternyata tidak
kembali. Padahal saat itu ibunya tengah hamil. Pakdenya
mencoba mencari lelaki itu di Lampung. Di alamat yang
ada di KTP yang ditinggalkan di Lampung. Ternyata
alamatnya fiktif. Ibunya stres. Kesehatannya menurun.
Dan meninggal saat melahirkan dirinya.
Sejak itu ia ikut Pakdenya. Pakdenyalah yang ia
sebut dengan panggilan ayah. Ia bahkan tidak tahu nama
ayahnya. Ketika ia tanya sama Pakdenya nama ayahnya,
Pakdenya memberikan KTP yang ditinggalkan ayahnya.
Disitu tertulis sebuah nama. Tapi Pakdenya yakin nama
itu pun fiktif, alias samaran. Ia merasa tidak punya ayah.
Namun ia merasa sedikit tenang bahwa ia terlahir dari
hubungan yang halal. Dengan menikah. Meskipun
ayahnya menikahi ibunya dengan menipu.
Dengan tidak mengenal ayahnya sejak kecil ia
merasa bahagia karena tidak mendapatkan didikan

untuk menipu. Sejak kecil ia dididik oleh Pakdenya untuk
jujur dan bertanggung jawab.
Selama ini yang ia anggap sebagai keluarga ya
Pakdenya. Tapi Pakde yang bertalian darah dengannya
sudah meninggal. Pakde yang telah ia anggap sebagai
ayahnya sendiri itu telah tiada. Sebenarnya ia telah
menganggap Budenya adalah ibunya sendiri. Namun
setelah Budenya itu menikah lagi, ia merasa menjadi asing
dan tidak enak jika ke rumah Budenya. Apalagi Budenya
sudah tidak lagi menempati rumah yang dulu, tapi kini
telah pindah ke rumah suaminya yang baru. Pindah
bersama seluruh anak-anaknya. Rumah Budenya yang
lama, tempat di mana ia menghabiskan masa kecilnya ia
dengar telah dijual. Jika ia hendak pulang ke Indonesia ia
mau pulang ke mana? Ia merasa tidak punya siapa-siapa.
Dan jika ia terus lanjut program Ph.D, apakah ia akan
hidup dengan cara seperti ini terus. Hidup dengan cara
sapi perah. Hidup di Kuala Lumpur dengan tanpa
mengenal istirahat. Hidup untuk bekerja sambil belajar.
Itu yang ia rasakan. Jujur saja. Bisa saja ia mengatakan
ia bekerja untuk hidup dan bekerja untuk belajar. Tapi ia
merasa sepertinya telah diatur oleh waktu untuk bangun
pagi, lari ke sana, lari ke sini. Bekerja di sana. Bekerja di
sini. Waktu seolah telah memprogramnya begitu, agar
ia bisa bertahan hidup. Seolah jika ia menyalahi program
waktu itu, hidupnya terancam. Ia terancam tidak bisa
membayar sewa rumah, terancam tidak bisa makan,
terancam tidak bisa membayar uang kuliah, dan
terancam tidak bisa menata hidup lebih layak di masa
depan. Ia selalu berusaha menyembuhkan kelelahannya
dengan menghibur diri: inilah proses merubah takdir.
Kata-kata yang selalu ia gumamkan saat didera
keletihan itulah yang menguatkannya. Ia merasa sejak
kecil ditakdirkan untuk menderita. Namun ia merasa
Allah tetap menyayanginya. Ia yakin Allah telah
menyiapkan banyak jalan dan sebab untuk merubah
takdir. Ia yakin dengan usaha yang gigih Allah akan
merubah takdirnya. Itulah yang menguatkan dirinya.
Namun seringkali ia berpikir, apakah dirinya telah tepat
mengambil jalan dan sebab dalam mengubah takdir.

Sejak lulus SMA di Sayung Demak, ia telah berusaha
keras. Merantau ke Semarang, membanting tulang di
Semarang. Sambil bekerja apa saja di Semarang ia
berusaha tetap kuliah. Akhirnya selesai juga S.l-nya. Ia
meraih gelar S.Pd. dari IKIP PGRI. Namun meraih gelar
S.Pd. ia rasakan belum juga merubah nasibnya. Ia tetap
harus bekerja sebagai penjaga parkir di Pasar Johar jika
ingin tetap bisa makan. Ia bekerja bersama mereka yang
bahkan hanya lulus SD. Ia bahkan sering dijadikan
bahan olok-olokan oleh teman-temannya, “Kalau hanya
jadi tukang parkir ngapain kuliah sampai sarjana.”
Ya ia sarjana, tetapi bosnya hanyalah lulusan SD.
Ia lalu berpikir untuk hijrah. Pindah. Mencoba
peruntungan baru. Hijrah dari satu takdir ke takdir yang
ia anggap lebih baik. Ia nekat ke Jakarta.Di Jakarta ia
merasa tidak mendapatkan apa yang ia cari. Sama saja.
Ia masih tetap menjadi buruh kasar. Ia merasa tak ada
gunanya ia kuliah. Hanya empat bulan ia bertahan di
Jakarta. Ia lalu nekat merantau ke Batam. Banyak yang
bercerita Batam adalah cara cepat merubah nasib. Di
Batam banyak pekerjaan dan banyak uang. Di Batam ia
merasa menemukan takdir yang tak jauh berbeda.
Namun ia merasa harus bersyukur, di Batam ia bertemu
dengan seorang sosok yang tulus. Namanya Pak Hasan.
Dialah orang yang mengarahkannya merantau ke negeri
Jiran ini dan menyemangatinya untuk menuntut ilmu
yang lebih tinggi.
“Kamu masih muda, seberangilah lautan ini. Dan
tuntutlah ilmu ke jenjang yang lebih tinggi di sana.
Hanya dengan ilmulah seseorang akan lebih mudah
memperbaiki nasibnya. Jangan kuatir, Allah akan
membukakan pintu rahmat-Nya untukmu. Di sana, asal
adik gigih dan terus ingat Allah, kamu akan tetap survive.
Percayalah kamu akan sukses. Percayalah dengan ilmu
derajatmu akan diangkat oleh Allah! Dan dalam setiap
langkahmu, berpegangteguhlah kamu pada Al-Quran,
niscaya kamu akan sukses!” Begit kata Pak Hasan
padanya waktu itu, seraya memberikan mushaf kecil Al-
Quran.

Ia merasa tak boleh berhenti untuk merubah nasib.
Ia harus terus berusaha. Dan dengan modal seadanya,
dengan nekat yang disertai sebuah tekad ia merantau ke
negeri Jiran ini. Dengan berdarah-darah ia akhirnya bisa
tetap hidup dan bisa kuliah pascasarjana. Dan kini ia
sudah diambang pintu kelulusan. Tak lama lagi ia akan
menyandang gelar M.Ed, atau Master of Education
dalam bidang Sosiologi Pendidikan. Gelar yang keren.
Di desanya, ia mungkin satu-satunya orang yang meraih
gelar M.Ed, dari sebuah universitas terkemuka di luar
negeri. Menyadari kenyataan itu bukannya ia bangga,
justru dadanya kini sesak.
Ia memang bahagia lantaran ia akan segera lulus S.2.
Keseriusannya memfokuskan diri pada kuliah dan
kerja—usai membaca berita tentang penangkapan Siti
Martini dan kawan-kawannya—telah menampakkan
hasil. Ia hanya perlu waktu empat semester saja untuk
menyelesaikan S.2-nya. Satu bulan lagi, begitu tesisnya
ia perbaiki bisa dikatakan ia telah berhasil meraih gelar
master.
Namun ia merasa ada yang menyesak di dadanya.
Ia merasa masih juga hidup dengan cara bertahan dengan
kekuatan otot. Ilmu Sosiologi Pendidikannya ia rasakan
belum juga bermanfaat baginya. Yang paling akrab
dengannya masih juga kerja-kerja yang mengandalkan
otot. Belum kerja profesional yang mengandalkan otak.
Jika ia hitung, rata-rata ia harus bekerja dua belas jam
setiap hari. Dan ia harus menempuh jarak tak kurang
dari dua puluh kilo setiap hari. Selesai kuliah setiap
malam ia harus tiba di Jamaliah Cafe tepat jam sembilan
malam dan pulang jam dua malam. Di antara sekian
pelayan restoran hanya dia seorang yang calon master.
Rata-rata mereka hanya tamat SMA. Sedangkan sang
pemilik restoran hanya lulusan D2 dari sebuah institut
tidak terkenal di Shah Alam.
Ia bertanya pada diri sendiri, apakah jika ia
melanjutkan Program Ph.D., ia juga akan tetap seperti
ini. Bertahan dengan cara seperti ini. Bahkan ketika telah
meraih gelar Ph.D. juga akan tetap bertahan hidup
dengan cara seperti ini. Dan jika ia pulang ke Indonesia

dengan gelar doktor, akankah ia tetap akan bekerja
sebagai kuli panggul di pabrik atau kerja otot lainnya?
Atau, ia justru akan masuk dalam daftar panjang
para pengangguran yang hidup tak mau mati pun
segan? Ia teringat kata-kata Doktor Nyatman, salah satu
putra terbaik Indonesia yang kini bekerja di sebuah
perusahaan farmasi di Selangor,
“Di Indonesia, doktor yang menganggur sudah mulai
banyak. Bahkan doktor yang memiliki kualifikasi
keilmuan yang hebat sekalipun. Banyak putera bangsa
yang berprestasi, bisa menyelesaikan doktor dan
memiliki prestasi gemilang bertaraf internasional tapi
sama sekali tidak diapresiasi di Tanah Air. Saya punya
kenalan seorang doktor lulusan Jepang yang cemerlang
dan mendapat banyak penghargaan internasional atas
riset-risetnya yang brilian, namun sama sekali tidak
dihargai di Indonesia. la melamar ke pelbagai universitas
negeri di Indonesia dan tak ada satu pun yang menerima.
Di Indonesia penjilat dan penjahat lebih dihargai daripada
ilmuwan dan pahlawan.”
Ada nada marah dan pesimis dalam kata-kata Doktor
Nyatman. la merasakan Doktor Nyatman seolah-olah
menjaga jarak dari Indonesia. Bahkan seolah-olah sudah
merasa bukan lagi orang Indonesia. la mengatakan orang
Indonesia dengan sebutan “mereka”, dan menyebut
pemerintah Indonesia dengan sebutan “pemerintah
mereka”, bukan pemerintah kita. Karena ia hidup di
Malaysia, apakah ia merasa lebih nyaman menjadi orang
Malaysia dan tidak lagi merasa menjadi orang Indonesia?
Ataukah ia sudah malu menjadi orang Indonesia? Kenapa
Doktor Nyatman menyampaikan itu semua kepadanya?
Apakah supaya dirinya takut hidup di Indonesia?
Ataukah supaya dirinya benar-benar siap menghadapi
beratnya tantangan hidup di Indonesia? Atau bukan itu
semua, tapi hanya sebuah ungkapan kejengkelan seorang
putra bangsa yang disia-siakan oleh bangsanya sendiri,
sampai ia harus mengais sesuap nasi di negeri orang.
Padahal gelar doktor dari Jerman telah ia sandang.
Jawabnya: Allahu a’lam.

Yang jelas ia sedang berpikir keras, bagaimana takdir
hidupnya segera cepat berubah. Ia merasa sudah terlalu
lama ia bersabar mati-matian berproses untuk membuka
lembaran hidup yang lebih baik. Yang ia pikirkan apakah
ia salah mengambil sebab dan jalan yang disiapkan
Tuhan? Kenapa ada orang yang hanya cukup bekerja
empat jam saja, di dalam tempat yang nyaman pula, dan
hajat hidupnya tercukupi semua. Bahkan berlebih dan
bisa membantu dan menolong sesama. Bangun pagi
tersenyum, siang tersenyum, malam tersenyum dan tidur
pun tersenyum.
Kenapa ada negara yang benar-benar mandiri, bisa
memakmurkan rakyatnya dan menjaga kehormatan
bangsanya di mata dunia? Negara itu kecil, tidak memiliki
kekayaan alam apa-apa. Tapi ia bisa mengendalikan
negara sekitarnya bahkan memanfaatkannya. Sementara
itu di sisi lain, ia lihat sendiri—bahkan ia mengalami
sendiri—ada orang yang nyaris hidupnya ia gunakan
untuk bekerja. Ia bekerja nyaris dua puluh empat jam
penuh, namun ia tetap juga sengsara. Hidupnya nyaris
tak pernah bahagia. Padahal ia ulet luar biasa.
Ah, ia jadi teringat para petani di desanya. Ia teringat
Kang Darsuki. Betapa luar biasa etos kerjanya. Ia selalu
bangun jam tiga pagi, jauh sebelum Subuh. Membantu
menyiapkan dagangan sang isteri untuk dijual ke pasar.
Saat Subuh tiba ia dan isterinya telah berada di pasar. Ia
shalat Subuh di pasar. Lalu bergegas pulang, sementara
sang isteri berjualan hasil ladang di pasar. Setelah
mengurus anaknya yang masih SD, ia langsung ke
sawah. Ia biasanya bekerja di sawah sampai jam setengah
lima sore. Malam harinya ia gunakan untuk bekerja
membuat kursi. Selain sebagai petani ia juga dikenal
sebagai seorang pembuat kursi. Namun sampai ia
meninggal dunia karena penyakit typus akut, rumahnya
masih berdinding bambu dan beratap seng bekas. Dan
belum memiliki kamar mandi dan WC yang layak.
Di mana letak salahnya?
Kenapa petani Indonesia seolah harus terus miskin,
sementara petani dari negeri Jiran saja bisa makmur dan
menyekolahkan anaknya ke London? la lalu teringat

pada dirinya sendiri. Kenapa ia yang sebentar lagi selesai
master masih saja menggantungkan hidup dari mencuci
piring di cafe dan restoran, sementara temannya dari
Pahang yang juga calon master sudah memiliki dua
perusahaan, dan satu kebun kelapa sawit seluas seribu
hektar di Sumatera. Ya di Sumatera, Indonesia. Bukan
di Melaka Malaysia.
* * *
“Maaf Bang, boleh saya duduk kat sini?” Suara
seorang perempuan membuyarkan lamunannya. Ia
memandang ke arah suara. Seorang gadis Melayu berdiri
di depannya. Tangan kanannya memegang piring berisi
makanan dan tangan kirinya memegang gelas berisi
minuman berwarna cokelat. Bisa susu cokelat atau Milo.
Bisa juga teh tarik.
“Em…silakan.” Jawabnya sambil mengambil tasnya
dari atas meja dan meletakkannya di atas kursi yang ada
di samping kanannya.
Gadis itu langsung meletakkan piring dan gelasnya
di atas meja. Gadis itu tidak membawa tas. Dengan
gerakan yang lembut gadis itu duduk lalu makan. Gadis
itu makan dengan menunduk. Ia tidak mempedulikan
sama sekali gadis di hadapannya itu. Ia melanjutkan
melahap nasi dan lauk yang masih tersisa di piringnya.
Setelah nasinya habis, ia meneguk teh O panasnya teguk
demi teguk. Ia merasakan kehangatan menjalar ke
seluruh tubuhnya. Kehangatan itu juga mengaliri syarafsyaraf
kepalanya. Dan perlahan rasa peningnya
memudar dan hilang.
Tanpa terelakkan ia sempat juga memperhatikan
gadis di depannya, yang sedang lahap makan. Gadis itu
memiliki tahi lalat di dagu sebelah kiri. Paras wajahnya
memancarkan pesona khas gadis Melayu. Baju kebaya
panjang berwarna biru muda membalut tubuhnya. Ia
tidak memakai jilbab. Rambutnya tergerai sebahu.
Rambut itu hitam pekat dan berkilau indah.
Zul merasa ada yang janggal dengan cara makan

gadis itu. Gadis itu makan dengan tangan kirinya.
Sementara tangan kanannya ia gunakan untuk memegangi
hand phone yang ia tempelkan ke telinga
kanannya. Bahkan ketika sudah selesai bicara pun gadis
itu tetap makan dengan tangan kiri dan tangan kanannya
dibiarkannya tidak bekerja. Ia merasa harus meluruskan
kejanggalan itu.
“Maaf Dik, boleh saya cakap sesuatu,” katanya tegas
pada gadis itu.
Gadis itu menghentikan makan dan memandang ke
arahnya. Gadis itu menganggukkan kepala mengiyakan.
“Adik seorang Muslimah?”
Gadis itu kembali menganggukkan kepala.
“Maaf, ini hanya pelurusan kecil saja. Agar makan
dan minum adik benar-benar barakah, sebaiknya adik
makan dan minum memakai tangan kanan. Tidak
memakai tangan kiri. Itu cara minum yang tidak disukai
Rasulullah Saw. Maaf saya tidak bermaksud apa-apa
kecuali kebaikan.”
Muka gadis itu sedikit memerah.
“Terima kasih atas nasihatnya. Tapi kenapa Abang
pedulikan saya? Apa Abang tidak punya urusan yang
lebih penting?”
Agaknya gadis itu tersinggung.
“Sekali lagi maafkan saya Dik, jika ini mengganggu
kenyamanan adik. Saya tidak bermaksud apa-apa.
Hanya entah kenapa saya merasa hati ini tidak bisa diam
setiap kali melihat ada sesuatu yang kurang pas. Sekali
lagi maafkan saya, saya hanya ingin cara makan adik
sesuai dengan sunnah Rasul. Itu saja. Tak ada maksud
lain. Itu pun kalau adik berkenan.”
Zul bangkit dari kursinya dan bergegas ke sepeda
motornya yang terparkir tak jauh dari tempat makan.
la sama sekali tidak mempedulikan reaksi gadis itu. Yang
ada dalam benaknya adalah segera sampai rumah.
Istirahat sebentar. Mandi. Menunggu Maghrib. Dan
selepas shalat Maghrib kembali memperbaiki tesisnya.
Malam nanti ia akan kerja lembur untuk tesisnya. la telah

ijin tidak kerja di Cafe Jamalia.
Dengan tenang Zul menaiki motor bututnya, dan
melenggang meninggalkan kantin kolej 12. Ia sama sekali
tidak menyadari bahwa gadis Melayu itu terus memperhatikan
dirinya sampai ia hilang dari pandangan gadis
itu.
* * *
Sebelas
Waktu terus berjalan, menghasilkan pergantian jam.
Menghasilkan siang dan malam. Menghasilkan sejarah
kehidupan dan kematian. Sejarah orang-orang yang gagal
dan sejarah orang-orang yang berhasil. Sejarah orang-orang
yang malang dan sejarah orang-orang yang beruntung.
Waktu terus berjalan. Setiap detik selalu ada
perubahan. Ya, waktu terus berjalan tanpa henti.
Zul termenung di kamarnya memikirkan waktu
yang ia lalui dan perubahan-perubahan yang ia alami.
Alangkah cepat waktu berjalan. Dan alangkah cepat
umur berkurang. Ia merasa seperti baru kemarin ia lulus
SD, terus SMP, terus SMA. Kenangan-kenangan saat di
SMA terbayang di depan mata. Ia seolah ada di dalamnya.
Perubahan terasa sangat cepat. Ia menyadari bahwa ia
ternyata sudah dua tahun lebih di Malaysia. Ia sudah
selesai S.2.
Sepertinya baru kemarin ia masuk flat itu diantar oleh
Pak Rusli. Lalu berkenalan dengan Sugeng, Yahya, Arif,
Rizal dan Pak Muslim. Sekarang mereka sudah tidak ada
lagi di flat itu bersamanya. Sugeng sudah selesai setengah
tahun yang lalu dan kini mengajar di STAIN Kendari.
Yahya sedang menempuh program Ph.D., ia kini tinggal
di Sigambut bersama isterinya. Arif sudah selesai
masternya dan kini bekerja di sebuah Bank Syariah di
Semarang. Rizal juga sudah selesai, ia mendirikan
penerbitan di Bandung. Pak Muslim sudah menyelesaikan
doktornya dan telah kembali mengajar di UNY.
Orang yang dulu satu rumah dengannya telah

meninggalkannya. Kini ia tinggal bersama adik-adik
yang lebih muda yang baru datang. Tak terasa. Ia sudah
mulai merasa semakin tua. Umurnya sudah mendekati
kepala tiga. Sugeng, Yahya, Arif dan Rizal semuanya
sudah berkeluarga. Hanya dirinya yang belum. Semua
sudah mengamalkan dan membagi ilmunya. Hanya ia
seorang yang ia rasa belum. Ia masih saja seperti dulu.
Bekerja di cafe dan restoran. Ia masih memikirkan
tentang nasibnya yang ia rasa belum mengalami
perubahan. Ia gelisah. Akan ia bawa ke mana gelar M.Ed.nya?
Apakah hanya untuk memperpanjang namanya
saja. Biar tampak ada gelar di belakangnya?
Hari itu jam tiga siang ia merasa harus silaturrahmi
ke rumah Yahya. Ia ingin mendiskusikan kegelisahannya.
Ia harus mengakui terkadang ia merasa sangat jauh dari
dewasa. Ia merasa belum bisa berpikir tenang dan jauh
ke depan seperti Yahya. Ia juga sering bertanya pada
dirinya sendiri apakah kegelisahannya seperti itu
termasuk tanda-tanda tidak menyukuri nikmat Tuhan?
Bukankah Tuhan telah banyak merubah dirinya. Dari
orang jalanan yang terbuang dari kota ke kota menjadi
orang yang hidup tenang. Dari orang yang pernah nyaris
binasa karena dibelenggu oleh syahwat cinta menjadi
orang yang merdeka.
Ketika ia sampai di rumah Yahya ia langsung
menyampaikan kegelisahannya. Yahya menjawab,
“Bersabar dan bersyukurlah Saudaraku. Jangan
tergesa-gesa. Tetaplah sabar dan istiqamah dalam
berusaha. Syukurilah apa pun karunia yang dilimpahkan
oleh Allah. Jangan kau mendikte Allah. Jangan kau
berprasangka buruk pada Allah. Allah-lah yang
Mahatahu yang terbaik untuk kita. Apa yang menurut
kita baik belum tentu baik menurut Allah. Dan apa yang
menurut kita tidak baik belum tentu tidak baik menurut
Allah. Apa yang kita sukai belum tentu itu baik bagi kita.
Dan apa yang kita benci belum tentu tidak baik bagi
kita.
“Bisa jadi, sampai saat ini kau masih bekerja di cafe,
karena itu memang yang terbaik. Bisa jadi setelah itu

akan ada hikmah yang luar biasa bagimu. Yang paling
penting bersabar dan bersyukurlah. Optimislah. Dan
berprasangka baiklah kepada Allah.”
Zul merenungkan perkataan sahabatnya itu.
Yahya mempersilakannya untuk mencicipi agar-agar
buatan isterinya. Zul mengambil satu dan memuji,
“Agaragarnya
enak.”
Spontan Yahya menjawab, “Makanya segera
menikah, biar ada yang membuatkan agar-agar.”
“Kalau kau ada calon untukku boleh Ya. Aku merasa
sudah tiba saatnya. Orang satu rumah kita dulu sudah
menikah semua. Hanya aku saja yang belum.”
“Kau serius Zul.”
“Serius.”
“Kalau orang Malaysia bagaimana?”
“Kalau salehah kenapa tidak?”
“Ini serius lho Zul.”
“Ya pasti seriuslah Ya. Masak aku main-main.”
“Baik. Ini ada calon. Orangnya baik. Aku berani
jamin. Dulu dia teman isteriku waktu kuliah di
Birmingham. Dia Muslimah yang taat. Tidak pernah
menanggalkan jilbab. Bagaimana?”
“Boleh saja. Cuma aku kuatir kalau aku mau dan
dianya tidak mau.”
“Bagaimana kalau sebaliknya. Ternyata dianya mau
malah kau yang tidak mau.”
“Kayaknya itu kemungkinan kecil Zul. Kalau kau
sudah berani menjamin baik, masak sih aku tidak mau.
Siapa namanya kalau boleh tahu?”
“Laila Abdurrahman.”
“Kau mau ta’aruf serius dengannya Zul.”
“Wualah tho Ya, Yahya. Berapa kali lagi kau akan
tanya tentang keseriusanku. Baiklah, aku serius Ya.”
“Kalau begitu kau besok datanglah ke masjid kampus

UKM15 Bangi jam 3 sore. Kau akan aku temukan
dengannya insya Allah.”
“Baik.”
* * *
Hari berikutnya Zul berangkat ke Bangi naik KTM
dari Pantai Dalam sampai UKM lalu naik bus mini
kuning ke masjid kampus UKM. Yahya ternyata sudah
menunggu di masjid. Begitu ia sampai ia langsung diajak
ke Fakulti Ekonomi. Ia dibawa ke auditorium. Di sana
ada seminar membahas dua judul proposal disertasi
doktor. Dua orang mahasiswa program doktor dari
Malaysia mempresentasikan judul proposal disertasi
mereka di hadapan dosen dan guru besar.
Zul dan Yahya duduk agak di belakang. Satu per
satu kandidat doktor itu mempresentasikan kajiannya.
Ada empat profesor yang menilai dan mengkritisi. Di
antara empat profesor itu ada profesor madya perempuan
yang tampak masih muda dan cantik. Dialah yang
menjadi artis di ruangan itu. Zul diam-diam tersihir oleh
keanggunan dan kecerdasan profesor itu.
“Ya, perempuan Malaysia ada yang hebat juga ya.
Itu yang di depan itu. Masih muda sudah profesor madya.
Canggih betul.”
” Kau tahu itu siapa?”
15 Universiti Kebangsaan Malaysia.
“Siapa Ya?”
“Itulah orang yang akan aku kenalkan denganmu.”
Zul kaget bagai disambar petir.
“Weh, yang benar Zul. Kau jangan bercanda Zul.
Masak jauh-jauh datang kemari hanya untuk bercanda?”
“Aku tidak bercanda Zul. Aku serius. Dia itu namanya
Prof. Madya Datin Laila Abdul Majid, Ph.D. Dia
menyelesaikan S.2 dan S.3-nya di Birmingham. Satu

kelas dengan isteriku saat S.2. Hanya saja isteriku pulang
ke Indonesia setelah selesai S.2-nya, sedangkan dia
langsung lanjut S.3. Kata isteriku, ketika di Birmingham
dia termasuk mahasiswi yang disanjung banyak dosen
karena kecerdasannya. Itulah kelebihan yang dia miliki.
Bagaimana Zul, mau dilanjutkan apa tidak? Terus terang
aku tidak bilang apa-apa padanya. Kalau mau nanti kita
datangi dia dan kita ngobrol santai saja. Bagaimana?”
“Lanjut Ya.”
“Okay, kau juga harus tahu kekurangannya, kalau
ini dibilang kekurangan, dia itu sudah janda. Sudah
pernah mau punya anak tapi keguguran. Dia janda
karena suaminya meninggal dunia. Bagaimana Zul?
Dilanjutkan apa tidak?”
Zul berpikir sejenak. Lalu menjawab,
“Dilanjutkan.”
“Baik.” Jawab Yahya sambil tersenyum.
Setelah seminar selesai Yahya bangkit. Isteri Yahya
ternyata juga ada di ruangan itu. Isteri Yahya menyalami
Prof. Datin Laila. Keduanya berangkulan mesra. Lalu
Yahya menyapa seraya memperkenalkan Zul. Mereka
berempat lalu berbincang-bincang sambil berdiri
beberapa saat. Prof. Darin Laila sangat ramah dan murah
senyum. Zul terpesona dengan aura kemelayuannya.
Mereka berbincang tidak lama, sebab waktu shalat
Ashar tiba. Prof. Datin Laila minta diri ke ruangannya.
Yahya dan isterinya serta Zul bergegas ke masjid dengan
mobil Yahya. Di perjalanan isteri Yahya menjelaskan
bahwa Laila adalah teman akrabnya saat di Birmingham.
Beberapa bulan lalu Laila meminta padanya
kalau punya calon yang sesuai untuknya. Orang
Indonesia tidak apa-apa. Hari itu Zul seperti mimpi. la
seperti tidak percaya kalau calon yang dikenalkan
dengannya adalah seorang Datin Laila yang ia rasakan
lebih dari seorang bidadari.
“Tapi Datin Laila belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu

kalau ada orang Indonesia yang melihatnya dan berniat
ta’aruf dengannya. Besok baru aku akan jelaskan
padanya. Apa kira-kira reaksi dan tanggapan dia. Semoga
seperti yang kita harapkan. Kalau melihat suami dia
dahulu juga dari kalangan orang biasa. Bukan dari
kalanganbangsawan,” kata isteri Yahya.
“Insya Allah, kalau ini jodohmu tidak akan lari ke
mana-mana Zul.” Sambung Yahya.
Zul mengamini dalam hari berharap semoga surga
itu telah ia rasakan di dunia.
Setelah shalat Ashar mereka pulang meninggalkan
kampus UKM. Yahya dan isterinya membawa mobil. Zul
naik bus kuning. Yahya menawarkan padanya untuk
satu mobil, tapi Zul ingin berkunjung ke rumah seorang
kenalannya bernama Ardan di Hentian Kajang.
Zul naik bus mini kuning ke Hentian Kajang.
Ongkosnya cuma tujuh puluh sen. Sepuluh menit
kemudian bus itu sudah sampai di Hentian Kajang. Zul
berjalan ke kanan menuju tempat duduk para penumpang.
Ketika ia melewati tempat itu, sekonyong-konyong
ada seorang wanita berjilbab yang memanggilnya dengan
keras.
“Zul! Mas Zul!”
Ia menghentikan langkah dan menoleh ke arah suara.
Seorang wanita berjilbab dengan wajah gembira
melangkah ke arahnya. Ia mengamati dengan seksama,
mencoba mengingat-ingat.
“Lupa ya sama saya? Pasti lupa?” kata wanita itu
sambil tersenyum.
“Siapa ya? Agak lupa-lupa, ingat,” jawab Zul.
“Sudah terlalu sibuk dan sudah lama sekali tidak
bertemu jadi kau lupa. Sangat wajar. Apalagi penampilan
saya dulu dengan sekarang berbeda. Pasti kau susah
menerka.”
“Aduh langsung saja. Siapa ya?” katanya sambil
melihat jam. Ia memang tidak punya waktu terlalu

longgar untuk hal yang kurang penting.
“Baik Mas. Saya Sumi Mas. Saya Sumiyati. Kita dulu
ketemu di Subang Jaya. Ingat? Saya dulu tidak jilbaban
seperti sekarang.”
Seketika Zul terkaget dan langsung tersenyum
bahagia.
“O Mbak Sumi. Ya Allah, saya benar-benar susah
mengingat-ingat tadi. Saya sepertinya pernah bertemu.
Tapi di mana saya tak ada bayangan. Iya Mbak benarbenar
beda setelah pakai Jilbab. Tambah anggun.”
Sumi tersenyum mendengar pujian.
“Alhamdulillah Mas. Saya bahagia berjalan dalam
hidayah ini.”
“O ya Mbak cerita teman-teman yang lain bagaimana
ya? Saya pernah ke sana ternyata kalian sudah
tidak di sana?” Zul pura-pura bertanya tidak tahu. la
tidak bisa melupakan berita koran tentang penangkapan
penghuni rumah itu.
“Mas belum tahu beritanya ya?”
“Berita yang mana?”
“Ah baiklah. Aku ceritakan biar nanti kalau suatu saat
Mas dengar berita itu tidak salah faham. Begini Mas.
Kami pergi tepatnya terusir dari rumah itu ada sebabnya.
Sebabnya adalah ulah Linda dan Watik yang keterlaluan.
Maksiatnya sudah terang-terangan. Aku yakin kau tahu
apa pekerjaan Linda. Melacurkan diri. Biasanya ia
dijemput dan berbuat maksiat itu di hotel. Kami
mengingatkan tidak mempan. Mbak Mari sering
bertengkar dengannya. Apalagi setelah kejadian Mbak
Mari mau diperkosa sama mantan suaminya. Mbak Mari
curiga Lindalah yang memberitahu keberadaan dirinya
pada mantan suaminya. Linda semakin nekat seolah
menantang penghuni rumah yang lain. Ia maksiat di
kamarnya. Beberapa teman lelaki Linda datang ke
rumah. Hal itu dicium oleh masyarakat. Akhirnya rumah
itu digrebek. Kami semua dianggap pelacur semua.

Padahal pelacurnya cuma Linda sama Watik. Kami
diinterogasi habis-habisan. Kami difoto dan masuk koran.
Yang paling sabar dan tabah menghadapi ujian ini adalah
Mbak Mari. Mbak Mari berusaha sekuat tenaga berdialog
dan menjelaskan bahwa tidak semua yang ditangkap
adalah pelacur. Akhirnya Mbak Mari bisa menelpon
seorang kenalannya. la anak seorang pejabat penting.
Dengan jaminan temannya Mbak Mari, kami, selain
Linda dan Watik dibebaskan. Sejak itu saya memakai
jilbab. Saya ingin lebih berarti menjalani hidup ini. Begitu
ceritanya Mas.”
Zul mengucapkan syukur berkali-kali dalam hati
mendengar penjelasan itu. la merasa berdosa telah
berprasangka buruk pada semua penghuni rumah,
termasuk pada Mari dan Sumi. Sekarang ia tahu Mari
bersih. Ia jadi tidak sabar untuk menanyakan keberadaan
Mari. Walau bagaimanapun nama itu pernah tertanam
dalam hatinya.
“Lha Mbak Mari sekarang di mana?”
“Dia sudah di Indonesia.”
“Ada alamarnya?”
“Sayang tidak ada. Buku catatanku yang ada alamat
dan kontak Mbak Mari hilang di bus. Mungkin jatuh.
Saya dengar dia sekarang hidup di Semarang.”
“Mmm di Semarang. Dia sudah menikah?”
“Saya juga tidak tahu. Tapi dia pernah ngobrol
dengan saya. Maaf lho Mas Zul ya kalau tidak berkenan.
Ia pernah cerita kalau dia diam-diam suka sama Mas
Zul.”
Seperti ada setetes embun membasahi hatinya. Wajah
Mari hadir dalam pikirannya. Kenangan lama perlahan
muncul ke permukaan. Tapi cepat-cepat ia tepis kuatkuat.
Ia tidak boleh menghadirkan kenangan itu. Ia telah
siap berta’aruf dengan Datin Laila.
“Maaf Mas bus saya sudah datang, saya harus pergi.
Say a sekarang tinggal di sekitar sini. Mari Mas. Sukses
ya.” Sumi minta diri.

Zul terpaku di tempatnya beberapa saat lamanya.
Kemudian ia teringat hari sudah sore. Ia harus sudah ada
di Pantai Dalam sebelum Maghrib. Keinginannya untuk
menemui Ardan terpaksa ia urungkan. Ia langsung
bergegas mencari bus ke KL Sentral. Dari KL Sentral ia
akan nyambung dengan KTM.
* * *
Hari berikutnya, pagi-pagi sekali Yahya datang ke
Pantai Dalam. Yahya menyampaikan hasil komunikasi
antara isterinya dan Datin Laila. Zul tidak sabar
menunggu berita gembira itu.
“Bagaimana, sesuai harapan?” tanya Zul.
“Pada dasarnya Datin Laila menerima dan tidak
masalah….” jawab Yahya tenang.
“Alhamdulillah,” potong Zul.
“E dengarkan dulu sampai aku selesai bicara!”
“O masih ada lanjutannya tho. Apa lanjutannya?”
“Ya pada dasarnya Datin Laila menerima dan tidak
ada masalah. Yang jadi masalah adalah kakak sulungnya,
yang sekarang jadi walinya telah membawa seorang
calon untuknya. Datin Laila belum mengambil keputusan.
Tapi agaknya Datin Laila merasa berat jika harus
berseberangan dengan kakak sulungnya.”
“Artinya ia cenderung mengiyakan calon dari
kakaknya kan?”
“Begitulah.”.
Zul menunduk kecewa.
“Kenapa dalam masalah seperti ini aku selalu menuai
kecewa ya. Dulu mau serius menikahi Mari tak jadi. Apa
ya dosaku ini?”
“Lha mulai berprasangka tidak baik pada Yang
Mahakuasa! Sabarlah Zul. Selain membawa kabar

menyedihkan itu aku juga membawa kabar menggembirakan
untukmu.”
‘Apa itu Ya?”
“Aku kemarin dibel Pak Muslim. Di UNY ada
lowongan dosen. Yang dicari S.2 jurusan Psikologi
Pendidikan dan jurusan Sosiologi Pendidikan. Ini
mungkin rejekimu. Coba kau masukkan lamaran ke
sana.”
“Wah boleh ini Ya.” Zul semangat.
“Caranya bagaimana Ya?”
“Sebaiknya kau pulang ke Indonesia. Masukkan
langsung lamaranmu ke UNY. Sekalian bersilaturrahmi
ke rumah Pak Muslim. Siapa tahu Pak Muslim juga
mencarikan jodoh untukmu. Mahasiswinya yang jilbaberjilbaber
kan banyak.”
“Wah saranmu brilian sekali Ya. Dunia ini sejatinya
luas ya Ya. Wanita di dunia ini pun miliaran jumlahnya.
Tidak cuma Mari atau Laila ya.”
“Lha iya lah.”
“Kenapa aku baru menyadarinya sekarang ya.”
“Karena kamu selalu menyempitkan ruang berpikirmu
selama ini Zul. Cobalah kau buka lebar-lebar.
Hidup ini akan terasa mudah, menyenangkan, dan
menggairahkan.”
“Ya sudah saatnya aku meluaskan ruang hati dan
pikiran Ya.”
“Di antara caranya adalah dengan selalu berprasangka
baik kepada Allah.”
“Terima kasih Ya. Bisa bantu aku lagi?”
“Apaitu?”
“Pinjami uang untuk beli tiket pesawat,” kata Zul
tersenyum.
“Tentu bisa.”
“Kau memang sebaik-baik teman Ya.”
“Kau juga Zul”
“Alhamdulillah.”
* * *

Dua Belas
Tiga hari kemudian, Zul terbang ke Yogyakarta. Di
Bandara Adi Sucipto ia dijemput oleh Pak Muslim. Begitu
bertemu mereka berangkulan erat sekali. Pak Muslim
tampak bahagia sekali bertemu dengan Zul, begitu juga
Zul. Kesahajaan dan kesederhanaan Pak Muslim sama
sekali tidak berubah, meskipun ia telah menyandang
gelar doktor. Ia berpakaian biasa, layaknya orang biasa.
Orang yang tidak mengenal Pak Muslim bisa jadi
menyangka beliau adalah tukang ojek. Sebab saat itu
beliau memakai batik warna tua yang tersembunyi
dalam jaket cokelat yang tampak tua. Warnanya telah
berubah karena terkena panas dan hujan.
Pak Muslim menjemput dengan mobil Katana
tuanya. Beliau langsung membawa Zul ke rumahnya di
sebuah perumahan di daerah Maguwoharjo.
“Rumah ini masih menyewa Zul,” kata Pak Muslim
begitu sampai di rumahnya. “Doakan tahun depan ada
rejeki untuk membeli rumah. Meskipun dengan
mengangsur,” lanjutnya.
“Semoga Pak.”
“Ayo masuk. Kita cuma berdua di rumah ini. Isteriku
sedang tugas ke Semarang. Dua anakku sedang di rumah
eyangnya di Solo.”
Begitu masuk Pak Muslim langsung ke dapur
membuatkan minuman.
“Adanya ini Zul.” Kata Pak Muslim sambil membawa dua gelas
berisi air sirup berwarna hijau.
“Nyaman hidup di Jogja Pak ya?” tanya Zul.
“Nyaman dan tidaknya hidup itu yang mengkondisikan adalah
hati
dan pikiran kok Zul. Kalau aku
di mana saja merasa nyaman. Aku tak pernah kuatir atau
takut sebab aku yakin Allah mengasihiku.”
“O ya Pak tentang lowongan itu. Ada berapa kursi?
Kira-kira yang daftar banyak tidak?”

“Cuma enam kursi saja. Secara keseluruhan, yang
daftar mungkin puluhan, ratusan, bahkan mungkin
ribuan. Saya tidak tahu persis. Tentang peluangmu, ya
yakin saja ini adalah rejekimu. Tapi untuk Sosiologi
Pendidikan, saya lihat yang daftar sampai kemarin
belum terlalu banyak, kira-kira baru belasan orang.
Peluangmu mungkin bagus. Apalagi hanya kau yang
meraih M.Ed, dari luar negeri.”
“Doanya Pak.”
“Semoga. Syarat-syarat sudah lengkap semua?”
“Yang belum foto Pak.”
“Nanti foto kilat saja. Supaya besok berkas kamu bisa
dimasukkan.”
“Iya Pak.”
“O iya Zul. Kamu tidak ada rencana nikah? Atau
masih mengharap yang di Subang Jaya?”
“Aduh jadi malu. Jangan diingat-ingat Pak. Tapi
penggerebekan di Subang Jaya seperti yang tertulis di
koran itu ternyata tidak seperti itu lho Pak. Saya jadi
merasa berdosa karena berburuk sangka pada semua isi
rumah itu.”
“Terus sebenarnya bagaimana?”
Zul lalu menceritakan pertemuannya dengan Sumi
di Hentian Kajang. Dengan detil dan panjang lebar Zul
menjelaskan apa yang ia dapat dari Sumi. Pak Muslim
mengangguk-angguk.
“Hmm saya juga berburuk sangka lho Zul. Jika tidak
kauberitahu mungkin selamanya dalam pikiran saya
yang ada ya persepsi itu. Persepsi satu rumah itu pelacur
semua. Kan kasihan mereka yang tidak berdosa. Ini jadi
pelajaran penting bagiku Zul. Kabar apa pun saat ini, di
akhir zaman ini harus dicek. Berita saat ini sepertinya
kok lebih banyak bohongnya, lebih banyak munafiknya
daripada jujurnya.”
“Ya alhamdulillah, Allah mempertemukan saya
dengan Sumi Pak.”

“Terus tentang nikah. Jadi setelah tahu kabar itu apa
masih mau mengejar si Siti Martini itu? Atau bagai
mana?”
“Aduh Pak itu masa lalu. Sudah biarlah berlalu Pak.
Dunia ini kan luas. Jumlah wanita di atas muka bumi ini
miliaran Pak. Gadis Muslimah yang belum menikah jumlahnya
jutaan Pak, kenapa saya mesti mempersusah diri.”
“Wah kamu sudah berubah Zul. Tapi ada satu
sifatmu yang aku sangat salut. Dan aku berharap sifat
itu tidak pernah berubah apalagi hilang dari dirimu.”
“Apa itu Pak?”
“Jujur dan tidak mengada-ada. Itu yang aku suka
padamu. Jujur itulah sifat yang mutlak harus dimiliki
seorang pendidik di negeri ini. Karena kejujuran sekarang
ini jadi barang yang sangat langka Zul.”
“Doakan saya bisa terus istiqamah Pak.”
“Semoga Zul. O ya kembali tentang nikah. Muslimah seperti
apa
yang sekarang kauinginkan. Mungkin
aku bisa membantu. Tidak hanya membantumu tapi juga
membantu kaum Muslimah yang ingin menikah tapi
belum menemukan jodoh. Siapa tahu di antara mereka
ada yang sesuai untukmu.”
“Yang salehah dan jujur Pak. Ah Pak Muslim kan
sudah pernah tinggal bersama saya lebih dari satu tahun.
Pasti Pak Muslim tahu yang cocok buat saya.”
“Ini Zul. Ada Muslimah baik sekali. Ini menurut isteri
saya. Sebab Muslimah ini kenal baik dengan isteri saya.
Pernah satu kampus di Bandung dulu. Dia sokarang kalau
tidak salah dosen di Universitas Semarang. Baru
menyelesaikan Master Ekonominya di UKM Malaysia.”
“Umurnya berapa?”
“Ya seumuran isteri saya.”

“Kalau seumuran isteri Bapak, berarti sudah tua
dongPak.”
“Ei jangan salah. Kau tahu berapa umur isteri Baya?”
“Berapa Pak?”
“Dua puluh delapan tahun. Kau umurmu berapa?”
“Tigapuluh.”
“Berarti kira-kira dia lebih muda dua tahun darimu.
Bagaimana?”
“Boleh Pak.”
“Kalau boleh tahu. Dia berjilbab Pak?”
“Kamu ini Zul. Isteri saya ini aktivis dakwah, masak
mau mencarikan kamu yang suka tabarruj. Ya pasti
berjilbab rapat-lah Zul.”
“Kalau begitu boleh Pak. Boleh tahu namanya Pak?”
“Namanya agak panjang Zul. Tapi seingat saya
depannya Agustina. Isteri saya kalau memanggil dia
Mbak Agustin begitu. Tapi nama penanya kalau dia nulis
di koran Asma Maulida, M.Ec. Sebentar aku cari koran
dulu. Ada beberapa tulisan dia yang bagus kok.”
Pak Muslim beranjak menuju rak tempat majalah
dan koran tertumpuk. la mengolak-alik beberapa koran
sesaat lamanya.
“Lha ini dia.” Seru Pak Muslim gembira.
“Ini Zul tulisan dia coba kaubaca.” Pak Muslim
menyodorkan koran itu pada Zul.
Zul membaca dengan seksama. Runtut, rapi dan
argumentatif. Bahasanya enak dibaca.
“Baguskan?”
“lya Pak?”
“Rapi dan runtut kan?”

“Iya.”
“Itulah cermin kepribadiannya. Saya pernah
bertemu dengannya. Saya salut. Sangat berkarakter
orangnya. Kira-kira bagaimana Zul?”
“Saya manut Pak Muslim saja.”
“Baik. Mumpung isteri saya ada di Semarang. Biar
dia urus sekalian. Saya telpon isteri saya sekarang saja.”
Pak Muslim mengeluarkan hand phone-nya dan
memanggil isterinya. Langsung nyambung.
Zul hanya mendengar suara Pak Muslim:
“O jadi malah sedang bincang-bincang sama dia?”
“Di mana Dik, di Warung Bentuman?”
“Dia belum ada calon kan?”
“Ini, temanku satu rumah yang pernah kuceritakan
dulu itu lho Dik.”
“Ya, sudah selesai M.Ed dari Universiti Malaya.”
“Namanya Ahmad Zulhadi Jaelani. Tulis saja A.
Zulhadi Jaelani, M.Ed.”
Lalu Pak Muslim menarik hand phone-nya dari
telinga kanannya dan bertanya pada Zul.
“Zul, tanggal lahirmu berapa?”
“21 April 1977 Pak.” Jawab Zul.
Pak Muslim lalu menyampaikan hal itu pada
isterinya. Tak lama kemudian beliau menyudahi
pembicaraannya. Lalu kembali berbicara pada Zul.
“Namanya juga ikhtiar. Ya semoga saja ini berhasil.”
“Jadi Agustin itu masih belum punya calon Pak?”
“Ya kata isteri saya begitu. Dia berharap proses kali
ini adalah prosesnya yang terakhir. Proses yang
mengantarkannya memiliki rumah tangga yang
mawaddah wa rahmah.”
“Amin. O ya Pak, terus terang saja Pak ya. Bapak
ada foto dia?”

“Wah sayang tidak punya Zul. Tapi jangan kuatir
Zul. Kata isteri saya, biar prosesnya cepat. Artinya kalau
iya ya biar segera diijab kalau tidak ya biar cepat
ketahuan tidaknya, Agustin akan ikut isteri saya ke Jogja.”
“Mau datang ke sini?”
“Iya. Biar bertemu kamu. Kamu juga biar tidak
penasaran. Biar itu tadi cepat jelasnya kalau iya ya biar
segera diijab kalau tidak ya biar cepatketahuan tidaknya.
Kalau misalnya tidak jadi, karena kau tidak cocok kan
sama-sama cepat tahunya. Dan bisa mencari yang lain
yang cocok. Kalian kan sudah berumur. Tidak perlu
ditunda-tunda atau proses yang rumit dan berbelit-belit
tho?’
“Iya Pak sepakat.”
* * *
Rumah Pak Muslim memiliki tiga kamar. Kamar
utama, kamar tamu dan kamar anak. Zul ditempatkan
di kamar tamu yang sekaligus merangkap sebagai
perpustakaan. Kamar itu penuh buku. Kebanyakan
buku-buku tentang pendidikan dan ekonomi. Pak
Muslim adalah pakar manajemen pendidikan. Sementara
isterinya adalah dosen mata kuliah ekonomi di sebuah
Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi di Yogyakarta.
Siang itu setelah selesai memasukkan berkasnya ke
UNY ia diantar Pak Muslim pulang. Ia memang harus
istirahat. Sebab sebelumnya ia begadang bersama Pak
Muslim di sebuah warung angkring sampai larut malam.
Pak Muslim sendiri juga istirahat di kamarnya. Ia telah
diberi ijin oleh Pak Muslim kalau mau membaca-baca
koleksi perpustakaan pribadinya.
Siang itu ia tidak langsung tidur. Tapi ia melihat-lihat
buku yang ada di kamar itu. Banyak judul-judul baru
terbitan Indonesia. Ia senang dengan perkembangan
penerbitan buku di Indonesia yang semakin marak. Tibatiba
kedua matanya tertuju pada warna sampul sebuah
buku yang sepertinya pernah ia lihat. Ia ambil buku
itu.Buku bersampul biru tua. Terbitan Oxford University
Press. Judulnya Game Theory with Applications to
Economics. Rasa-rasanya ia pernah memegang buku itu.

Ia mencoba mengetes ingatannya. Di mana ia pernah
memegang buku seperti itu. Ia mengingat-ingat tempattempat
ia bisa mengambil dan membaca buku. Akhirnya
ia ingat di kamar Mari di Subang Jaya, saat ia pertama
kali tiba di Malaysia. Ia tersenyum bahagia ingatannya
masih tajam.
Ia buka buku itu. Halaman pertama. Dan ia bagai
tersengat listrik. Nama pemilik buku itu dan tanda
tangannya sama dengan yang ia baca di Subang Jaya:
Laila Binti Abdul Majid, TTDL Kuala Lumpur. Pikirannya
langsung nyambung ke Prof. Datin Laila Abdul Majid.
Diakah pemilik buku ini? Dan ia yakin buku yang ada
di tangannya adalah buku yang beberapa tahun lalu ia
pegang di Subang Jaya. Lalu bagaimana buku itu bisa
sampai di rumah ini? Puluhan kemungkinan dan
pertanyaan berkelebat dalam pikirannya. Ia tak mau
pusing. Ia merasa lelah dan harus istirahat. Masalah buku
itu bisa ia tanyakan pad a Pak Muslim nanti.
Lima belas menit sebelum azan Ashar berkumandang
ia telah bangun. Pak Muslim telah duduk dengan pakaian
rapi siap ke masjid di ruang tamu.
“Bagaimana istirahatnya? Enak?”
” Alhamdulillah. Sudah segar kembali Pak.”
“Berarti sudah siap bertemu Agustin ya?”
“Jadi malam ini Pak?”
“Lhaiyalah?”
“Cepatsekali.”
“Kenapa berlambat-lambat jika bisa cepat.”
“Di mana akan ketemu Pak.”
“Di sini. Nanti habis Maghrib aku akan jempul
mereka di Pertigaan Janti. Mereka naik bus Ramayana.
Setelah shalat Isya kita ad akan majelis ta’aruf di sini.”

Hati Zul bergetar hebat. Ia tidak pernah menyangka
akan sangat cepat proses untuk bertemu dengan calon
isterinya. Pak Muslim meneguk air putih yang ada di
hadapannya. Zul kembali ke kamarnya untuk bersiap
dan merapikan pakaiannya. la kembali keluar dari
kamarnya sambil membawa buku bersampul biru tua
itu.
“Dari mana dapat buku bagus ini Pak?” tanya Zul.
Hatinya penasaran.
Pak Muslim mengulurkan tangannya. Zul memberikan
buku itu pada Pak Muslim. Sesaat lamanya Pak
Muslim mengamati buku itu.
“Isteri saya yang bawa.”
“Dari mana dia dapat?”
“Saya tak tahu pasti Zul. Nanti malam saja kita
tanyakan.”
* * *
Usai shalat Maghrib Pak Muslim meluncur ke
Pertigaan Janti dengan Katana tuanya. Zul memilih
iktikaf di masjid sampai Isya. Sebelum azan Isya
berkumandang Pak Muslim sudah tiba di masjid dan
memberitahu Zul bahwa Agustin sudah ada di rumah.
“Jadi nanti pertemuannya alami saja Zul. Kita pulang
dari shalat dan mereka sudah menunggu di ruang tamu.
Kita langsung ngobrol dan bincang-bincang santai saja?”
“Saya cuma pakai sarung saja begini Pak?”
“Lha memangnya kenapa? Kalau pakai sarung apa
terus hilang ketampananmu?”
“Nggak sih Pak. Nggak apa-apa.”

“Agustin sekarang aku lihat agak berubah.”
“Berubah bagaimana?”
“Jadi lebih muda dan segar. Dulu waktu pertama kali
bertemu bersama isteri di Semarang, ia kurus, agak sayu
dan tampak lebih tua dari umurnya.”
“Kalau begitu bagus lah Pak.”
“Ya, rejekimu Zul kalau kau punya isteri yang semakin
tambah umur tapi wajahnya semakin tambah muda.”
“Amin ya Rabb.”
Azan Isya dikumandangkan. Jamaah berdatangan.
Shalat sunnah didirikan. Lalu iqamat disuarakan. Shafshaf
dirapikan. Dan sang Imam mengucapkan takbiratul
ihram. Zul mengikuti takbir Imam dengan hati bergetar.
Shalat jamaah didirikan dengan penuh kekhusyukan.
Dalam sujud Zul berdoa agar dilimpahi kebaikan dunia
dan akhirat, serta diberi pasangan hidup yang menjadi
penyejuk hati, teman sejati dalam mengarungi hidup
beribadah kepada Allah Azza wa Jalla.
Selesai shalat Pak Muslim dan Zul melangkah pasti
ke rumah. Semakin dekat dengan rumah hati Zul
semakin bergetar hebat. Ia akan bertemu dengan Agustin.
Yang dalam bayangannya akan menyejukkan hatinya.
Zul sampai di halaman. Pak Muslim melangkah duluan.
Dari halaman ia bisa melihat dari terawang sela-sela
gorden, ada dua Muslimah berjilbab yang sedang
berbincang di ruang tamu. Namun tidak jelas. Jantungnya
semakin keras berdegup. Ia berusaha menguasai
dirinya, dan menenangkan batinnya.
Pak Muslim sudah mengucapkan salam. Dua
Muslimah itu menjawab bersamaan. Zul mencopot
sandalnya. Pandangannya menunduk ke lantai. Pak
Muslim masuk. la mengikuti di belakang. la memandang
ke depan. Dan…
Pandangannya bertatapan dengan pandangan
seorang perempuan berwajah bersih, wajah yang dibalut
jilbab putih bersih. Wajah yang pernah ia kenal. Mata

yang pernah ia kenal. Dan…
“Z…zul!” Dari bibir perempuan itu tersebutnamanya
Ia berdiri mematung di tempatnya. Hatinya sesak
oleh keharuan luar biasa. Hawa dingin seolah menyebar
ke seluruh syarafnya. Tak terasa airmatanya meleleh.
Lidahnya kelu.
Perempuan berwajah bersih itu adalah Mari.
“Ja..j.adi ternyata kau Zul!”
Zul tidak bisa bersuara. Ia hanya mengangguk
dengan airmata berderai.
“Yang dimaksud temannya Pak Muslim ini kau
Zul?”
Zul kembali mengangguk.
“Ini tidak mimpi kan?!” seru Mari.
“Ti…tidak Mari. Tidak! Ini kenyataan!” Zul buka
suara dengan tangis yang pecah. Begitu mendengar
kalimat yang keluar dari mulut Zul, Pak Muslim
langsung mengerti. Beliau meneteskan airmata. Hanya
isteri Pak Muslim yang masih bingung.
“Jadi kalian sudah saling kenal?” tanya isteri Pak
Muslim heran.
Zul dan Mari menjawab serentak: “I ya!”

Pak Muslim menyuruh Zul duduk Mari tak kuasa
membendung tangisnya. Isteri Pak Muslim belum
mengerti apa yang terjadi. Pak Muslim lalu menceritakan
apa yang terjadi pada Zul saat jatuh cinta pada Mari
“Zul bilang namanya Siti Martini.” kata Pak Muslim.
Mari menyela “Benar, nama saya memang Siti
Martini. Itu nama kecil saya.”
Pak Muslim lalu melanjutkan kisahnya Bagaimana
Zul nyaris gila dan binasa. Sampai akhirnya ia
memanggil Zul dan memberinya tiga saran atau tiga opsi.
Lalu Zul memilih opsi yang kedua, yaitu memilih
menikahi Mari. Ia dan Zul pergi ke Subang Jaya dan
mendapati rumah telah kosong. Seorang perempuan
Melayu memberi tahu kalau Mari dan kawan-kawan
digrebeg karena dianggap bertindak asusila.
“Saat itu aku lihat Zul sangat terpukul. Aku masih
ingat bagaimana ia seolah tidak bisa percaya atas apa yang
dibacanya. Ia berteriak histeris ‘Tidak mungkin! Tidak
mungkin ini terjadi!’ Aku melihat bagaimana ia membaca
lagi nama inisial Siti M di koran itu dengan hati hancur.
Dengar nada putus asa Zul saat itu mengatakan, ‘Sia-sia
aku menolongnya. Sia-sia aku mencintainya.”
Mendengar cerita Pak Muslim, tangis Mari menjadijadi.
Perempuan berjilbab itu jadi tahu betapa Zul
sebenarnya sangat mencintainya. Bahkan sampai sakit
karena mencintainya. Dan sampai datang bersama Pak
Muslim untuk mencintainya.
Mari lalu berbicara dengan suara terbata-bata.
Menceritakan bagaimana dia sebenarnya sangat berharap
Zul datang. Ia lalu menceritakan kejadian pemerkosaan
atas dirinya dan bagaimana Zul menolongnya. Sejak itu
ia merasa bahwa orang paling berhak menerima
pengabdiannya adalah Zul. Mari juga mengakui ia
berubah total cara hidupnya karena pesan Zul untuk terus
mendekatkan diri kepada Allah. Pak Muslim dan isterinya,
ikut terharu mendengar kisah mereka berdua.
“Subhanallah. Allah tidak mempertemukan di
Subang Jaya Malaysia, tapi Allah mempertemukan di
Indonesia dalam kondisi yang lebih baik, yang lebih
barakah. Insya Allah.” Kata Pak Muslim dengan

berlinang airmata.
“Jadi tak perlu ada ta’aruf ini?” tanya isteri Pak
Muslim.
Pertanyaan itu malah dijawab dengan derai airmata
oleh Mari.
Semuanya kemudian diam. Masing-masing menyelami
perasaan dan pikirannya sendiri-sendiri.
Keheningan tercipta sesaat lamanya. Zul teringatbuku
bersampul biru tua. Ia beranjak ke kamar dan mengambilnya.
“Kalau boleh tahu bagaimana cerita buku ini. Buku
ini rasanya pernah aku baca di Subang Jaya. Kok
sekarang ada di sini?” kata Zul.
Mari dan isteri Pak Muslim berpandangan. Mari
merasa lebih berhak menjawab,
“Itu buku milik Prof. Datin Laila Abdul Majid. Dosen
sekaligus sahabatku. Saat kaubaca di kamarku di Subang
Jaya, saat itu aku masih kuliah semester tiga. Aku kuliah
di UKM mengambil part time. Sambil kerja.”
Zul mengangguk. la langsung bertanya,
“Kenapa waktu kenalan dulu kau tidak menyebutkan
dirimu mahasiswi? Kenapa malah mengenalkan
sebagai pekerja?”
Mari mendesah lalu menjawab,
“Untuk apa aku menonjol-nonjolkan kuliahku. Aku
toh sama sekali tidak bohong. Aku memang bekerja. Dan
terus terang karena aku beranggapan pada waktu itu
sedang kenalan dengan orang yang mencari kerja.
Dengan calon pekerja. Bukankah dulu yang kautanyakan
padaku adalah informasi tentang pekerjaan.
Dan kau juga, kenapa kau tidak pernah bercerita kalau
kau adalah mahasiswa di UM?”
Zul diam sesaat, lalu ia berkata lirih, “Jawabannya
kira-kira sama denganmu.”
Pak Muslim dan isterinya tersenyum.

“Oh ya saya masih bingung. Namamu itu yang
benar siapa tho? Zul memperkenalkan dengan nama Siti
Martini. Dia biasa menyebut Mari. Tapi kau mengatakan
pada isteriku dengan nama Agustina. Isteriku kalau
memanggilmu Agustin. Di koran kau pakai nama Asma
Maulida? Banyak nama samaran ya?”
Mari menata tempat duduknya dan menjawab,
“Baiklah saya jelaskan. Semuanya benar. Artinya
semua itu memang nama saya. Saya lahir dengan nama
Siti Martini, waktu kelas enam SD, ibu guru membolehkan
mengganti nama yang dirasa kurang cantik
untuk ditulis di ijazah. Ini agak lucu, tapi memang nyata.
Teman saya namanya Sungatemi, biasa dipanggil Ngat,
atau Ngatmi ia ganti jadi Salsabila Ayu Ratnasari. la lalu
minta dipanggil Ratna. Ada yang namanya Sukodor, ia
ganti jadi Anang Febrian, karena lahir di bulan Februari.
Saya bingung. Nama saya Siti Martini, biasa dipanggil
Mar. Saya ikut-ikutan teman-teman, saya minta ibu guru
membuatkan nama saya yang cantik dan panjang. Ibu
guru membuatkan nama Agustina Siti Mariana Maulida.
Karena saya lahir di bulan Agustus. Untuk nama pena
sekarang ini saya sering menggunakan nama Asma
Maulida. Asma kepanjangan dari Agustina Siti Mariana.
Kepada kolega saya sekarang lebih mantap mengenalkan
sebagai Asma. Anggap saja Asma juga nama hijrah saya.
Tapi sebenarnya tetaplah nama asli saya. Kepada teman
di Bandung saya memperkenalkan diri Agustin. Dan
kepada para pekerja di Malaysia sama memperkenalkan
diri sebagai Mar, Mari atau Siti Martini.”
“O begitu. Jadi lengkapnya Agustina Siti Mariana
Maulida, M.Ec?”
“Iya begitu.”
Malam itu adalah malam yang sangat bersejarah dan
membahagiakan bagi Zul dan Mari. Mereka sepakat
untuk menikah secepatnya. Dan dua minggu setelah itu
mereka mengikrarkan akad nikah di Sragen. Di desa
kelahiran Mari. Selanjutnya mereka hidup bersama
dalam kesucian. Dan beribadah bersama, saling
mendukung dan menguatkan, sujud bersama dalam

bingkai mahkota cinta yang terbangun indah di atas
mahligai iman dan takwa.
* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: