• Blog Stats

    • 57,161 hits
  • Kategori

  • Arsip

  • Pos-pos Terbaru

Cahaya Hidayah

Dua puluh enam tahun bermukim di Amerika Serikat, telah saya
dapatkan keleluasaan sekaligus kesempatan yang berharga untuk banyak
bergaul dengan para warga Muslim Amerika, baik secara perorangan
maupun juga bersama-sama keluarganya. Pengalaman ini begitu
mengilhami dan semakin memperkuat iman didalam dada saya. Saya akui,
seperti juga para imigran Muslim lain di sana, saya jalani kehidupan
sebagai seorang Muslim dengan lebih baik daripada ketika kami masih
berada di negri sendiri. Keadaan ini terdorong oleh para Mualaf (muslim
baru) setempat yang patut saya banggakan dan hargai. Sebagian besar
mereka, dibanding diri saya sendiri, sangat tinggi pengetahuannya tentang
Islam dan, begitu pula pengamalan ajaran Islam. Semoga Allah SWT
memberi saya kesempatan mengejar kertertinggalan saya dari mereka.
Sebagian besar dari para insan Muslim yang kisahnya disajikan
disini merupakan anggota masyarakat Muslim biasa-biasa saja di Amerika
Utara. Namun apa yang telah mereka lakukan itu, saya rasakan adanya
pengaruh yang amat besar terhadap diri mereka sendiri dan orang-orang
disekeliling mereka. Kepahlawanan itulah, walaupun bersifat lokal, perlu
untuk kita kenali. Ini merupakan perubahan positif ditataran akar-rumput
masyarakat Amerika, yang membuat heran bahkan mengagetkan para
penganut agama lain disana. Sebagai contoh, banyak dari para narapidana
yang sangat kejam telah berubah menjadi warga negara berperilaku baik
dan anggota masyarakat yang cinta damai, setelah mereka menerima Islam
dalam kehidupan mereka. Para mualaf Amerika ini adalah cahaya hidayah
bagi Muslim dan Non-Muslim. Diam-diam, mereka telah menghiasi
masyarakat Amerika dengan perilaku mereka yang amat mengesankan.
Pada waktu itu saya adalah guru matematika di sebuah Sekolah
Negeri di Maryland. Menjadi guru adalah pekerjaan yang menguras tenaga
dan pikiran. Banyak guru yang menjadi sangat kelelahan karenanya.
Biasanya para anggota Departemen Matematika mengadakan acara makan
siang bersama seluruh anggota pada akhir semester. Kami menamakan
acara ini �Proses Pengenduran�. Kami selalu menghidangkan masakan
yang kami masak sendiri, yang dikenal dengan nama Sloopy Joe, daging
sapi giling yang dimasak dengan saus tomat dan cabai halus. Hidangan ini
dimasak di Departemen kami menggunakan pemasak yang diatur lambat
pemanasannya. Rekan-rekan kami sangat menyukai �sloopy joe� ini. Suatu
kali, saya mengumumkan keras-keras bahwa sayalah yang akan
menyediakan daging sapi giling untuk acara mendatang. Semua rekan
sangat setuju. Ketika waktunya telah tiba, saya terlibat percakapan yang
sangat berharga dengan seorang kolega; Namanya Cindy; ia beragama
Yahudi. Dalam pembicaraan itu saya mengatakan kepadanya, �Tidakkah
5
kamu merasa beruntung aku bawakan daging sapi giling untuk kita semua,
yang halal bagi kita berdua?� Diluar dugaan, ia menjawab, �Tuan Ahmad,
saya ini bukan Yahudi yang taat, bahkan saya pun memakan daging babi.�
Maka saya pun tidak melanjutkan membahas hal ini agar terhindar dari hal
yang peka.
Cindy dan saya memiliki perhatian yang sama dalam hal perumahan
karena kami berdua juga sama-sama berprofesi sebagai Tenaga Penjualan
Perumahan yang terdaftar. Cindy bekerja pada kantor perantara penjualan
real-estate milik suaminya. Ia mengatakan bahwa keadaan pasar real-estate
cukup baik. Ia pun menceritakan bahwa ia harus lebih sering mengurusi
usaha suaminya itu, mengingat bahwa suaminya adalah seorang Perwira
berpangkat Kolonel yang berdinas di Pentagon; Markas Besar Militer
Amerika Serikat. Saya katakan kepadanya, �Cindy, kenapa kamu tidak
pernah muncul bertugas dalam kegiatan sore di sekolah kita, seperti acara
pertandingan bola basket ataupun kegiatan olah raga yang lain?� Iapun
menjawab dengan nada berani, �Kepala Sekolah tidak bisa mewajibkan
saya mengerjakan tugas itu karena saya harus mengantarkan anak-anak
saya dan juga anak-anak tetangga saya ke Sekolah Ibrani (sekolah agama
Yahudi) tiga kali seminggu di hari kerja. Ini merupakan kegiatan tambahan
diluar kegiatan rutin pelayanan keagamaan. Saya lakukan ini secara
sukarela sejak beberapa tahun terakhir.�
Betapa Cindy telah mengejutkan saya. Diam-diam, Sayapun
berbicara kepada diri sendiri; perhatikanlah perempuan muda ini. Ia
seorang guru purna-waktu yang setiap hari kerja menyetir mobil sendiri
menempuh perjalanan dari rumah ke sekolah selama empat puluh lima
menit sekali jalan. Selain itu ia masih bekerja paruh-waktu sebagai agen
penjualan real-estate. Diluar itu semua, ia adalah seorang perempuan
berkeluarga lazimnya, yang lengkap dengan kehidupan rumah-tangga dan
kegiatan sosial. Sungguhpun begitu ia masih sanggup meluangkan waktu
dan mengikatkan-diri (berkomitmen) dengan sukarela melayani kegiatan
sekolah agamanya. Walaupun begitu, ia masih menganggap dirinya
sebagai pemeluk Yahudi yang buruk.
Sayapun mulai mempertanyakan, adakah komitmen pribadi saya,
dan orang-orang di sekitar saya yang merasa telah menjadi Muslim yang
shalih. Semoga Allah SWT mengokohkan Iman dan Amaliyah kami
sebagai Muslim. Amiin.
Imtiaz Ahmad, Madinah Al-Munawwarah, Juni 2002
6
Cahaya Hidayah di Perang Teluk�..
ABDULLAH
Ketika itu ia adalah seorang pemuda tamatan Sekolah Menengah.
Berdinas aktif di US Army (Angkatan Darat Amerika Serikat) selama
beberapa tahun, dimana ia memperoleh kesempatan belajar beberapa
kemampuan teknis. Kini ia menghidupi diri dan keluarganya dengan
menggeluti usaha jasa perbaikan mesin fotocopy dan mesin fax.
Sungguh menarik menyimak kisah awal mula Abdullah memeluk
Islam. Namun jauh lebih menarik mengetahui bagaimana ia menyusuri
proses Islamisasi diri. Ketika pecah Perang Teluk yang melibatkan
Pasukan Amerika Serikat dengan Pasukan Irak, ia ditempatkan di Saudi
Arabia.
Suatu hari ia sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari di pasar Saudi.
Di sebuah toko, ia memilih barang, tawar menawar dengan penjaga toko,
dan akhirnya sepakat atas harga yang harus dibayar untuk barang tersebut.
Namun berkumdanglah Adzan panggilan shalat dari Masjid terdekat kala ia
hendak membayar belanjaannya itu. �Cukup sudah!� kata penjaga toko itu
kepadanya seraya menolak melakukan transaksi dagang apapun hingga
selesai melaksanakan shalat. Toko pun ditutupnya dan ia bergegas pergi
menuju Masjid.
Abdullah begitu terperanjat dan tak habis pikir dengan kejadian kecil
ini. Mengapa si penjual tidak mau mengambil uang yang telah menjadi
haknya dengan terjadinya kesepakatan harga diantara mereka. Tak
sekalipun dalam kehidupan Abdullah menjumpai orang yang menolak
uang. Pada umumnya, di dunia bisnis, semua orang memburu uang dengan
berbagai cara. Orang macam apakah si penjual itu? Agama apa pulakah
yang begitu utama di matanya? Abdullah begitu penasaran dan ingin
mengenal lebih banyak tentang agama itu. Dibacanya berbagai buku
tentang Islam, semakin hari semakin banyak buku yang dibacanya dan
akhirnya ketika kembali pulang ke Amerika ia memutuskan untuk
memeluk Islam. Di New York, ia mendapatkan banyak guru yang baik
yang mengajarkan kepadanya dasar-dasar pendidikan Islam. Iapun
memperoleh pengajaran membaca Kitab Suci Al-Qur�an. Ini menjadikan
Abdullah seorang Muslim yang sangat ketat menjalani keIslaman-nya.
Saya baru mengenal Abdullah manakala ia pindah ke Detroit. Ia
telah memutuskan untuk bermukim didekat Masjid Pusat Tauhid Detroit
dan melaksanakan hampir dari seluruh shalat lima waktunya di Masjid ini.
Pada waktu itu saya bekerja sukarela menjalankan kegiatan humas Masjid.
Menjalankan hubungan kemasyarakatan sebuah organisasi Islam bisa
menjadi tantangan tersendiri. Banyak kejadian antara akhi Abdullah
7
dengan saya, yang cukup menimbulkan masalah sementara diantara kami
berdua. Kami sama-sama tulus dengan cara kami masing-masing.
Permasalahan diantara kamipun sirna tanpa bekas ditelan waktu.
Bagaimanapun juga kejadian ini merupakan ujian kesabaran dalam berbeda
pendapat dengan seseorang yang bisa saling berjumpa beberapa kali dalam
sehari berkenaan dengan kegiatan Masjid.
Suatu hari, saya meminta akhi Abdullah mengumandangkan adzan.
Ia katakan bahwa itu akan dilakukannya diluar Masjid di tepi jalan raya.
Saya katakan padanya bahwa kami telah melalui prosedur pendaftaran ke
Pemerintah Kota Detroit dan Dinas Pemadaman Kebakaran setempat
diawal pendirian Masjid. Dewan Kota telah mengadakan pengumpulan
pendapat umum sebelum akhirnya mereka mengijinkan kami membangun
Masjid. Namun ia tidak merasa perlu mendengar nasehat saya. Maka
sayapun menegaskan dengan gamblang bahwa kalau itu tetap
dilakukannya, maka saya harus berhadapan dengan masyarakat umum,
Kejaksaan, Komisi Tata Ruang, dan juga Departemen Perencanaan Kota.
Saya katakan dengan tegas kepadanya, �Anda hanya datang, shalat dan
pergi meninggalkan Masjid. Tak pernahkah terbayangkan dalam pikiran
anda bagaimana sulitnya pengalaman kami berhadapan dengan mereka di
Balai Kota. Berbuat bijaklah dan berhati-hati dalam menjalankan
keIslaman kita. Jangan sampai kita membuat lingkungan tetangga kita
Non-Muslim merasa terganggu dan tergerak untuk mengajukan
keberatan? Lagi pula, seyogyanya kita pusatkan perhatian kita pada
menghidupkan Iman saudara-saudara Muslim kita daripada membuat
masalah dengan para tetangga Non-Muslim di lingkungan kita ini.� Tetap
saja nasehat saya ini tak dihiraukannya sama sekali. Ia tetap menolak
mengumandangkan adzan dari dalam Masjid. Maka saya pun; seraya
berdoa:�Wahai Allah maafkanlah hambamu ini�; terpaksa meminta orang
lain untuk mengumandangkan Adzan.
Secara kebetulan saya mengetahui bahwa hanya ada satu Masjid di
Amerika Utara yang memiliki ijin meletakkan pengeras suara diluar
Masjid. Keputusan yang diambil oleh pengadilan Dearborn, Michigan
menguntungkan kaum Muslim karena hampir semua anggota masyarakat
di likungan itu beragama Islam.
Pernah juga akhi Abdullah meminta saya memberikan kunci Masjid
kepadanya. Saya jelaskan bahwa Masjid hanya dibuka pada waktu-waktu
shalat dan untuk keperluan asuransi telah dilakukan pembatasan kebebasan
masuk Masjid.
Beberapa minggu kemudian, ia meminta ijin kepada saya agar
tamunya diperbolehkan tidur di Masjid pada malam hari. Tetapi saya tidak
meluluskan permintaannya. Saya bertanya kepadanya, �Mengapa anda
tidak menyediakan tamu anda tempat bermalam di rumah anda?� Iapun
8
mejawab, �Karena saya telah beristri.� Saya pun menawarkan kepadanya,
�Kalau begitu, biarkan tamu anda bermalam di rumah saya.� Iapun balik
bertanya, �Bukankah andapun beristri?� Saya katakan kepadanya, �Benar,
tetapi akan saya usahakan untuk mencarikan ruangan untuknya di rumah
saya, atau saya akan carikan hotel untuknya dan saya yang akan membayar
biayanya.� Akhi Abdullah pun pergi begitu saja dengan membawa
amarahnya. Ia hanya mau melakukan sesuai dengan cara yang
diinginkannya. Ia pun menyatakan keberatannya atas perlakuan saya itu
kepada saudara-saudara Muslim yang lain. Walaupun ia begitu kecewa, ia
tetap pada komitmennya untuk shalat berjama�ah di Masjid.
Akhi Abdullah telah menghafal cukup banyak Surah dari Al-Qur�an,
pelafalannya pun sangat memesona dan tepat. Saya memintanya menjadi
Imam shalat Isya� setiap hari. Semakin banyak Surah yang ia hafal dari
hari ke hari. Ia pun amat menyukai Surah yang baru ia hafal dan cenderung
untuk ia bacakan ketika menjadi Imam Shalat. Namun selalu saja ada
kekeliruan dalam pembacaan surah yang baru dihafalnya. Tentu saja ini
menimbulkan perasaan kurang nyaman bagi saudara-saudara Muslim
lainnya yang menjadi ma�mum.
Saya keluhkan hal itu kepadanya, saya sarankan agar didalam shalat
ia hanya membaca surah-surah yang ia kuasai hafalannya dan saya juga
minta agar sehari sebelumnya ia bacakan dulu di hadapan saya surah yang
akan ia bacakan didalam shalat. Akhi Abdullah suka dengan saran saya ini.
Maka ia menjadi lebih baik dan telah memahami sudut pandang saya.
Kesalahan-kesalahan bacaannya pun telah hilang seluruhnya dan kerjasama
yang didukung sikap untuk saling menolong ini telah menjadi jalan untuk
mempererat kembali persaudaraan diantara kami.
Pernah juga kami (jama�ah masjid) ada masalah lain dengan akhi
Abdullah. Ia pernah terbiasa membacakan surah yang panjang dan
dilanjutkan dengan surah Al-Ikhlas didalam setiap raka�at, sehingga shalat
berlangsung lama. Kadangkala, shalat isya yang ia pimpin bisa
berlangsung sampai duapuluh menit. Banyak peserta shalat berjama�ah
yang tidak siap menjalani dan memiliki kesabaran cukup dalam hal
demikian ini. Saya ungkapkan perasaan para jama�ah ini kepadanya. Iapun
menjawab bahwa ia menyukai cara yang ia lakukan itu, sebagaimana yang
pernah dilakukan oleh salah satu sahabat Rasulullah SAW yang selalu
menyambung pembacaan surah didalam shalatnya dengan surah Al-Ikhlas
setiap kali mengerjakan shalat. Saya katakan kepada akhi Abdullah,
�Sepanjang pengetahuan saya, surah Al-Ikhlas hanya disambungkan
dengan pembacaan surat lain didalam raka�at ke-dua.� Kembali ia
menjawab, � Saya baca sebuah hadits yang meriwayatkan bahwa itu
dilakukan di kedua raka�at.� Maka tak seorangpun dapat mencegahnya
9
membaca sebuah surah panjang diikuti dengan pembacaan Surah Al-Ikhlas
di setiap raka�at.
Suatu hari saya melihatnya sedang membaringkan badannya disisi
kanan dan ditopangnya kepalanya dengan lengan kanannya menjelang
shalat Subuh berjama�ah. Saya pun menjadi khawatir dan
menghampirinya, saya tanyakan kepadanya adakah terjadi sesuatu pada
dirinya. Ia katakan bahwa ia baik-baik saja dan ia menjelaskan bahwa ia
melakukan apa yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Muhammad SAW
untuk beristirahat sejenak dengan posisi tubuh sebagaimana ia sedang
lakukan. Akhi Abdullah selalu ingin mencoba melakukan apapun yang ia
baca dari Al-Qur�an dan Al-Hadits tanpa sedikitpun merasa canggung
ataupun malu.
Kehidupan rumah-tangganya pun amat mengesankan. Istrinya dan
banyak saudara-saudaranya yang masuk Islam melalui usahanya yang
gigih mendakwahkan Islam kepada mereka. Ia dikarunia Allah SWT
banyak anak. Semua anaknya sangat bagus dalam membaca al-Qur�an.
Anak lelakinya yang tertua, waktu itu berumur tujuh tahun, telah hafal
sebagian Al-Qur�an atas bimbingan sang Ayah. Bersama-sama sang Ayah
pula si anak secara teratur hadir untuk shalat bejama�ah di Masjid, bahkan
juga untuk shalat Subuh. Saya belum pernah tahu, adakah ayah-ayah yang
lain yang dengan senang hati membawa anak lelaki mereka yang baru
berusia tujuh tahun untuk berjama�ah shalat subuh di Masjid, walaupun
cuaca begitu dinginnya, lagi bersalju ataupun sedang hujan. Seusai shalat
Subuh, akhi Abdullah biasanya mengajarkan Al-Qur�an kepada anak
lelakinya itu di Masjid. Maka, jadilah anak lelakinya itu istimewa dalam
hal pengetahuan dan pengamalan Islamnya, begitupun perilakunya
sungguh menawan. Pembacaan Al-Qur�annya pun seindah sang Ayah.
Adabnya bagaikan seorang pria dewasa berusia tigapuluh tahun. Semoga
kelak, ia bisa menjadi Imam Masjid yang baik.
Seiring berjalannya waktu, akhi Abdullah tidak hanya memegang
kunci Masjid, iapun bertanggung-jawab atas pelaksanaan shalat berjama�ah
di Masjid. Terpikirkan pula oleh saya, bahwa ia pun telah siap untuk
memberikan khutbah Jum�at. Meskipun awalnya sedikit engan, iapun
bersedia untuk berkhutbah sekali saja. Itupun telah dikerjakannya dengan
amat sangat baik. Oleh karena itu iapun selanjutnya ditugasi untuk setiap
bulannya satu khutbah Jum�at di Pusat Tauhid Detroit dan satu Jum�at di
Pusat Tauhid Farmington Hills, Michigan. Ia laksanakan tugas sukarela ini
dengan begitu baik.
Tanpa maksud membesar-besarkan, banyak jama�ah yang datang
untuk memintanya menjadi Khatib Tetap di kedua Masjid itu. Mereka juga
suka mendengarkan pembacaan Al-Qur�an olehnya. Jujur saja, kamipun
10
bisa mengumpulkan infaq-shadaqah lebih banyak di masing-masing masjid
itu manakala akhi Abdullah memimpin Shalat Jum�at.
Suatu hari diwaktu Subuh, manakala shalat Subuh berjama�ah telah
usai dan semua jama�ah telah pulang ke rumah masing-masing, akhi
Abdullah datang ke Masjid Pusat Tauhid Detroit bersama seorang akhi
Muslim setempat. Saya sedang membaca kitab suci Al-Qur�an ketika
mereka memasuki masjid. Mereka pun menunaikan shalat Subuh.
Setelahnya, saya menyambut kehadiran mereka berdua yang baru saja
pulang dari menunaikan ibadah Haji. Saya mendesak mereka agar
berkenan singgah ke rumah saya untuk sarapan pagi. Akhi Abdullah
menolak ajakan saya, ia katakan bahwa ia belum pulang ke rumah dan
langsung menuju masjid. Ini ia lakukan mengikuti Sunnah Nabi
Muhammad SAW yang selalu mendahulukan singgah di Masjid sepulang
beliau dari sebuah perjalanan, sebelum pulang ke rumah untuk menjumpai
keluarga beliau. Saya pun bertanya-tanya dalam hati, seberapa banyakkah
orang-orang yang terlahir dari keluarga Muslim yang mengamalkan sunnah
Rasulullah SAW ini?
Kini, akhi Abdullah suka menertawakan dirinya dimasa lalu yang
begitu kaku perilakunya. Ia sekarang telah bisa menerima beraneka-ragam
pengamalan ajaran Islam. Iapun sudah mulai bersedia mengumandangkan
adzan dari dalam Masjid.
Setelah akhi Abdullah berkesempatan menyampaikan khutbah
Jum�atnya yang pertama, seusai shalat saya memperkenalkannya kepada
para jama�ah, saya ceritakan bagaimana kisahnya memeluk Islam dan
betapa bangga putranya ikut sang Ayah melaksanakan shalat Subuh di
Masjid setiap hari. Begitu selesai perkenalan itu saya sampaikan nampak
betapa akhi Abdullah begitu ingin mengetahui tangapan saya mengenai
khubtbah yang dibawakannya. Saya katakan kepadanya bahwa khutbahnya
baik sekali, iapun menyelesaikan dengan tepat waktu, sementara sering
terjadi banyak khatib yang sulit untuk mengakhiri khutbahnya. Ia pun pergi
tanpa berkomentar lagi. Setelah shalat Isya� akhi Hani ingin berbicara
dengan saya. Ia berkata, �Akhi Abdullah merasa tersinggung, ia
menganggap bahwa memujinya didepan umum sama halnya; sebagaimana
yang diriwayatkan sebuah hadits; memotong urat lehernya.� Saya
menanggapinya, �Hendaknya anda merujuk juga hadits yang lain, bahwa
kitapun dianjurkan untuk menghormati secara patut dan menyampaikan
penghargaan kepada siapapun yang pantas menerimanya.� Nabi Syuaib
AS juga menekankan agar umatnya tidak kikir memberikan penghargaan
yang patut diberikan. Hal ini juga tercantum dalam berbagai ayat didalam
Al-Qur�an. Banyak orang yang hanya dengan memperhatikan sebuah
hadits langsung menarik kesimpulan sendiri. Alhamdulillah saya tidak
melebih-lebihkan apapun dalam memperkenalkan dirinya. Terlebih lagi,
11
jama�ah perlu mengenal segala sesuatu mengenai Khatib yang baru. Saya
sampaikan pendapat saya ini kepada akhi Abdullah pada keesokan harinya.
Iapun merasa puas dengan penjelasan saya.
Sebulan setelah kejadian itu, sekali lagi saya memperkenalkannya
kepada para jama�ah setelah kedua-kalinya ia menyampaikan khutbah
Jum�at. Saya berkata, �Saya bukannya memuji akhi Abdullah, tetapi saya
rasa, saya perlu berlaku adil dalam menyampaikan fakta dan mutu
sebenarnya dari khatib kita yang baru.� Setelah memperkenalkannya ,
saya pun menambahkan bahwa tugas dan tanggung-jawab dijalankan
bersama-sama.
Kini akhi Abdullah dan akhi Hani memikul tanggung-jawab atas
Masjid manakala saya berhalangan hadir ke Masjid. Mereka berdua
menjalankan tugas dan tanggung-jawab mereka dengan baik sekali.
Akhi Abdullah mengikuti kelas bahasa Arab pada sebuah perguruan
lokal, pengajarnya adalah Dr. Syeikh Ali Suleiman. Maka kini iapun telah
mampu berbahasa Arab dengan baik, memahami beberapa tata-bahasanya.
Ia pun terus membaca dan menghafal surah-surah Al-Qur�an. Iapun belajar
Hadits, memimpin Shalat Jum�at, dan juga membimbing banyak orang
yang belum beriman kepada cahaya Islam. Seorang tamatan sekolah
menengah dengan ketulusan dan komitmennya telah berhasil mengerjakan
hal-hal besar ini, juga memperkenalkan dan mendakwahkan Al-Islam
ditengah-tengah masyarakat dari berbagai macam keyakinan. Itulah Akhi
Abdullah, salah seorang produk sampingan dari Perang Teluk. Masih
banyak lagi serdadu-serdadu lain yang menjadi pemeluk Islam setelah
berkunjung ke Saudi Arabia.
__________________________
Cahaya Hidayah di Perpustakaan Sekolah�
JAMES ABIBA
Kisah ini terjadi pada waktu saya bertugas sebagai pengajar
matematika dari Kelas-9 sampai dengan Kelas-12 pada Fort Mead High
School di Maryland. Setiap hari saya harus mengajar di lima kelas yang
berbeda. Setiap kelas terdiri atas sekitar empat puluh siswa. Namun James
Abiba bukanlah salah satu dari murid di kelima kelas itu. Ia menghubungi
saya melalui salah seorang siswa saya, meminta ijin untuk menemui saya.
Tentu saja saya bersedia.
Ketika bertemu, James menanyakan kepada saya pertanyaanpertanyaan
dasar seputar Islam, saya berikan jawaban-jawaban ringkas atas
pertanyaan itu. Pada kesempatan berikutnya ia datang lagi dengan lebih
banyak pertanyaan. Saya pun berbalik menanyakan, �Adakah ini dari
12
Kelompok belajar Pelajaran Sosial?� Ia menjawab bahwa, secara kebetulan
ia membaca sebuah buku perihal Islam di perpustakaan sekolahnya. Entah
bagaimana, ia menjadi penasaran untuk mengetahui Islam. Saya
mengingatkannya perihal konflik antara agama dan negara. Karena itu
sekolah negeri bukanlah tempat yang tepat untuk mendiskusikan secara
lebih terperinci. Saya ajak dia ke sebuah restoran cepat saji. Sambil
menikmati makanan ringan, kami berdiskusi disana. Sebuah diskusi yang
amat positif. Pada waktu itu James baru berumur 16 tahun.
Beberapa hal menimbulkan kecemasan pada diri saya. James masih
tergolong remaja, ia belum tergolong dewasa. Bisa saja orangtuanya
mempermasalahkan saya. Terlebih lagi, Fort Mead adalah sebuah wilayah
pangkalan militer yang terletak berdekatan dengan kantor Agensi
Keamanan Nasional (NSA). Kadang saya khawatir, bisa-bisa timbul situasi
yang tidak menyenangkan untuk diri saya. Puncak kecemasan saya adalah,
ternyata ayahnya bertugas purna-waktu di NSA.
Walaupun demikian, kami telah melangsungkan beberapa kali
pertemuan di restoran cepat-saji. Pembicaraan kami begitu jujur dan
banyak membuahkan pengertian. Iapun ingin melihat tempat ibadah Islam.
Saya tunjukkan kepadanya sebuah rumah yang sangat tua, yang digunakan
sebagai Masjid di kota tetangga; Laurel, Maryland. Saya peragakan
kepadanya bagaimana cara bersembahyang umat Muslim. Ia menyukai
kesederhanaan dan komunikasi langsung yang terjadi antara seseorang
dengan Tuhan yang Maha Kuasa.
Selanjutnya, James mengatakan bahwa ia ingin menjadi seorang
Muslim. Saya terangkan kepadanya bahwa untuk itu hanya perlu proses
yang sangat sederhana. Namun saya peringatkan juga konsekuensinya jika
ia berbalik tidak beriman lagi. Maka, saya anjurkan dia untuk
memanfaatkan waktu yang lebih banyak lagi untuk memperkaya
pengetahuannya tentang Islam sebelum ia memutuskan memeluk Islam.
Beberapa hari setelah itu, ia berkeras bahwa dirinya harus memeluk
Islam. Alhamdulillah�� ia telah melakukannya. Kini lebih banyak
tantangan bagi kami berdua. Saya mendapat tugas baru yang harus saya
kerjakan. Setiap hari Ahad saya menjemputnya di rumahnya dan
membawanya ke Masjid untuk shalat dzuhur. Selama didalam masjid saya
ajarkan kepadanya abjad Arab, ternyata ia bisa menguasai dengan begitu
cepat. James adalah seorang pemain musik, ia sangat antusias belajar
mengumandangkan Adzan. Dengan segera ia telah pantas menjadi
Muadzin di Masjid. Saya sadari betapa suara Adzan seorang mualaf begitu
menyentuh. Tahap demi tahap, James mulai membaca Al-Qur�an dalam
bahasa Arab.
Suatu hari saya pergi menjemput ke rumahnya. Saya terperanjat
mendapatinya mengenakan pakaian khas Saudi lengkap dari kepala sampai
13
kaki. Saya menjadi sangat khawatir, karena para siswa saya, orangtuanya,
dan juga teman-temannya sudah sering berbisik-bisik tentang kunjungan
saya secara teratur ke rumahnya. Saya katakan, �Kamu tidak harus
berpakaian seperti ini, Muslim boleh mengerjakan shalat dalam pakaian ala
Amerika juga.� Ia menampik seraya berkata, �Pak Ahmad, anda lemah
Iman.� �Adakah orangtuamu marah kamu berpakaian begini? Tanya saya.
�Tidak! Mereka begitu penuh pengertian. Bahkan Ibuku memasak menu
halal untukku setiap hari.� Jawabnya. Betapa lega saya mendengar jawaban
ini.
James masih duduk di bangku sekolah lanjutan. Ia mendekat,
menyampaikan niatnya kepada saya untuk mengganti namanya dengan
nama Islami. Dengan hati-hati saya meyakinkannya bahwa dengan
namanya yang sekarang ia akan lebih mudah meng-komunikasikan nilainilai
Islam kepada teman sebayanya. Malahan, bisa-bisa mereka
menjauhinya jika ia mengganti nama yang �berbau� Islam. Sekali lagi ia
berkata tegas, �Pak Ahmad, Iman anda lemah.� Maka namanya pun
berubah menjadi, James Huseyin Abiba.
Dalam kesempatan ini saya hendak mengetengahkan gambaran yang
mengagumkan tentang masyarakat Amerika. Banyak remaja Amerika yang
berusaha mendapatkan pekerjaan sementara guna mengumpulkan dana
untuk bekal dirinya melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Walaupun orangtua mereka banyak yang kaya dan terpandang status
sosialnya, anak-anak mereka tidak merasa malu untuk mencari pekerjaan,
meskipun itu pekerjaan kasar, demi mewujudkan harapan mereka. Mereka
para remaja, tidak sembunyi-sembunyi melakukan pekerjaan sepele itu.
Dengan bangganya mereka saling berbagi pengalaman dengan kawan,
saudara, dan tetangga mereka. Pekerjaan demikian membawa mereka
kepada kenyataan �pasang-surut� kehidupan yang sesungguhnya. Dengan
demikian, meningkatkan kematangan diri dan rasa tanggung-jawab
mereka. Akan halnya James, iapun mencari pekerjaan di musim panas
untuk waktu seusai wisudanya dari Sekolah Lanjutan. Istri saya melatih
James sebagai penerima-tamu medis dan mempekerjakan James di Klinik
miliknya. Istri saya baru saja membuka praktek medisnya, karena itu tidak
terlalu banyak pasien. Maka, cukup banyak waktu luang bagi James untuk
membaca buku-buku Islam disana.
Biasanya, James merayakan �Ied bersama keluarga saya. Suatu kali,
Allah SWT memberikan kesempatan saya melakukan perjalanan dari
Amerika menuju Makkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah
dalam bulan Ramadhan dan �Ied. Dalam kebahagiaan ini, saya prihatin
dengan kesendirian James di Amerika. Sekembali saya ke Amerika saya
bergegas mencari kabar perihal keadaan James dari para ikhwan Muslim di
masjid kami. Dengan bersemangat mereka berkisah, �James ikut ambil
14
bagian di berbagai kegiatan Ramadhan, bahkan ia pun tinggal di masjid
melakukan I�tikaf selama sepuluh hari teakhir bulan Ramadhan.� Mereka
menambahkan, �Ia selalu lebih dulu mempraktekan Islam dibandingkan
kami.� James begitu rendah-hati tidak pernah ia ceritakan kepada saya soal
I�tikafnya. Saya panjatkan do�a ke Hadirat Allah SWT, semoga Allah
menerima ketulus-ikhlasan James berserah diri kepada-Nya.
Ia melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi dan lulus sebagai
Sarjana dibidang Sejarah Islam. Iapun dikenal sebagai Ketua Asosiasi
Mahasiswa Muslim di kampusnya di College Park, Maryland. Ia menikahi
gadis Muslimah asal India. Selanjutnya mereka berdua menjadi guru di
sekolah Islam yang dikenal sebagai Universal Islamic School, di Chicago.
_______________________________
Cahaya Hidayah Itu Tersimpan Untuknya…
KATHY
Saya mengakhiri tugas di organisasi pendidikan Maryland dengan
kedudukan sebagai Ketua Departemen Matematika untuk kemudian
bergabung dengan Sekolah Islam Seattle, sebagai Kepala Sekolah. Kathy
bertugas sebagai sekretaris di sekolah ini, ia juga aktif sebagai seorang
pekerja sosial Muslimah di lingkungannya. Ia memeluk Islam secara unik
yang di jalaninya sendiri.
Berikut ini adalah kisah yang diceritakannya kepada saya:
�Sewaktu masih duduk di Sekolah Dasar, saya ditemani ibu pergi
mengunjungi perpustakaan umum. Perpustakaan ini tidak membuang
begitu saja buku-buku duplikat dan buku-buku yang sudah waktunya
diganti. Mereka menjual buku-buku itu dengan harga murah untuk
mengumpulkan dana. Penjualan buku murah pun sedang berlangsung
ketika saya datang ke perpustakaan itu. Saya mempunyai beberapa keping
recehan logam di kantong, maka saya pun membeli sebuah buku seharga
satu sen dollar. Sesampai di rumah, buku itu saya simpan begitu saja di
kamar. Kehidupan terus berjalan bersama sang waktu, saya lulus dari
Sekolah Dasar. Melanjutkan ke Sekolah Menengah, dan begitu seterusnya,
selesai dari Sekolah Menengah saya pun meneruskan belajar ke Sekolah
Lanjutan, sehingga akhirnya saya pun lulus dari Sekolah Lanjutan.
Beruntung saya sanggup melanjutkan ke Perguruan Tinggi. Saya tidak
memilih bidang Sains, tetapi memilih jurusan Art (Seni/Budaya). Bidang
studi utama yang saya tekuni adalah Perbandingan agama-agama.
Professor saya menawarkan begitu banyak pilihan tugas kerja di bidang
ini. Tema Utamanya adalah studi perbandingan agama Yahudi, Kristen,
dan Islam. Namun tak satupun dari para pengajar kami yang beragama
15
Islam. Saya lalui semua tugas perkuliahan dengan mudah dan lancar.
Dengan demikian, saya telah mengumpulkan banyak nilai untuk
dinyatakan lulus.�
�Sebagai lulusan baru, saya mulai mencari pekerjaan. Sangat sedikit
lapangan kerja yang tersedia di daerah tempat tinggalku. Bagaikan
mendapatkan keajaiban bahwa seorang perempuan lulusan jurusan
Seni/Budaya bisa memperoleh pekerjaan. Saya menjadi begitu lelah, bosan
dan duduk termenung di rumah hampir sepanjang waktu. Untuk mengusir
rasa jemu, saya mulai mencari-cari bebagai barang yang saya miliki di
rumah. Sampailah saya menemukan buku yang pernah saya beli bertahuntahun
lalu ketika saya mengunjungi perpustakaan. Begitu lama tersimpan
buku itupun tertutup debu. Saya bersihkan debu-debu itu dan mengambil
buku itu. Adalah hal biasa bila seseorang menghargai apa yang telah
pernah dibelinya menggunakan uangnya sendiri, terutama bagi seorang
anak. Begitu pula bagi saya buku itu adalah sebuah barang berharga yang
saya miliki.
�Saya mulai membaca buku itu halaman demi halaman. Ternyata
buku itu berisi terjemahan Al-Qur�an dalam bahasa Inggris. Isinya begitu
menarik. Semakin jauh saya membacanya, saya semakin dibuat penasaran
untuk lebih mengenal Islam. Apa yang tertulis disitu amat sangat berbeda
dengan apa yang pernah diajarkan oleh professor saya di perguruan tinggi.
Namun Demikian, nilai-nilai kebenaran Islam yang diketengahkan didalam
Al-Qur�an memberikan kepuasan bagi akal dan nurani saya. Saya pun
tersadar bahwa, jika demikian inilah Islam, sungguh sangat mengagumkan.
Saya ingin menjadi seorang Islam.�
�Saya pun berusaha memperoleh informasi bagaimana caranya saya
bisa masuk Islam. Ternyata prosesnya begitu sederhana sekali, maka
sayapun memeluk Islam. Alhamdulillah. Segera setelah itu, saya menikahi
seorang pemuda Muslim dari Afghanistan. Berdua, kami memberikan
pelayanan kepada masyarakat Muslim dan bekerja bahu-membahu dengan
para pemimpin Muslim setempat. Tak pernah kami berharap untuk
mengubah jalan hidup kami ini. Semoga Allah SWT menerima perjuangan
kami.�Amiin
___________________________________
Cahaya Hidayah Hadir Bersama Kelahiran Anak…
REHANA
Banyak berpindah-pindah merupakan kewajaran dalam pola
kehidupan Amerika. Menurut perkiraan, rata-rata sebuah keluarga tidak
pernah menetap di tempat yang sama lebih dari lima tahun. Menggunakan
16
ukuran ini, keluarga saya pun termasuk dalam keluarga Amerika sejati.
Kami berpindah dari Seattle ke daerah perumahan di pinggiran kota Los
Angeles. California. Tetangga Muslim kami yang terdekat adalah akhi
Abdul Wahab. Kami tidak hanya bertemu di Masjid setiap hari, lebih dari
itu kami juga secara rutin berbagi secangkir teh. Suatu hari, Abdul Wahab
bertutur panjang-lebar ihwal tantangan dan ujian yang dilaluinya
menjelang ber-Islam-nya sang istri, Rehana. Berikut ini adalah kisah
mereka:
�Ketika menikahi Rehana, saya adalah seorang Muslim yang tidak
menjalankan perintah agama, begitupun Rehana ia seorang Kristen yang
tidak pernah menjalankan agamanya. Jarang sekali saya pergi ke masjid,
begitupun ia tidak pernah pergi ke gereja. Saatnya pun tiba bagi kami
dikaruniai keturunan oleh Allah SWT. Saya coba untuk membicarakan
dengannya untuk pergi beribadah ke masjid. Terang-terangan ia menolak.
Bahkan ia mengejutkan saya dengan mulai pergi ke gereja. Semakin sering
saya mengajaknya ke masjid, semakin sering pula ia hadir ke gereja.�
�Tak seorang lelaki pun yang bisa menang menghadapi perempuan.�
Gumam Abdul Wahab, dan meneruskan cerita, �Maka sayapun
menawarkan kompromi dengan penuh kelembutan dan kesantunan. Saya
tawarkan, satu akhir pekan saya bersamanya hadir di gereja, dan akhir
pekan berikutnya kami berdua hadir ke masjid. Ia menerima usul ini, walau
dengan ogah-ogahan. Inilah cara yang bisa saya lakukan agar dapat
memperkenalkan Islam kepadanya.�
�Saya sadari bahwa saya pun harus menjadi Muslim yang
mempraktekkan ajaran Islam sebaik-baiknya. Berperilaku Islami di rumah
maupun di lingkangan sekitar saya. Hanya itulah cara agar istri saya dapat
menemukan dan menikmati nilai-nilai Islami. Maka saya perbaiki diri saya.
Aspek menguntungkan dan merugikan dalam hubungan suami-istri tidak
boleh dibiarkan terpendam dalam diri masing-masing, mengingat kami
berinteraksi sangat dekat dalam keseharian, dari hari ke hari.�
�Ini merupakan pola hidup yang baru sekaligus indah bagi diri saya.
Harus berperan sebagai sosok yang menghasilkan nilai positif. Sedikit
demi sedikit, lambat namun pasti, Rehana mulai memahami Islam melalui
pengalaman positif di rumah dan di lingkungan masyarakat Muslim.
Apresiasinya terhadap Islam, tumbuh dan berkembang dari hari ke hari.
Dan, sampailah pada puncaknya, ia memeluk Islam. �Segala puji hanyalah
bagi Allah!!… Alhamdulillah..!!�
Rehana yang sekarang lain dengan Rehana yang dahulu. Ia kini
mengenakan kerudung penutup kepala merepresentasikan dirinya seorang
Muslimah. Ia tak habis pikir mengapa banyak perempuan yang terlahir
Muslimah tidak bersedia mengenakan pakaian penanda keIslamannya. Ia
juga berkeinginan agar anak-anaknya memperoleh pendidikan di Sekolah
17
Islam yang berlangsung sehari penuh. Ia pun tetap melanjutkan menimba
ilmu Islam bagi dirinya sendiri. Ia meminta suaminya membawakan
salinan kuliah Fiqih (hukum) Islam yang diselenggarakan di Masjid oleh
Dr. Muzammil Siddiqi, demi memperkaya kegiatan pendidikan dan
pertumbuhan keIslamannya.
Pada tahap ini, masalah Abdul Wahab telah usai dan masalah
Rehana baru saja dimulai. Rehana berjuang keras untuk belajar dan terus
belajar tentang Islam. Apapun yang telah dipelajarinya, ia berusaha
menerapkan karena ia rasakan kesesuaian ajaran Islam dengan hati nurani
dan akal-pikirannya. Diserapnya nilai-nilai Islami dengan kepala-dingin.
Setiap kami berkesempatan bercakap-cakap dengannya, kami dapati ia
semakin baik sebagai Muslimah. Lebih baik dari mereka yang dilahirkan
dalam keluarga Muslim. Kecintaannya terhadap penerapan ajaran Islam
menjadi inspirasi bagi kami. Rehana sangat berterima-kasih kepada
suaminya atas hadiah istimewa yakni membawa dirinya menjadi sosok
muslimah yang penuh Iman dan nilai-nilai Islami
Orangtua Rehana tinggal di Chicago. Ber-Islamnya Rehana
merupakan kejutan besar bagi mereka. Mereka bereaksi sangat menentang
hal itu. Ayahnya bersikap kaku, kasar, dan terang-terangan tidak bisa
menerimanya. Bahkan mereka berdua tidak lagi berkunjung ke rumah
Rehana. Bagi Rehana, adalah kewajiban seorang anak untuk mengunjungi
orangtuanya. Sambil berharap ia bisa mengajak orangtuanya ke Jalan
Kebenaran. Biasanya ia kembali ke Los Angeles dalam keadaan begitu
lelah setelah mengunjungi orangtuanya di Chicago. Anak-anaknya pun
selalu dibawa serta bila ia berkunjung. Kakek-nenek mereka kaget dan
kagum dengan begitu baiknya sikap dan perilaku cucu-cucu mereka, para
Muslim belia itu. Jauh di lubuk hati mereka yang paling dalam mereka
mulai merasakan bahwa Islam tidaklah seburuk gambaran yang mereka
dengar, sehingga mereka setuju untuk mengunjungi Rehana di Los
Angeles.
Saya mengundang keluarga Abdul Wahab untuk makan malam, saya
undang juga bapak-ibu Naseem. Ibu Naseem juga seorang mualaf
berkebangsaan Amerika yang selalu mengenakan busana muslimah.
Maksud saya mengundang juga mereka , agar kedua orangtua Rehana
mengenal lebih banyak Muslim. Malam itu begitu menyenangkan sehingga
kami berkumpul bersama hingga larut malam. Orangtua Rehana menjadi
begitu ramah. Sekitar pukul satu dini hari, kami mengakhiri bincangbincang
kami. Kami berpisah satu sama lain dalam suasana hati yang
nyaman.
Sampai disini kisah lain terjadi. Sementara Rehana dan keluarganya
berjalan kaki menuju kediamannya, bapak-ibu Naseem harus
mengemudikan mobil sejauh sekitar 20 Mil (setara 30 km) menuju tempat
18
tinggal mereka di Riverside ditengah larutnya malam. Pada jam-jam seperti
ini pengemudi mabuk adalah ancaman di jalanan. Mobil pasangan Naseem
tertabrak mobil lain yang dikemudikan oleh orang mabuk, sedemikian
kencangnya tabarakan itu sehingga pak Naseem dan istrinya terlempar
keluar dari mobil mereka.
Pak Naseem tergeletak di tepi jalan tak sadarkan diri, sedangkan Bu
Naseem menderita cedera tulang yang parah namun masih dalam keadaan
sadar. Ia duduk disisi suaminya sambil terus menerus membaca Al-Qur�an
yang dilantunkan dengan suara lantang. Pada saatnya, paramedispun tiba
ditempat kejadian. Begitu mereka melihat bahwa korban kecelakaan dalam
pakaian yang asing bagi mereka dan berbicara dalam bahasa yang asing
bagi telinga mereka, pertanyaan pertama yang terucap dari paramedis itu
adalah �Anda bisa berbahasa Inggris?� Maka Bu Naseem pun mengiyakan
dan menjelaskan bahwa yang tadi diucakannya adalah ayat-ayat Al-Qur�an
dalam bahasa Arab. Alhamdulillah, atas Rahmat Allah Yang Maha Kuasa,
setelah melalui perawatan berbulan-bulan di rumah sakit, mereka pulih
seperti sediakala.
Orangtua Rehana ke Chicago setelah menginap beberapa hari.
Rehana pun berharap suatu saat kelak kedua orangtuanya bisa menerima
Islam. Suatu hari istri saya memberitakan bahwa Rehana sedang bersedih
berurai air mata karena ibundanya sakit parah. Rehana khawatir ibu yang
dicintainya wafat sebelum menerima Islam dan sebagai akibatnya akan
menderita di Hari Kemudian. Malang tak dapat ditolak sang ibunda pun
meninggal sebelum beriman.
Setelahnya, menjadi lebih sulit bagi dirinya untuk berbicara dengan
sang ayah. Kami semua berusaha untuk membantu mengatasi keadaan ini.
Abdul Wahab mengunjungi ayah mertuanya tanpa mengusik dengan
pembicaraan serius. Ayah Rehana adalah teman saya juga, maka sayapun
ingin ikut membantu.
Pada waktu itu saya telah pindah ke Detroit, Michigan. Saya
menelepon ayah Rehana dan mengundangnya ke kediaman kami di Detroit
yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya di Chicago. Namun sayang,
kesan Detroit pada waktu itu dikotori oleh ulah bodoh sebagian oknum
polisi kota itu. Karenanya meskipun senang dengan undangan saya, ayah
Rehana mengatakan, �Imtiaz, tentu saja saya senang jika bisa bertemu
denganmu, namun saya pun selalu berusaha sebaik-baiknya untuk tidak
menyusuri jalanan Detroit seumur hidup saya.�
Semoga Allah SWT memberikan hidayah bagi ayah Rehana kepada
jalan yang lurus. Amiin.
_______________________________
Cahaya Hidayah dalam Tilawah Al-Qur�an
19
Imam SIRAJ WAHAJ
The Muslim Student Association (MSA); yang berarti Perhimpunan
Mahasiswa Muslim; dahulu merupakan sebuah organisasi payung yang
menaungi para Muslim di Amerika dan Kanada. Siraj Wahaj dan saya
sendiri, telah mendapatkan kesempatan terhormat sebagai anggota Majlis
Syura (dewan penasehat) sekaligus anggota Dewan Pelaksana MSA.
Bertahun-tahun sudah, mahasiswa Muslim menjadikan Negara Amerika
Serikat sebagai rumah masa depan mereka, dan oleh karena itulah mereka
menjadi warga negeri Paman Sam ini. Guna melayani kebutuhan para
warga negara ini, maka dibentuklah organisasi payung yang baru, yang
dinamakan ISNA; Islamic Society of North America, (Masyarakat Islam
Amerika Utara). Didalam organisasi baru ini, kami berdua pun menjadi
anggota Majlis Syura sekaligus anggota Dewan Pelaksana.
Kami harus sering mengikuti pertemuan di kantor pusat ISNA di
Indiana. Biasanya, pertemuan berlangsung sangat lama dan begitu
melelahkan. Jarang sekali kami mempunyai kesempatan untuk ngobrol
bebas satu sama lain, karena agenda rapat yang begitu panjang. Hanya
sebagian kecil anggota yang sempat mengemukakan pendapat terhadap
pokok bahasan yang beraneka ragam. Dalam keadaan begini, saya rasakan
kehampaan diantara para pimpinan kelompok-kelompok Muslim tingkat
nasional itu.
Beruntung sekali, suatu hari saya sempat bersama Siraj Wahaj
sewaktu rehat makan siang dalam acara pertemuan Dewan Pelaksana
ISNA. Saya sangat ingin mengetahui awal mula ia bisa menerima Islam.
Inilah penuturannya:
�Dulu saya anggota kelompok pergerakan Black Moslem (Muslim
Kulit Hitam) yang memiliki banyak perbedaan ajaran dan amalan dengan
Muslim tradisional. Suatu kali, MSA mengadakan perkemahan musim
panas dalam rangka pelatihan para relawan masyarakat. Saya adalah salah
seorang peserta. Acara itu diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-
Qur�an oleh seorang akhi berkebangsaan Sudan. Walaupun waktu itu saya
tidak mengenal bahasa Arab, namun lantunan ayat-ayat suci Al-Qur�an itu
merasuk jauh kedalam diri saya. Saya pun mulai terisak-isak berurai
airmata. Semakin banyak ayat yang saya dengar, semakin deras airmata
mengucur dari kedua mata saya ini, mengalir turun membasahi kedua pipi
dan jatuh membasahi pakaian. Saya tidak mengenal bahasa Arab sepatah
katapun. Saya pun berkata pada diri sendiri, �Apapun arti ayat ini, nampak
begitu nyata.� Maka, setelah peristiwa itu saya menganut aliran
�tradisional� Muslim Sunni (Ahlussunnah wal Jama�ah).
20
Akhi Siraj begitu rajin belajar bahasa Arab dan menguasai
pembacaan Kitab Suci Al-Qur�an dan Hadits Nabi Muhammad SAW
dalam waktu singkat. Segera setelah itu ia pun menjadi Imam Masjid At-
Taqwa, New York. Khutbah Jum�atnya juga sangat berbobot. Melalui
dakwah yang disampaikannya banyak lelaki dan perempuan menjadi
pemeluk Islam.
Masyarakat Muslim di sekitar masjidnya tumbuh dan berkembang
semakin besar, dan oleh karena itu ia diangkat sebagai pemimpin North
American Muslims (Ummat Islam Amerika utara).
Saya juga sempat menanyakan pendapatnya ihwal kegiatan ISNA
dan kelompok-kelompok Muslim yang lain. Dengan lantangnya ia
menjawab, �Kalian semuanya lamban dan hasil dari kegiatan yang kalian
kerjakan sedikit sekali. Tengoklah contoh sewaktu saya masih menjadi
bagian dari Black Moslems Movement, saya harus berjualan koran banyak
sekali. Berdiri berjam-jam bersusah-payah agar semua koran yang saya
bawa habis terjual. Terkadang kedua belah kaki saya sampai gemetar
kelelahan meskipun saya masih muda. Sebagian besar kalian banyak bicara
sedikit sekali bekerja!� Usai ia melontarkan jawaban ini, tidak ada lagi
waktu tersisa untuk bertanya lagi kepadanya walau satu pertanyaan saja.
Masjidnya terletak ditengah Kota New York, dimana perdagangan
narkoba berlangsung siang-malam. Para gembong pengedar narkoba itu
kaya raya dan amat sangat berbahaya. Untuk mengenyahkan peredaran
narkoba dari wilayah ini sangatlah sulit dan beresiko tinggi. Pengedar
dengan mudahnya membunuh setiap pengganggu kegiatan perdagangan
mereka. Tak tanggung-tanggung, perdagangan merekapun berkembang
pesat diseputaran Masjid At-Taqwa. Tentu saja Imam Siraj tidak menyukai
keadaan ini. Iapun lantas mencari tahu perihal para pengedar ini dari
beberapa mualaf yang masa lalu mereka adalah bagian dari perputaran roda
perdagangan terlarang itu. Selanjutnya Imam Siraj mengumpulan beberapa
ratus Muslim di lingkungannya, kemudian satu demi satu gembong
narkoba di wilayah itu mereka datangi dan berpesan, �Enyahlah kalian dari
wilayah ini mulai esok hari. Atau kami terpaksa harus mengusir kalian
semua!� Beberapa dari mereka mengatakan, �Mangapa kalian hendak
merampas penghidupan sehari-hari kami?� Siraj menjawab, �Tidak ada
tempat untuk beredarnya narkoba di dalam wilayah masyarakat Muslim.�
Begitulah ia dan para pengikutnya mengulangi kunjungan peringatan ini
pada hari berikutnya. Maka para gembong pengedar itupun dengan
terpaksa menyingkir, dan wilayah seputar Masjid At-Taqwa menjadi
terbebas dari pengedar-pengedar narkoba hingga radius 5 mil (sekitar 7,5
km). Pemerintah Amerika Serikat pun terheran-heran dengan keberhasilan
ini, sementara pemerintah sendiri selalu gagal menghentikan aksi para
21
pengedar itu, walaupun telah mengeluarkan biaya besar, dengan berbagai
siasat, dan para personil yang handal.
Keberhasilan yang mengagumkan ini, membawa akhi Siraj pada
sebuah wawancara dengan stasiun televisi nasional Amerika Serikat.
Pewawancara bertanya, �Bagaimana dan mengapa anda melakukan hal
itu?� Siraj menjawab, �Islam dan pengedar narkoba tidak mungkin hidup
berdampingan. Saya tidak mau melihat rakyat miskin dihancurkan tangantangan
para pengedar narkoba itu. Murninya tujuan dan kuatnya niat
mempermudah tercapainya tujuan mulia.�
Kini akhi Siraj erat bekerja-sama dengan komunitas-komunitas
Muslim yang lain di Amerika dan Kanada. Ia sangat berhasil mengilhami
para muda Muslim dan meningkatkan penggalangan dana untuk Masjid
dan Sekolah Islam. Adalah hal yang wajar jika kita jumpai dia dengan
kitab Hadits ataupun kitab suci Al-Qur�an terbuka ditangannya, meskipun
sedang berada di bandara. Ia dihormati secara internasional. Dalam
kunjungan terakhir saya ke Makkah dari Amerika Serikat saya berjumpa
dengan beberapa Muslim Amerika. Saya tanyakan kepada mereka siapa
lagi yang hadir di Makkah. Mereka mengatakan bahwa Imam Siraj pun
hadir. Maka para imam lokal Masjidil-Haram pun mencari beliau agar
dapat berperan-serta dalam upacara penggantian Kiswah (kain penutup)
Ka�bah; Baitullah.
Terakhir kali saya menyimak khutbahnya, sewaktu Pertemuan
Tahunan ISNA di Chicago. Waktu itu bertepatan dengan puncak masa
kampanye pemilihan presiden Amerika Serikat dengan kandidat George
Bush, Bill Clinton dan Ross Perot. Mereka saling melempar cemooh satu
sama lain, karena yang demikian itu diperkenankan menurut hukum dan
perundang-undangan yang berlaku. Kaum Muslim yang bermukim di
Negeri Paman Sam pun berharap memperoleh arahan dari pertemuan
tersebut berkaitan partisipasi mereka dalam pemungutan suara untuk
pemilihan presiden. Nasehat dari para pemimpin umat Muslim Amerika
seperti Siraj Wahaj sangatlah berarti bagi mereka untuk menentukan
pilihan. Maka, simaklah apa yang dikatakan Siraj Wahaj memulai
khutbahnya, �Semalam saya sempatkan diri membaca Kitabullah Al-
Qur�an. Betapa terperanjatnya saya bahwa saya membaca perihal George
Bush didalamnya. Benar! Anda sekalian mendengar yang saya ucapkan
bukan?! Semalam, saya membaca perihal George Bush didalam Al-Qur�an.
Sungguh, sayapun membaca perihal Bill Clinton dan Ross Perot. Mereka
semua disebut bersamaan dalam satu ayat didalam Surah ke-2 dari Al-
Qur�an. Baiklah, saya bacakan saja secara tepat ayat yang saya maksud.�
Selanjutnya Siraj mengumandangkan ayat yang dimaksud:
[ ??S??�=( ?? � �� (�S?? ? ????S� e�<?S?� =ST�S? ]
22
Mereka itu tuli, bisu, dan buta. Maka tiadalah mereka itu akan
kembali (ke jalan yang benar). [Al-Baqarah:18]
Iapun menambahkan uraiannya, �Telinga mereka tidak sesuai untuk
mendengarkan kebenaran, lidah mereka tidak siap untuk menyuarakan
kebenaran dan juga mata mereka tidak sanggup melihat kebenaran. Lantas,
bagaimana mungkin ada harapan agar mereka condong kepada kebenaran
atau kembali kepada kebenaran?�
Siraj memiliki cara yang khas, yang asli dari dirinya sendiri. Kisah
dirinya perlu ditulis dalam sebuah buku tersendiri. Saya sungguh berharap
suatu hari nanti seseorang akan melakukannya.
_____________________________________
Cahaya Hidayah Bermula Dari Keprihatinan Suami�
SUSAN
Susan Menikah dengan Abdul Qadar, seorang Muslim
berkebangsaan Burma yang bermukim di Maryland. Pada waktu itu Abdul
Qadar bekerja pada perusahaan pembuat sepatu dan sering menghadiri
shalat jum�at di Masjid Laurel. Suatu hari, ia menemui saya
menyampaikan kesulitan yang sedang dihadapinya. Ia mengatakan, �Saya
menikahi perempuan kristen. Kami telah dikaruniai anak perempuan
kembar dan kini saya prihatin atas masa depan anak-anak. Saya telah
berusaha semampu saya mengajak istri saya untuk datang ke Masjid ini,
tetapi ia menolak mentah-mentah. Apalagikah yang mesti saya lakukan?�
Maka, saya menyarankan agar ia mengajak Susan (istrinya) datang ke
rumah saya untuk makan malam. Dengan demikian Susan bisa berkenalan
dengan istri saya supaya merasa nyaman. Pendekatan ini berhasil. Susan
mulai mau datang ke Masjid dan juga mengikuti kuliah tafsir AL-Qur�an.
Beberapa minggu dilaluinya dengan sangat lancar, hingga pada suatu hari
Jum�at dimana saya memberikan kuliah tafsir. Saya menerangkan beberapa
ayat Al-Qur�an dan memberikan kesempatan bertanya kepada para peserta.
Susan pun mengajukan sebuah pertanyaan. Sebelum saya sempat
mengatakan sepatah kata pun, seorang lelaki diantara peserta telah
menjawab lebih dahulu. Betapa terkejutnya saya melihat Susan menangis
terisak-isak sambil tetap duduk ditempatnya. Semua yang hadir
kebingungan. Abdul Qadar membimbing istrinya meninggalkan Masjid,
langsung mengantarkannya pulang ke rumah.
Setelah itu, saya bertanya kepada Abdul Qadar, mengapa istrinya
menangis pada waktu itu. Ia pun menjawab, �Susan tak mau lagi datang ke
Masjid. Ia merasa bahwa pertanyaannya telah mengusik lelaki yang
23
menjawab pertanyaannya dengan mimik wajah begitu serius. Sedangkan ia
tidak suka mengusik siapapun juga.�
Sejauh yang saya ketahui dan menurut pemahaman saya, lelaki itu
menjawab pertanyaan Susan bukan karena merasa terusik. Hanya saja,
memang ia berwajah serius. Maka saya katakan kepada Abdul Qadar,
�Jelaskanlah kepada istri anda dengan penuh kelembutan dan ketenangan
fikiran, bahwa banyak orang-orang yang berasal dari India dan Pakistan
berwajah serius. Hal seperti ini bisa anda lihat di setiap bandara maupun
terminal bis, ataupun di pusat perbelanjaan. Inilah kelemahan budaya
kami.� Lambat-laun Susan dapat memahami hal itu dan setelah beberapa
bulan ia kembali mengunjungi Masjid. Setiap minggu semakin bertambah
banyak hal mengenai Islam yang dipelajarinya. Ia rasakan bagian tanyajawab
sangat bermanfaat untuk mengenal nilai-nilai dan iman Islami. Ia
pun membangun persahabatan dengan banyak perempuan muslimah
jama�ah Masjid dan banyak memperoleh dukungan dan penghormatan dari
mereka.
Susan menyukai jalan hidupnya yang baru dan mendambakan
memeluk Islam. Adalah kehormatan bagi diri saya untuk mengajaknya
membaca Syahadah, sumpah seseorang yang memeluk Islam. Maka
susanpun mengucapkan, �Asyhadu an La ilaha illa_Allah, wa asyhadu
anna Muhammadan Rasulullah; Saya bersaksi bahwa tiada tuhan
(sesembahan) selain Allah, dan Mahammad adalah utusan (rasul) Allah.�
Maka, ia telah menjadi seorang Muslimah, berarti ia adalah saudari kita
didalam Islam. Pada hari itu juga, saya menikahkannya dengan suaminya
secara Islam di Masjid. Dan, Susan pun menikmati kehidupannya yang
baru dibawah naungan keberkahan Imannya kepada Islam.
Dalam kesempatan menyelenggarakan pernikahan secara Islam, saya
menjelaskan kepada mereka bahwa suami diwajibkan menyerahkan Mahar
(Mas Kawin/Bingkisan) kepada istrinya. Saya pun mengingatkan mereka
bahwa mahar yang diberikan menjadi milik pribadi sang istri yang boleh
dipergunakan sekehendak hatinya dan sang suami tidak diperkenankan
membicarakan perihal pemberian itu sepanjang hayatnya. Seranta, Abdul
Qahar pun sepakat segera membayarkan mahar. Susan pun terpana
mengetahui betapa Islam menghormati kaum perempuan dan ia juga
kagum atas cara Islam melindungi hak-hak perempuan. Hal ini semakin
meneguhkan keImanannya didalam Islam. Untuk digaris-bawahi,
pernikahan berlangsung di Negara Bagian Maryland, Amerika serikat.
Beralih sejenak dari kisah Susan, berikut ini akan saya ceritakan juga
suasana pernikahan lainnya yang berlangsung di Negara Bagian Michigan,
beberapa tahun kemudian. Sebagai Imam Masjid Tauhid, salah satu tugas
saya adalah sebagai Penghulu dalam pernikahan Muslim di Negara bagian
ini. Seorang pemuda Muslim menemui saya, ia minta saya memimpin
24
upacara pernikahannya. Saya jelaskan kepadanya dan calon istrinya, hakhak
lelaki dan perempuan didalam Islam dan perihal mahar.
Selanjutnya mereka mengisi formulir isian data pernikahan dan
formulir isian pembayaran Mahar. Kemudian, saya tanyakan kepada
mereka apakah masih ada pertanyaan lainnya sebelum mereka
mengikatkan diri didalam lembaga pernikahan. Calon mempelai
perempuan menjawab, �Tidak ada pertanyaan lagi dari saya.� Calon
mempelai Lelaki berkata, � Saya ada pertanyaan penting perihal mahar,
saya mengerti bahwa saya diwajibkan membayar mahar yang nantinya
sepenuhnya menjadi hak istri saya. Tidakkah ia pun berkewajiban
memberikan mahar untukku?� Maka, sebagaimana halnya Susan, sang
calon istri ini pun terpana atas cara Islam mengangkat martabat dan
kehormatan perempuan.
Kembali kepada Susan, kini ia telah memilih nama �Saeeda�, sesuai
dengan sifat dirinya yang lembut dan selalu penuh kesantunan terhadap
siapa saja. Ia memeluk Islam dengan pengetahuan yang jelas, ketulusan
yang tiada tara, dan komitmen (rasa tanggung-jawab) penuh. Segera ia
mengenakan busana Muslimah, tak ada sedikitpun rasa enggan ataupun
takut atas bisik-bisik tetangga atau komentar masyarakat umum. Anakanak
perempuannya; si kembar; yang ketika itu duduk di sekolah dasar
dimintanya untuk mengenakan jilbab dan tidak perlu menghiraukan olokolok
teman-teman sekolahnya. Malahan saya menasehatinya agar anakanak
seusia mereka tidak perlu menghadapi situasi pelik ini di sekolah.
Namun ia menekankan pada perlunya pembelajaran dan pengamalan jalan
kehidupan Islami sejak usia dini. Maka Saeeda dan kedua gadis kecilnya
pun mengenakan busana Muslimah sehingga mudah dikenali dan nampak
begitu anggun dimanapun mereka berada.
Itulah bukti tingkat keimanan dan komitmen dirinya. Suaminya jadi
suka menertawakan dirinya sendiri, ia merasa bahwa kita yang terlahir
Islam begitu meremehkan Islam sehingga komitmen kita pun rapuh.
Begitulah, selanjutnya Abdul Qadar dan Saeeda memperoleh kehidupan
rumah-tangga yang penuh kedamaian dan kebahagiaan yang didambakan
setiap keluarga.
_____________________________________
Cahaya Hidayah Menerangi Budaya Keterbukaan�
DR. NAJAT
Dr. Najat dilahirkan, dibesarkan, dan mendapatkan pendidikan di
India. Ia datang ke Windsor, Kanada untuk melanjutkan studinya ke
tingkat Pasca-Sarjana. Saya tidak menuliskan nama aslinya karena begitu
25
panjang dan sulit diucapkan. Dari nama aslinya itu saya bisa mengetahui
bahwa ia berasal dari keluarga Hindu yang taat yang menamakannya
dengan nama khas Hindu. Ia memperoleh pendidikan agama yang sangat
ketat, dan ia terapkan ajaran agamanya dengan sungguh-sungguh sejauh
kesanggupannya selama ia menetap di India.
Di Universitas Windsor ia berhadapan dengan interaksi berbagai
gagasan dan aneka budaya yang berjalan begitu sehat. Sebagaimana para
mahasiswa yang lain, ia pun berpikiran terbuka. Ia ingin menjadikan
hidupnya penuh makna bagi dirinya sendiri. Akibatnya, ia tidak merasa
nyaman dengan gagasan dan penerapan ajaran Hindu yang dianutnya.
Maka mulailah ia mempelajari kitab Injil Kristiani. Ia pun merasa ajaran
ini lebih memuaskan akalnya daripada agama yang sejak semula
diyakininya. Maka iapun menerima ajaran kristiani sebagai keyakinan
barunya, ia jalani dengan tulus-hati hingga setahun lebih. Namun
kemudian ia merasa tidak memperoleh puncak pemuasan ruhaniah atas
pencarian dalam dirinya. Mulailah ia melirik Islam dan menggali Ideologi
Islam. Perang batiniah religius pun berlangsung dalam dirinya, bersamaan
dengan berjalannya kegiatan studi doktoralnya di bidang Rekayasa
Teknologi.
Kampus-kampus perguruan tinggi di Kanada menyuguhkan suasana
unik dalam kebebasan memilih dan menjalani pilihan masing-masing
individu. Adakalanya, perdebatan yang membangun sikap saling
pengertian pun diselenggarakan antara para ulama/sarjana Yahudi, Kristen
(Nasrani), dan Muslim, dalam suasana yang amat sehat. Maka terbukalah
pintu pengetahuan bagi banyak orang yang selama ini terkungkung oleh
pendapat pribadinya. Dan, Najat pun mempelajari lebih banyak lagi perihal
Islam dari berbagai sumber. Ini membawa cakrawala kesadarannya untuk
cenderung memilih Tuhan Yang Esa ketimbang beribadah kepada
bermacam-macam �tuhan�. Didalam Islam, ia menemukan
keajegan/konsistensi dan kesinambungan logis daripada semua ajaran yang
lain. Maka ia pun memeluk Islam dan memilih nama Najat sebagai nama
islaminya. Semoga Allah SWT memelihara keIslamannya, mengingat
bahwa masuk Islam itu sangatlah mudah sementara tumbuh-kembangnya
pemahaman ajaran Islam didalam diri seringkali berlangsung begitu
lambat.
Najat menyadari bahwa untuk menerapkan Islam secara tulus-ikhlas
adalah dengan jalan ia menikah sesegera mungkin. Keinginannya ini
dengan cepat terkabul. Ia menikah dengan seorang gadis Muslimah
terpelajar yang berasal dari keluarga terhormat di Windsor. Upacara
pernikahan mereka berlangsung di Masjid Windsor. Najat bukan hanya
telah lulus dalam kehidupan berumah-tangga, karena pada waktu itu ia pun
telah lulus dari Universitas Windsor dengan meraih gelar doktoralnya.
26
Selanjut DR. Najat pun berusaha mendapatkan pekerjaan. Ia mendapat
tawaran istimewa dari Ford Company di Detroit. Iapun menerima tawaran
itu dan bersama keluarganya ia berpindah ke Farmington Hills, sebuah
kawasan permukiman di pinggiran Detroit.
Sebuah masjid baru dibangun di wilayah ini, namanya Tawheed
Center of (Pusat Tauhid) Farmington Hills, Michigan. Di masjid inilah
beberapa kali saya bertemu dengannya. Suatu hari, saya bertanya
kepadanya perihal kemampuannya membaca Al-Qur�an dalam tulisan
aslinya, yakni huruf Arab. Betapa terkejutnya saya mendapati kenyataan
bahwa seorang Najat yang begitu berbakat belum bisa membaca Al-Qur�an
dalam bahasa Arab. Alasannya sudah jelas, banyak umat Muslim yang
tidak sanggup meluangkan waktu untuk membimbing orang lain
mempelajari Islam dengan pola orang per orang. Jika terus menerus
demikian, banyak orang yang berkemauan belajar menjadi telantar ataupun
kecewa. Tanpa pengorbanan waktu pribadi akan sangat sulit mencapai
kemajuan dalam hal apapun. Ungkapan keprihatin sebatas kata takkan
bermanfaat. Saya pun terang-terangan bertanya kepada Ny. Najat,
�Mengapa anda belum mengajarkan abjad Arab kepada suami anda,
sedangkan anda berdua telah beberapa tahun menikah ?� Namun ia tidak
bisa memberikan jawaban yang memuaskan. Maka saya katakan kepada
DR. Najat, � Mari kita buat kesepakatan. Luangkan waktu anda empat
akhir pekan bersama saya, maka saya jamin anda akan mampu membaca
Al-Qur�an. Insya Allah (dengan perkenan Allah SWT)!� Kami pun sepakat
untuk bertemu di Tawheed Center selama beberapa jam seusai shalat
Subuh. Sebuah kejutan yang menggembirakan terjadi, setelah berlangsung
empat akhir pekan, DR. Najat telah bisa membaca Al-Qur�an dalam bahasa
Arab. Hal ini membangkitkan semangat para pembelajar potensial yang
lain. Banyak saudara-saudara Muslim yang mulai menerima murid baru
dengan pola orang per orang (satu murid satu pembimbing). Kami pun
dikagetkan oleh seorang Doktor Medik (bergelar �MD�) kelahiran Amerika
pun bergabung dalam kelompok bimbingan sebagai murid baru. Kegiatan
pagi hari ini seringkali dilanjutkan dengan sarapan bersama di Masjid.
DR. Najat telah bisa membaca berbagai surah dari Juz terakhir Al-
Qur�an. Namun ia masih memerlukan guru yang lebih baik daripada saya.
Seorang akhi (saudara muslim lelaki) asal Syria yang berusia lebih tua dari
saya; Syeikh Al-Atasy; bersedia mengajar DR. Najat secara privat. Ia pun
mulai bisa menikmati pembacaan Al-Qur�an setelah belajar cara
pengucapan yang benar dari seorang guru berpengalaman yang mampu
berbahasa Arab. Baik Syeikh Al-Atasy maupun Najat, amat menyukai
kegiatan mereka ini dan menambahkan waktu belajarnya menjadi setiap
hari sesudah shalat Subuh selama sekitar satu setengah jam. Seusai belajar,
Najat langsung berangkat dari masjid menuju tempat kerjanya. Sepulang
27
bekerja ia membawa serta keluarganya mengikuti jama�ah shalat Isya� di
Masjid.
Syeikh Al-Atasy dan Akhi Najat sangat mementingkan
kelangsungan pembelajaran Al-Qur�an yang mereka lakukan. Ketika
musim dingin tiba, Detroit mengalami musim dingin yang sangat buruk.
Mereka bersusah payah menembus salju dan hujan badai demi tak terlewat
seharipun untuk belajar. Syeikh Al-Atasy begitu bangga dengan muridnya.
Ia suka mengatakan kepada saya, �Pengucapan bacaan Najat sudah lebih
baik daripada anda.� Najat tidak hanya bagus sekali dalam membaca Al-
Qur�an, iapun sanggup membaca Al-Qur�an dari manapun anda
membukakan untuknya Kitab Al-Qur�an. Ia juga mulai membaca tafsir Al-
Qur�an yang ditulis dalam bahasa Inggris. Dengan demikian ia telah mulai
mengapresiasi ayat-ayat Al-Qur�an beserta maknanya secara keseluruhan.
Tidak berhenti sampai disini, ia pun mulai menghafal Al-Qur�an. Terakhir
kali kami berjumpa, ia telah menghafal setengah dari Juz terakhir Al-
Qur�an (Juz �amma).
Betapa sulit mendapat sukarelawan untuk kegiatan lingkungan.
Sebagian besar orang asyik melemparkan kritik ataupun membesarbesarkan
hal kecil yang mereka telah lakukan. DR. Najat-lah yang tanpa
banyak bicara ataupun keinginan menonjolkan diri di depan saya, telah
menjadi relawan untuk menjalankan hubungan kemasyarakatan Masjid.
Seringkali ia membukakan pintu Masjid untuk shalat Subuh meskipun ia
bertempat tinggal paling jauh jaraknya dari masjid. Ia menyingkirkan salju
dari jalan setapak dan lorong menuju pintu utama masjid, menaburi
permukaannya dengan garam agar orang yang lewat tidak jatuh
terpelanting yang bisa berakibat patah tulang. Pelayanan yang diberikan
Najat ini adalah hal pokok dan teramat penting bagi komunitas kami.
Sebab, setiap orang yang cidera akibat terjatuh di area Masjid dapat dengan
mudah mengajukan tuntutan akibat menderita kerusakan yang besar.
Sebagai akibatnya, perusahaan asuransi akan menolak memberikan
jaminan pertanggungan atas tempat umum seperti ini.
DR.Najat juga membantu penyelenggaraan Sekolah Islam Akhirpekan
di Masjid. Maka iapun bertugas untuk membuka lagi masjid
sebelum waktu Dzuhur, dan menyingkirkan salju, menaburkan garam,
sebelum para guru dan murid berdatangan. Menjadi penarik dana
pendidikan sekolah kepada para orangtua murid bukanlah pekerjaan yang
menyenangkan, inipun dikerjakannya tanpa mengusik siapapun. Ia juga
suka berbelanja makanan ringan untuk dibagikan kepada anak-anak. Ia
bersihkan sendiri dapur masjid dan dicairkannya pula bunga-es didalam
kulkas secara berkala.
Suatu malam, saya menutup masjid seusai shalat Tarawih. Semua
jama�ah telah meninggalkan masjid. Saya padamkan lampu-lampu
28
diberbagai tempat satu demi satu. Sampai di tempat wudhu jama�ah lelaki,
betapa terkejutnya saya melihat DR. Najat sedang membersihkan kamar
kecil. Ada enam kamar kecil di tempat itu. Saya pun berterima kasih
kepadanya. Ia hanya tersipu dan tersenyum kecil kemudian berusaha
mengalihkan pembicaraan, ini menunjukkan bahwa menurutnya bukanlah
hal yang luar biasa bahwa ia membersihkan kamar kecil. Mungkin karena
ia mengenal dengan baik pepatah urdu berikut ini,
�Keikhlasan pengabdian kepada Allah SWT bukanlah urusan
perdagangan. Maka hendaklah jangan berharap untuk mendapatkan
penghargaan, karena yang demikian itu akan melunturkan semangat
keikhlasan.�
Akhi Najat tidak membatasi dirinya pada kegiatan didalam masjid
saja, Lahan sekeliling masjid terbentang lebih dari 2.5 acre (hampir 1.2
hektar). Dan Najat mengerjakan pemupukan lahan yang berumput setiap
tahun. Ia beli sendiri pupuk dan pembasmi hama dengan uang pribadinya,
sebagaimana juga ia membeli garam untuk ditaburkan dimusim salju. Ia
rendah hati dan masih muda usia. Menebang pepohonan yang telah mati di
sekeliling masjid dikerjakannya juga.
Kami sangat menghargai pelayanannya selama Bulan Ramadhan
dimana biasa diselenggarakan acara jamuan makan (buka puasa) bersama
seminggu sekali. Ia membantu masing-masing penyaji dalam
mempersiapkan jamuan makan dan menyajikan kepada tamu lelaki dan
perempuan. Ia operasikan sendiri mesin penyedot debu (vacuum cleaner)
membersihkan masjid hampir setiap usai jamuan makan. Ia lebih suka
mengerjakan sendiri semua pekerjaan yang perlu dikerjakan, daripada
meminta atau menghimbau orang lain. Ia bekerja-sama dengan para
relawan lainnya mengatur dan menyajikan minuman lezat kepada jama�ah
seusai melaksanakan shalat Ied. Ia membina hubungan yang sangat erat
dengan para warga di lingkungan kami. Biasanya, ia juga mengundang
banyak keluarga ke rumahnya untuk mencicipi makanan ringan maupun
jamuan makan setelah penyelenggaraan shalat Ied. Dilakukannya hal itu
dari tahun ke tahun, dan tanggapan dari warga pun sangat
menggembirakan. Karena itulah, hal pertama yang saya lakukan setelah
menyampaikan khutbah Ied adalah segera berkunjung ke rumah akhi Najat
untuk menghibur diri saya dengan makanan-makanan yang serba lezat.
Semoga Allah SWT melimpahkan ganjaran kepada akhi Najat sekeluarga
atas keajegan dan ketulusannya memberikan pelayanan.
Suatu hari saya bertanya kepada akhi Najat, �Pengetahuan anda
perihal Al-Qur�an dan Islam cukup memadai. Bagaimanakah
sesungguhnya perasaan anda terhadap ajaran Islam?� DR. Najat menjawab,
�Dari lubuk hati saya yang paling dalam, saya katakan sejujurnya, saya
sangat terpuaskan. Tidak pernah saya sepuas ini ketika saya menganut
29
Kristen maupun Hindu. Saya mendapati Al-Qur�an memberikan dampak
yang sangat melegakan akal dan kalbu saya.�
Kini akhi Najat bahkan sesekali menjadi Imam shalat. Nyatalah
disini tidak terdapat hirarki didalam Islam. Siapapun yang berpengetahuan
baik dan bertaqwa bisa menjadi pemimpin dalam pelaksanaan bermacam
pelayanan Islam. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur�an:
T&?�??????p ????� ?�?/?� �??� ?????= ?{??� ???�
�� Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
adalah yang paling bertaqwa�� (Al Hujuraat:13). Dalam Islam seorang
yang taqwa boleh menjadi pemimpin tanpa membedakan warna kulit,
kelompok, asal geografis maupun kebangsaan.
______________________________
Cahaya Hidayah didalam Hadiah Natal�
JIM
Irama kehidupan di dunia Barat berjalan begitu cepat. Dalam hiruk
pikuk kehidupan sedemikian itu, banyak kaum Muslim yang hidup di Barat
masih bisa meluangkan waktu untuk berkiprah secara sukarela di
lingkungan masjid dan Sekeloh Islam. Contohnya, suatu hari para jama�ah
Masjid Tauhid Detroit sepakat untuk bersilaturahim ke Masjid Tauhid
Farmington Hills seusai shalat Subuh. Kami hendak menebang pohonpohon
yang tumbuh liar di halaman masjid menggunakan gergaji mesin
kemudian memotong batang pohon itu menjadi potongan-potongan kecil.
Potongan-potongan kecil itu kami satukan dalam ikatan-ikatan, selanjutnya
kami letakkan di tepi jalan agar diangkut oleh dinas pelayanan kebersihan
kota. Dengan begitu halaman masjid menjadi bersih.
Maka berangkatlah kami dalam dua mobil untuk keperluan ini
setelah berjamaah shalat Subuh. Diantara kami terdapat seorang mualaf
bernama Jim yang semobil dengan saya. Dalam perjalan saya tanyakan
kepadanya, bagaimana ia masuk Islam. Secara rinci, ia ceritakan
pengalaman hidupnya yang menarik itu. Beginilah ceritanya:
�Sebelumnya, sebagai penganut Kristen saya biasa ke gereja
bersama kedua orangtua saya. Untuk memperoleh pelayanan gereja,
orangtua saya harus menyisihkan sepuluh persen dari penghasilannya
untuk disumbangkan ke gereja ini. Merasa tidak cocok dengan praktek
keagamaan di gereja ini orangtua sayapun akhirnya berpindah ke gereja
lain. Di gereja berikutnya ini, kami cukup menyisihkan delapan persen
penghasilan perbulan untuk memperoleh pelayanan gereja. Hal ini dapat
dimaklumi oleh orangtua saya, karena hampir semua gereja melakukan hal
30
ini untuk penyelenggaraan gereja. Tetapi saya tetap saja tidak suka dengan
praktek �membeli tempat duduk� yang dikemas dalam bentuk sumbangan
wajib seperti itu. Saya putuskan untuk tidak lagi ke gereja karena saya
sungguh tidak setuju dengan praktek-praktek yang dilakukan oleh gerejagereja
itu.�
�Lulus dari High School (SLA), saya pun melanjutkan ke perguruan
tinggi. Disini, saya bertemu dengan banyak mahasiswa Muslim dari
berbagai Negara. Saya sempatkan bertanya kepada mereka:�Adakah kalian
wajib membayar tempat untuk beribadah?� Merekapun menjawab:�Tidak
Sama sekali. Sebenarnya setiap orang memiliki hak yang sama untuk
menggunakan tempat ibadah untuk mengerjakan shalat.�
Perlu saya tambahkan disini, bahwa di lingkungan kampus
perguruan tinggi di dunia Barat, para mahasiswa dihadapkan pada
kebebasan memilih yang tanpa batas. Sebagian kecil diantara mereka
memanfaatkan kebebasan itu secara keliru sehingga menghancurkan masa
depan mereka. Namun, sebagian besar mahasiswa memanfaatkan dengan
baik kebebasan ini, mereka berinteraksi secara konstruktif satu sama lain.
Interaksi inilah yang sebenarnya sangat menguntungkan. Mereka tidak
pernah menjawab dengan singkat pertanyaan orang lain sehingga si
penanya tetap dalam kebingungan. Tidak juga menjawab terlalu �njelimet�
sehingga si penanya tak berani lagi bertanya lebih lanjut. Lebih dari itu,
mereka tidak memaksakan pandangannya terhadap orang lain sehingga
tidak terjadi perseteruan diantara mereka. Bentuk interaksi yang
menguntungkan semacam ini berlangsung sepanjang waktu diantara semua
mahasiswa, maka sebenarnya, ini menjadi pedoman bagi sebagian dari para
pendakwah keagamaan kami.
Jim berpandangan bahwa sebenarnya tidak adanya pungutan biaya
tempat ibadah adalah praktek yang paling masuk akal. Karena itulah ia
bertanya pada diri sendiri, mengapa tidak ditelaahnya saja detail-detail
selebihnya dari agama ini? Kemudian ia lanjutkan berkisah kepada saya:
�Dulu, pacar saya tinggal se-apartemen sewaan dengan saya. Ia
beragama Budha. Ia letakkan patung-patung budhanya di semua penjuru
apartemen kami, walaupun ia sendiri tidak begitu rajin beribadah. Saya pun
tidak menjalankan ibadah sebagai seorang Kristen. Dari pembicaraan saya
sehari-hari ia dapat menangkap pencarian saya atas suatu pegangan hidup.
Kamipun saling menerima apa adanya satu sama lain. Akhirnya, tibalah
Natal.�
Natal adalah saat-saat dimana setiap orang mendambakan diberi
hadiah oleh teman karibnya, tanpa memandang apapun keyakinan
agamanya. Misalnya saja, orang-orang Yahudi yang sama sekali tidak
mengimani Yesus, justru merekalah yang terlebih dahulu saling bertukar
hadiah dan menghias tempat-tempat usaha mereka dengan pohon natal
31
yang begitu besar untuk memikat pelanggan. Jim melanjutkan lagi
kisahnya:
�Pacar saya juga tak ketinggalan bergegas ke tempat belanja, untuk
membelikan saya hadiah Natal. Ditempat itu perhatiannya tertuju pada
sebuah buku yang menurutnya nampak sangat filosofis. Iapun berkata pada
diri sendiri, �Jim tentu akan suka dengan buku ini, karena ia selalu berkatakata
aneh bagaikan ungkapan novel.� Maka sayapun mulai membaca buku
ini begitu saya terima sebagai hadiah darinya. Ternyata buku ini adalah
Terjemahan Al-Qur�an dalam bahasa Inggris. Saya pun suka membacanya
setiap hari, sehingga menimbulkan banyak pertanyaan dalam pikiran saya.
Para mahasiswa Muslim di kampus memberikan jawaban yang masuk akal
atas berbagai pertanyaan saya. Ini membuat saya semakin tertarik kepada
Islam, dan pada akhirnya saya puas dengan jalan hidup Muslim. Saya
lantas menghubungi beberapa anggota Himpunan Mahasiswa Muslim di
kampus Universitas dimana saya belajar. Mereka pun menjelaskan kepada
saya ikrar yang harus diucapkan untuk masuk Islam. Maka dengan penuh
kesiapan hati dan bersemangat, saya menyatakan memeluk Islam. Puji
syukur kepada Tuhan � Alhamdulillah.�
�Saya telah sangat memahami bahwa Shalat adalah hal terpenting
didalam Rukun Islam. Biasanya saya mengerjakan shalat di kampus dan di
rumah. Karena itu saya minta kepada kekasih saya untuk memindahkan
patung-patung miliknya dari ruang keluarga karena saya perlu ruangan itu
untuk mengerjakan shalat. Ia tidak menyukai hal ini; memang tidaklah
mudah berhadapan dengan hal-hal yang dapat mengusik keyakinan
seseorang; Namun akhirnya dengan perasaan enggan ia pun memindahkan
patung-patung itu demi menyenangkan hatiku.�
�Begitu pendidikan dan keyakinan Islam saya semakin menguat,
saya mulai menampakkan kekurangan perhatian terhadapnya, kamipun
sempat beberapa kali bertengkar soal ini. Berkali-kali ia berkata, �aku telah
selalu berusaha sebaik-baiknya untuk menyenangkanmu, karena
kesetiaanku kepadamu tidak pernah berkurang sedikitpun. Lalu, apa yang
membuatmu mengabaikanku sementara aku tetap dengan kesetiaanku
padamu?� Saya berikan jawaban serius kepadanya,�Semua hal yang kamu
katakan itu benar adanya, saya tidak mengingkari hal itu. Tapi kini sebagai
seorang Muslim saya tidak mungkin lagi menjalin hubungan perkawinan
dengan Non-Muslim� Ia mengenal sepenuhnya sifat dasar saya yang
lembut dan tenang serta hubungan saya yang selalu baik dengan temanteman
karib saya. Maka iapun tidak pernah berharap untuk meninggalkan
saya, walau sebesar apapun pengorbanan yang ia mesti berikan. Ia
kemudian bertanya, �Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan demi
mempertahankan hubungan kita ini?� Saya katakan, bahwa untuk itu ia
harus memeluk Islam. Ia kembali bertanya,�Apa itu Islam?� Saya jelaskan
32
kepadanya secara keseluruhan pokok-pokok ajaran Islam dalam waktu
singkat. Ia kurang bisa mencerna sepenuhnya gagasan yang saya uraikan,
namun akhirnya iapun setuju memeluk Islam untuk menenteramkan hati
saya. Ia singkirkan sendiri patung-patung miliknya dari apartemen kami.�
�Kami pun kemudian mengikatkan diri dalam pernikahan secara
Islam, setelah itu kami biasa beribadah di Masjid setempat. Kehidupan
kami berjalan sebagaimana mestinya. Ternyata, istri saya tidak tertib dan
teratur menjalankan Shalat 5 Waktu. Maka, saya pun menegurnya,�
Bagaimana kamu ini, muslim yang bagaimanakah yang tidak tertib
shalat lima waktunya?� Ia menjawab,�Saya sudah berusaha semampu
saya!� Maka, sekali lagi saya tegas-tegas mengingatkannya. Iapun mulai
menangis dan mengadukan perihal perselisihan kami kepada teman-teman
muslimah di lingkungan kami.�
�Sampailah persoalan kami terdengar oleh para pemuka umat
muslim setempat. Merekapun menugasi pasangan suami-istri muslim
terpelajar agar berusaha memperbaiki hubungan kami. Saya dinasehati oleh
mereka,�Istrimu seorang mualaf, Islam meresap kedalam kalbu dan jiwa
seseorang secara bertahap, janganlah bersikap teramat keras terhadapnya.�
Saya dapat mencerna nasehat ini dan sayapun memperlunak sikap kritis
saya kepada istri saya.�
�Sebelum memeluk Islam, saya suka membuang-buang waktu yang
berharga dengan berkumpul bersama muda-mudi di lingkungan kami. Jika
kami sedang berkumpul banyak dari kami yang berbicara semaunya secara
bersamaan tanpa mempedulikan gagasan dan harapan teman yang lain.
Jadilah tempat kami seperti �Rumah Gila� dimana setiap orang meneriaki
satu sama lain. Setelah masuk Islam, saya masih datang berkumpul
beberapa kali. Teman-teman begitu kaget melihat perubahan saya yang
lebih banyak diam. Saya berbicara hanya ketika yang lain memperhatikan
apa yang saya bicarakan. Mereka heran dengan perubahan etika dan
tingkah laku yang terjadi pada diri saya. �Apa yang telah terjadi dengan
Jim?� begitulah diantara mereka saling bertanya. Saya menjadi sebal
mendengar obrolan yang berlarut-larut tanpa manfaat. Hasilnya, waktu
terbuang percuma. Saya berharap bisa meninggalkan kehidupan sosial
semacam ini.
�Pemikiran keagamaan orang tua saya pun sama sekali berbeda
dengan saya. Ini membuat saya merasa sulit sekali untuk tinggal di
lingkungan yang menyebabkan saya merasa tertekan sedemikian rupa.
Saya berharap bisa pindah ke suatu tempat dimana saya leluasa menjalani
ajaran Islam yang begitu indah ini dengan ketulusan dan penuh
konsentrasi. Begitulah selanjutnya, saya tinggalkan kota kelahiran,
orangtua, dan kawan-kawan. Dan sampailah saya disini, di Detroit. Istri
saya masih menetap di kota kelahiran kami untuk menyelesaikan kuliah
33
kesarjanaannya. Di Detroit, saya mengunjungi teman kuliah saya, akhi
Ahmad, Ketua organisasi Muslim Indonesia dan Malaysia di Amerika
Utara. Saya datang tanpa bekal apapun. Adalah ia yang menyediakan
tempat tinggal, makan dan pakaian. Itulah sebabnya anda melihat saya hari
ini datang ke masjid bersamanya. Saya temukan iklim spiritual yang
nyaman di masjid ini. Saya sangat bahagia disini.�
Banyak hadiah dari saudara-saudara Muslim di masjid untuk Jim. Ia
pun begitu cepat menyesuaikan diri dengan lingkungan kami. Ia mulai
mencari kerja disekitar Detroit. Dalam waktu singkat ia sudah mendapat
pekerjaan. Namun, kemudian pekerjaan ini ia tinggalkan karena
pemiliknya melarang Jim mengambil jeda untuk pergi Shalat Jum�at.
Masih banyak pengusaha lain yang sangat membantu karyawan mereka
yang Muslim dan memperpanjang waktu istirahat makan siang mereka
untuk keperluan Shalat Jum�at.
Jim telah mempelajari banyak bagian dari Al-Qur�an, pengucapan
(makhraj)-nya pun sangat bagus. Saya tanyakan kepadanya,�Adakah ini
karena tuan rumahmu yang dari Indonesia membantumu dalam belajar
membaca Al-Qur�an?� Jim menjawab, �Tidak. Sebenarnya, dirumah
terdapat sebuah komputer dan CD-ROM Tilawatil-Qur�an. Saya putar saja
berulang-ulang untuk belajar sendiri ayat-ayat Al-Qur�an�.
Suatu hari Jim bertanya kepadaku, apakah ia boleh membeli satu dari
kitab Al-Qur�an dengan terjemahan bahasa Inggris yang ada di masjid.
Saya katakan kepadanya, �Untuk mualaf, itu diberikan secara cuma-cuma�.
Ia katakan, itu dimaksudkan untuk ibundanya dengan harapan sang ibu
akan memperoleh cahaya hidayah sebagaimana telah terjadi pada dirinya.
Ia pun berkeinginan memberikan beberapa untuk para sahabat lamanya di
kota kelahirannya. Kembali saya katakan kepadanya, �Kamu boleh ambil
berapapun yang kamu mau dengan gratis.�
Sementara itu, Jim bertemu dengan sekelompok orang yang disebut
sebagai Kelompok Dakwah, mereka ini menyeru orang-orang kepada
Islam. Mereka manyambut hangat para mualaf. Tidak sekedar menyajikan
keramah-tamahan semata, mereka pun memberikan pengajaran sendi-sendi
agama Islam kepada para mualaf itu. Jim bergabung bersama para ikhwan
ini menempuh perjalanan ke pelbagai negara bagian di Amerika Serikat
untuk mengajarkan, belajar, dan berdakwah Islam. Biasanya ia berkunjung
ke Detroit semalam atau dua malam setelah perjalanan dakwahnya selama
berbulan-bulan. Maka kami hanya sempat berjumpa dengannya dalam
waktu yang sangat singkat. Nampaknya ia telah memutuskan untuk
mengabdikan hidup masa mudanya untuk melayani Al-Islam. Semoga
Allah SWT semakin memperkaya pengetahuan dan pengamalan Islam bagi
Jim. Semoga Allah SWT menerima pengabdian, komitmen, dan
pelayanannya kepada Al-Islam. Amiin
34
____________________________________
Cahaya Hidayah Mengantarnya Sebagai Syuhada
RENDA TOSHNER
Terlahir di Amerika Serikat dalam keluarga Turki, ia bukanlah
seorang lelaki mualaf, namun demikian ia tidak mengenal sedikitpun
tentang Islam sehingga ia menginjak usia remaja. Kisah hidupnya memberi
banyak pelajaran bagi kita.
Sebelum mengisahkan dirinya, terlebih dahulu saya akan awali
dengan memberikan gambaran tentang komunitas Turki yang bermukim di
sekitar Detroit, Michigan. Orang-orang Turki mulai bermigrasi ke Amerika
di tahun 1970-an. Kini generasi ke-tiga dari mereka berkembang ke seluruh
Amerika. Mereka memiliki pekerjaan dengan tingkat profesionalisme
tinggi dan juga banyak sebagai pengusaha sukses. Sebagian besar dari
mereka bermukim di lingkungan permukiman orang berada di Detroit.
Mereka mapan disegi keuangan dan memiliki hubungan sosial yang baik
dengan orang-orang pemerintahan. Waktu itu saya baru diperkenalkan
kepada mereka karena saya ikut membantu beberapa kali pengurusan
jenazah yang mereka selenggarakan di masjid Tawheed Centre di
Farmington Hills, Michigan. Saya menjadi lebih dekat dengan mereka
ketika saya mulai diundang berkunjung ke rumah-rumah mereka dan juga
diundang untuk menghadiri Turkish Social Club (= Kerukunan Masyarakat
Turki) yang mereka dirikan. Ternyata sebagai Muslim mereka telah
melebur begitu rupa kedalam masyarakat Amerika. Kecenderungan ini
bukanlah hanya terjadi pada masyarakat keturunan Turki, karena berbagai
imigran Muslim datang ke Amerika dari berbagai negri juga meleburkan
diri kedalam masyarakat Amerika sehingga kehilangan jati-diri keIslaman
mereka. Di lain pihak banyak juga Imigran Muslim yang menjadi semakin
baik keIslamannya setiba di Amerika dibanding ketika masih di tanah air
mereka sendiri. Bahkan anak-anak mereka melebihi ketaatan orangtua
mereka dalam menjalani keIslaman mereka dengan dukungan faham
kebebasan beragama di Amerika.
Kedua orangtua Renda adalah anggota terpandang pada komunitas
Turki Amerika ini. Keduanya berprofesi dokter dan berkelimpahan secara
materi. Jadi, Renda terlahir dalam keluarga sangat berkecukupan. Namun
kedua orangtuanya tidak membesarkannya dengan pendidikan Islami.
Setelah lulus SLA Renda melanjutkan ke Universitas. Ia tidak
mengenal Islam sama sekali sampai kemudian ia mulai berbaur dalam
pergaulan dengan para mahasiswa Muslim dari negara lain yang belajar di
35
kampusnya. Amerika; termasuk juga universitasnya; menawarkan
kebebasan memilih seluas-luasnya bagi masyarakatnya dan tidak pernah
ikut-campur dalam hal pilihan pribadi orang per orang. Renda pada
dasarnya berpembawaan halus, maka pengajaran dan pengamalan Islam
menarik hatinya. Ia terkejut menyadari bahwa dirinya yang sesungguhnya
terlahir dalam keluarga Muslim mendapati kehidupan keseharian
keluarganya menjauhkan dirinya dari pengetahuan dan pengamalan Islam.
Ia pun belajar dan belajar perihal Islam dari hari ke hari dan berusaha
untuk mengamalkannya.
Dalam hal perkuliahan, Ia tergolong mahasiswa yang sangat cerdas.
Ia menekuni bidang studi Arsitektur dan mampu menyelesaikannya dengan
mudah. Selanjutnya ia bergabung dengan firma arsitektur dalam rangka
mempersiapkan diri untuk ujian lisensi Arsitek. Biasanya seorang Arsitek
butuh waktu bertahun-tahun dan berkali-kali menempuh ujian untuk
memperoleh lisensi. Renda yang sangat pandai ini mampu memperoleh
lisensi dalam sekali tempuh.
Begitupun dalam bertumbuh-kembangnya pengetahuan dan
pengamalan keIslamannya berlangsung dengan begitu Istimewa. Ia
memetik manfaat yang amat besar dari aktifitasnya di Masjid Anarbor dan
masyarakat Muslim disana. Bersamaan dengan itu, orangtuanya yang telah
pensiun memutuskan untuk kembali ke Turki, melewatkan hari tua
menetap di negeri asal mereka. Renda memilih untuk tetap tinggal di
Amerika karena ia menyukai kehidupan masyarakat Muslim Anarbor. Ia
ingin lebih meningkatkan keikut-sertaannya dalam kegiatan-kegiatan Islam
disana.
Saya biasa memberikan khutbah Jum�at sekali sebulan di Masjid
Anarbor yang terdapat di lingkungan Unversitas Negeri Michigan
(Michigan State University). Renda biasanya bertindak sebagai muazzin di
masjid besar ini. Saya teringat, suatu kali saya pernah membawakan kisah
Nabi Yusuf AS dalam kesempatan khutbah Jum�at. Dalam kisah ini saya
menyebutkan pakaian Nabi Yusuf AS telah dipergunakan oleh kakakkakaknya
sebagai bukti untuk meyakinkan bahwa Yusuf telah dimakan
oleh binatang buas. Berikutnya, ketika istri Aziz mengajak Yusuf AS
berselingkuh dan kemudian memfitnahnya, pakaian beliau menjadi bukti
bahwa istri Aziz-lah yang bersalah. Belakangan lagi, pakaian Nabi Yusuf
AS menjadi sarana pemulihan kesehatan mata Ayahandanya yang menjadi
buta lantaran duka yang mendalam kehilangan Yusuf. Selanjutnya saya
katakan, �Jika sepatong pakaian Nabi Yusuf bisa menjadi mukjizat, maka
betapa yang mengenakannya pun tentu sangatlah lain daripada yang lain.�
Renda menyukai apa yang saya simpulkan ini dan menelepon saya begitu
saya tiba di rumah. Ia bertanya,�Adakah khutbah tadi buah fikiranmu
sendiri?� Saya katakan padanya,�Sama sekali bukan. Semua yang saya
36
sampaikan tadi berasal dari kitab Tafsir, yakni keterangan dan penjelasan
Al-Qur�an yang ditulis oleh Ulama. Saya bukanlah seorang ulama, saya
tidak berhak menjabarkan Al-Qur�an menurut diri sendiri.�
Sebagai Muslim, selain terus memperdalam pengetahuannya, ia juga
ingin dirinya nampak sebagai sosok Muslim. Ia kenakan busana Islami
khas Turki sepanjang waktu, bahkan ditempat kerjanya. Saya tanyakan
kepadanya, �Apakah berpakaian seperti itu tidak dilarang oleh tempat
kerjamu, sementara kamu harus mewakili perusahaan di berbagai tempat?�
Ia tegas menjawab, �Jika mereka membutuhkan saya maka mereka harus
menerima saya apa adanya.� Saya bertanya lagi, �Apakah kamu tidak
menghadapi banyak prasangka di tempat kerja karena berbusana muslim?�
Dengan polosnya ia menjawab, �Adalah masalah mereka jika gusar dengan
pakaian saya.� Saya suka dengan cara Renda mengenakan sorban. Saya
memintanya menunjukkan caranya mengikatkan sorban dengan begitu
anggun.
Renda memberikan kontribusi yang sangat besar kepada berbagai
komunitas Muslim. Ia biasa memperkenalkan Islam kepada para
narapidana di penjara-penjara Amerika. Hal sedemikian butuh
pengorbanan yang besar baik dari segi waktu maupun kesabaran. Berbagai
pengalamannya dengan para narapidana membuahkan hal positif pada
dirinya. Ia rasakan bahwa para mualaf itu membutuhkan bahan bacaan
yang khas, yakni singkat, ringkas, tetapi menyeluruh. Renda pun
mengembangkan dan membiayai sendiri pencetakan bacaan-bacaan dalam
bentuk pamflet. Saya dipercaya untuk mempelajari isi pamflet-pamfletnya.
Saya berpendapat bahwa isinya sangat penting untuk para mualaf. Semoga
Allah SWT memberinya ganjaran atas usaha yang telah dilakukannya ini.
Kontribusi Renda kepada Masjid Farmington Hills juga lain dari yang lain.
Ia membeli sebidang lahan seluas 1,16 hektar untuk mendirikan sebuah
Masjid di Farmington Hills. Ia memiliki beberapa pilihan konstruksi
bangunan masjid dan tempat parkir untuk tapak itu. Penatatan arsitektural
masjid yang sekarang ini berdiri dirancang secara eksklusif oleh Renda.
Tahap perancangan arsitektur ditenderkan kepada berbagai firma
arsitektur. Perusahaan dimana Renda bekerja mengajukan penawaran harga
tinggi. Renda menyarankan agar kami memilih tawaran harga terendah
yang diajukan oleh perusahaan yang lain. Walaupun begitu Renda tetap
membantu perusahaan yang terpilih. Detail-detail arsitektur masjid
digambarnya sendiri. Pernah beberapa kali kami berdua harus mengikuti
rapat yang begitu lama dan melelahkan, tetapi Renda tidak pernah
mengeluhkan hal ini. Rasanya, masjid ini tak kan kunjung terselesaikan
pembangunannya tanpa bantuan profesional yang Renda berikan.
Kehidupan pribadinya juga sangat unik. Ia berkunjung ke Turki
untuk menikah. Renda tidak meminta bantuan orangtuanya agar
37
mencarikan calon istri dari keluarga kaya, tetapi ia memilih sendiri seorang
gadis dari keluarga biasa. Renda mengetahui bahwa si gadis yang
dipinangnya itu tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang Islam,
namun ia begitu yakin dan berketetapan hati untuk membimbing dan
mengajarkan Islam kepada gadis pilihannya itu. Ia berpendapat bahwa
Rasulullah Muhammad SAW dan juga para nabi yang lain telah disuruh
oleh Allah SWT untuk terlebih dahulu menyerukan dan mengajarkan Islam
kepada anggota keluarganya yang terdekat dan terkasih. Dan Renda tidak
hanya mengajarkan melainkan juga tampil sebagai teladan yang baik bagi
istrinya. Atas pertolongan Allah SWT, dengan cepat istri Renda
menguasaipengetahuan tentang Islam. Berdua, mereka mencinta jalan
hidup Islami. Pernikahan mereka diberkahi Allah SWT dengan dua orang
anak perempuan.
Renda tak ingin langkah dakwah Islamnya berhenti sampai disitu
saja. Ia hendak lebih berperan serta dalam kegiatan-kegiatan Islam dengan
dukungan penuh dari sang istri. Kala itu, peperangan di Bosnia sedang
hebat-hebatnya. Banyak kaum Muslim disiksa dan dibunuh setiap hari.
Banyak pemuda Muslim dari berbagai negara yang datang ke Bosnia untuk
menolong saudara-saudaranya sesama Muslim. Renda tak bisa tinggal
diam dan memutuskan untuk berangkat juga ke sana. Ia tinggalkan Istri
dan anak-anaknya yang masih kecil di kota Anarbor. Ia menunjuk seorang
wali bagi keluarganya, dari antara para Mahasiswa Muslim asal Turki. Ia
menelepon saya untuk mengucap Salam dan memberitahukan perihal
pengaturan yang telah ia tetapkan untuk keluarganya. Renda bersifat
berkepala dingin, percaya diri, dan teguh pendirian atas sesuatu yang sudah
menjadi keputusannya. Ia mempunyai tujuan khusus, yakni menolong
anak-anak yatim Bosnia. Beberapa waktu berselang setelah
keberangkatannya, kami mendapat berita bahwa Allah menghendaki Renda
menjadi Syuhada di Bosnia.
Masyarakat Muslim Anarbor sangat bangga pada Renda dan
keluarganya. Mereka segera membentuk badan amanat dan menggalang
dana. Dana ini ditujukan untuk bekal pendidikan anak-anak Renda kelak
ketika mereka melanjutkan ke perguruan tinggi.
Istri Renda pun begitu mulia. Ia berkembang semakin Islami sejalan
dengan pemahaman dan hafalan Al-Qur�an dan Hadits yang kian hari
bertambah banyak. Anak-anak Renda tumbuh sebagai anak-anak pintar
sebagaimana almarhum Renda. Istri Renda mendidik anak-anak mereka
untuk tumbuh dengan dasar keIslaman yang sangat baik.
Kami juga diberitahu bahwa Ayahanda dan Ibunda Renda di Turki
pun bangga menjadi orang tua sorang Syuhada. Demikian juga kaum
Muslim jama�ah Masjid Tauhid Farmington Hills, Michigan, bersyukur
38
kepada Allah SWT bahwa masjid mereka telah dirancang oleh seorang
Syuhada. Semoga Allah membalasnya dengan tempat yang megah didalam
Surga Firdaus. Amiin.
______________________________
Pengantar Khusus
Bab ini merupakan pengantar khusus untuk bagian ke-dua dari buku
ini.
Para agamawan Non-Muslim yang berfikiran terbuka bahkan
mengakui terdapat banyak prasangka yang diciptakan dan dilestarikan
untuk menghadapi pengajaran Agama Islam. Ini terjadi hingga pada tingkat
yang mampu membuat mental seseorang tidak dapat berfikir secara
obyektif atas pengajaran Islam. Namun dengan menyingkirkan segala
prasangka yang ada dalam benaknya, seseorang yang berupaya
menemukan kebenaran akan tetap sampai kepada tujuannya yang mulia.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur�an yang artinya:
[ ???????�S?<v?� ???v ?�/?� T???�? &�? ???S�?S? (�S???? � ?�??? ??v �? ?~?? ?�?S�??? � ? �???v? ?�? ]
�Dan bagi orang-orang yang bersungguh-sunguh berjuang untuk
(berjihad, mencari keridhaan) Kami, sungguh akan Kami tunjukkan
kepada mereka jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta para
muhsinin (orang-orang yang berbuat baik).� [Al Ankabut :69].
Sungguhpun demikian, orang-orang ini tidak menampakkan kesombongan
ketika telah mencapai keberhasilan menemukan jalan-Nya. Mereka itu
rendah hati (tawadlu�) sebagaimana juga disinggung dalam Al-Quran:
[ ?S/?� ?� �? ??? ?�S (???� :��???v �??�? �??? ??v �T???? �?? �??? ??v �? ??? ?�S ????v? ?� ????? ?v S�??�<v?� ?�?S?v�? ?? ]
�� Mereka berkata, �Segala puji syukur bagi Allah, yang telah
menunjukkan (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat
petunjuk jika Allah tidak memberi kami petunjuk. �� [Al A'araf : 43)
Hal kedua yang muncul dalam benak saya adalah bahwa, selalu saja
ada kekuatan-kekuatan yang secara aktif mencoba membelokkan
kebenaran. Hal ini telah berlangsung sejak lama sekali. Kekuatan itu
muncul dengan metoda-metoda baru setiap masa. Namun demikian, Selalu
saja Rencana Allah-lah yang lebih unggul, sebagaimana disebutkan dalam
ayat Al-Qur�an berikut ini:
[ ? �=? ?|??? ?<v?� S/???a S?�?�S/?�? ?S/?� ?� S=????� ???S=????� ?]
39
�� Mereka memikirkan tipu-daya dan Allah menggagalkan tipudaya
mereka itu. Dan Allah adalah sebaik-baik Pembalas tipu-daya.� [Al
Anfal :30]
Seorang sastrawan Urdu bertutur indah, �Allah telah meletakkan
kelenturan dalam sifat Al-Islam. Semakin keras kamu berusaha
merusaknya, semakin cepat Islam kembali kebentuk aslinya.�
Kebenaran tersebar luas melalui lompatan dan pantulan. Di setiap
pelosok dunia, banyak individu dan keluarga yang kemudian memeluk
Islam. Buku ini ini memuat beberapa contoh individu-individu tersebut.
Dari kisah-kisah mereka nampak jelas sekali bahwa memaksakan orang
lain untuk menerima Islam tidaklah diperkenankan. Melalui pengetahuan
dan apresiasi adalah tiket untuk mencapai keberhasilan di dunia ini
maupun di kehidupan mendatang (Akhirat).
Contoh-contoh dalam buku ini tidak hanya memperkuat bukti
kebenaran, tetapi juga menjelaskan rintangan-rintangan yang harus dilalui
untuk mencapai tujuan. Kekuatan penghalang seperti, bisikan-bisikan
Syeitan, keterikatan sosial budaya, dan kemarahan yang nampak di wajah
teman-teman dan saudara-saudara membuat hidup terasa penuh derita.
Namun, cita rasa manisnya kebenaran mengungguli kekuatan-kekuatan
lain itu. Sang Mualaf telah mencapai kedamaian dan hidup harmonis, yang
terpancar pada wajah, perbuatan, dan sikap dalam menghadapi kehidupan
sehari-sehari.
Kisah-kisah selanjutnya adalah hasil dari wawancara pribadi saya
dengan masing-masing individu mualaf itu di Madinah Al-Munawarrah
beberapa tahun terakhir. Setelah perjumpaan saya dengan individuindividu
ini, betapa saya sangat menghormati bulatnya keyakinan mereka
terhadap Islam. Mereka adalah inspirasi yang amat besar bagi diri saya,
dan tak dapat diragukan lagi, merekalah yang berperan sebagai cahaya
hidayah bagi kemanusiaan.
Imtiaz Ahmad
Madinah Al-Munawarrah
Juni 2002
40
Cahaya Hidayah Menerangi Akal yang Terbuka
DONALD FLOOD
Masing-masing budaya mengandung kekuatan dan kelemahannya
sendiri. Sebagaimana kita ketahui kehidupan orang Amerika begitu banyak
diwarnai kemerdekaan perorangan. Begitu banyaknya kemerdekaan atau
kebebasan itu sehingga para orangtua �memberikan tali yang panjang� bagi
anak-anak mereka. Pada umumnya mereka tidak mencampuri urusan
keagamaan dan pencarian jati diri anak-anak mereka. Dalam keadaan
demikian itu, terjadi kecenderungan saling menerima dan menghormati
kegiatan pribadi masing-masing antara orangtua dan anak. Don (begitu
Donald biasa dipanggil) adalah satu dari produk rumah-tangga liberal
semacam itu. Berikut ini kisah hidupnya yang diceritakan kepada saya:
Latar Belakang Keagamaan
Saya (Don) berlatar-belakang beragama sebagaimana tipikal orangorang
Amerika. Dahulu saya seorang Kristen dan sewaktu saya sedang
tumbuh dewasa, kadang kala saya mengikuti kebaktian gereja bersama
keluarga. Nampaknya hal terpenting dalam ajaran Kristiani adalah
moralitas. Sedikitnya pengetahuan Kristiani yang saya miliki maupun saya
jalani telah membantu akal pikiran saya untuk selalu bersikap terbuka
terhadap berbagai agama dan budaya yang lain.
Pengalaman dengan Budaya Baru
Kehidupan orang Amerika begitu banyak berpindah. Ayah saya pun
berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain sehubungan dengan
pekerjaan profesionalnya. Kebetulan, kami berkesempatan untuk tinggal
beberapa bulan di Amerika Latin, waktu itu saya pelajar sekolah
menengah. Disitulah saya berhadapan dengan budaya dan bahasa baru.
Saya menjadi paham sepenuhnya bahwa ada banyak gaya hidup di dunia
ini, bukan hanya gaya hidup Amerika saja. Pengalaman ini memperluas
akal pikiran dan cakrawala pandangan saya. Oleh karenanya, waktu itu
saya menjadi begitu penasaran untuk mengetahui lebih banyak lagi perihal
berbagai budaya dan bahasa. Setelah itu saya mengikuti keluarga kembali
lagi ke Amerika dan saya menyelesaikan sekolah menengah di Indiana.
Selanjutnya saya masuk Universitas Texas di El Paso, yang terletak di
perbatasan Texas dengan Mexico. Saya memilih jurusan Administrasi
Bisnis.
Perjalanan Kemah Wisata
Setelah menempuh kuliah beberapa tahun, saya sadari bahwa jurusan
yang saya pilih tidak sesuai dengan diri saya. Saya rasakan bahwa saya
butuh sesuatu yang lebih menarik dan behubungan dengan kebudayaan.
Pada waktu itulah saya diundang seorang teman untuk ikut dengannya
41
dalam acara perjalanan kemah wisata selama tiga bulan ke seluruh
Amerika Serikat dan Canada bagian Barat. Saya terima ajakannya dengan
senang hati karena saya tahu bahwa pengalaman di alam yang begitu
memesona akan menjadi sebuah pengaturan yang sesuai untuk cerminan
tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran pribadi. Sebagai hasil dari pengalaman
ini, saya tidak memperoleh keputusan apapun perihal perburuan akademis
yang saya jalani, namun saya sampai pada kesadaran bahwa dunia ini tidak
tercipta begitu saja secara kebetulan, dan bahwa jelas nampak adanya
tanda-tanda keajaiban alam yang menunjuk kearah Sang Pencipta. Namun
saya tidak yakin bagaimana caranya menyembah atau menghargai Sang
Pencipta kita itu.
Sampailah pada satu hari ketika saya sedang berjemur, tiba-tiba saja
terpikir bahwa saya dapat menggabungkan ketertarikan saya dalam bidang
bisnis dan budaya dengan jalan mengambil jurusan Studi Amerika Latin.
Maka saya kembali ke universitas di awal tahun akademis berikutnya dan
berpindah ke jurusan ini.
Aktivitas Sosial
Setelah kembali ke perkuliahan, teman saya yang Hindu dan
temannya yang berasal dari Saudi mengajak saya ke acara ramah-tamah
yang diselenggarakan oleh sebuah gereja, karena didalamnya terdapat juga
kegiatan olah-raga dan hidangan makanan rumahan. Sebagai mahasiswa
hidangan makanan rumahan adalah kesempatan yang selalu tidak
dilewatkan setiap kali diadakan. Hidangan santap malam begitu mewah.
Namun sesuatu yang tak kami harapkan terjadi di penghujung malam.
Pemimpin gereja mulai menyanyikan lagu yang tertulis di papan tulis
dalam huruf Ibrani. Ia pun meminta kami yang hadir untuk mengulang apa
yang dilantunkannya. Kami melihat teman kami dari Saudi, Abu Hussein,
segera berdiri dan mengajak kami meninggalkan acara ramah-tamah itu
bersamanya. Penerima tamu berusaha membujuk kami agar tetap tinggal,
tetapi kami bergegas pergi meninggalkan gereja. Ironisnya, kejadian itu
menumbuhkan persahabatan lebih dekat diantara kami. Beberapa minggu
kemudian Abu Hussein dan saya memutuskan untuk menyewa rumah
bersama, ikut juga dengan kami seorang mahasiswa asal Kuwait dan
seorang lagi dari Iran.
Tinggal bersama teman-teman baru ini membuat saya lebih dekat
berinteraksi dengan budaya mereka. Saya menyukai makanan mereka dan
mencoba untuk menghidangkan beberapa menu mereka. Saya perhatikan,
teman-teman serumah saya itu seringkali lebih suka makan dengan tangan
kanan mereka tanpa menggunakan perangkat makan �sendok-garpu�.
Mereka juga lebih suka duduk dilantai sewaktu makan daripada di meja
makan. Yang saya heran dan tidak mengerti ketika itu adalah, mengapa
mereka selalu membawa air sekendi ke kamar mandi untuk membasuh diri.
42
Saya juga memperhatikan mereka melayani tamu-tamu mereka dengan
keramah-tamahan yang tiada tara. Selain kagum atas perilaku mereka, saya
juga terkesan dengan tingkat percaya-diri mereka yang begitu besar, yang
nampaknya adalah buah dari semacam kepastian yang begitu khas atas
pengetahuan tentang apa yang sedang mereka lakukan dan kemana arah
langkah yang mereka tuju dalam hidup ini. Belakang baru saya mengetahui
bahwa tata-cara dan perilaku mereka itu adalah hasil dari pendidikan
Islami yang mereka telah dapatkan dan bukannya karena adat istiadat
budaya kebangsaan mereka.
Dengan mengalami sendiri sebagian budaya Amerika Latin dan
Arab, saya mengamati adanya banyak kesamaan yang begitu nyata. Lebih
jauh lagi apa yang menjadi hasil pengamatan saya ini mendapat
pembenaran dari Studi Amerika Latin yang saya tekuni. Kesamaankesamaan
yang saya temukan itu merupakan pengaruh dari peradaban
Islam selama 800-an tahun di Spanyol dan Eropa Tengah. Jadi, melalui
keterkaitan sejarah dengan masyarakat Arab lah beberapa praktek-praktek
kehidupan islami berlanjut sebagai bagian dari budaya Amerika Latin
hingga kini.
Perjalanan Lintas Samudra
Setelah wisuda, teman-teman saya serumah kembali ke negara
mereka masing-masing. Saya tetap berhubungan akrab dengan Abu
Hussein. Setahun setelah kami diwisuda, ia mengundang saya berkunjung
ke Saudi Arabia selama dua minggu. Saya terima undangannya dan saya
pun melakukan perjalanan ke Saudi Arabia, disini saya diterima dengan
perlakuan laksana seorang raja. Hampir seluruh waktu di Saudi saya
nikmati di pedesaan yang berjarak tempuh beberapa jam ke arah selatan
kota Riyadh. Saya berhadapan dengan gaya hidup yang begitu jauh
berbeda. Saya tidur di alam terbuka diatas karpet merah yang besar dan
indah, dibawah naungan bintang-bintang yang bertaburan. Abu Hussein
menyembelih beberapa ekor domba dan mengundang semua penduduk
desa untuk menghadiri jamuan makan. Belum pernah saya alami selama
hidup saya mendapat perhatian semacam ini, dimana diantara kami saling
menghargai/menghormati satu sama lain. Di satu petang seusai jamuan
makan, kami pergi ke gurun untuk melihat-lihat ternak onta milik mereka.
Salah seorang anak lelaki memerah susu onta dan menawari saya untuk
mencicipi susu onta segar itu. Setelah minum beberapa teguk, saya katakan
bahwa susu onta segar ini sangat lezat. Kemudian Ayah Abu Hussein
berkata kepada saya, �Jika kamu menjadi seorang Muslim, saya hadiahkan
kepadamu sepuluh ekor onta.� Dengan sigap saya menanggapinya, �Jika
kamu menjadi seorang Kristen saya hadiahi kamu sepuluh ekor onta.�
Setelah mereguk pengalaman singkat hidup di gurun Saudi Arabia, saya
pun kembali pulang ke Amerika.
43
Mendapat Karir Baru
Setelah bekerja selama dua tahun sebagai tenaga pemasaran di
sebuah perusahaan penerbitan di Amerika, saya mendapat pekerjaan baru
sebagai pengajar bahasa Inggris di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Saya
sungguh-sungguh menikmati pekerjaan ini. Saya pun memutuskan bahwa
mengajarkan bahasa Inggris sebagai bahasa ke-dua menjadi karir saya
untuk seterusnya. Lebih dari itu, dua tahun pengalaman kerja saya telah
lebih membuka diri saya terhadap budaya Arab. Sebagaimana dengan
teman-teman serumah yang Muslim semasa kuliah dulu, di Abu Dhabi
saya pun mendapati orang-orang di negeri ini sangat baik budi pekertinya,
percaya diri, dan sangat sosial. Namun entah mengapa, waktu itu saya
dihinggapi kerinduan pulang ke kampung halaman di Amerika.
Pengalaman di Las Vegas
Tak lama setiba saya kembali ke Amerika, saya pergi ke Las Vegas,
Nevada dimana banyak imigran asing yang hampir semuanya bekerja di
arena judi (casino). Saya pasang iklan di surat-kabar menawarkan
pengajaran bahasa Inggris untuk orang-orang asing. Pucuk dicinta ulam
tiba, Dengan cepat saya mendapat beberapa orang murid. Saya memberi
pelajaran di ruang dapur menggunakan papan tulis kecil yang saya
gantungkan ke dinding. Waktu itulah baru saya ketahui ternyata Las Vegas
tidak mempunyai lembaga pengajaran bahasa Inggris. Maka, saya beserta
rekan-rekan pun mendirikan sebuah tempat belajar di jantung kota. Bisnis
kami pun berkembang baik. Namun di senggangnya waktu, saya ikutikutan
menjalani beberapa kegiatan maksiat Las Vegas. Gaya hidup
sedemikian ini membuat saya muak terhadap diri sendiri. Saya pun segera
merasa lelah dengan semua keburukan sosial di masyarakat Las Vegas.
Hidup nampak tanpa makna dan penuh kerancuan. Saya menginginkan lagi
adanya perubahan, maka saya mengirimkan resume (daftar pengalaman
kerja) saya melalui fax kepada Abu hussein agar ia dapat membantu
mencarikan pekerjaan untuk saya di Saudi Arabia. Betapa kagetnya saya,
ketika kemudian saya memperoleh tawaran pekerjaan sebagai pengajar
bahasa Inggris untuk karyawan di sebuah perusahaan petrokimia di Jubail.
Sebulan kemudian saya pun telah berada disana.
Taubat
Saya berangkat ke Jubail berbekal buku dari berbagai topik. Suatu
hari, saya sedang membaca sebuah buku filsafat. Didalam buku itu terdapat
anjuran untuk melakukan taubat yang setulusnya kepada Tuhan. Saya
belum pernah menyatakan taubat sepanjang hayat. Mulailah saya
berproses, mengingat-ingat orang-orang yang saya pernah bebuat
kesalahan kepada mereka dan juga kesalahan-kesalahan yang pernah saya
lakukan terhadap diri saya sendiri. Kemudian saya bertaubat dan memohon
yang terbaik. Selang tidak beberapa lama, terbersit dalam pikiran saya
44
bahwa Tuhan telah menerima taubat saya. Pertanda yang jelas dari
diterima-Nya taubat saya itu adalah bahwa Tuhan memberikan orangorang
spesial dalam kehidupan saya dan mengijinkan terjadinya keadaan
tertentu yang menuntun saya kearah jalan yang benar. Saya akan berbagi
beberapa keadaan yang saya lalui itu dengan para pembaca.
Makna Kemerdekaan/Kebebasan
Waktu itu saya sedang bersama-sama Abu Hussein. Ia juga sedang
menerima tamu seorang teman. Saya katakan kepada mereka bahwa saya
dahulu lebih banyak memiliki kebebasan di Amerika dibandingkan dengan
yang saya dapatkan di negara mereka. Sang tamu mengatakan, �Hal itu
tergantung pada pengertian anda perihal kebebasan. Di dunia anda, tak
peduli seberapa baiknya pengajaran moral/akhlak telah diberikan oleh
para orang tua kepada anak-anak mereka didalam rumah tangga, begitu
anak-anak keluar dari lingkup rumah-tangga, mereka menjumpai hal-hal
di masyarakat bertolak belakang dengan ajaran moral yang mereka
terima. Disisi lain, di sebagian besar masyarakat Muslim, ajaran moral
yang diberikan kepada anak-anak di setiap rumah-tangga sangatlah
bersesuaian dengan apa yang mereka jumpai di tempat yang jauh dari
rumah-tangga mereka. Nah, kalau demikian siapakah yang sesungguhnya
merasakan bebas-merdeka?�
Suka atau tidak, saya cenderung menyetujui interpretasinya perihal
kebebasan/kemerdekaan dalam hal dimana immoralitas (ketiadaan/
rendahnya akhlak) cenderung menjadi kelaziman dalam masyarakat yang
terlalu liberal (bebas). Dalam hal ini, terlalu banyak kebebasan bukannya
berakibat positif, bahkan seringkali berubah menjadi aspek negatif. Dari
analogi yang ia kemukakan, saya pun memahami bahwa pedoman Islami
dan larangan-larangan yang memiliki sanksi dalam hal perilaku manusia di
masyarakat Muslim bukanlah dimaksudkan untuk mempersempit
kebebasan manusia, malahan bertujuan mempertegas makna dan martabat
kebebasan/ kemerdekaan manusia itu sendiri.
Permainan Rolet
Peluang saya selanjutnya untuk belajar perihal Islam muncul ketika
saya diundang untuk duduk bersama dalam jamuan makan dengan
sekelompok Muslim. Setelah saya ceritakan kepada mereka bahwa saya
pernah bermukim di Las Vegas, Nevada, sebelum datang ke Timur
Tengah, seorang Muslim asal Amerika menasehati saya, �Anda harus
meyakinkan diri anda untuk kelak mati sebagai Muslim yang baik� Saya
pun segera balik bertanya apa maksud perkataannya itu. Iapun menjawab,
�Jika anda mati sebagai Non-Muslim, ibaratnya anda bermain rolet anda
pertaruhkan seluruh kepingan taruhan (seluruh hidup anda, termasuk
amal perbuatan dan keimanan anda yang tertentu kepada Tuhan) hanya
pada satu nomor, sambil berharap bahwa atas pertolongan Tuhan anda
45
akan masuk Surga ketika Hari Pembalasan tiba. Sebaliknya, jika anda
mati sebagai Muslim yang baik, ibarat anda pertaruhkan kepingan
taruhan anda tersebar merata di seluruh papan taruhan rolet sehingga
anda bertaruh disetiap nomor. Dengan cara demikian di nomor berapapun
bola rolet berhenti anda selamat. Dengan kata lain hidup dan mati sebagai
Muslim yang baik adalah jaminan terbaik agar anda tidak menuju neraka,
dan dalam waktu yang bersamaan, anda telah berinvestasi untuk menuju
surga.� Sebagai mantan warga Las Vegas, saya bisa langsung
mengkaitkan perumpamaan yang ia gambarkan dengan permainan rolet.
Sampai disini, saya menyadari bahwa tugas seluruh manusia adalah
untuk menemukan kebenaran dalam hidup ini dan bukannya secara
membuta (begitu saja) menerima agama yang diikuti oleh lingkungannya
ataupun orangtuanya. Saya juga berketetapan bahwa saya tak akan sampai
pada kebenaran sebelum saya membangun hubungan dengan Tuhan. Atas
dasar pemikiran ini, saya memutuskan untuk memusatkan pikiran saya
pada agama-agama yang didasari wahyu yang jelas yang dibawa oleh para
nabi dan rasul tertentu. Maka saya memilih untuk melanjutkan pencarian
saya terhadap kebenaran didalam lingkup Yahudi-Kristiani dan Islam.
Walaupun saya tumbuh sebagai seorang Kristen, pikiran saya telah
dipenuhi tanda tanya/kerancuan perihal ajaran Kristiani. Saya telah merasa
seperti berada dalam agama yang penuh misteri jauh dari pemahaman akal.
Saya yakin, karena alasan inilah maka secara nama saja saya Kristen tetapi
tidak dalam prakteknya. Masih ada lagi, saya pun sadar bahwa kerancuan
saya terhadap keyakinan Kristen menyebabkan diri saya dalam keadaan
tak-beragama. Walaupun demikian, sementara saya sedang mencari
kebenaran, saya juga berkesempatan untuk secara tulus mengkaji ulang
keyakinan yang diturunkan dari orangtua saya, namun ini tidak pernah
mengganggu proses kajian dan evaluasi yang saya lakukan.
Bukan Piknik Sembarang Piknik
Beberapa Muslim di Jubail merancang piknik khusus untuk Non-
Muslim. Setelah memainkan beberapa permainan, kami menyantap jamuan
makan yang lezat. Sebagai acara penutup, kami menyimak kajian singkat
tentang Islam. Betapa terkejutnya saya mengetahui bahwa umat Muslim
beriman kepada semua nabi dan seluruh wahyu-wahyu (kitab-kitab) Allah
yang masih orisinal. Terlebih lagi saya menjadi mengerti bahwa Al-Qur�an
adalah wahyu (Kitab) terakhir yang diturunkan demi kehidupan manusia
dan Muhammad SAW sebagai penerima wahyu terakhir (Al-Qur�an)
adalah Nabi sekaligus Rasul yang terakhir. Sebagai Penutup para Nabi dan
Rasul, beliau telah memberikan keteladanan terbaik bagi semua orang,
untuk dijadikan sebagai panutan/ikutan.
Seusai piknik, mereka memberikan beberapa buklet perihal
komparasi agama-agama. Satu dari buklet itu berisi dialog antara seorang
46
Muslim dengan seorang Kristen. Kesimpulan-kesimpulan berikut adalah
jelas sekali sebagai hasil penelaahan dari buklet ini.
a) Persaingan sejati dalam kehidupan ini adalah berlomba-lomba satu
sama lain untuk berbuat kebajikan dalam rangka menyenangkan Sang
Maha Pencipta, bukan persaingan untuk berburu untuk menambah
kekayaan dan ketenaran diri.
b) Neraka itu dikelilingi oleh gairah nafsu/syahwat. Sedang nafsu itu
tak lain hanyalah menggiring anda kepada gemuruh api neraka yang
berkobar-kobar. Adapun sebaliknya, surga itu dikepung oleh tantangantantangan
yang mana jika anda melihat jauh melampaui tantangan itu maka
anda akan mendapati surga.
c) Saya temukan adanya larangan didalam kitab Bibel adanya
peringatan keras yang melarang penambahan ataupun pengurangan ayat
dalam pengajaran agama, yang mana hal ini jelas-jelas terjadi (Lihat
Jeremiah 8:8-9; Wahyu 22:18-19). Hal ini juga di firmankan kembali oleh
Tuhan didalam Al-Qur�an:
�?_ ????� -???? � ?�?S=�?p ?~?v ?�?/?� ?�??� ?( ?? �???? S ???v?S?? � T�?� (�??�?�??�??�?� �� ??�??<v?� ??S?�S�<?� ? �????? ??v �???�? ? ? ]
[ ??S�?? �� �?( ? � ]
[ ?=�?�? ??p?? T??S{ ????� ?� ??? ???� ?:�? ??v =( ???p ??�?�? �? ?/ ?S?? �? ??v (�???????� :�? ???? �/ ??S?v?S?? �
“�Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi (Muhammad
SAW) dan orang-orang beriman bersama dia; sedang cahaya mereka
memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka
mengatakan, �Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami
dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu.� (At Tahrim:8)
Demikiahlah kisah Yahya, ia suka melakukan dialog yang bersifat
membangun untuk berbagi pengalaman dan temuan/pengamatannya. Ia
dapat dihubungi melalui alamat e-mail berikut:
dflood58_2000@yahoo.com
_____________________________________
Cahaya Hidayah Terbit Kala Seorang Muslim Menyebut Nama Yesus �
JOE PAUL ECHON
Banyak orang yang datang ke Saudi Arabia terutama karena alasan
mencari nafkah. Namun ada juga hal lain yang kemudian muncul dalam
diri mereka. Salah seorang yang mengalami hal ini adalah Joe Paul Echon.
Kisah dirinya penuh dengan perbenturan kultural dan spiritual, serta
langkah demi langkah ia mendapatkan jalan keluarnya. Kecerdasan, kerja
53
keras, dan ketulusan maksud, selalu membawa pada keberhasilan yang
membahagiakan. Jalan menuju sukses sangatlah panjang. Semakin keras
berusaha menghasilkan keyakinan yang kokoh dan kesuksesan yang tahan
lama. Pencarian yang sungguh-sungguh dan pengetahuan yang mantap
memberikan hasil yang mantap pula. Melakukan sesuatu dengan
pengabaian dan sekedar coba-coba menyebabkan rapuhnya landasan kerja.
Sebenarnya, menuntut ilmu dengan akal pikiran yang terbuka berarti telah
memenangkan setengah dari perjuangan hidup. Setengahnya lagi
dimenangkan melalui keberanian dan komitmen yang jujur terhadap
panggilan kesadaran nurani.
Joe adalah bagian dari keluarga yang amat taat beragama. Ia giat
dalam kegiatan-kegiatan gereja sejak masa kecil dan selalu bangga dengan
apa yang dilakukannya. Berikut in ceritanya perihal didikan dan latar
belakang kristianinya.
Latar Belakang Kristiani
Saya terlahir dalam keluarga Katolik Roma yang sangat rajin hadir
ke gereja. Sewaktu duduk di bangku sekolah dasar, saya menjadi
sukarelawan kanak-kanak yang bertugas membersihkan kapel. Saya pun
menjadi asisten pastor dalam komini. Setelah saya duduk di sekolah
menengah, saya bergabung dalam kelompok paduan suara gereja sebagai
pemain gitar, kadang juga bermain piano. Saya aktif di Legiun Maria,
sebuah kelompok diskusi yang membahas bagaimana mencintai dan
memuja Maria. Kami memiliki bermacam-macam sosok Maria;
diantaranya, Perawan Maria, Maria Magdalena, Maria Immaculata, dll.
Dalam pertemuan ibadah, pastor membaca Kitab Bibel sementara kami
menyimak yang dibacanya. Dalam hati, saya selalu bertanya-tanya
mengapa kami tidak diperkenankan ikut serta membaca Kitab.
Perubahan Besar yang Pertama Dalam Hidup
Setelah menjadi mahasiswa, terjadi perubahan besar pada diri saya
dalam kehidupan beragama. Salah seorang teman kuliah mengundang saya
untuk datang ke kelompok non-sektarian (tanpa sekte) untuk melihat
kegiatan mereka. Sulit bagi saya untuk mengerti apa yang mereka lakukan
dan mereka sampaikan. Di gereja saya, pastor memegang Kitab Bibel dan
membacakan isinya untuk kami. Di kelompok yang kemudian saya ketahui
sebagai aliran Protestan ini, masing-masing orang memegang Bibel dan
membacanya. Saya terheran-heran bahwa didalam Bibel berulang-kali
ditegaskan larangan memuja patung atau lambang (idol). Ini merupakan
pelajaran besar untuk saya. Maka sayapun beralih dari pemeluk Katolik
Roma menjadi penganut Kristen Protestan demi menhindari pemujaan
terhadap patung atau lambang apapun. Jadilah saya seorang yang pertama
beragama Kristen Protestan dalam keluarga saya. Keluarga saya pun mulai
54
mengkaji ajaran Protestan dan akhirnya mereka juga menjadi pengikut
ajaran ini. Kami sangat giat ke gereja. Saya juga memulai pelatihan formal
sebagai penyampai Bibel. Dengan demikian saya memperoleh pengetahuan
yang lengkap soal Bibel dan saya bagaikan seorang pastor kecil atau
pendeta.
Gambaran Muslim di Filipina
Saya sedikitpun tidak memiliki pengetahuan soal Islam. Sewaktu
masa sekolah saya tidak mengenali adanya anak-anak Muslim, mungkin
saja karena mereka tidak mempraktekkan Islam meskipun beragama Islam,
sehingga tidak dapat dibedakan dengan yang lain. Saya memiliki beberapa
guru Muslim sewaktu kuliah, tetapi begitulah, mereka hanya Islam sekedar
nama. Saya tidak peduli dengan keberadaan Muslim sebab gambaran yang
saya peroleh dari media adalah gambaran buruk tentang mereka. Misalnya,
�mereka itu teroris�. Jika seorang Muslim kedapatan terlibat kejahatan,
media massa biasanya menyalahkan seluruh umat Muslim. Kami dipesan
agar jangan melintas didepan sekelompok Muslim karena bisa-bisa kami
akan dibunuh. Kami juga disarankan untuk tidak berhubungan dengan
orang-orang Muslim karena mereka adalah orang-orang jahat. Harus saya
tambahkan disini, bahwa para pendeta dan para pastor yang kami kenal,
tidak pernah mengatakan apapun tentang Muslim sebab mereka selalu
disibukkan dengan melontarkan kritikan sekte-sekte Kristiani yang lain.
Pengalaman Kerja Saya
Setelah saya menyelesaikan pendidikan Stata-1 dibidang Rekayasa
Komputer (Computer Engineering), saya bekerja pada perusahaan
komputer �Intel�� di Filipina. Kami memproduksi mikro-prosesor untuk
perangkat keras komputer. Setelah sebulan bekerja, saya pindah ke
perusahaan komputer yang lain dimana sebagian besar teman kuliah saya
bekerja. Hal ini memberi peluang saya dalam perkembangan profesional
dan pengalaman yang berharga. Setelah lima tahun bekerja, saya
memutuskan berwira-usaha dengan mendirikan perusahaan di bidang
komputer bekerjasama dengan beberapa orang. Sayangnya, perusahaan ini
gagal akibat ketidak-efisienan pengelolaan. Saya adalah orang yang
pertama mengundurkan diri dari usaha ini.
Mencari Pekerjaan Baru
Seorang kawan mengajak saya mencoba mencari lowongan kerja di
Saudi Arabia demi untuk mendapat tambahan modal. Setelah beberapa
tahun bekerja disana, tentu kami sudah dapat menjalankan usaha sendiri.
Maka kami menghubungi agen penyalur tenaga kerja. Agen ini memiliki
lowongan kerja untuk beberapa sarjana teknik komputer yang dibutuhkan
oleh Bank Saudi Arabia, dan manajer bank tersebut sedang berada di
Manila untuk keperluan perekrutan. Singkatnya, setelah itu kami
diwawancarai. Kami diterima, namun gaji yang ditawarkan kurang
55
menggiurkan. Saya pun mundur. Agen itu tetap menghubungi saya
berulang-ulang. Akhirnya teman saya mendesak agar saya menyertainya
dalam petualangan ini. Jadilah saya terima tawaran kerja ini demi
menunjukkan rasa hormat kepada teman, berangkatlah kami berdua ke
Saudi Arabia.
Kesan Pertama Saya Terhadap Saudi Arabia
Saya tidak mengenal bahasa dan huruf Arab dan saya tidak
menyukainya karena saya pikir tak ada manfaatnya untuk urusan dunia.
Lagi pula saya tidak ingin belajar bahasa Arab, toh rekan-rekan kerja saya
semuanya bisa berbahasa Inggris dengan baik. Pekerjaan saya yang baru
adalah pemeliharaan komputer dan jaringan komunikasi untuk sebuah bank
yang berlokasi di Saudi Arabia Bagian Timur. Saya tinggal bersama
kelompok orang-orang Filipina di sebuah apartemen. Kehidupan di Saudi
Arabia amat sangat berbeda, banyak sekali hambatan-hambatan sosial yang
berlaku juga bagi kami walaupun kami Non-Muslim. Jadilah saya merasa
tertekan dan rindu kampung halaman.
Suatu hari saya menyewa taksi di Dammam dan sepakat dengan
harga sewa limabelas Riyal. Pengemudi taksi itu berpakaian rapi dan
berjenggot panjang. Dalam perjalanan, ia berubah pikiran dan minta kami
membayar sewa lebih besar. Di akhir perjalanan, kembali lagi pengemudi
itu mendesak saya untuk membayar lebih. Ini jelas mengusik perasaan
saya. Saya melompat keluar dari taksi dan bertanya lantang kepadanya,
�Tidakkah kamu mengerjakan shalat lima waktu!?� Iapun segera
mengatakan, �Baiklah bayarlah limabelas Riyal saja. Saya membayarnya
dan iapun berlalu tanpa sepatah katapun. Saya mulai merenungkan
kejadian ini. Saya berkesimpulan, pengemudi itu tentulah berhati baik. Ini
adalah pengalaman pertama saya yang positif. Mulailah saya berpikir
bahwa pada dasarnya warga Saudi itu orang-orang yang baik. Seolah
lapisan perak yang tertutup awan kelam.
Hal positif lain pun saya alami. Kali ini berkenaan dengan makanan.
Saya tak pernah mencoba makanan khas Saudi. Sampailah suatu kali kami
berada di tempat yang jauh untuk menyelesaikan sebuah proyek. Kami
begitu lapar. Tak mungkin disitu kami mendapatkan makanan khas
Filipina. Saya pun menyantap kabsa (nasi ayam khas Saudi) untuk pertama
kalinya. Ternyata lezat rasanya. Setelah itu saya selalu mencari tempat
makan yang menyajikan kabsa. Dari sini bertambahlah cita rasa saya
terhadap makanan Saudi yang lain.
Sebuah Dialog Kritis
Penyelia kami di bank seorang Saudi bernama Abdullah Al-Amar. Ia
berbahasa Inggris dengan baik karena pernah mendapatkan pelatihan di
luar negeri. Ia juga seorang yang sangat senang bercakap-cakap. Ia
memulai berkisah kepada saya. Ketika ia sedang bercerita, terucap kata
56
Yesus (alaihi salam) dari mulutnya. Saya berkata kepadanya, �Hentikan,
berhentilah sampai disitu. Yesus adalah Tuhan saya. Bagaimana kamu bisa
mengenalnya?�
Itulah saat pertama saya mendengar kata Yesus dari seorang Muslim.
Ini mengejutkan saya. Dua tahun lamanya saya telah tinggal di Saudi
Arabia tak seorangpun pernah berbicara dengan saya perihal Yesus (AS).
Sejak masa kecil, saya beranggapan bahwa matahari adalah tuhannya
orang Muslim, sebab mereka mengerjakan sembahyang ketika matahari
terbenam dan ketika matahari sedang tinggi.
Abdullah berhenti sejenak. Selanjutnya ia dan saya bergantian
menyebutkan nama para Nabi yang lain; termasuk Nuh, Ibrahim, Musa,
dll. Ia berkata, �Mereka pun Nabi-nabi kami.� Saya mengenal nama-nama
Nabi itu dari Bibel. Setelah mendengarkan penuturan ini saya sadari bahwa
Yahudi, Kristen, dan Muslim tentulah memiliki keterkaitan tertentu.
Menyelidiki Islam
Semenjak itu, saya mulai menyelidiki Islam, agamanya Abdullah
mitra kerja saya. Saya pergi ke toko buku Jarir di Dammam untuk membeli
beberapa buku tentang Islam. Saya telusuri seluruh rak buku. Saya
terperanjat melihat begitu banyak buku yang bertajuk perbandingan agama,
termasuk juga disitu buku tentang ajaran Kristiani. Sebuah buku memiliki
judul yang sungguh mengagetkan saya. Judulnya adalah �Jesus, not God,
son of Mary� (Yesus, bukan Tuhan, anak Maryam). Saya membeli lima
judul buku tentang perbandingan agama dan kembali ke rumah untuk
mempelajari buku-buku itu. Buku-buku ini banyak memuat kutipan ayatayat
Bibel. Segera sesudah itu, saya bertanya kepada Abdullah, �Adakah
Pusat dakwah Islam di kota ini?� Ia menyebutkan sebuah alamat yang
kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya. Saya pun mendatangi tempat
itu untuk melihat-lihat dan mengamati. Nampaknya, tempat ini masih baru,
maka saya hanya singgah sebentar dan pulang kembali ke rumah. Banyak
warga Filipina yang bermukim di kota Al-Khobar yang terletak di Saudi
Arabia Wilayah Timur. Sekali waktu saya pernah pergi kesana untuk
sekedar berjalan-jalan dan saya mengetahui dari seorang Filipina bahwa di
Al-Khobar pun terdapat sebuah Pusat Islam (Islamic Center). Tempat ini
dapat saya temukan dengan mudah dan saya memutuskan untuk membeli
lagi beberapa buku, karena buku-buku yang terdahulu telah selesai saya
baca. Saya juga mendapati banyak buku perihal perbandingan agama di
Pusat Dakwah Islam yang saya inginkan. Para penerima tamu disana
menjelaskan bahwa buku-buku itu gratis untuk Non-Muslim dan Mualaf.
Ia berupaya memberikan buku-buku itu sebagai hadiah untuk saya, namun
saya mendesak membayar harga buku-buku itu. Mereka pun besedia
menerima uang pembayaran. Saya pergi meninggalkan tempat itu dengan
membawa buku-buku baru. Saya bergegas pulang ke rumah untuk
57
mencermati isi buku-buku itu. Saya sangat ingin menemukan pemelintiran
dan tipuan yang mereka mainkan dalam mengutip ayat-ayat Bibel didalam
buku-buku itu. Saya buka juga Kitab Bibel saya. Saya segera mencocokkan
kutipan yang pertama saya jumpai di buku itu terhadap Bibel. Sayapun
terperanjat, kutipan itu benar sama sekali. Sebelumnya saya curiga bahwa
kutipan itu adalah tipuan. Saya pun melanjutkan membandingkan kutipankutipan
berikutnya satu demi satu. Ternyata semuanya sama persis dengan
yang tertulis didalam Bibel. Muncullah teka-teki di benak saya. Masih saja
saya belum yakin dengan Islam. Namun, sekali lagi saya pergi
mengunjungi pusat dakwah itu. Seorang lelaki mengajak saya menyimak
rekaman video tentang Ahmad Deedat. Saya putuskan untuk bersikap
terbuka dalam menonton video itu. Saya katakan kepada diri saya sendiri
agar tidak mereka-reka prasangka. Video ini berisi rekaman diskusi antara
seorang Ulama Muslim dengan seorang agamawan Kristen. Tergambar
dengan jelas dalam rekaman itu sang agamawan telah gagal dalam
mempertahankan keyakinannya. Seusai menyimak rekaman itu, saya
bertanya pada diri sendiri, �jika seorang agamawan Kristen yang ternama
saja tak sanggup mempertahankan keyakinannya, bagaimana pula dengan
saya?� Saya hanyalah seorang penganut agama. Pada saat itu keyakinan
sayapun mulai runtuh. Seolah saya baru saja menelan kekalahan dalam
perempuran besar dan tidak tahu kemana harus berlari mencari bantuan
pertolongan.
Tidak Ada Paksaan Dalam Agama
Suatu hari saya bermain Dart (paser-sasaran) dengan seorang teman
asal Filipina yang kebetulan juga seorang Muslim. Ia bernama Radwan
Abdus Salam, satu-satunya Muslim Filipina yang saya kenal. Sambil
beristirahat di sudut ruangan, secara ringkas saya bertanya kepadanya
tentang Islam sementara teman-teman lain masih asyik bermain. Ia tidak
menjawab dengan penjelasan yang panjang lebar. Saya menemaninya
pulang ke rumahnya dan ia memberikan terjemahan Al-Qur�an dalam
bahasa Inggris kepada saya, juga beberapa brosur perbandingan agama.
Teman saya, Muslim Filipina itu, juga tidak berusaha membujuk saya agar
memeluk Islam. Begitu pula dengan orang-orang di Pusat Dakwah Islam,
tak satupun dari mereka yang pernah mencoba membujuk saya untuk
menukar keyakinan saya. Semua orang menyediakan informasi yang saya
butuhkan dan selanjutnya membiarkan saya memilih sesuai hati nurani dan
akal pikiran saya sendiri. Dengan cara demikian inilah saya merasa
nyaman berinteraksi dengan orang-orang Muslim. Kalau saja mereka
pernah memaksakan pengajaran Islam kepada saya, tentu saya telah
menjauhkan diri dari mereka. Namun demikian, saya juga heran mengapa
58
pada dua tahun pertama saya berada di negeri Islam, Saudi Arabia ini, tak
seorangpun pernah membicarakan Islam kepada saya.
Panggilan Kesadaran Hati Nurani
Setelah melalui pembelajaran dan penyelidikan secara luas, menjadi
jelaslah dalam akal pikiran saya mengenai tiga hal;
(a) Yesus bukan Tuhan
(b) Bibel bukanlah kitab suci dalam format aslinya. Telah terjadi
pengubahan, oleh karena itu maka banyak pertentangan didalamnya.
Sedangkan agama yang saya anut berdasarkan atas keterangan didalam
Bibel. Sayapun menjadi bimbang, jika kitab itu telah diubah-ubah,
bagaimana saya dapat meyakini bahwa ajaran agamanya benar? Jika saya
berusaha memecahkan pertentangan-pertentangan yang ada, itupun akan
menjadi lebih rumit lagi dan malah membingungkan. Jadi, keyakinan
Kristiani hanyalah sebuah dogma; terima saja apa adanya tanpa berpikir
�Jika/seandainya� dan �Tetapi/Kalau begitu� perihal ajaran itu. Kerancuan
ini mengakibatkan sebuah tekanan dalam akal pikiran saya.
(c) Pernyataan �Tidak ada tuhan yang layak disembah kecuali Tuhan
Yang Esa� sangatlah sederhana, gamblang dan sangat mudah dimengerti.
Inilah yang menghilangkan tekanan dalam benak saya dan membuat saya
merasa sebagai orang yang bebas merdeka. Rasa lapang dan nyaman ini
membuat saya dapat berulang kali �bercermin� pada kalimat itu. Kalimat
itu bergema didalam diri saya ketika sedang di kamar maupun pada waktu
perjalanan jarak jauh didalam mobil saya. Biasanya saya mendengarkan
berbagai macam kaset yang saya beli di Pusat Dakwah Islam sambil
berkendaraan. Paham Keesaan Tuhan kian waktu pun kian jelas bagi saya.
Sebuah kekuatan dari dalam diri saya berulang-kali membisikkan agar saya
segera mengambil keputusan menurut kesadaran hati nurani. Kebenaran
telah nampak begitu jelas dalam akal pikiran saya sehingga saya tidak
peduli lagi tentang apa yang bakal dilakukan oleh teman-teman dan
keluarga saya atas keputusan yang saya ambil. Hal yang ingin saya ketahui
hanyalah, bagaimana caranya menjadi seorang Muslim. Maka, pergilah
saya menuju Pusat Dakwah Islam Aqrabiyah yang berada di Al-Khobar
untuk menyatakan menerima Islam. Ketika saya memasuki gedung itu,
kuliah Islam sedang berlangsung di beberapa ruangan, masing-masing
dalam bahasa pengantar yang berlainan. Saya bergabung di ruangan
kelompok Filipina. Kuliah disampaikan oleh Akhi Fareed Oquendo. Seusai
kuliah, saya bertanya kepadanya, �Bagaimana cara seseorang untuk
menjadi Muslim?� Ia balik bertanya, �Adakah kamu ingin menjadi seorang
Muslim?� Dengan mantap saya jawab, �Ya, benar sekali!� Ketika itu,
semua orang terperanjat karena saat itu baru pertama kali saya mengikuti
kuliah Islam di pusat dakwah ini. Fareed pun bertanya, �Yakinkah anda
bahwa benar-benar anda ingin menerima Islam? Sudahkah kamu cukup
59
mempelajari perihal Islam?� Saya menjawab, �Ya, saya telah
mempelajarinya.� Lagi-lagi saya terheran-heran bahwa tak seorangpun
memaksa saya ataupun berupaya mengatakan agar saya memeluk Islam.
Kemudian, disini saya kebetulan berjumpa dengan seorang akhi asli Saudi.
Ia katakan kepada saya, �Wajah anda menampakkan bahwa anda seorang
Muslim.� Maka Akhi Fareed mengumpulkan semua peserta kuliahnya,
kemudian ia meminta saya, �Silahkan anda tirukan apa yang diucapkan
akhi Saudi kita ini dalam bahasa Arab. Kalimat itu nanti akan diulang
dalam bahasa Inggris yang menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain
Allah Yang Esa, dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya.
Pernyataan sederhana inilah yang menjadikan anda seorang Muslim.�
Seusai upacara ringkas dan sederhana ini semua peserta berbaris dan
memeluk saya satu per satu dan memberikan ucapan selamat dari lubuk
hati mereka yang terdalam. Mereka semua mengumandangkan takbir
dengan lantang dan berulang-ulang, Allahu Akbar� Allahu Akbar�!!!
Yang artinya, Allah Maha Besar� Allah Maha Besar.
Joe menguraikan saat-saat terjadinya peristiwa itu kepada saya
dengan berlinang air-mata bahagia, Ia katakan, �Tak pernah saya berharap
peristiwa semacam itu terjadi terhadap diri saya. Kenangan masa lalu yang
manis dan penuh kedamaian ini selalu menyentuh sanubari saya. Segala
puji hanyalah bagi Allah, karena Dia-lah maka syeitan telah tak sanggup
lagi menakut-takuti saya untuk mengucapkan ikrar menjadi seorang
Muslim, dengan kekhawatiran atas reaksi yang mungkin timbul dari
teman-teman dan keluarga saya.�
Memilih Nama Islami
Setelah ber-syahadat, yaitu ikrar menerima Islam, Akhi Fareed
bertanya, �Sudah adakah nama Muslim yang anda pilih untuk anda?� Saya
berkata dalam hati kepada diri sendiri, bahwa saya akan mengenakan nama
seorang Muslim yang pertama kali membicarakan Islam dengan saya pada
waktu saya mengunjungi pusat dakwah ini. Orang yang saya maksud ini
berpembawaan amat sopan, meyakinkan dan cakap dalam menjelaskan.
Ia telah memberi kesan baik kepada saya dengan sikapnya, penyajian
yang ringkas, dan keterangan yang tepat. Sayang sekali saya tidak tahu
namanya, tetapi saya mengenali orang yang dulu saya bersikukuh untuk
membayar beberapa buku dan kaset yang saya pilih. Saya bertanya
kepadanya, �Siapakah nama orang yang dulu sempat berbicara dengan
saya setelah saya membeli buku dari anda?� Ia berkata, �Oh�saya ingat,
beliau adalah Syeikh Saleh!� Maka saya katakan kepada mereka bahwa
mulai saat itu nama saya adalah Saleh. Akhi Fareed kemudian menyuruh
saya pulang, mandi dan berdo�a ke hadirat Allah, menyampaikan rasa
syukur saya kepada-Nya.
Shalat Pertama
60
Malam itu saya mandi dan kemudian saya tidur dengan nyenyak.
Pagi hari, saya pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat Subuh. Saya
malu untuk masuk kedalam masjid karena tidak tahu apa yang musti saya
lakukan. Seorang akhi asal Sudan melintas dekat saya dan menangkap
keraguan saya. Ia pun berkata kepada saya, �Ayolah masuk. Apa gerangan
yang menghentikan langkahmu?� Saya katakan kepadanya, �Baru semalam
saya menjadi seorang Muslim. Saya tidak tahu bagaimana cara shalat.� Ia
berkata, �Masuklah, akan saya tunjukkan kepadamu.� Ia terangkan
bagaimana cara membersihkan diri di toilet, kemudian ia tunjukkan kepada
saya cara berwudlu�. Kemudian ia menambahkan, �Ikuti saja kami dalam
shalat, dan panjatkanlah do�a di akhir shalat.� Ketika pertama kali saya
pada posisi sujud, dimana kening menyentuh lantai sambil berlutut; Saya
merasa nikmat luar biasa, suatu perasaan yang tak dapat saya ungkapkan
lagi dalam kata-kata. Saya selalu memohon kepada Allah agar memberikan
lagi rasa nikmat sujud saya yang pertama itu. Sejak hari itu, saya telah
mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari.
Pendidikan Islam
Saya pun mulai datang ke Pusat Dakwah Islam secara teratur setiap
malam. Saya belajar huruf Arab, bagaimana menulis dan membacanya.
Tahap demi tahap, saya pun mulai membaca Al-Qur�an. Sasaran utama
dalam hidup saya kala itu adalah belajar bagaimana saya dapat membaca
Al-Qur�an dengan benar dan lancar. Saya juga mempelajari Rukun Islam
dan Rukun Iman secara terperinci. Kuliah umum yang berlangsung
memberikan banyak inspirasi. Pengajar kami akhi Ahmad Ricalde.
Caranya menyampaikan kuliah menarik dan menyenangkan. Saya tak ingin
terputus dari kegiatan pendidikan ini. Maka, saya pun menunda liburan
saya untuk berkunjung ke orang-tua dan tanah kelahiran saya. Diantara
pengetahuan yang saya peroleh, menjadi jelas bagi saya bahwa keterlibatan
dalam segala bentuk riba (tambahan/bunga pinjaman) tidak diperbolehkan;
alias haram; dalam Islam. Islam juga melarang makanan yang dibuat
dengan tujuan persembahan kepada selain Allah. Saya mencerna semua
pengajaran Islam dengan sungguh-sungguh dan berusaha sebaik mungkin
untuk menaatinya. Saya puas dan sangat bangga dengan cara hidup saya
yang Islami. Namun, rekan-rekan dan teman serumah belum mengetahui
perubahan besar yang telah terjadi pada diri saya ini.
Sebuah Peristiwa Lucu
Suatu hari Penyelia kami, Abdullah, menugaskan kami bekerja di
tempat yang jauh. Rencananya, kami akan pulang dulu ke rumah, makan
siang, dan baru menuju ke tempat tugas. Saya menyelinap memisahkan diri
untuk mengambil wudhu� dan mengerjakan shalat. Sesudah wudhu� saya
bergegas menjumpai Abdullah. Ia melihat tangan dan wajah saya masih
basah. Ia pun bertanya, �Kenapa kamu (basah-basah) begini?� Saya
61
katakan padanya bahwa saya baru selesai wudhu dan akan mengerjakan
shalat. Ia pun bertanya, �Apakah kamu seorang Muslim?� saya jawab,
�Ya!� Ia begitu gembira. Ia katakan agar saya tidak pergi ke proyek dan
menemuinya sesudah shalat. Abdullah menelepon keluarganya
menyampaikan berita yang mengejutkannya. Ia mengajak saya ke
rumahnya dan disana ia merayakan keislaman saya dengan seluruh
keluarganya. Segera saya merasa menjadi bagian dari keluarga mereka.
Reaksi Teman-teman
Waktu itu saya tinggal bersama dengan lima orang filipina lainnya di
sebuah rumah. Setiap kamar dihuni dua orang. Saya berbagi kamar dengan
teman dekat yang sekaligus teman sekelas di kampus. Kami semua
memasak untuk makan siang dan makan malam bersama-sama. Dua
kejadian kecil berlangsung ketika itu.
Teman-teman saya sedang merayakan Tahun Baru maka
disiapkanlah makan malam yang mewah. Saya pun diundang untuk makan
malam bersama mereka. Namun, saya memberi syarat untuk kehadiran
saya disana. Saya meminta mereka tidak melakukan do�a bersama sebelum
mulai makan seperti yang biasa dilakukan dalam keyakinan Kristiani.
Mereka melanggar janji pada saatnya tiba, maka saya meninggalkan acara
makan bersama itu.
Kejadian kecil serupa terjadi lagi. Seperti yang pernah saya ceritakan
sebelumnya, kami biasa bersantap siang bersama-sama. Tetapi saya selalu
menyelinap dari kelompok untuk mengerjakan shalat Dzuhur terlebih
dahulu sehingga agak terlambat bergabung dengan mereka. Suatu hari saya
terlambat lebih lama dari biasanya. Mereka telah menyelesaikan makan
siang. Hanya teman sekamar saya saja yang masih tinggal. Ia bertanya
kepada saya sambil bercanda, �Apa kamu juga shalat dulu?� Saya katakan
kepadanya,�Kamu sungguh membuat saya tersudut. Ya, saya baru saja
shalat?� Ia kembali bertanya, �Kamu hanya berolok-olok kan?� Saya
menjawab sungguh-sungguh, �Saya seorang Muslim.� Maka
diberitakanlah hal ini olehnya kepada teman-teman Filipina yang lain. Hal
ini mengakibatkan perubahan besar dalam pertemanan saya dengan temanteman
serumah.
Mereka Semua berkumpul di kamar saya dan pertanyaan yang
terucap dari mereka adalah, apakah saya telah meninggalkan agama saya.
Selanjutnya, mereka mengajukan pertanyaan yang lazim diajukan orangorang
terhadap Mualaf. Apakah Islam itu? Bagaimana kamu mengenal
Islam? Apapun yang mereka tanyakan, saya membuka buku-buku saya dan
saya bacakan jawabnya kepada mereka. Inilah pengalaman pertama saya
menerangkan Islam kepada orang lain. Mereka pun berupaya mengajak
saya kembali kepada agama Kristen. Saya menjawab pertanyaanpertanyaan
mereka secara baik-baik tanpa menyinggung perasaan mereka
62
sedikitpun. Akhirnya, seorang diantara mereka menutup kitab Bibelnya
dan berkata kepada saya, �Apa sebenarnya yang kamu coba buktikan?�
Saya katakan kepada mereka, �Adalah jelas disini bahwa Islam adalah
agama yang benar. Dan Jelas pula bahwa Yesus (alaihissalam) bukan
Tuhan tetapi adalah Utusan (Rasul) Allah.� Maka akibatnya mereka pun
pergi meninggalkan saya karena kecewa. Sejak itu, Tak ada lagi diskusi
diantara kami. Mereka selalu pergi bersama-sama melakukan kegiatan
mereka. Saya ditinggalkan sendirian. Karena itu, saya mulai mencari teman
saya, Filipina Muslim, Abdus Salam. Namun ia telah pindah rumah.
Dengan menghubungi beberapa kenalan, saya dapat menemukan alamat
rumahnya yang baru, maka saya pun mengunjunginya. Abdus Salam baru
saja kembali dari menunaikan ibadah Haji. Saya ucapkan salam
kepadanya. Ia terperanjat. Saya katakan kepadanya bahwa saya telah
memeluk Islam dan mengajaknya berbagi kamar agar kami bisa menjalani
kehidupan Islami. Teman sekamarnya waktu itu seorang Non-Muslim,
maka ia mencari apartemen baru dan kamipun segera pindah kesana. Kami
bersahabat dan menikmati kehidupan kami di tempat itu. Kami biasa
mengunjungi Pusat Dakwah Islam bersama-sama untuk memperoleh
pendidikan Islam dan memperkaya keIslaman kami. Kami tolongmenolong
satu sama lain sebagai saudara yang sejati.
Impian Menjadi Kenyataan
Waktu itu guru kami untuk membaca Al-Qur�an di pusat dakwah
bernama Bp. Muhammad. Seorang Akhi asal Mesir yang sudah usia
pertengahan. Pekerjaan ini ia lakukan dengan sukarela. Pekerjaannya
sehari-hari adalah sebagai pesuruh kantor purna-waktu disebuah
perusahaan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Suatu hari saya dan
Abdus Salam membalas kunjungan keakraban ke rumahnya. Ternyata
beliau tinggal disebuah kamar yang sangat sempit dan kumuh. Kami lihat
berbagai kaset Al-Qur�an terletak diberbagai rak memenuhi satu sisi
dinding kamarnya. Kami menyarankan agar beliau bersedia tinggal
bersama kami, tanpa harus ikut membayar apapun. Namun kami
memintanya berjanji mengajarkan Al-Qur�an kepada kami. Dengan penuh
semangat beliau menerima tawaran kami. Kami diajari membaca Al-
Qur�an setiap hari seusai shalat Subuh. Dengan demikian kami belajar
membaca Al-Qur�an dari seorang Qori� (pembaca Qur�an) Profesional.
�Puji syukur kepada-Mu ya Allah, impian kami telah menjadi kenyataan.�
Kesenangan Saya
Saya mempunyai hobbi (kesenangan) bermain gitar sambil
bernyanyi sejak masih di sekolah dasar. Saya pun pernah belajar
memainkan piano ketika di sekolah lanjutan. Saya membawa gitar dan
harmonika milik saya ke Saudi Arabia. Saya juga memiliki koleksi
rekaman musik dalam bentuk kaset-kaset yang bermutu tinggi. Lebih dari
63
itu saya juga seorang perokok berat. Saya berhenti merokok tanpa paksaan
segera setelah saya memeluk Islam. Suatu hari saya melihat seseorang
sedang merokok di tempat kerja saya. Lidah saya seketika bergairah
tergoda untuk mencicipi sebatang rokok. Namun saya tak jadi menyentuh
sebatangpun karena rasa takut saya kepada Allah Yang Maha Besar. Saya
pun menjual gitar dan koleksi kaset musik yang saya miliki dengan harga
murah karena keinginan yang begitu kuat untuk segera menyingkirkan
benda-benda itu. Seseorang menginginkan harmonika saya. Saya katakan
kepadanya itu boleh diambilnya dengan cuma-cuma. Setelah itu, saya
memiliki lebih banyak waktu untuk saya curahkan pada pertumbuhan
keIslaman saya.
Kunjungan Pertama Ke Orangtua
Saya telah merencanakan untuk pulang ke Filipina selama liburan.
Abdus-Salam memberitahukan bahwa istri dan anak-anak perempuannya
telah memeluk Islam, maka ia menyarankan hendaklah saya mengunjungi
keluarganya selama berada di Filipina untuk andil memberikan pendidikan
Islam kepada keluarganya. Sesampai di Manila, saya disambut oleh kedua
orangtua saya. Dulu pendeta kami mengajarkan, agar bila anak menjabat
tangan orangtuanya meletakkan tangan mereka ke dahi kami sebagai
penghormatan. Sewaktu saya berjumpa dengan kedua orangtua saya di
bandara, saya tidak melakukan hal itu lagi. Justru saya yang mengecup
kening mereka. Mereka pun amat terperanjat. Namun kami melanjutkan
perjalanan pulang ke rumah dengan penuh semangat.
Ayah saya seorang purnawirawan militer, tampang serius selalu
nampak di wajahnya. Namun ia seorang yang dapat menyimpan sikap
kerasnya. Ibu saya lulusan perguruan tinggi dan bekerja sebagai guru.
Biasanya saya merasa lebih mudah membicarakan sesuatu dengan Ibu.
Maka saya katakan kepadanya, �Saya telah menjadi seorang Muslim, saya
tidak boleh makan daging babi.� Hal ini merupakan kejutan besar untuk
kedua orangtua saya. Mereka katakan bahwa, mereka telah persiapkan iga
babi khusus untuk menyambut saya. Itu merupakan menu yang sangat
spesial di Filipina.
Bukanlah hal tabu jika Joe menceritakan pengalamannya soal iga
babi, Sewaktu saya menjadi guru matematika di Amerika, para siswa saya
biasa menanyakan perbedaan Islam dan Kristen, saya pernah menjawab,
�Salah satunya adalah, Muslim tidak makan daging babi.� Salah seorang
dari mereka nyeletuk, �Tuan Ahmad, tidakkah anda tahu yang anda
lewatkan? Yaitu, iga babi panggang yang sangat lezat!� setelah celotehnya
itu, seisi kelas mengikuti dengan tawa riuh dan sempat menyelipkan lagi
kata-kata, �Pak Ahmad tidak tahu apa yang ia lewatkan.�
Keimanan Saleh alias Joe begitu kuat. Dengan mudah ia
meninggalkan makan daging babi dan produk-produk yang mengandung
64
babi. Ia juga mengatakan kepada saya, �Orang tua saya tak ada pilihan lain
lagi kecuali menyajikan makanan yang Halal bagi Muslim.�
Selama berada di Filipina, saya coba untuk mengenalkan ajaran
Islam kepada kedua orangtua dan sanak saudara saya. Saya terlalu
bersemangat dan menginginkan mereka dapat melihat kebenaran dalam
waktu singkat. Hal ini menyebabkan banyak perdebatan dan suasana
rumah menjadi penuh ketegangan selama saya berada di sana. Saya adalah
pendakwah tak berpengalaman yang ingin cepat menuai hasil. Kini saya
sadari bahwa saya telah melakukan pendekatan yang salah. Saya sangat
menyesali kejadian itu sebab saya telah menempatkan mereka pada
keadaan yang teramat mengusik perasaan akibat pendekatan saya yang
salah. Terlebih lagi, keberhasilan mereka memperoleh hidayah adalah
semata-mata atas Kehendak Allah dan bukanlah atas kepiawaian
pendakwah. Jadi, seorang pendakwah hendaknya tidak merasa kecewa.
Saya lakukan juga kunjungan kepada keluarga Abdus Salam dan
berbagi pengetahuan Islam saya yang masih sedikit. Sekembali saya ke
Saudi Arabia, saya sarankan kepada Abdus Salam agar memindahkan
tempat tinggal keluarganya ke dekat Pusat Dakwah Islam di Cavite City
didekat Manila. Dengan demikian keluarganya akan lebih mudah
memperoleh pengajaran Islam dan lebih mudah juga bagi mereka untuk
menerapkan ajaran Islam di lingkungan yang Islami. Abdus Salam setuju
dengan gagasan ini dan memindahkan keluarganya tinggal di dekat pusat
dakwah itu.
Kunjungan Ke-dua ke Filipina
Tahun berikutnya, saya dan Abdus Salam berkunjung ke Filipina
dalam waktu yang bersamaan. Saya sangat gembira melihat keluarganya
telah mendapatkan banyak pendidikan Islam. Saya dapati mereka, istri dan
anak-anak perempuan Abdus Salam, telah mengenakan busana Muslimah
dan menunjukkan kemajuan yang sangat besar dalam menerapkan ajaran
Islam. Begitu besarnya kemajuan itu sehingga Abdus Salam meminta saya
menikahi seorang putrinya. Saya katakan bahwa saya akan segera memberi
jawaban. Sayang sekali suasana di rumah saya masih penuh ketegangan
sehingga saya tidak dapat kembali berkunjung ke keluaraga Abdus Salam
tepat waktu. Ia telah kembali ke Saudi Arabia. Maka saya sampaikan
kepada istrinya bahwa saya setuju dengan permintaannya untuk menikahi
putri mereka, namun saya minta waktu setahun lagi untuk pelaksanaannya.
Saya menelepon Abdus Salam di Madinah al-Munawarrah, Saudi Arabia,
dan menerangkan kepadanya alasan saya tidak dapat menemuinya sebelum
ia berangkat meninggalkan Filipina. Juga saya katakan kepadanya bahwa
saya menyetujui permintaannya dan, Insya Allah, pernikahan
dilangsungkan tahun depan.
Berdialog Dengan Pastor
65
Ibu saya berusaha sekuat tenaga untuk mengembalikan saya kepada
agama Kristen. Ia mengundang seorang pastor ke rumah kami dan saya
berdialog panjang lebar dengannya. Pastor itu gagal meyakinkan saya.
Tanpa putus asa, ibu mengundang lagi pastor yang lain, beliau duduk
bersama kami mendengarkan kami saling berargumentasi, Ayah saya
sedang menyiram tanaman didekat kami berdialog dan bersamaan dengan
itu juga memasang telinga mengikuti percakapan kami. Saya menjawab
sang pastor dengan merujuk pada buku-buku perbandingan agama yang
saya miliki. Ia tidak memiliki sanggahan yang kuat. Iapun pergi sambil
berjanji akan kembali lagi dengan mengajak pastor yang lebih senior. Saya
katakan kepadanya, �Saya dengan senang hati menantikan kedatangan
anda berdua.� Tetapi mereka tak kunjung datang. Ayah menghampiri Ibu
dan berkata, �Anakmu mempunyai pengetahuan yang lebih banyak dari
pastormu.� Dengan rendah hati saya berkata kepada Ayah, �Mungkin
mereka perlu mengumpulkan dahulu fakta-kata dan data.� Saya katakan
hal ini agar Ibu tidak terluka perasaannya karena pastor itu dari gerejanya
dan pengajar agama beliau.
Prioritas Hidup
Prioritas hidup saya saat itu bukanlah pernikahan. Tujuan utama saya
adalah meninggalkan pekerjaan di bank. Saya mencari saran dan masukan
dari para ulama. Saya sangat menghargai nasehat mereka yang sangat
mengagumkan. Mereka katakan, �Lakukan dengan sungguh-sungguh dan
tulus mencari pekerjaan yang lebih cocok untukmu, tapi jangan dilepas
dulu pekerjaan yang sudah ada sekarang. Kalau kamu tinggalkan pekerjaan
yang sekarang, maka kamu harus pergi meninggalkan Saudi dan kami akan
kehilangan kamu. Carilah pekerjaan yang baru dan lakukanlah perubahan
sesegera mungkin.� Saya mulai mencari lowongan pekerjaan di koran
lokal. Saya temukan lowongan kerja untuk operator mesin Fax. Saya pun
datang untuk wawancara. Pewawancara bertanya mengapa saya tinggalkan
pekerjaan yang gajinya lebih besar. Saya katakan bahwa alasan saya
sepenuhnya bersifat pribadi. Ia katakan bahwa saya melampaui kualifikasi
yang dibutuhkan, karena itu mereka tak dapat mempekerjakan saya.
Sebuah perusahaan lain sedang membutuhkan beberapa teknisi
penunjang (support engineer). Lagi-lagi gaji yang ditawarkan lebih kecil
dari yang saya terima saat itu. Saya hadir untuk wawancara dan saya
katakan kepada mereka bahwa saya tidak mempermasalahkan gaji. Yang
saya butuhkan adalah sebuah perubahan pekerjaan untuk alasan yang
bersifat pribadi. Saya diterima bekerja dan pindahlah saya ke tempat kerja
yang baru. Ini adalah sebuah berkah teramat besar yang tersembunyi.
Sebab, ternyata saya mulai bekerja sebagai teknisi pemeliharaan pada salah
satu dari dua tempat yang teramat suci di muka bumi ini, yakni di Masjid
An-Nabawi, Madinah, Saudi Arabia.
66
Pernikahan Islami
Setahun telah berlalu, saya dan Abdus Salam berkunjung ke Filipina
bersama-sama, dan pernikahan saya pun berlangsung. Saya jelaskan
kepada kedua orangtua saya dan para sanak-saudara bahwa pernikahan
kami dilaksanakan secara Islam. Mereka bersedia ikut ambil bagian dalam
acara itu. Acara resmi pernikahan hanya memakan waktu lima menit.
Setelah usai acara resmi itu, saya katakan kepada orangtua saya bahwa
upacara pernikahan telah selesai. Nenek saya berkomentar dengan lantang,
�Belum pernah saya menyaksikan mempelai lelaki dan perempuan
dipersandingkan seperti dengan cara pernikahan Kristen.� Ibu saya
membisikkan kepadanya bahwa ini pernikahan secara Islam. Kedua
orangtua saya menjadi lebih pengertian sesudah itu. Saya masih tinggal di
Filipina sampai beberapa hari di bulan Ramadhan. Ibu memasakkan
makanan buka puasa untukku.
Seusai liburan saya kembali ke Madinah, istri saya pun ikut serta.
Selanjutnya, Allah telah mengaruniai kami dengan dua orang putri, kami
namakan mereka Safa dan Marwa.
Kini, saya telah memiliki pekerjaan purna-waktu, dan saya juga giat
di Pusat Dakwah Islam di Madinah sebagai sukarelawan yang membantu
para Mualaf (mereka yang baru memeluk Islam). Semoga Allah menerima
amaliyah yang saya lakukan dengan penuh kerendahan-hati dan
mengokohkan iman saya, dan menjadikan istri dan anak-anak saya hambahambanya
yang taqwa.
Akhi Saleh suka berbagi pengalaman dan berhubungan dengan para
Mualaf ataupun Non-Muslim. Ia dapat dihubungi di alamat e-mail berikut:
saleh_echon@hotmail.com
___________________________________
Cahaya Hidayah Hadir Dalam Tugas Pelayanan �
IBRAHIM SULIEMAN
Masing-masing agama pasti berusaha meyakinkan kepada setiap
individu perihal kebenaran dan keutamaannya. Kegiatan semacam ini
berlangsung dari waktu ke waktu di berbagai negeri. Adapun berpindah
dari satu agama ke agama yang lain adalah keputusan yang besar bagi
seseorang. Di banyak kelompok masyarakat, keputusan yang diambil oleh
kepala keluarga berpengaruh pada generasi-generasi berikutnya. Banyak
orang yang beragama hanya lantaran menghormati para orang tua dan
leluhur mereka saja. Keterikatan sosial dan budaya yang sangat kuat
menyebabkan terbentuk pemahaman bahwa merusak atau melemahkan
ikatan-ikatan tersebut adalah perbuatan melanggar tata-krama dan tidak
beradab. Kekuatan sosial budaya yang begitu kuat itu bahkan
67
mengakibatkan orang-orang yang berpendidikan pun tidak memiliki
keberanian untuk menggali dan memperbandingkan ogama-agama
menggunakan akal-pikiran yang terbuka. Sejauh ini, mereka berdalih
bahwa karena dalam diri mereka tidak ada prasangka tentang agama-agama
yang lain. Walaupun sebenarnya prasangka itu bersarang dan meliputi akal
pikiran mereka. Menekan perasaan semacam ini menempatkan mereka
dalam kemudahan, meskipun memendam prasangka itu bertentangan
dengan kesadaran nurani mereka. Namun Sang Maha Pencipta
sesungguhnya menunjukkan jalan kebenaran kepada mereka yang tanpa
prasangka sedikitpun ketika sedang dalam pencarian jalan-Nya itu.
Segunung Ampunan Tuhan Yang Maha Penyayang tercurahkan kepada
orang-orang yang demikian. Kisah Ibrahim berikut ini merupakan
gambaran yang tepat untuk hal ini.
Saya terlahir dan tumbuh di Nigeria. Kakek saya seorang Muslim
bernama Sulieman. Beliau mempunyai tiga orang anak lelaki. Seorang dari
anaknya berubah menyadi seorang Kristen di usia duabelas tahun lantaran
adanya kegiatan misionaris Kristen. Setelah menginjak dewasa, si anak ini
menikah dengan seorang perempuan Muslimah yang kemudian juga
mengubah keyakinannya menjadi seorang Kristen. Mereka berdua bekerja
di sekolah menengah di Kano. Sang Suami bekerja di perpustakaan
departemen Sains (Iptek), sang Istri sebagai penyedia konsumsi di sekolah
itu. Saya adalah anak termuda keluarga ini. Ibu telah wafat sekitar
seminggu setelah kelahiran saya. Kami tujuh bersaudara, enam lelaki dan
satu perempuan. Kami semua beragama Kristen mengikuti agama orang
tua kami. Namun, kakek kami memberi nama kami dengan nama-nama
Muslim. Saya dinamakannya Ibrahim, nama yang sangat saya sukai. Setiap
kali kakek mengunjungi kami, ayah berlaku seolah ia seorang Muslim
yang tidak menjalankan agamanya. Kami juga mempunyai nama-nama
suku yang mana kami lebih dikenal dengan nama-nama ini.
Atas pengaruh langsung dari ayah, kami sekeluarga menjalankan
ajaran Kristiani, meskipun kami tinggal di lingkungan yang mayoritas
Muslim. Kami ikuti pemikiran ayah tanpa keberanian melanggar yang
telah ia gariskan. Sebagian besar kakak-kakak saya menikahi pasangan
mereka yang berasal dari keluarga Kristen. Hal yang menarik adalah, salah
satu kakak lelaki saya tertarik untuk menikah dengan seorang perempuan
Muslim. Kemudian dikatakan kepadanya bahwa seorang perempuan
Muslim dilarang menikah dengan Non-Muslim. Kemudian ia mengubah
agamanya, menjadi seorang Muslim yang tidak menjalankan kewajibannya
dan tidak pernah menyampaikan apapun kepada kakak dan adiknya perihal
Islam.
Ketika saya bersekolah di sekolah menengah dimana kedua orangtua
saya bekerja, sebuah delegasi dari Saudi biasa menghadiri sebuah
68
konferensi tahunan yang diselenggarakan di kota kami. Ayah saya
mendapatkan pekerjaan untuk saya di tempat konferensi. Ayah meminta
saya melayani delegasi itu sebaik-baiknya selama konferensi berlangsung,
namun sayang, saya sama sekali tidak mengerti bahasa Arab. Saya tidak
memahami apa yang mereka bahas dalam konferensi. Sungguhpun
demikian saya bisa rajin melayani mereka dengan bantuan instruksi dari
penerjemah. Mereka pun merasa puas dengan pelayanan yang saya
berikan. Tahun berikutnya, delegasi ini kembali lagi ke Kano. Sekali lagi,
ayah meminta saya ikut membantu dalam penyelenggaraan konferensi
tahunan ini. Dengan demikin terbangunlah rasa saling menghargai diantara
kami dengan peserta konferensi. Seorang dari penyelenggara yang bernama
Sheikh Fahd, bertanya kepada saya, �Apakah kamu seorang Muslim?�
Saya pun menjawab, � Bukan, Saya Kristen.� Dijelaskannya dasar-dasar
ajaran Islam kepada saya selama ia berada di Kano. Menjelang
kepulangannya, ia bertanya, �Apakah kamu percaya bahwa Islam adalah
kebenaran?� Saya jawab, �Ya.� Iapun ingin tahu lebih jauh, �Apakah kamu
berkeinginan menjadi Muslim?� Saya katakan kepadanya, �Saya harus
minta ijin kepada ayah terlebih dahulu.� Ayah saya memiliki sifat lemahlembut.
Beliau tidak marah ataupun menanggapi negatif ketika saya
sampaikan hal ini kepadanya. Beliau berkata, �Kalau kamu suka,
lakukanlah.� Maka hari berikutnya saya pun memeluk Islam dengan
bimbingan Sheikh Fahd.
Maka hebohlah komunitas Kristen disana. Mereka mendesak ayah
saya untuk menarik saya kembali kepada ajaran Kristiani. Berbagai
pertanyaan mereka ajukan kepada ayah. �Apakah anakmu masuk Islam
karena yang berdakwah berkulit putih?�; �Apakah mereka memberinya
uang?�; Apakah mereka ingin membawanya ke Saudi Arabia?�; Dengan
datar ayah saya menjawab bahwa tidak satupun dari yang mereka sebutkan
itu menjadi alasan anaknya masuk Islam. Ditambahkannya pula, �Saya tak
dapat menghalanginya, sebab kakeknya pun seorang Muslim.�
Saya juga diberitahu bahwa saya bisa menjalankan ajaran Islam
dengan tulus hanya melalui pendidikan dan latihan. Maka, saya pun mulai
datang ke Pusat Islam terdekat untuk belajar Islam dan bahasa Arab.
Beruntung kami memiliki tetangga yang sangat baik. Namanya Ny. Karim.
Ia bergelar Doktor (Ph.D.) di bidang Studi Agama Islam dan mengajar di
sekolah setempat. Seorang ulama biasa mengunjungi rumahnya setiap hari
untuk mengajarkan Al-Qur�an kepada anak-anaknya. Saya diijinkannya
bergabung dengan kelompok belajar dirumahnya. Para delegasi Saudi pun
terperanjat melihat kemajuan saya dalam pendidikan Islam, sewaktu
mereka mengunjungi kami di tahun berikutnya.
Betapa Allah telah mencurahkan kasih-sayang-Nya yang tak
terhingga kepada saya. Delegasi Saudi itu merancang pendaftaran ke
69
Universitas Islam di Madinah untuk saya. Kini (ketika Ibrahim berkisah)
saya telah tiga tahun belajar di Universitas Islam untuk mempelajari bahasa
Arab. Tahun depan, saya akan masuk ke fakultas Syariah dan insyaAllah,
saya dapat diwisuda setelah empat tahun mendatang saya menjalani
pendidikan yang lebih luas. Saya rasakan kekuatan Iman dalam diri saya
dan saya pun mencintai jalan hidup Islami dengan segenap hati dan jiwa
saya.
Ayah menikah lagi setelah ibu saya meninggal. Dari ibu tiri ini, ayah
mendapatkan lima orang anak. Mereka semua beragama Kristen. Ketika
universitas sedang liburan musim panas, saya pulang ke Nigeria untuk
mengunjungi keluarga saya. Saya mencoba menerangkan prinsip-prinsip
Islam kepada saudara kandung maupun saudara tiri saya, karena sebagai
Muslim kita wajib menyampaikan Islam, pertama kepada sanak saudara.
Atas Pertolongan Allah SWT, satu dari saudara kandungku yang lelaki
telah bersungguh-sungguh memeluk Islam. Ia secara teratur hadir di Pusat
Islam setempat untuk memperoleh pendidikan dan pelatihan Islam lebih
lanjut. Saya pun sangat bersyukur kepada Allah atas cahaya hidayah-Nya
kepada saudara tiri saya yang lelaki berusia sepuluh tahun. Mengikuti jejak
saya, ia rajin datang ke rumah Ny. Karim untuk memperoleh pendidikan
dasar-dasar Islam dan belajar Al-Qur�an. Semoga Allah melimpahkan
balasan atas kebajikan yang telah dilakukan oleh Ny. Karim dengan
berperan-serta dalam pendidikan Islam kepada remaja-remaja di
lingkungannya.
Setelah kelak saya menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam
Madinah, saya sangat ingin melanjutkan pendidikan saya ke tingkatan yang
lebih tinggi lagi agar dapat mengabdikan diri sebagai Juru Dakwah Islam
yang paripurna. Tak ada kalimat yang tepat untuk menggambarkan rasa
syukur saya kepada Allah yang telah menunjukkan saya kepada
Kebenaran. Saya sangat menikmati menyerukan Islam dengan cara yang
mengena, kepada sanak saudara saya. Harapan saya, semoga Allah akan
menujukkan kepada lebih banyak lagi orang, menuju Jalan-Nya yang lurus
melalui dakwah yang saya sampaikan. Sesungguhnya, segala puji hanyalah
bagi Allah.
Kisah saya tidaklah lain dari yang lain. Kekuatan Misionaris Kristen
juga telah melakukan banyak pengubahan keyakinan di Nigeria dan
beberapa negara lain di Afrika. Mereka memiliki organisasi yang sangat
kuat, yang mendukung pendanaan bagi para juru dakwah mereka maupun
bagi orang-orang yang baru menjadi pengikut agama mereka. Mereka juga
memiliki buku-buku bacaan yang dicetak dalam bentuk yang sangat
menarik. Tenaga kerja mereka mendapatkan kebanggaan dalam menyebarluaskan
buku-buku bacaan dari pintu ke pintu dari hampir seluruh rumah
tangga. Hasilnya pun nyata sekali. Atas keberhasilan usaha misionaris ini,
70
maka berkuranglah sumber daya dan tenaga kerja pendidikan Islam di
berbagai negara di Afrika. Juru dakwah yang berbobot dan menguasai
bahasa setempat sangatlah dibutuhkan di setiap masyarakat. Malangnya,
banyak masyarakat yang tidak mampu memberikan dukungan pendanaan
kepada para juru dakwah tersebut. Akibatnya sia-sia saja keberadaan
tenaga kerja yang mampu dan berbobot itu. Buku-buku bacaan Islami
dalam bahasa setempat pun sangat sedikit. Apa yang saya katakan ini
bukanlah gagasan yang baru saya dapatkan. Semua fakta itu telah diketahui
secara umum. Saya sampaikan ini untuk mengingatkan siapa saja yang
memiliki kemampuan keuangan untuk mendukung pendidikan Islam di
negara-negara Afrika.
_______________________________________
Cahaya Hidayah Ditemukannya Pada Diri Suaminya �
JANET ROSE
Janet dilahirkan di kota Edmonton, Kanada. Di kota inilah
keluarganya telah bermukim selama beberapa generasi. Ia menceritakan
kisah singkatnya berikut ini:
Keluarga saya adalah pengikut gereja Katolik-Roma, maka sayapun
dididik dalam lembaga pendidikan Katolik-Roma. Ajaran Katolik yang
sering menjadi pertanyaan saya adalah, bagaimana Yesus bisa dikatakan
sebagai putra Tuhan. Semakin saya coba untuk memahami hal ini, sayapun
semakin bingung. Tak seorangpun yang memberikan jawaban yang terang
dalam menjelaskan pertanyaan ini. Ironisnya, yang menerangkan malah
lebih kebinggungan daripada yang meminta penjelasan.
Singkat kata, setelah saya menyelesaikan sekolah lanjutan
(highschool), Saya berjumpa dengan Tn. Khaled, warga negara Pakistan
yang tinggal di Edmonton. Karena hukum Kanada memungkinkan adanya
perkawinan untuk keperluan keimigrasian, maka Tn. Khaled menikahi saya
agar bisa memperoleh kewarganegaraan Kanada. Setelah pernikahan kami
berlangsung beberapa tahun, saya pun menjelang menjadi seorang ibu;
saya mengandung. Maka sebelum kelahiran si jabang-bayi, saya ingin
mengambil keputusan perihal kelangsungan perkawinan kami terlebih
dahulu.
Suami saya seorang yang sangat terpelajar dan sangat baik
perilakunya. Yang mengagetkan saya, ia tak pernah mendesak-desak saya
untuk memeluk Islam. Nampaknya ia cenderung memberikan kebebasan
kepada saya apakah kelak akan mendidik anak kami, yang akan segera
lahir, sebagai seorang Kristen ataupun seorang Muslim. Sikap keterbukaan
akalnya dan keteladanan perilakunya-lah yang membangkitkan diri saya
untuk secara pribadi mendidik diri perihal Islam. Dari belajar sendiri inilah
71
saya mengetahui bahwa ajaran Islam sangat mirip dengan ajaran Kristiani.
Lebih dari itu, saya pun mendapat pengetahuan bahwa Yesus (Isa, AS)
bukanlah anak Tuhan. Beliau adalah seorang Nabi yang utama; seorang
Utusan (Rasul) Allah. Pemahaman inilah yang memecahkan teka-teki
sepanjang hidup saya. Kemudian saya pun secara sukarela memeluk Islam
dan memutuskan untuk meneruskan jalinan pernikahan saya dengan Tn.
Khaled untuk selamanya. Saya bersyukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa
atas pemberian cahaya hidayah-Nya kepada diri saya ini. Tak lama
kemudian kami mendapatkan anugerah Allah, seorang anak perempuan.
Sekarang saya telah diberkahi-Nya dengan dua orang putri dan dua putra.
Suami saya mengajarkan Islam kepada kami setiap hari. Biasanya, ia
menceritakan kisah-kisah dalam Al-Qur�an kepada kami dalam bahasa
yang sederhana, ini sangat memudahkan kami untuk memahami Al-
Qur�an.
Terjadinya gesekan-gesekan antara menantu perempuan dengan ibu
mertua adalah hal yang lumrah terjadi. Namun ketika Ibunda Khaled
mengunjungi kami di Kanada, saya dapati beliau sebagai pribadi yang
tulus dan penuh kasih. Beliau memperlihatkan sikap dan perilaku Islami
begitu tepatnya kepada saya. Beliau juga menumbuhkan semangat saya
menjadi sangat tinggi melalui keteladan yang utama. Kesimpulan saya, jika
ibu mertua dan menantu perempuannya sama-sama mengikuti ajaran Islam,
tak akan timbul pertentangan diantara mereka.
Tak lama berselang, kami pindah ke kota lain di Kanada. Di kota ini
saya bekerja sebagai guru taman kanak-kanak di sebuah sekolah Islam, dan
juga ambil bagian dalam mengajarkan pengetahuan dasar Islam kepada
anak-anak. Pekerjaan ini sangat bermanfaat bagi diri saya sendiri karena
membantu kristalisasi ajaran Islam terhadap akal-pikiran saya sendiri.
Berbagi sedikit ilmu yang saya ketahui juga merupakan hal yang sangat
menggembirakan hati.
Selang beberapa tahun kemudian, kami kembali ke kota Edmonton.
Di kota ini, bekerjasama dengan beberapa orang teman, kami telah
mendirikan Pusat Informasi Islam. Disini terdapat tiga ribuan buku, dan
banyak juga kaset dan video perihal Islam. Terdapat juga layanan internet
gratis dalam hal informasi Islam. Pusat ini layaknya sebuah perpustakaan.
Setiap hari banyak kaum Muslim maupun Non-Muslim berkunjung ke
tempat ini. Kami berdo�a, semoga Allah mencurahkan bimbingan dan
petunjuk-Nya lebih banyak lagi kepada umat manusia melalui fasilitas
layanan yang kami sediakan ini dan menerima usaha yang kami lakukan
dengan rendah-hati ini. Perlu saya tambahkan pula bahwa, suami saya juga
menyiarkan sebuah acara TV Islami setiap minggu. Putra kami yang
termuda sangat antusias membantu ayahnya dalam proyek ini.
72
Mengakhiri kisah ini, secara jujur saya mengakui bahwa, setelah
memeluk Islam kehidupan saya menjadi sangat penuh kedamaian. Saya
begitu puas dengan kehidupan yang saya jalani dan berharap agar saya
lebih berkembang dalam ilmu dan amal islami. Saya tidak berkeberatan
untuk berbagi pengalaman keIslaman saya dengan orang lain. Alamat email
saya adalah: “mailto:jsehbai@hotmail.com.
______________________________
Cahaya Hidayah Terbit Di Lomba Debat�
TIMOTHY SENSINYI
Timothy berasal dari Kerajaan Lesotho, sebuah negara kecil yang
terletak tepat di sebelah Utara negara Afrika Selatan. Ia menuturkan
kisahnya sebagai berikut:
Pendidikan Dasar
Saya dilahirkan pada tahun 1972 di sebuah desa bernama Maseru
yang berjarak dua-belas kilometer dari Ibukota Lesotho. Pendidikan dasar
dan menengah pertama saya peroleh di sekolah Katolik yang berada di
dekat desa saya. Meskipun ada kewajiban dari sekolah untuk muridnya
supaya hadir ke Gereja Katolik setiap hari Minggu, saya seringkali
menghindar. Namun, terkadang saya bersama dengan nenek menghadiri
kebaktian di gereja Protestan.
Di sekolah lanjutan atas, saya mendapatkan kesempatan untuk
belajar di sekolah berasrama yang terletak delapan kilometer dari kota asal
saya. Sekolah ini diselenggarakan oleh Gereja Penginjil Lesotho. Induk
gereja ini berada di Perancis dan dikenal dengan nama Parish Evangelical
Misionary Society; disingkat PEMS. Disini terdapat seorang pendeta muda
usia yang amat rajin memberikan pendidikan Kristiani kepada kami. Ia
pernah berkata kepada murid-muridnya, �Seandainya gereja tidak
membiayai pendidikan saya, tentu saya telah menjadi seorang Muslim
sebab inilah satu-satunya Agama yang sejalan dengan ajaran Kristiani.�
Sebelum ia katakan hal ini, saya tak kenal sedikitpun perihal Islam. Kepala
Sekolah ditempat saya belajar adalah seorang yang baik budi, ia
mendukung kami untuk ambil bagian dalam sebuah acara debat dengan
topik-topik semisal �Hidup membujang lebih utama daripada Menikah�.
Saya telah terbiasa ikut andil dalam debat-debat semacam ini dengan
semangat tinggi.
Pendidikan Tinggi
Saya memperoleh beasiswa dari pemerintah untuk belajar di akademi
teknik selama dua tahun. Kampusnya terletak dekat dengan Johannesburg
Afrika Selatan. Disini, saya berhasil meraih gelar dibidang Manajemen
Pemasaran. Banyak peristiwa menarik terjadi selama saya belajar disini.
73
Bangunan gereja-gereja PEMS memiliki ciri-ciri khas. Didekat
asrama saya terdapat sebuah gereja PEMS. Sayapun bergabung dalam
kegiatan gereja ini dan mulai mengajar kelompok remaja hal-hal yang
pernah saya pelajari dari gereja terdahulu. Saya tidak mampu menyanyi
dengan baik. Maka saya mengusulkan beberapa kegiatan debat agar
diselenggarakan di gereja. Merekapun meminta ijin kepada Pendeta
setempat. Sang Pendeta menyetujui bahkan sangat bersemangat
mempromosikan kegiatan ini.
Kegiatan Debat
Delapan regu telah terbentuk untuk kegiatan ini. Setiap regu
beranggota empat orang, dua remaja putra dan dua remaja putri. Topik
ditentukan oleh Pendeta. Acara Debat berlangsung setiap hari Minggu,
dihadiri oleh jamaah gereja. Pemenang debat mendapatkan berbagai
macam hadiah, diantaranya Kitab Bibel dalam bahasa Lesotho.
Sebuah gereja PEMS di lingkungan terdekat juga membentuk empat
regu debat. Mereka biasanya mengadu regu pemenang dari gereja mereka
melawan regu-regu pemenang dari gereja kami. Saya ikut serta dalam
pertandingan ini. Topik pertama dalam debat itu adalah �Trinitas� (Tiga
Yang Tunggal). Regu saya ditugasi membuktikan bahwa Trinitas adalah
konsep yang salah.
Secara kebetulan, saya berjumpa dengan seorang pemuda bernama
Ndavu di rumah seorang teman. Ia memberi saya rujukan lengkap ayatayat
Bibel untuk mendukung pandangan regu kami. Sangat mengagumkan
kami bahwasanya Ndavu menghafal ayat-ayat ini di luar-kepala. Saya telah
membaca kitab Bibel versi King James, mulai bab Kejadian hingga
Wahyu. Namun setelah membaca lagi ayat-ayat yang dirujuk itu, saya
sadari bahwa saya tidak memahami Bibel. Saya berikan beberapa dari ayatayat
rujukan itu kepada teman satu regu, merekapun sangat gembira.
Akhirnya, regu kami pun memenangkan lomba debat.
Topik dalam debat yang ke-dua adalah, �Yesus � Benarkah Ia anak
Tuhan?� Regu kami menjadi penentang pandangan ini. Sekali lagi saya
menemui Ndavu dan iapun memberikan rujukan lengkap dari Bibel sehari
kemudian. Dan, regu kami pun memenangkan sesi debat ini.
Topik debat yang ke-tiga bertajuk �Keaslian Kitab Bibel�. Team
kami bertugas membuktikan bahwa kitab ini bukanlah kitab otentik
mengingat bahwa banyak pertentangan didalamnya. Ndavu membantu
kami lagi, dan kami juga menjadi pemenang sesi debat yang ke-tiga ini.
Para jamaah gereja menganggap debat itu sebagai hiburan ataupun sekedar
sebuah latihan kecerdasan intelektual.
Saya jadi mengenal banyak pertentangan dalam Kitab Bibel versi
King James. Begitu pula halnya pertentangan antara Bibel berbahasa
74
Inggris dengan Bibel dalam bahasa Lesotho. Ini semua menggoncangkan
keimanan saya.
Saya bertanya kepada Ndavu, �Kamu jamaah gereja mana?� Ia
menjawab, �Saya tidak ke gereja manapun juga, sebab para pendeta tidak
mengajarkan kebenaran dan mereka tidak merujuk ayat-ayat.� Ia balik
bertanya kepada saya, �Apakah yang kamu yakini dalam hal ketuhanan?�
Saya katakan, �Saya percaya kepada Tuhan yang tersebut dalam perintah
pertama untuk Musa. Misalnya, didalam Markus 12:28-30 dikatakan
�Perintah pertama berbunyi: Dengarlah wahai Israel, Tuhanmu adalah
Tuhan yang Tunggal, dan hendaklah engkau mencintai Tuhan, Allah-mu
dengan sepenuh hatimu, dan seluruh jiwamu, dan seluruh akalmu, dan
segenap kekuatanmu.� �
Ketika ia telah memahami pandangan saya perihal ketuhanan, iapun
menceritakan perihal saya kepada beberapa temannya.
Kunjungan Seorang Asing
Di suatu hari Sabtu di bulan Maret 1996, seorang pemuda datang
kerumah saudara saya. Ia mengenakan pakaian berwarna putih dan peci
berwarna putih juga. Inilah pertama kalinya saya melihat seorang Afrika
berpakaian sebagaimana beberapa orang India. Pemuda itu berkata, �Saya
sengaja datang untuk menemuimu saudaraku sesama Muslim.� Saya
katakan, �Saya bukan seorang Muslim sebab saya tak tahu apapun perihal
Islam selain bahwa Islam adalah agama orang-orang India.� Ia pun
menegaskan, �Saya memberitahukan kepadamu, bahwa kamu adalah
seorang Muslim.� Saya sorongkan kursi kepadanya dan
mempersilahkannya untuk duduk agar kami bisa santai bercakap-cakap.
Mudah sekali bercakap-cakap dengannya karena ia dapat berbicara
menggunakan bahasa daerah saya. Saya minta tolong kemenakan
perempuan saya untuk membelikannya minuman ringan. Ia menolak
menggunakan gelas yang biasanya kami gunakan. Ia lebih suka minum
langsung dari botolnya. Saya pun bertanya, �Mengapa kamu tidak mau
menggunakan gelas kami?� Ia menjawab, �Saya khawatir gelas itu pernah
digunakan untuk minum minuman beralkohol.� Ia benar. Maka saya minta
tolong kemenakan perempuan saya untuk membeli gelas baru untuk kami
karena saya pun membenci alkohol semenjak saya meninggalkan minum
minuman beralkohol pada tahun 1988.
Ia bertanya, �Bagaimanakah imanmu kepada Tuhan?� Saya katakan,
�Saya mengimani Tuhan sebagai satu-satunya Pencipta, satu-satunya yang
patut disembah, tidak beristri dan tidak butuh makan dan minum untuk
menjaga kelangsungan hidup-Nya. Dia tak memiliki orangtua. Itu semua
disebutkan didalam Bibel.�
Ia bertanya kepada saya soal Trinitas. Saya katakan kepadanya,
�Diantara berbagai ajaran ayahku kepadaku adalah, Tuhan itu Esa dan
75
tiada satupun bandingan bagi-Nya. Saya lebih mempercayai ayah saya
daripada orang-orang lain. Menurut pemikiran saya, konsep Bapa, Putra
dan Roh Kudus didalam Trinitas saling bertentangan satu sama lain.�
Pemuda itu pun berkata, �Demikianlah Islam.� Betapa terperenjatnya saya
waktu itu, sebab sebelum itu pengertian saya tentang Islam adalah bahwa
Islam hanyalah agama bangsa India.
Pemuda itu menambahkan, �Jika kita menilik didalam Bibel, ajaran
Kristus (Al-Masih) adalah Islami. Kontradiksi antara ajaran gereja dengan
ajaran Kristus adalah karena Paulus yang membubuhkan banyak aturan dan
hukum dalam epistel (surat-surat) yang ditulisnya.� Saya percaya apa yang
dikatakan pemuda ini. Kemudian ia bertanya, �Adakah keinginan pada
dirimu untuk menjadi seorang Muslim, atau untuk mengenal Islam?� Saya
jawab, �Sesungguhnya, Ya!� Ia katakan, �Saya mempunyai seorang teman,
seorang guru yang pengetahuannya perihal Islam lebih baik.� Saya
katakan, �Saya ingin bertemu dengannya.� Maka kami berdua berangkat
menemui temannya karena jarak ke tempat temannya itu hanyalah
tigapuluh menit berjalan-kaki dari rumah saya.
Mengucapkan Syahadat
Sampai di tempat tujuan, saya melihat orang yang dimaksud sedang
mengajar sekelompok pelajar dalam bahasa Inggris. Saya dengarkan
pelajaran yang ia sampaikan dengan penuh perhatian. Sekitar satu jam
kemudian mereka berhenti belajar dan melakukan shalat. Saya hanya
duduk disana memperhatikan yang mereka sedang kerjakan. Seusai shalat
para pelajar itu pulang ke rumah masing-masing. Tinggallah saya, sang
guru, dan pemuda teman saya berada disitu. Kami saling memperkenalkan
diri. Sang guru bernama Abdur Rahman, pemuda tamu saya bernama
Haroon. Sheikh Abdur Rahman menerangkan kepada saya makna
Syahadat. Begitu saya mengetahui arti kalimat Syahadat dalam bahasa
Inggris, sayapun mulai mengimani kalimat ini dalam hati saya. Sheikh
berkata, �Kamu boleh pulang dan memikirkan kalimat itu. Kamu boleh
mengikuti pelajaranku kapan saja kamu anggap perlu.� Saya katakan
kepadanya, �Sekarang saya telah mengerti Syahadat dan oleh karena itu
saya ingin menjadi seorang Muslim.� Ia berkata, �Jangan tergesa-gesa
mengambil keputusan.� Saya katakan kepadanya, �Apa yang anda dan
Haroon sampaikan kepada saya perihal Islam adalah sama dengan yang
telah diajarkan ayah saya perihal ajaran Kristiani yang sejati kepada saya.
Maka saya hendak mengikrarkan keIslaman saya.� Pada saat itu juga saya
mengucapkan dua kalimat Syahadat; dan segala puji bagi Allah; saya telah
menjadi seorang Muslim. Sheikh mengajarkan kepada saya cara berwudhu
(mensucikan diri menggunakan air). Ia menyarankan agar saya pulang ke
rumah, mandi dan kembali lagi kemari pada jam 4.00 sore untuk
76
bersyahadah di hadapan para jamaah. Saya memilih nama Abdullah
Sensinyi untuk nama saya yang Islami.
Sheikh mengajari saya setiap hari dari Ashar hingga Maghrib selama
dua minggu. Setelah itu, ia berangkat ke luar negeri untuk menempuh
pendidikan tingkat lanjut. Saya hanya sempat belajar Suratul-Fatihah
dalam bahasa Inggris, inilah yang selalu saya baca didalam shalat saya
selama sekitar satu tahun. Sangatlah sulit untuk mendapatkan pegajar
agama Islam di sekitar tempat tinggal saya.
Suatu hari saya sedang berjalan-jalan melihat-lihat di pertokoan dan
saya mendapati seorang pemuda India yang berdagang pakaian-pakaian
jadi di tokonya. Saya bertanya kepadanya, �Apakah anda Muslim?�
Dengan bangga ia menjawab, �Ya.� Saya katakan kepadanya, �Saya juga
seorang Muslim.� Saya pun memintanya menjelaskan perihal Islam kepada
saya. Ia berkata, �Pengetahuan saya tentang Islam sangat sedikit.� Saya
tanyakan kepadanya, �Adakah masjid di sekitar sini?� Ia menjawab, �Ada
satu, tetapi anda bisa melakukan shalat dhuhur di toko saya berjamaah
dengan saya.� Ia juga mengajak saya untuk berkendara bersamanya pergi
ke masjid untuk shalat Jum�at setiap minggu. Saya lakukan hal ini secara
teratur selama setahun.
Sholat Ied Pertama
Sejauh itu, saya belum mengenal apapun perihal Puasa dan Ied.
Suatu hari Haroon menelpon saya dan memberitahukan bahwa akan
dilaksanakan Shalat Ied esok hari. Saya pun mengikuti shalat Ied dan
merayakan Iedil Fitri. Saya berjumpa dengan banyak Muslim Afrika dan
juga kaum Muslim dari suku saya. Saya juga berjumpa dengan Ndavu
disana, inilah pertama kalinya saya mengetahui bahwa ia pun telah
memeluk Islam. Ia memilih nama Bilal untuk nama Islaminya. Saya
bertanya kepada Bilal, �Bagaimana kamu belajar merujuk ayat-ayat Bibel
yang kamu gunakan untuk membantu saya di acara debat?� Ia menjawab,
�Rujukan itu tertulis didalam dua buah buku karya Sheikh Ahmad
Deedat.� Ia hadiahkan buku-buku itu kapada saya dan juga Terjemahan
Kitab Suci Al-Qur�an dalam bahasa Inggris oleh Abdullah Yousuf Ali.
Inilah pertama kalinya saya mengikuti kegiatan sosial Islam. Saya dapati
semua orang amat sangat berbahagia dan mereka sangat baik terhadap
saya. Seusai shalat Dhuhur kami kembali ke tempat tinggal kami. Saya
menyelesaikan kuliah pada bulan Juli tahun 1997 dan kembali ke Lesotho.
Pendidikan Dasar Islam
Saya mengetahui seorang tetangga saya di desa biasa menulis
dengan huruf Arab. Maka saya tanyakan kepadanya, �apakah anda
Muslim?� Ia menjawab, �Benar.� Kemudian ia menambahkan,
�Sayangnya, saya tidak menjalankan ajaran Islam.� Ia memberitahu saya
keberadaan Masjid Thabong di Ibukota. Di suatu pagi kami berdua berjalan
77
kaki sejauh duapuluh kilometer untuk belajar Islam di masjid ini. disini
menyelenggarakan sekolah Islam pada setiap akhir pekan. Saya bersama
tetangga saya, Basheer, dapat mengikuti pelajaran karena pihak masjid
menyediakan sarana transportasi untuk kami. Atas bimbingan dan saran
dari guru saya, Tn. Mahmood, saya dapat diterima mondok di sekolah
berasrama yang bernama Assalam Educational Institute (Lembaga
Pendidikan Assalam) di Braemar yang terletak sekitar 150 km. dari kota
Durban. Saya belajar disini selama delapan bulan dan selanjutnya saya
kembali ke rumah. Wakil Kepala Pendidikan memberi saya Kitab The
Noble Qur�an (Al-Qur�anul Karim) dengan terjemahan dalam bahasa
Inggris oleh Dr. Mohsin Ali.
Mendakwahkan Islam
Untuk menunjang kebutuhan hidup, saya mulai berjualan pakaian.
Saya juga mulai mensyiarkan Islam. Saya lakukan ini bekerjasama dengan
Basheer tetangga saya. Atas Rahmat Allah, dalam satu tahun dua belas
keluarga memeluk Islam melalui usaha kami yang tak seberapa.
Saya dan Basheer mengajukan permintaan kepada pemancar siaran
radio daerah kami agar menyediakan waktu bagi kami untuk
memperkenalkan Islam. Radio Pemerintah mengijinkan perwakilanperwakilan
dari kaum Muslim, Kristen, dan kepercayaan Bahai, untuk
menyiarkan presentasi ringkas di radio. Siaran selalu diikuti dengan
telepon dari pendengar dan masing-masing agama dapat mempertahan
pandangan mereka masing-masing.
Jaringan Televisi Lesotho mengundang saya dan Basheer untuk
menyajikan perihal Iedil Fitri kepada pemirsa. Acara ini mendapat
sambutan hangat dari umat Muslim dan banyak dari kaum Kristiani yang
menjadi sangat ingin tahu lebih banyak perihal Islam. Sementara itu, Abdul
Karim, seorang akhi Muslim dari Tunisia, membeli waktu-siar di sebuah
radio swasta bernama Joy FM Voice of America, di Ibukota. Ia
mengundang saya dan seorang akhi bernama Rafiq, untuk mengisi acara
mingguan perihal Islam. Kami menjalankan acara ini selama lebih kurang
satu tahun.
Sebuah delegasi dari Saudi mengunjungi Ibukota kami. Atas arahan
dan pertolongan akhi Mahmood dan akhi Abdul Karim, Saya melamar
untuk belajar ke Universitas Islam Madinah Al-Munawarah pada tahun
1999. Satu setengah tahun berlalu, tak ada jawaban atas lamaran itu. Saya
mulai bekerja di perusahaan konstruksi jalan yang cukup jauh dari tempat
tinggal saya. Penyelia saya membuat hidup saya terasa lebih menderita
akibat pemikiran saya yang Islami. Abdul karim menasehati agar saya
berpuasa dan lebih banyak membaca Al-Qur�an supaya Allah mengangkat
kesulitan yang saya hadapi. Mulailah saya lakukan puasa sunnah Senin-
Kamis dan memperbanyak membaca Al-Qur�an.
78
Atas persetujuan lembaga yang berwenang, saya juga memulai
mengajar pada kelompok belajar beranggotakan sekitar seratus narapidana
setiap Minggu sore. Para narapidana berhasil mengeluarkan pendeta
pengajar mereka yang berasal dari Assembly of God karena sang pendeta
tidak mengijinkan mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Saya
mengajar disana selama tiga bulan dan kemudian saya harus berpindah dari
tempat itu.
Saya sangat bergembira mendapatkan surat penerimaan dari
Universitas Islam Madinah Al-Munawarah pada bulan Juli 2001.
Alhamdulillah, saya masuk universitas pada bulan September 2001. Disini
saya harus belajar bahasa Arab selama dua tahun sebelum melanjutkan
belajar Islam secara formal di universitas.
Saya sangat senang di Madinah Al-Munawarah. Beberapa sanaksaudara
saya pun telah memeluk Islam melalui dakwah yang saya
sampaikan. Semoga Allah SWT menerima amaliyah saya yang tak
seberapa ini dan menguatkan iman dan amal Islami saya.
Harapan Saya
Setelah menengok kembali peristiwa-peristiwa kehidupan yang saya
lalui, saya menyimpulkan bahwa fasilitas pendidikan Islam di negaranegara
Afrika amat sangat kurang. Mutu pendidikannya pun sangat rendah.
Maka tingkat kemajuan keberhasilan dakwah pun begitu lambat. Ini semua
melemahkan hati para Mualaf (para Muslim baru). Amat sangat sulit
mendapatkan guru-guru agama Islam yang tulus dan berbobot.
Oleh karena itu, saya berharap kepada para orangtua agar
mengarahkan sekurang-kurangnya satu dari anak-anak mereka yang cerdas
menjadi guru. Hanya para gurulah yang sanggup mengubah arah sebuah
bangsa. Saya juga menghimbau kepada para Muslim yang berkelimpahan
harta agar mendirikan lebih banyak lagi Lembaga-lembaga Islam dimana
mereka bisa dan sanggup mengelola secara profesional. Inilah, yang
sesungguhnya merupakan investasi terbaik dan ganjarannya pun sangat tak
terkirakan. Semoga Allah SWT membimbing kita ke Jalan-Nya yang
Lurus. Amiin.
___________________________________
Surat dari Zulia Muhammed, Nigeria
Akhi Imtiaz Ahmad, Assalaamu�alaikum.
Betapa beruntungnya saya telah dapat melaksanakan Ibadah Haji
pada tahun 2005. Dalam kesempatan itu saya mendapat sebuah buku karya
anda; REMINDERS (Peringatan Kepada Ulul Albab � Pent.); sewaktu di
Madinah. Jiwa saya tersentuh ketika membacanya dan saya pun membaca
tulisan-tulisan anda yang lain melalui situs (website) anda di internet. Saya
79
telusuri lembar demi lembar sampai saya selesai membaca seluruh isi buku
anda, betapa senang perasaan saya dapat menyelesaikan membaca
semuanya. Buku-buku itu sangat bermanfaat, memesona, dan
mengagumkan. Berjuta-juta terima kasih untuk anda Akhi Ahmad, atas
buku-buku yang istimewa dan juga kenikmatan yang telah saya peroleh,
dan juga yang diperoleh saudara-saudara yang lain di negara saya dengan
jalan membaca buku-buku anda itu.
Boleh jadi anda terkejut jika saya katakan bahwa saya baru
delapan tahun yang lalu memeluk Islam, dan ini merupakan pengalaman
hidup yang sangat istimewa sehingga saya selalu bertanya kepada diri
sendiri, mengapa saya tidak menjadi seorang Muslim sejak dulu.
Perjalanan saya menuju Islam adalah hal yang amat menarik. Saya
terlahir tahun 1969 dalam keluarga yang seutuhnya Kristen di Nigeria.
Kami delapan bersaudara, enam perempuan dan dua lelaki. Ayah kami
meninggal dunia di usia muda, pada tahun 1972. Keluarga kami pun
terpisah menjadi dua bagian, Ibunda kami dan beberapa dari kami
berpindah tinggal bersama saudara kandung lelaki dari ayah di kampung
yang jauh di pelosok, adapun dua orang kakak perempuan kami menetap di
kota bersama seorang bibi asuh.
Di tepi jalan menuju sekolah dasar dimana saya belajar terdapat
sebuah Masjid besar, saya sering memperhatikan kaum Muslim
bersembahyang dengan tata-cara yang seragam. Cara mereka
bersembahyang memperbesar ketertarikan saya terhadap agama ini. Kala
itu saya biasa mengatakan kepada ibu saya perihal keinginan saya untuk
berpindah agama, tentu saja beliau selalu menentang hal itu. Saya tidak
menginginkan beliau dirundung masalah apapun. Maka saya pun tetap
dalam agama Kristen namun didalam diri saya berketetapan hati bahwa
suatu hari saya pasti akan mengubah keyakinan saya.
Dua orang kakak perempuan saya tinggal di lingkungan Muslim.
Mereka begitu terkesan dengan kebersihan dan cara hidup kaum Muslim di
sekitar mereka, maka mereka berdua pun memeluk Islam dan menikah
dengan lelaki Muslim. Mereka pun memperoleh pendidikan Islam tingkat
lanjutan dan membesarkan anak-anak mereka dengan pengetahuan Islam
yang mantap.
Hal yang amat mengejutkan saya adalah, ibunda kami pun telah
memeluk Islam, bahkan lebih awal daripada saya, beliau terkesan atas hakhak
perempuan didalam Islam dan juga perilaku Islami yang mengesankan
dari kedua anak menantunya yang Muslim. Namun beliau tidak memaksa
anak-anaknya untuk masuk Islam. Ibu sangat meyakini bahwa semua anakanaknya
akan memeluk Islam dengan jalan menemukan keindahan Islam.
Sayapun kemudian mulai membaca buku-buku ajaran Islam dan
mengajukan berbagai pertanyaan seputar Islam. Saya menjadi amat enggan
80
untuk mengubah keyakinan lantaran membayangkan beraneka kewajiban
dalam Islam yang nampak memberatkan diri saya, seperti: Shalat Lima
waktu dalam sehari-semalam, membaca Al-Qur�an dalam bahasa Arab,
kewajiban berbusana Muslimah, dan berpuasa di bulan Ramadhan.
Bahkan lebih ringan bagi saya untuk membangunkan Ibu dari tidurnya
ketika tiba waktu shalat, sementara sulit untuk mengajak diri saya sendiri
melakukan hal serupa.
Jujur saja, pada waktu itu saya tidak menjalani ibadah agama
apapun juga, saya adalah seorang insan yang tersesat. Akhirnya, pada
bulan Ramadhan tahun 1997 Allah membukakan hati saya untuk menerima
hidayah-Nya, dan saya pun memeluk Islam setelah melalui banyak
perenungan diri. Saya temukan kenikmatan, kedamaian fikiran dan
kebahagiaan karena saya rasakan telah terangkat beban berat yang selama
ini berada didalam benak saya.
Tentu anda turut merasa bahagia bahwa lima orang perempuan dan
seorang lelaki dari kami kakak-beradik, telah masuk Islam. Lebih jauh lagi,
banyak diantara sanak-saudara kami pun telah masuk Islam, lantaran
terkesan oleh perilaku Islami Ibunda kami maupun keluarga kami. Mereka
menganggap Ibunda kami bagaikan �Ratunya Islam�. Saya memohon ke
hadirat Allah semoga kami semua terpelihara di Jalan-Nya yang Lurus.
Amiin.
Sebagai penulis buku, saya ingin mengingatkan kepada saudaraku yang
secara tradisi terlahir beragama Islam bahwa, para mualaf ataupun
mereka yang kembali kedalam Islam telah mengikatkan diri mereka dalam
melaksanakan ajaran Islam dengan ketulusan dan kesungguhan tekad
yang amat besar walaupun harus menghadapi kerumitan dan benturan
dalam hubungan keluarga dan masyarakat. Saya berdo�a kepada Allah
SWT semoga dianugerahi-Nya kita dengan ketulusan dan kesungguhan
yang setara dengan mereka, saudara-saudara kita yang baru menemukan
Islam.
Imtiaz Ahmad,Website: “http://www.imtiazahmad.com&#8221;
81
AYAT-AYAT QUR�AN
Surat Az-Zumar; ayat 23:
>????? ? T�?� ?�S??T �/ f???�??o? � ? �???v? ?� S??S??S� S????? S=T ?????? ? �???�? �T? �_??�?? ?? �ST? �?_ �?? ? �?? �? �?��<v?� ? ??�??� ?8T ? ? S/?� ?� ]
?( ?? ?S??v �?? ? S/?� ?� ????p?S?� ??? S&?:�?? � ?? -???� ??�??? � ??�/?� ?�SS ?� ?v.?' &?�?/?� =? <??' ???v??� ?�S?S?�?S??S??? ?�SSS??S??S�
[ ]?�S
"Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur�an
yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya
kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang
kulit dan hati mereka diwaktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah,
dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan
barangsiapa disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun pemberi
petunjuk baginya."
Surat Al-Maidah; Ayat 83~85:
??T? � ~??? ? ??S?? ?S~?�??� ??? = ??? ? ???S?=T v?� ??v??� ?8? ???� :�? ?�?S???? �?’??�? ]
?T? � S?�?? ??�??�? ? (84) ???�???? ?�v?� ?? ?( ?<v?� ?? �??S?T �/ �? ????a?�?S� ???� S??p?? ??
[ ????????�S?<v?� S?:�8 ?� ? ?v.?'? &�? ?~?? ? �?�???? ? a S=?? ? p????�??�
"Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul
(Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan airmata
disebabkan kebenaran (Al-Qur�an) yang telah mereka ketahui (dari kitabkitab
mereka sendiri); seraya berkata: �Ya, Tuhan kami, kami telah
beriman, maka catatlah kami bersama-sama orang-orang yang menjadi
saksi.� (atas kebenaran Al-Qur�an dan ke-Nabi-an Muhammad SAW).
�Mengapa kami tidak akan beriman kepada Allah dan kepada kebenaran
yang datang kepada kami, padahal kami sangat ingin agar Tuhan kami
memasukkan kami kedalam golongan orang-orang yang shaleh?� Maka
Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan,
(yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, sedang mereka
kekal didalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat
kebaikan (yang ikhlas keimanannya)."
Surat Al-Hadid (57); Ayat 28:
�/_ ?S?? ?�S|?v? ???� ?? -???�??�/T ??? ???????p ??? ?�????p??S� -???? v?S?= ?� ?�?S???��?? ?�/?� ?�?S???? ??� ?�?S??��? ? �???v? ?� �?S?T �??�;?? ?� ]
[ ?�~?�/T ?/?S?? ?� S?�?�S/?�? &?�???v =( ???p ???? �? -???� ??S???? ?
�Wahai orang-orang yang beriman (kepada para Rasul), bertaqwalah
kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah
82
memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu
cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni
kamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Surat Shaad; Ayat 29:
[ �? ?? ? �<v??�??� ?�??v?? ??� = ??{? ?�?~?v? -???�?? ? ���? ?�;?S=?T �?�? ? ~??v �?= ?? �?S? ?� ?~?v??� S??? ? ?<v8 ???� �} ??? �?? ]
"Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan
berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat
pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran."
Surat Fushshilat; Ayat 44:
f??�????? ?? v ? SS ??S?? %Rt??? �= �? Rt???�?�?��? ,?S??S�?? ? ���? OEp ????�S?? ��?( ?v ?�?S?v�? ??v? �?T? ~??�?�??� �?[ ??��?=( S?? S??? ?? ?<??� ???v? ]
f????�?S?� ?� ???;????v?? ??� &?[?� ?????~??� ? SS? ?=??�??T? ???
“Dan jikalau Kami jadikan Al-Qur�an itu suatu bacaan dalam selain
bahasa Arab tentulah mereka mengatakan:�Mengapa tidak dijelaskan
ayat-ayatnya?� Apakah (patut Al-Qur�an) dalam bahasa asing, sedang
(rasul adalah orang) Arab? Katakanlah:�Al-Qur�an itu adalah petunjuk
dan penyembuh bagi orang-orang beriman. Dan orang-orang yang tidak
beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al-Qur�an itu suatu
kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) orang-orang yang
dipanggil dari tempat yang jauh.”
PERINGATAN MENDESAK!
Kesalahan-kesalahan yang sering terjadi ketika bersuci dengan air
(Wudlu):
1. Siku masih kering (belum terbasuh air)
2. Pergelangan kaki masih kering (tidak terbasuh air)
3. Ingatlah bahwa tanpa wudlu yang sempurna maka shalat tidak sah.
Kesalahan-kesalahan yang sering terjadi didalam shalat:
1. Duduk diantara dua sujud hendaklah sempurna (harus ada jeda waktu)
2. Ketika sujud, jangan mengangkat telapak kaki walau sejenak. Begitu
pula hidung harus menyentuh lantai selama sujud.
3. Untuk lelaki, sewaktu sujud siku harus tidak menempel di lantai.
4. Jangan bergerak mendahului imam.
5. Berdirilah setegak mungkin pada waktu itidal (berdiri setelah ruku).
6. Jangan berlari sewaktu akan bergabung dalam shalat berjamaah.
Dapatkan koleksi ebook-ebook lain yang tak kalah menariknya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: