• Blog Stats

    • 56,947 hits
  • Kategori

  • Arsip

  • Pos-pos Terbaru

salam lebaran

minal aidin wal faidzin

Berbicara Saat Berwudhu

Assalamualaikum Ustadz yang insya Alloh dimuliakan Allah..

Saya mau menanyakan hukum berbicara di saat kita sedang berwudhu. Apakah wudhu kita batal atau tidak? Mohon penjelasannya ustadz, jazakallah.

Maulana

Jawaban

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Saudara Maulana yang dimuliakan Allah swt

Jumhur fuqaha berpendapat bahwa berbicara dengan orang tanpa adanya suatu keperluan disaat berwudhu adalah bertentangan dengan keutamaan. Akan tetapi jika terdapat suatu keperluan untuk dibicarakan karena jika tidak dibicarakan —saat berwudhu— dikhawatirkan hilang kesempatannya maka hal itu tidaklah termasuk kedalam meninggalkan adab.

Sementara itu para ulama Maliki berpendapat makruh berbicara disaat berwudhu selain daripada dzikrullah. (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 12756)

Namun demikian berbicara disaat berwudhu tidaklah membatalkan wudhu orang tersebut meskipun perbuatan itu termasuk yang dimakruhkan karena bertentangan dengan keutamaan.

Wallahu A’lam

Bentuk Busana Muslimah Yang Benar

Assalamualaikum wr wb

ustadz Sigit yang dirahmati Allah,

saya ingin menanyakan tentang bentuk busana muslimah yang benar, apakah harus berbentuk baju kurung atau tetap benar jika bentuknya terputus (baju dan rok tapi lebar). karena saya pernah mendengar pembahasan mengenai pakaian wanita yang benar hanya yang model baju kurung dan jika bentuknya terputus tidak memenuhi perintah syar`i.

terima kasih.

yulia

yulia

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Yuliat yang dimuliakan Allah swt
Dibolehkan bagi seorang wanita muslimah mengenakan pakaian atas-bawah (baju dan rok lebar) selama pakaian itu memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan syariat.
Diantara syarat-syarat itu adalah :

  1. Hendaknya pakaian itu menutupi seluruh tubuhnya dari kaum lelaki yang bukan mahramnya. Dan janganlah dia memperlihatkan anggota-anggota tubuhnya kepada mahramnya kecuali bagian-bagian yang dibolehkan oleh syariat, seperti wajah, kedua telpak tangan dan kedua pergelangan kakinya.
  2. Hendaknya pakaian itu tidak tipis (transparan) sehingga warna kulitnya dapat terlihat oleh orang dibelakangnya.
  3. Pakaian itu tidak sempit sehingga menampakkan bentuk-bentuk anggota tubuhnya.
  4. Pakaian itu tidak menyerupai pakaian kaum lelaki.
  5. Tidak terdapat berbagai hiasan di pakaian itu yang dapat mengundang perhatian orang-orang ketika dirinya keluar dari rumah. (Markaz al Fatwa No. 0428).

(Baca :Pakaian Muslimah Sesuai Syariat)
Wallahu A’lam

Hukum Salat Subuh Tidak Pada Waktunya

Assalamu`alaikum Ustad.. Smg ustad selalu dlm lindungan Allah.

Saya seorang muslim yg terkadang tdk melakukan salat 5 wkt tepat pada waktunya. Dlm kesempatan ini saya ingin menanyakan tentang salat subuh. Saya sesekali bangun pagi pada pukul 07.00 atau 08.00 Wib yg mana matahari sudah terbit untuk menghangatkan bumi. Yang ingin saya tanyakan apakah boleh & sah saya salat subuh pada wkt tersebut? Apakah saya harus niat qada jika melaksanakan salat subuh pada wkt tsb? Dan bagaimana dgn waktu2 salat lainnya yg tdk dilaksanakan tepat waktu,apakah harus diniatkan qada jg?

Terima kasih atas penjelasannya ustad. Jazakallah..

Maulana

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb
Saudara Maulana yang dimuliakan Allah swt
Shalat yang merupakan ibadah pertama yang diwajibkan Allah swt adalah ibadah yang tidak dapat ditandingi oleh ibadah lainnya. Ia adalah tiang agama, barangsiapa yang menegakkannya berarti orang itu telah menegakkan agama dan barangsiapa yang meninggalkannya berarti orang itu telah menghancurkan agamanya.

Shalat adalah yang pertama kali dihisab (dihitung) Allah swt pada hari perhitungan amal-amal manusia, sebagaimana diriwayatkan at Tirmidzi dari Abu Hurairah berkata; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada hari kiamat pertama kali yang akan Allah hisab atas amalan seorang hamba adalah shalatnya, jika shalatnya baik maka ia akan beruntung dan selamat, jika shalatnya rusak maka ia akan rugi dan tidak beruntung. Jika pada amalan fardlunya ada yang kurang maka Rabb ‘azza wajalla berfirman: “Periksalah, apakah hamba-Ku mempunyai ibadah sunnah yang bisa menyempurnakan ibadah wajibnya yang kurang?” lalu setiap amal akan diperlakukan seperti itu.”

Diantara dalil yang menerangkan kewajiban seorang muslim untuk melakukan shalat lima waktu pada waktu-waktu yang telah ditentukan Allah swt adalah :

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا ﴿١٠٣﴾

Artinya : “Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An Nisaa : 103)

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Qatadah bin Rib’iy mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ” ‘Sesungguhnya Aku mewajibkan umatmu shalat lima waktu, dan Aku berjanji bahwa barangsiapa yang menjaga waktu-waktunya pasti Aku akan memasukkannya ke dalam surga, dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka dia tidak mendapatkan apa yang aku janjikan”.

Dan tentang permasalahan anda yang sesekali melaksanakan shalat shubuh setelah matahari terbit atau habis waktunya maka apabila yang menyebabkan anda bangun kesiangan adalah aktivitas-aktivitas yang mengandung maslahat syar’i; seperti : menuntut ilmu atau berbincang-bincang tentang ilmu, kemaslahatan kaum muslimin, berbincang-bincang dengan tamu yang anda perlukan atau hal-hal lain yang mengandung kemaslahatan maka anda tidaklah berdosa dan shalat yang anda lakukan tetap sah meskipun dianggap qadha. Kemudian berusahalah anda melaksanakan shalat-shalat shubuh berikutnya pada waktunya dan janganlah anda menjadi permainan setan yang menyebabkan anda kesiangan bangun.

Sedangkan jika yang menyebabkan anda kesiangan shalat shubuh adalah aktivitas-aktivitas yang tidak mengandung manfaat (maslahat) bagi anda maupun kaum muslimin atau perbuatan sia-sia maka anda termasuk orang yang menyia-nyiakan atau melalaikan shalat dan mendapatkan dosa meskipun shalat itu tetap harus dilakukan dan dianggap qadha. Kemudian diwajibkan bagi anda untuk bertaubat taubat nashuha dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا ﴿٥٩

Artinya : “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam : 59)

Demikian pula terhadap shalat-shalat lainnya yang dilakukan diluar waktu-waktunya.
Wallahu A’lam

الجواب :
الحمد لله
1-إذا كنت استيقظت وقت صلاة الفجر ثم غلبتك نفسك فنمت وفي نيتك وعزمك أنك ستستيقظ بعد قليل _ قبل خروج الوقت _ ولكنك لم تستيقظ إلا بعد خروج الوقت ، فقم بأداء الصلاة مباشرة ، وكن حازما في المرّات القادمة ، فلا تجعل الشيطان يتلاعب بك ، ونسأaل الله لك المغفرة .
2-أما إذا كنت عازما على أن لا تؤدي الصلاة إلا بعد خروج وقتها _ أو كنت مترددا في ذلك _ فهذا الفعل هو الذي يكفر به صاحبه عند بعض أهل العلم .
فإذا كان صدر منك مثل هذا الفعل فتُب إلى الله من الآن ، واعقد العزم على أن لا تعود ، وصلّ الصلوات التي فاتتك إن كنت تعرف عددها ، والله يتوب على من تاب ، وهذه كفارة ذلك . والكلام عن صلاة العصر كالكلام عن صلاة الصبح تماما .

الشيخ سعد الحميد
http://www.islam-qa.com/ar/cat/2024

يعود إلى النوم إذا استيقظ دون أن يصلي
السؤال : حدث في مرات قليلة أن استيقظت من نومي وقت صلاة الفجر تماما أو قبل ذلك بقليل وعدت إلى النوم مرة أخرى . وكنت في مرتين أعي أنني استيقظت وقت صلاة الفجر إلا أني عدت ونمت. ثم سمعت بأن الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز رحمه الله قال بأن من يفعل ذلك الفعل يكون كافرا (مرتدا)، فهل هذا صحيح؟ وما هو الرأي الصحيح في هذه المسألة وفقا لأهل السنة والجماعة؟ (وإذا كان ذلك صحيح [الكفر أو الارتداد]، فماذا أفعل؟
سؤال آخر: إذا فاتتني صلاة العصر (خرج وقتها ولم أصليها)، فهل أكفر بذلك (مع أني ما أزال أصلي الصلوات الخمس المفروضة يوميا)؟ أنا أعلم أني أفقد جميع أعمالي الصالحة في اليوم وفقا لرواية في صحيح البخاري، لكني أطرح سؤالي أعلاه عليك، وأنا أظنك على الحق وعلى طريقة الرسول صلى الله عليه وسلم. وجزاك الله خيرا

Jadi apa yang anda lakukan dengan seringnya melaksanakan shalat shubuh setelah matahari terbit atau setelah berlalu waktu shalat shubuh tanpa ada
Jadi apa yang anda lakukan dengan seringnya melaksanakan shalat shubuh setelah matahari terbit atau setelah berlalu waktu shalat shubuh tanpa adanya alasan-alasan yang dibenarkan syariat maka hal itu diharamkan dan termasuk didalam menyia-nyiakan atau melalaikan shalat karena itu diwajibkan bagi anda untuk bertaubat kepada Allah dan bertekad untuk tidak mengulanginya serta melaksanakan shalat-shalat fardhu diwaktu-waktunya.

Islam mengancam keras orang yang meninggalkan shalat lima waktu karena mengingkarinya maka orang itu adalah kafir dan keluar dari agama Islam, berdasarkan ijma para ulama.
Sementara para ulama berbeda pendapat tentang orang yang meninggalkan shalat dikarenakan malas atau meremehkannya ;

  1. Para ulama Hanafi berpendapat bahwa orang itu adalah fasiq dan harus dipenjara serta dipukul dengan satu pukulan hingga mengalirkan darah sampai orang itu mau melaksanakan shalat dan bertaubat atau meninggal di penjara, begitu juga terhadap orang yang meninggalkan puasa ramadhan.
  2. Para ulama Maliki dan Syafi’i berpendapat bahwa orang yang meniggalkan shalat tanpa suatu uzur walaupun dia hanya meninggalkan satu kali shalat maka orang itu diminta untuk bertaubat selama tiga hari seperti seorang yang murtad dan jika tidak mau bertaubat maka dibunuh.
  3. Imam Ahmad berpendapat bahwa orang yang meninggalkan shalat dibunuh disebabkan pengingkarannya. Maka barangsiapa meninggalkan shalat dan tidak ada persyaratan untuk membebaskannya maka yang ada hanyalah dibolehkannya dibunuh, untuk itu tidak ada pembebasan bagi orang yang tidak menegakkan shalat.

Sementara DR Wahbah lebih cenderung kepada pendapat yang pertama yaitu bahwa orang seperti itu tidaklah dihukum dengan kafir, berdasarkan dalil-dalil qoth’i yang banyak dan juga orang itu tidaklah kekal di neraka setelah dia mengucapkan dua kalimat syahadat, sabda Rasulullah saw,”Barangsiapa yang mengucapkan Laa Ilaha Illallah dan mengingkari segala yang disembah selain Allah maka terpelihara harta dan darahnya dan perhitungannya ada pada Allah swt.” (HR. Muslim) juga sabda Rasulullah saw,”Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengatakan Laa Ilaha Illallah yang dihatinya masih ada kebaikan sebesar gandum. Akan dikeluarkan dari neraka orang yang mengatakan Laa Ilaha Illallah yang dihatinya masih ada kebaikan seberat atom.” (HR. Bukhori)

Islam juga melarang setiap muslim yang melaksanakan shalat-shalatnya namun ia melalaikan waktu-waktunya, sebagaimana firman Allah swt :

Artinya : “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam : 59)

Razia Video Porno Antara Niat dan Amal

Assalaamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Ustadz, ana punya kenalan. Dia punya suatu kebiasaan. Berhubung ana dan beliau menjadi penjaga warung internet (warnet), maka ana bisa tahu kebiasaan beliau. Jadi seperti ini ustadz, di warnet itu sering disalahgunakan oleh pelanggan, mengunduh video porno dan sebagainya. Nah, teman ana itu suka ‘merazia’ file video-video porno tersebut, lalu menghapusnya. Tapi terkadang beliau mau tidak mau harus melihat dulu isi video yang diduga berisi konten pornografi.

Yang ana tanyakan ustadz, bagaimana hukumnya jika berbuat seperti itu? kawan ana beralasan agar hal tersebut tidak tersebar dan disalahgunakan orang lain. Akan tetapi terkadang, beliau melihatnya, karena ana pernah mendengar dalam sebuah ta’lim, bahwasanya niat itu perlu dipertanyakan jika melakukan sebuah perbuatan yang tidak baik.

Jazakallahu khair, wassalaam wr. wb.

RA

Jawaban

Wa’alaikumussalam Wr. Wb.

Tidak disangsikan lagi bahwa internet memiliki sisi-sisi manfaat disamping juga sisi mudharat di dalamnya. Begitu juga beragama orang yang mengunjunginya, diantara mereka ada orang-orang saleh tapi ada pula pelaku maksiat, ada yang berakhlak mulia tapi ada juga berakhlak buruk, ada yang mencari situs-situs yang bermanfaat tapi juga ada yang mencari situs-situs maksiat, seperti situs-situs porno atau kemaksiatan lainnya.

Bukanlah perkara mudah bagi pengusaha atau pegawai warnet untuk membatasi para pengunjung dan pengguna internet. Namun demikian setiap pengusaha warnet diharuskan memperketat persyaratan para pengguna warnetnya agar dirinya tidak menjadi sarana terjadinya kemaksiatan yang dilarang Allah swt dalam firman-Nya :

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya : “Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah [5] : 2)

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Said al Khudriy bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.”

Demikian pula bagi seorang penjaga warnet meskipun tanggung jawab dalam perkara diatas tidaklah sama persis dengan pengusaha akan tetapi dirinya tetap diharuskan mencegah kemunkaran yang dilakukan oleh para pengguna warnet, misalnya : memasang pengumuman yang berisi pelarangan membuka situs-situs porno, melarang para pengunjung yang akan menggunakan fasilitas internetnya untuk itu, menghentikan setiap pengguna yang kelihatan melakukan hal itu dan upaya lainnya.

Setelah upaya-upaya meminimalisir itu dilakukan namun setelah pemeriksaan ternyata masih ada saja para pengguna nakal maka diharuskan baginya menghapus situs-situs atau data video-video porno yang ada di komputer warnetnya agar tidak menular kepada orang lain tanpa harus melihat isinya dengan alasan apapun karena hal itu diharamkan Allah swt, yaitu melihat aurat orang lain, sebagaimana firman-Nya :

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ


أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ


وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ


Artinya : “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 30–31)

Hal yang perlu diyakini oleh setiap pengusaha dan penjagar warnet bahwa rezeki bukanlah dari para pengunjung yang datang ke warnetnya akan tetapi dari Allah swt. Carilah keberkahan dalam rezeki bukan semata-mata banyaknya rezeki saja.

Wallahu A’lam.

Tata Cara Shalat Bagi Yang Masbuk

Assalamualaikum Wr. Wb.

Ustadz, ada beberapa pertanyaan dari saya mengenai tata cara shalat bagi yang masbuk.

  1. Ketika kita tertinggal beberapa rakaat, setelah imam selesai salam kita menghitung rakaatnya mulai dari rakaat pertama atau melanjutkan sisa hitungan rakaatnya saja?
  2. Ketika imam selesai salam, dan ada beberapa jamaah yang masbuk dalam satu shaf apakah langsung ada seorang yang menjadi imam dalam shaf tersebut, dan jamaah lainnya mengikuti imam yang baru? atau kita selaku makmum yang masbuk menggenapkan hitungan rakaatnya sendiri-sendiri?
  3. Bagaimana caranya kita berimam pada orang yang masbuk?

Mohon maaf atas ketidaktahuan saya.

Wassalamualaikum wr. wb.

tholhah

Jawaban

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Saudara Tholhah yang dimuliakan Allah swt

Jika anda tertinggal satu atau beberapa rakaat di dalam shalat maka hendaklah anda langsung bergabung dan mengikuti rakaat imam kemudian diharuskan bagi anda menyempurnakan sisa rakaat anda setelah imam mengucapkan salam. Jadi rakaat yang didapati seorang masbuk bersama imam adalah rakaat pertama bagi shalatnya sedangkan rakaat yang dilakukan setelah imam mengucapkan salam adalah rakaat terakhirnya, berdasarkan Apa yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah berkata; “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apa yang kalian dapatkan (raka’atnya) maka shalatlah, dan (raka’at) yang ketinggalan, maka sempurnakanlah.”

Jika anda mendapati imam pada rakaat terakhir dari shalat maghrib maka bagi anda ini adalah rakaat pertama. Setelah imam mengucapkan salam maka hendaklah anda bangun dan melanjutkannya dengan rakaat kedua dengan membaca surat al fatihah dan beberapa ayat sedangkan pada rakaat ketiga cukuplah dengan hanya membaca al fatihah saja sebelum anda tutup shalat dengan salam setelah tasyahud akhir.

Jika anda mendapatkan imam pada rakaat kedua dari shalat maghrib maka setelah imam mengucapkan salam hendaklah anda bangun untuk mengerjakan rakaat ketiga dengan hanya membaca surat al fatihah saja sebelum anda mengakhiri shalat dengan mengucapkan salam setelah tasyahud akhir.

Adapun pertanyaan kedua yaitu ketika terdapat beberapa orang masbuk maka yang paling utama mereka lakukan setelah imam mengucapkan salam adalah menyempurnakan shalat mereka sendiri-sendiri tidak menjadikan salah seorang dari mereka —sesama masbuk— sebagai imam karena sebenarnya mereka semua yang masbuk telah mendapatkan keutamaan pahala berjamaah. Sebagian besar ulama tidak memperbolehkan seorang yang masbuk menjadikan orang yang masbuk lainnya sebagai imamnya.

Sedang jawaban untuk pertanyaan ketiga telah saya singgung di atas.

Wallahu A’lam.

LAZ Dewan Dakwah, Kelola Dana Umat untuk Umat

Beberapa tahun belakangan ini bertebaran lembaga zakat, dari yang kredibel dan akuntabel sampai yang tidak jelas asal-usulnya. Pemerintah pun bertindak dengan menerbitkan aturan yang memperketat keberadaan lembaga zakat. Namun, bagi LAZ Dewan Dakwah, peraturan itu tidak begitu berpengaruh karena kedudukannya sebagai salah satu pionir lembaga zakat di Indonesia sangat kuat. Lalu, bagaimana LAZ Dewan Dakwah mengelola dana umat selama bertahun-tahun?

Zakat untuk Dakwah di Pedalaman

Lembaga Amil Zakat Nasional Dewan Dakwah merupakan badan otonom di bawah Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia yang berpusat di Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat. LAZ Dewan Dakwah juga merupakan satu dari sedikit lembaga amil zakat yang direkomendasikan untuk dibentuk pada 2002, tepatnya melalui S.Kep. Menag RI No. 407 pada 17 September 2002.

Dengan adanya keputusan tersebut, LAZ Dewan Dakwah boleh membentuk lembaga zakat di cabang dan tingkat provinsi. Tentunya, pembentukan itu juga tanpa alasan, melainkan untuk mendukung kegiatan dakwah yang sudah dilakukan sejak Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia berdiri pada tahun 1967.

Menurut Ketua LAZ Dewan Dakwah, Ade Salamun, core activity LAZ Dewan Dakwah adalah bidang dakwah yang meliputi kaderisasi dai, pengiriman dai, penempatan, hingga pemberdayaan masyarakat binaan.

Di dalam masyarakat binaan itulah ada yang termasuk ke dalam mustahik zakat, yaitu fakir, miskin, mualaf, dsb, tak jarang, dainya sendiri juga kadang termasuk dalam kelompok tersebut.

“Kita sangat berbeda dengan yang lain. Kita ada program yang jelas insyaAllah bermanfaat. Misalnya ada program kaderisasi dai,” ujar Ade.

Kaderisasi dai yang dimaksudkan Ade adalah melalui STID (Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah) M. Natsir yang berada di bawah naungan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). M. Natsir dan beberapa mantan pejabat lainnya memang pelopor berdirinya DDII.

Setelah melalui ujian skripsi, mahasiswa STID diwajibkan mengikuti program pengabdian selama setahun di pedalaman Indonesia. Kemudian, mereka yang dinilai bagus berhak mendapatkan beasiswa untuk S2 di beberapa universitas yang ditunjuk. Dari S2, mereka terjun kembali ke lapangan menjadi supervisor para dai junior, dan yang terbaik berkesempatan pula untuk melanjutkan S3 dan seterusnya.

“Ini memang diproyeksikan Dewan Dakwah untuk menjadi ulama yang non-partisan, bisa jadi pengayom umat, terus bisa memberikan solusi, dan kafaah syariahnya bagus,” tambah Ade.

Peran LAZ Dewan Dakwah adalah meng-cover akomodasi 400 dai di pedalaman. Selain itu, LAZ DD juga memberikan bantuan sarana transportasi berupa sepeda motor untuk dai di pedalaman untuk melancarkan dakwahnya serta mendukung kegiatan daurah-daurah (pelatihan) dai di daerah-daerah. LAZ DD juga membantu biaya pendidikan putra-putri dai yang dikirim ke daerah serta memberdayakan ekonomi dai dengan pelatihan dai mukim mandiri.

Setelah beberapa lama tinggal di pedalaman, dai biasanya mempunyai masyarakat binaan yang juga membutuhkan dukungan dari LAZ DD. Beberapa program pemberdayaan dan pengembangan bagi masyarakat binaan dai yang digulirkan oleh LAZ DD antara lain:

  • Pembangunan kilang tebu di Bukit Batabuah, Sumatera Barat
  • Pembangunan proyek warung air di lereng Merapi
  • Program pembinaan anak jalanan di daerah Jakarta Utara
  • Program pengentasan kemiskinan melalui ternak kambing dan pendampingan masyarakat miskin

Dewan Dakwah Infaq Club

Untuk menjaring para pendukung dakwah, LAZ DD menggulirkan program Dewan Dakwah Infaq Club. Komunitas tersebut dibentuk LAZ DD bukan sekadar untuk mengumpulkan donasi oleh peserta sebesar Rp100 ribu per bulan, melainkan untuk menggalang pendukung dakwah.

Menurut Ade, feedback yang diberikan oleh LAZ DD kepada para peserta komunitas tersebut sesungguhnya lebih besar dari nominal donasi yang mereka berikan. Misalnya, para peserta diberikan majalah tematik tiap bulannya, SMS service berisi pemberitahuan event-event penting seperti shaum sunnah, dsb, peserta juga dapat mengikuti kajian rutin baik yang berbayar maupun yang bayar.

Selain itu, peserta diperbolehkan mengundang ustadz Dewan Dakwah untuk mengisi kajian di keluarganya ditambah lagi mendapatkan pelayanan fardhu kifayah pengurusan jenazah sesuai dengan ajaran Rasulullah saw.

Peserta Dewan Dakwah Infaq Club juga berhak memanfaatkan semua fasilitas dan ruang konsultasi yang dimiliki oleh Dewan Dakwah, seperti konsultasi keluarga sakinah. Peserta juga mendapatkan kartu anggota yang juga berfungsi sebagai kartu ATM dari Bank Syariah Mega Indonesia.

Peserta komunitas ini kini berjumlah sekitar 500 orang yang umumnya berasal dari jamaah Dewan Dakwah dan Biro Haji yang dikelola oleh Dewan Dakwah.

Menjelang tahun 2011, LAZ Dewan Dakwah yang mampu mengumpulkan dana umat hingga Rp5 milyar per tahun ini bertekad untuk memperbaiki pelayanan qurban dan penguatan lembaga.

Salah satu yang akan dilakukan LAZ Dewan Dakwah dalam waktu dekat adalah membentuk lumbung ternak di daerah Nusa Tenggara bersama masyarakat binaan dai. Dengan memaksimalkan lumbung ternak tersebut, LAZ DD tidak kesulitan lagi mencari hewan qurban pada masa Idul Adha selain juga memberdayakan masyarakat.

Sementara, penguatan lembaga dilakukan LAZ DD dengan merenovasi gedung sekretariat serta penguatan SDM. Berbeda dengan lembaga zakat lainnya, LAZ DD sangat rapi dalam hal administrasi dan keuangan karena ditangani oleh akuntan.

Ade Salamun sebagai Ketua LAZ DD berharap dapat terus bersinergi dengan lembaga zakat lainnya dan instansi pemerintah dalam rangka memberdayakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan.

Sayangnya, beberapa kendala masih menghantui LAZ DD, di antaranya sosialisasi perbankan syariah yang masih minim di masyarakat sehingga sebagian masyarakat belum mau menyalurkan dananya lewat bank syariah yang bekerja sama dengan LAZ DD.

Oleh karena itu, dengan berat hati, LAZ DD juga membuka rekening bank konvensional untuk mewadahi para donatur tersebut.

Ade juga berharap, sinergi antara lembaga zakat dan bank syariah tidak hanya sebatas formalitas dalam hal penempatan dana tapi juga bersama-sama mensyiarkan Islam dengan menggelar program bersama. (ind)

%d blogger menyukai ini: